Saya juga mau ikut nimbrung nih.........
Yang namanya fatwa, dalam tradisi hukum islam hanya mengikat kepada si
pemberi fatwa itu sendiri, peminta fatwa dan individu atau masyarakat yang
setuju terhadap fatwa itu. Hanya sebatas itu kekuatan hukum dari fatwa.
Fatwa bukan termasuk hukum positif yang mengikat. Dalam hal presiden mau
ikut dan nurut dengan fatwa ini bisa dimengerti karena MUI didirikan oleh
negara dan siapapun yang duduk dalam kursi presiden seharusnya memang tunduk
dan terikat terhadap fatwa tersebut. Bukankah bisa jadi pemerintah lah yang
minta fatwa ke MUI? Masalah baru muncul apabila fatwa itu oleh negara
dijadikan dasar untuk melakukan tindakan hukum atau fatwa itu oleh kelompok
masyarakat yang setuju terhadap fatwa MUI dijadikan pembenaran untuk
melakukan tindakan main hakim sendiri seperti apa yang dilakukan abdul
hariss umarella beserta kelompoknya terhadap kelompok lain yang memiliki
cara berbeda dalam berislam.
Kalau orang semisal Gus Dur dan kawan-kawan dari islam liberal berang,
menurut saya bisa sangat dimengerti. Karena untuk mengeluarkan sebuah fatwa,
MUI seringkali mengabaikan dialog yang seimbang. Seperti yang dialami
kawan-kawan Paramadina saat MUI mengeluarkan fatwa melarang peredaran buku
fikih lintas Agama (FLA), sama sekali tidak ada dialog yang dilakukan oleh
MUI ke Paramadina. Dalam kasus ahmadiyah pun menurut pengakuan kawan
ahmadiyah mereka tidak pernah diajak berdialog oleh MUI.
Selain itu, di dalam tubuh MUI pusat itu sendiri memang hanya diisi oleh
orang-orang yang cenderung sama dari sisi pemikiran. Misalnya saja KH.
Ma'ruf Amin, Prof. Dr. Ali Musthofa Ya'kub (Pakar di bidang Hadis), Prof.
Dr. Huzaemah T Yanggo (Pakar hukum Islam), mereka adalah intelektual Islam
yang berbeda metodologi dengan Gus Dur atau alm. Nurcholish Madjid misalnya
dalam menyikapi berbagai persoalan umat. Ada baiknya memang MUI lebih
membuka diri terhadap pemikir Islam yang berbeda garis pemikiran dengan MUI
Pusat agar lebih cermat lagi dalam mengeluarkan sebuah fatwa.
Ketika dulu MUI Pusat mengeluarkan fatwa melarang paham pluralisme dalam
Islam, oleh MUI cabang Kota Cirebon itu ditanggapi dingin. Kebetulan Ketua
MUI cirebon saat itu Almarhum Habib Muhammad bin Yahya adalah seorang ulama
yang moderat. Ketika didatangi ormas-ormas Islam agar MUI Cirebon
menindaklanjuti fatwa MUI Pusat tersebut dengan enteng sang habib menjawab,
"itu kan fatwa MUI Pusat, bukan sikap MUI Cirebon". Nampaknya beliau ingin
mengingatkan bahwa fatwa itu tidak mengikat kecuali kepada pemberi fatwa,
peminta fatwa dan siapa yang setuju dengan fatwa itu. Maka, bagi kita yang
tidak setuju dengan fatwa itu, ya kita abaikan saja fatwa MUI itu. Tokh
tidak ada kewajiban bagi kita untuk mematuhi fatwa itu. Termasuk juga
Ahmadiyah dan kelompok-kelompok lain yang dianggap sesat oleh MUI.
Salam,
Asnawi Ihsan
_____
From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf
Of ekka pn
Sent: Friday, December 14, 2007 11:13 AM
To: [email protected]
Subject: Re: [ppiindia] Re: Kata Gus Dur: Presiden nurut sama MUI
Mba Lina, gooood point!
hehehe.
Lina Dahlan <[EMAIL PROTECTED] <mailto:linadahlan%40yahoo.com> com> wrote:
Iya lah. Kalau sesuatu institusi sudah didirikan atau suatu hukum
sudah diciptakan, memang untuk dituruti atau ditegakkan fungsi dan
aturannya. Kalau gak..ya bubarkan saja.
Kalau banyak orang bodoh lalu banyak sok mau berpendapat, kan buat
orang awam tambah bingung. Memangnya menjadi ulama atau pemimpin gak
berat tanggung jawabnya? Saya sih simple aja deh. main kan peran
kita masing2 dengan baik. Kalau kita MUI yang kerjanya memang harus
mengeluarkan fatwa, ya keluarkan fatwa. Jangan jadi orang bingung
yang gak punya pendirian. Begini takut begono takut.
Kalau kita cuma masyarakat awam yang memang harus patuh pada
pemimpinnya, ya patuh. Kalo gak bisa ya cari aja pemimpin alternativ
lain atau kalau gak bisa ngapa2in ya diam or ngoceh di milis-milis.
Jangan buat orang awam bingung dan resah.
Nagapin juga ibu2 dikerahkan untuk urusan begitu. Emangnya bapak2nya
yang gagah pada kemana. Mengapa ngumpet dibalik ketiak ibu2?? Ini
kan cuma konsumsi politik supaya dapat dinilai or memberi kesan tuh
liat pemerintah 'brangas'!, tuh liat akibat fatwa MUI.
Saya kira kita harus menghargai hukum yang berlaku disuatu negara.
Kalau di Amerika (yg terkenal dgn segala FREEDOM) katanya mesjid
Ahmadiyah saja tidak boleh berdiri sampe sekarang, ya kita hormati
itu. Mereka gak mau warganya resah!. Ato memang belum ada keperluan
politiknya. Karena yang punya keperluan politik dengan ahmadiyah
adalah Inggris, untuk melanggengkan penjajahan Inggris atas India
dahulu.
Saya kira juga pemerintah maupun MUI tidak mengambil tindakan
penghancuran, pengusiran kepada rumah ibadah dan tempat tinggal
serta pengikut Ahmadiyah. Yang melakukan adalah orang2 yang bingung
dan resah bahkan bodoh. Setahu saya rumah ibadah tsb disegel
pemerintah dengan alasan untuk menghindari amukan masa yang resah
dan bingung.
Kembali kepada judul:"...:Presiden nurut sama MUI, Saya nurut sama
tukang pijit saya ato pembisik saya aja!"
--- In [EMAIL PROTECTED] <mailto:ppiindia%40yahoogroups.com> s.com,
Freedom Of Mind
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> MUI emang harus didengerin donk..pasti itu...
>
> wong MUI adalah institusi ulama di indonesia, mau fatwa salah ato
bener yang penting MUI harus didengerin.., seperti bu lina bilang
dibawah ini andaikan fatwa salah, biarlah itu menjadi tanggung jawab
para ulama yang tergabung disitu. yang terpenting umat harus
mendengarkan MUI.
>
> apalagi seperti bu lina bilang keberadaan MUI masih diperlukan
karena masih banyak orang bodoh dan awam soal agama tapi mereka
masih peduli dengan agamanya, mereka perlu MUI lah, toh andaikan
fatwa salah mereka juga harus dengerin (apalagi kalo masih bodoh dan
awam..yah mana ngerti juga kalo fatwa salah), tapi gak ada masalah
kok biar kalo salah mejadi tangung jawab para ulama di MUI.
>
> untuk pemerintah, mudah2 pemerintah tetap menghormati dan
mendengarkan MUI lah..., wong MUI semuanya ulama..., aparat
pemerintah kan bukan ahli agama.., contohnya untuk kasus
ahmadiyah.., yah pemerintah harus mendengarkan MUI, dengan menindak
dengan tegas antek2 ahmadiyah.., tangkap ustad2 ahmadiyah beserta
pengikutnya, robohkan tempat ibadahnya, kalo pun ahmadiyah pake
barikade ibu2 sebagai barikade hidup untuk mengahalangi pemerintah
dalam melaksanakan fatwa MUI untuk memasuki dan merobohkan rumah
ibadah ahmadiyah, pemerintah harus menindak keras, terjang aja tuh
ibu2.....demi fatwa MUI. demi tegaknya rambu2 moralitas umat yang
telah dijaga oleh MUI selama ini.
>
> kalo di sini, gak jamin deh keselamatannya. itu bapak2, ibu2,
anak2 kecil dan semua golongan kaum ahmadiyah mending daripada bikin
onar disini, dan mending diusir dari indonesia. kan mereka juga gak
bisa beribadah juga disini.
>
> mending tuh orang2 ahmadiyah, diusir ato deportasi ke negara2
kafir, mungkin mereka bisa diterima dengan baik dan bisa menjalankan
ibadahnya disana.
>
> lebih baik mereka diusir aja. demi keselamatan dan kesejahteraan
umat muslim di indonesia.
>
> untung ada MUI, penjaga moralitas muslim di indonesia. fatwa MUI
bener2 menggugah banget deh.
>
>
>
> ----- Original Message ----
> From: Lina Dahlan <[EMAIL PROTECTED]>
> To: [EMAIL PROTECTED] <mailto:ppiindia%40yahoogroups.com> s.com
> Sent: Thursday, December 13, 2007 5:42:03 PM
> Subject: [ppiindia] Re: Kata Gus Dur: Presiden nurut sama MUI
>
> "Tanyalah sesuatu kepada ahlinya"! itu sebuah nasehat dari kitab
> suci ato sunah ?(cmiiw). Jadi, kalo presiden menanyakan soal agama
> ya tanyalah kepada suatu institusi kumpulan ulama agama tsb.
Dimana
> salahnya? Andaikan fatwa MUI itu salah, biarlah itu menjadi
tanggung
> jawab para ulama yang tergabung disitu.
>
> Kebaradaan MUI di Indonesia ini, saya rasa masih diperlukan karena
> memang masih banyak orang bodoh dan awam soal agama tapi mereka
> masih peduli dengan agama (Islam)nya.
>
> Tinggal bagaimana sekarang pemerintah (plus aparat hukumnya)
> menyikap fatwa-fatwa tsb beserta akibatnya yang akan timbul
menurut
> hukum yang berlaku dinegara ini.
>
> --- In [EMAIL PROTECTED] s.com, Freedom Of Mind
> <freedom.of_ mind@> wrote:
> >
> > bener banget,
> >
> > MUI kudu di denger lah, wong MUI itu produk orde baru Yang
> Dipertuan Soeharto..., apalagi sekarang masih banyak produk orde
> baru yang masih eksis dan didengerin omongannya sama rakyat
> indonesia. yah..salah satunya MUI.
> >
> > jadi si Gus dur nih ada2 aja..., ngapain sih pake toleransi
> sgala.., wong toleransi, demokrasi dan persamaan hak setiap
manusia
> itu kan produk orang kafir, justru dengan Gus dur mempraktekkan
> toleransi, demokrasi dan persamaan hak setiap manusia sama aja
> memangkas rambu-rambu moral yang selama ini dijaga oleh MUI.
> >
> > makanya rambu-rambu moralitas MUI harus tetap ditegakkan, supaya
> umat tetap didalam koridor rambu2 moralitas nya MUI.
> >
> > yang berbeda dengan MUI justru harus di bablas habis...,
> ahmadiyah atau siapapun yang berbeda..
> >
> > yang berbeda harus dibablas..., tegakkan rambu2 moralitas.
> >
> > stop toleransi, demokrasi dan persamaan hak setiap manusia
karena
> cuman produk orang kafir dan merusak moralitas umat.
> >
> >
> > salam kebablasan.. .
> >
> >
> > ----- Original Message ----
> > From: Rulita Damayanti <rulita_dm2000@ ...>
> > To: "[EMAIL PROTECTED] s.com" <[EMAIL PROTECTED] s.com>
> > Sent: Thursday, December 13, 2007 1:19:48 PM
> > Subject: [ppiindia] Kata Gus Dur: Presiden nurut sama MUI
> >
> > Kalau para ulama secara kolektif bermusyawarah untuk memunculkan
> fatwa demi kepentingan umat terus ndak diikuti, lah khan percuma
> institusi ini didirikan! Terus mau diapain negeri ini, kalau rambu-
> rambu moral dipangkas!
> >
> > Berikut pernyataan gus dur dalam kemasan berita dari gusdur.net,
> semoga kita tidak ketularan virus "kebablasan
toleransi" .
> >
> > Salam
> > RDM
> >
> > Membebaskan Diri dari Menghukumi Orang
> >
> > Jakarta, gusdur.net (http://www.gusdur. net)
> >
> > KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mengatakan menjaga kemerdekaan
dari
> segala bentuk penjajahan adalah sangat penting. Bahkan dia
> mengingatkan, bahwa orang mudah sekali menjadi penjajah orang lain
> tanpa disadari..
> >
> > Demikian Gus Dur dalam Halal bi Halal Lintas Iman; Menuju
> Indonesia Tanpa Kekerasan, di Aula Universitas Paramadina Mulya,
> Jumat (9/11/07) malam.
> > Penjajahan yang dimaksud Gus Dur bisa terjadi dalam ranah apa
> saja. Misalnya keluarga.
> > "Saya ini termasuk generasi yang sial. Waktu anak-anak dijajah
> orang tua. Habis itu dijajah anak. Kapan saya bisa jadi penjajah?"
> seloroh Gus Dur mengutip kata-kata pamannya, KH. Yusuf Hasyim.
> > Dia mengaku merasa bahagia dapat hadir dalam acara itu karena
bisa
> berada di tengah-tengah orang-orang yang seperjeuangan. "Dengan
> orang dan teman-teman yang menjaga kemerdekaan dari penjajahan
dalam
> segala bentuknya," tutur Gus Dur disambut gemuruh tepuk tangan.
> > Dalam kesempatan itu, Gus Dur menilai Presiden Susilo Bambang
> Yudhoyono sedang tersesat karena Fatwa Majlis Ulama Indonesia
(MUI)
> dijadikan acuan dalam keputusan negara. "Dia menerima hasil
> keputusan MUI yang menganggap bahwa ada (aliran) yang tersesat,"
> tegasnya.
> > Padahal MUI, menurut Gus Dur, juga tersesat karena tidak mau
> mempelajari persoalan lebih dulu sebelum memutuskan pendapat. "Ini
`
> kan kesesatan yang paling besar."
> > Perbedaan dalam berbagai hal termasuk aliran dan agama, kata
> mantan Presiden RI ini, sebaiknya diterima karena itu bukan
sesuatu
> masalah.
> > Jika sudah bisa menerima perbedaan maka akan lebih terbuka dalam
> berdialog, bahkan kata Gus Dur, lahir lelucon seperti yang
> dilontarkan seorang kyai, bhiksu, dan pendeta.
> > "Pendeta mengatakan; Kami dekat sekali dengan Tuhan. Jadi kami
> memangil Tuhan Anak, Tuhan Bapak. Si bhiksu menimpali; Kami juga
> dekat. Bukan manggil Bapak, tapi Om. Lha bagaimana dengan Anda,
pak
> kyai? Pak Kyai menjawab; Boro-boro deket, manggil-nya aja mesti
pake
> menara," urai Gus Dur diiringi tawa seisi ruangan.
> > Dalam hal perbedaan aliran, Gus Dur juga mengkritik penyesatan
MUI
> Tasikmalaya terhadap aliran Wahidiyah.
> > Padahal Gus Dur pernah diajak ke tempat pendiri Wahidiyah KH
Abdul
> Majid tiga kali oleh kakeknya, KH Bisri Syansuri, salah satu ahli
> fikih di Nahdlatul Ulama.
> > "Kyai Bisri sendiri tidak pernah memberikan komentar apa-apa,
> termasuk soal sesat tidaknya aliran tersebut," ungkap Gus Dur.
> > Karena itulah Gus Dur mengikuti sikap itu. "Sikap membebaskan
diri
> dari menghukumi orang."
> > Menurut Gus Dur, Tuhan lah yang menciptakan ke-bhineka-an, salah
> satunya adalah dengan adanya Firman Allah Saw `lakum dinukum wa
liya
> din' (bagimu agamamu dan bagiku agamaku).
> > "Tiap orang berhak memiliki keyakinan sendiri," pungkasnya.
> >
> > ____________ _________ _________ _________ _________ _________ _
> > Sent from Yahoo! Mail - a smarter inbox http://uk.mail. yahoo.com
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> ____________ _________ _________ _________ _________ _________ _
> ____________ ___
> > Be a better friend, newshound, and
> > know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now.
> http://mobile. yahoo..com/ ;_ylt=Ahu06i62sR 8HDtDypao8Wcj9tA cJ
> >
> >
> > [Non-text portions of this message have been removed]
> >
>
>
>
>
>
>
__________________________________________________________
_______________
> Never miss a thing. Make Yahoo your home page.
> http://www.yahoo. <http://www.yahoo.com/r/hs> com/r/hs
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>
Send instant messages to your online friends http://uk.messenger
<http://uk.messenger.yahoo.com> .yahoo.com
[Non-text portions of this message have been removed]
[Non-text portions of this message have been removed]