(Tulisan ini juga disajikan di website
http://kontak.club.fr/index.htm)



                            Teliti dan tulislah tentang

                            keluarga Suharto



Berikut di bawah ini disajikan E-mail dari Sdr Yanti Mirdayanti, yang
ditujukan kepada saya, mengenai pentingnya bagi para mahasiswa Indonesia
mengadakan banyak riset serius dan membikin karya-karya tulis mengenai
persoalan keluarga Cendana (keluarga Suharto). Sdr Yanti Mirdayanti, yang
kini mengajar di salah satu universitas di Bonn (Jerman), menganjurkan para
mahasiswa untuk menjadikan keluarga Cendana sebagai sumber yang kaya sekali
dengan berbagai bahan yang bisa digunakan untuk membuat skripsi (S1), tesis
(S2) maupun disertasi (S3).



Anjuran Sdr Yanti Mirdayanti ini sangat menarik dan juga sangat penting
mengingat bahwa  -- sampai sekarang ini -- masih belum begitu banyak
karya-karya ilmiah yang dibuat oleh kalangan sarjana Indonesia mengenai
berbagai soal yang berkaitan dengan keluarga Suharto, baik yang bersifat
memuji-muji segi positif keluarga Suharto maupun yang mengkritik atau
menghujat segi-segi negatifnya. Apa yang sudah sering dan banyak beredar
adalah tulisan-tulisan dalam majalah dan suratkabar atau brosur-brosur.
Bahkan, yang amat menonjol adalah karya-karya para wartawan, penulis atau
ilmuwan asing. Di antaranya, yang patut dicatat adalah laporan majalah TIME
24 Mei 1999.



Padahal, Suharto adalah “tokoh yang luar biasa” dalam sejarah bangsa dan
negara kita. Suharto pernah menjadi presiden RI yang terlama (32 tahun,
sedangkan Bung Karno hanya sekitar 20 tahun). Dalam waktu 32 tahun boleh
dikatakan Suharto adalah negara Indonesia. Atau, dengan kalimat lain,
Suharto adalah Orde Baru. Dan, Suharto adalah jiwa atau “tali nyawa” rejim
militer, yang ternyata sudah dicampakkan oleh generasi muda bersama rakyat
dalam tahun1998.



Oleh karena peran yang amat besar yang dimainkan Suharto sebagai diktator
selama 32 tahun, yang memungkinkan ia melakukan berbagai macam pelanggaran
HAM secara besar-besaran dan juga menjadi pencuri harta rakyat yang terbesar
di dunia, maka banyak sekali (dan bermacam-macam sekali !!!) hal yang bisa
digali atau diangkat oleh para peneliti atau ilmuwan. Para mahasiswa (atau
sarjana) dapat membikin riset ilmiah di bidang sejarah, politik, ekonomi,
sosial, hukum, militer, pemerintahan, HAM, demokrasi, moral, yang berkaitan
dengan Suharto dan keluarganya.



Segala karya ilmiah sebagai hasil riset serius tentang Suharto beserta
keluarganya adalah menarik dan juga penting, termasuk karya-karya yang masih
memuji-muji dan memuja-muja Suharto beserta keluarganya. Dengan makin banyak
terbongkarnya kejahatan Suharto (beserta keluarganya) maka makin kelihatan
amat janggallah  (atau sangat lucu dan aneh)  kalau ada orang yang masih
berani terang-terangan mengagung-agungkan Suharto seperti di masa-masa yang
lalu.



Karya-karya ilmiah mengenai Suharto beserta keluarganya amat penting bagi
khasanah perpustakaan sejarah bangsa. Anak cucu kita di kemudian hari perlu
tahu – lebih banyak lagi --  mengapa Suharto berhasil menggulingkan Bung
Karno, mengapa Suharto bekerja sama dengan imperialisme AS dalam memadamkan
revolusi bangsa Indonesia, mengapa Suharto (dan konco-konconya) membunuhi
jutaaan anggota dan simpatisan PKI. Bukan itu saja! Anak-cucu kita juga
perlu tahu bahwa kerusakan moral Suharto dan kebejatan akhlak Tommy Suharto
merupakan pendorong atau teladan yang buruk sekali bagi banyak orang,
sehingga korupsi merajalela seperti sekarang ini.



Adalah ideal sekali kalau karya-karya ilmiah ini bisa juga mengangkat
sebab-sebab Suharto sampai sekarang belum bisa diadili (karena alasan
kesehatan dll dll), dan mengapa anjuran PBB dan Bank Dunia untuk
mengembalikan harta yang dicuri koruptor kelihatannya akan macet di
Indonesia.



Apalagi, seperti yang dianjurkan oleh Sdr Yanti Mirdayanti, menjadikan kasus
Tommy Suharto sebagai sasaran penelitian adalah bukan saja menarik dan
mengasyikkan melainkan juga penting. Sebab, kasus uang haram Tommy Suharto
betul-betul mencerminkan  -- dengan gamblang sekali – betapa besar kerusakan
akhlaknya. Kerusakan akhlak Tommy Suharto adalah pengejawantahan
(perwujutan) kebejatan moral keluarga Suharto. Dan kerusakan akhlak keluarga
Suharto adalah cermin kebejatan moral Orde Baru.



Dalam kaitan inilah saya mendukung anjuran Sdr Yanti Mirdayanti kepada para
mahasiswa (dan sarjana umumnya)  untuk membikin karya-karya ilmiah
berdasarkan riset yang serius mengenai Suharto beserta keluarganya,
termasuk Tommy Suharto. Saya ikut menganjurkan kepada seluruh dosen dan
pimpinan universitas di berbagai universitas di Indonesia, untuk secara
aktif ambil bagian dalam usaha yang sangat penting bagi pendidikan bangsa
kita ini.



Karya para mahasiswa (atau sarjana) mengenai seluk-beluk keluarga Suharto
ini akan memperkaya dan lebih melengkapi karya yang gemilang (dan
bersejarah) yang pernah dibuat oleh  Sdr George Aditjondro. Dan juga akan
merupakan sumbangan penting dan berharga sekali dari kalangan universitas
kepada rakyat dan negara.



Paris, 17 Desember 2007



A.      Umar Said



***   ***   ***



PS. Berikut adalah E-mail dari Sdr Yanti Mirdayanti :



Yth. Pak Umar,



Menurut saya, sebenarnya hanya dengan bertemakan

'Lika Liku Duit Tommy Soeharto' para mahasiswa

Indonesia yang rajin bermedia online maupun rajin baca

koran bisa menghasilkan sebuah karya tulis, baik

berbentuk skripsi (S1), tesis (S2), maupun disertasi

(S3). Ini terutama berlaku bagi para mahsiswa yang

pusing memikirkan tema apa yang harus mereka tulis

untuk karya ilmiah kesarjanaannya. Sebagai contohnya,

berbagai rangkuman yang dilakukan Pak Umar pun bisa

banyak memberi kontribusi. Saya kira, sudah ada

ilmuwan Indonesia yang memulai, tetapi semakin banyak

akan semakin baik bagi kekayaan kepustakaan Indonesia.



Tak dapat kita sanggah, bahwa keluarga Cendana

(keluarga Soeharto) merupakan sumber kaya bagi para

ilmuwan muda Indonesia untuk dijadikan fokus riset

mereka. Misalnya bisa dijadikan bahan penelitian

mereka-mereka yang dari bidang studi ekonomi, politik,

hukum, dan sejarah. Tinggal kumpulkan berbagai kliping

media cetak maupun informasi-informasi dari

media-online. Kemudian ditambah riset kepustakaan (di

berbagai perpustakaan). Plus, melakukan juga riset

lapangan sendiri, misalnya dengan ikut langsung

menghadiri persidangan-persidangan pengadilan soal

tema yang bersangkutan atau melakukan wawancara dengan

berbagai nara sumber yang mudah dijangkau, dsb. Dalam

jangka satu tahun atau mungkin beberapa bulan (kalau

rajin), sudah akan lengkaplah data-data/bahan untuk

tulisan.



Ini berlaku bukan saja bagi para mahasiswa yang sedang

studi di Indonesia, melainkan juga para ilmuwan muda

Indonesia yang sedang menuntut pendidikan di luar

negeri. Tema-tema yang bersumber keluarga Cendana

masih sangat relevan dan kait-mengait dengan

perkembangan sejarah, ekonomi, politik, dan hukum

Indonesia hari ini dan di masa depan.



Yanti, Bonn, Desember 2007



 * * *     ** * *

No virus found in this outgoing message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.5.503 / Virus Database: 269.17.2/1185 - Release Date: 15/12/2007
12:00


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke