Setelah mengamati Polemik antara Amran - yang kelihatannya mengusung ide
Islam Neo-Konservatif -(HT, JI, Wahabi, IM/PKS cs.)  dengan Ulil dari
JIL, ada satu Masalah Penting yang bisa dicermati terutama dari
tulisan-tulisan Amran.

Tulisan Amran yang cenderung melegitimasi Persekusi/Penganiayaan atas
Perbedaan Keyakinan oleh kelompok Mayoritas terhadap Minoritas, dikomentari
dan dikritik oleh Mas Ulil.

Dalam tulisannya Ulil menambahkan beberapa informasi Membandingkan Dunia
Timur yang Majo Muslim dengan Dunia Barat yang Majo Kristen/Atheis.

Kemudian Amran membeberkan beberapa kekeliruan Ulil mengenai beberapa
informasi aktual dan kemudian Berkali-Kali membantah Ulil mengenai kebebasan
di Barat dengan mengemukakan beberapa Fakta sejarah adanya Diskriminasi dan
Penganiayaan terhadap Minoritas di Barat karena Masalah Perbedaan Keyakinan.


Jawaban Ulil cukup melegakan, ia legowo untuk mengakui beberapa "salah
ketik" dan koreksi yang diberikan Amran pada beberapa Informasi seperti masa
jabatan Gubernur yang kebetulan tokoh Mormon. Meskipun demikian kekeliruan
soal fakta seperti itu sebenarnya sama sekali tidak menyentuh TOPIK MENDASAR
yang dibicarakan mengenai Kebebasan Agama dan Berkeyakinan.

Kalau kita mengacu pada Nilai-Nilai Universal yang sudah dicantumkan dalam
Piagam PBB maka seharusnya Kebebasan Setiap orang untuk memeluk AGAMA, untuk
Menjalankannya sesuai dengan Keyakinannya harus dijamin dan dilindungi di
setiap negara. Satu-satunya ALASAN yang membebaskan Negara dari kewajiban
tsb adalah Jika Ideologi atau Ajaran AGAMA yang dianut merupakan tindakan
KRIMINAL/Crime yang dengan mudah dapat diketahui.

Seluruh dunia sudah setuju mengenai hal itu (kecuali sebagian kecil).
Mengapa demikian? Karena Keimanan memang tidak bisa dipaksakan. Just so
simple.

Keimanan seseorang tidak akan mengganggu keimanan yang lain yang berbeda.
Keimanan seseorang tidak akan merugikan orang lain yang berbeda. Keimanan
seseorang tidak akan mengubah Keimanan yang lain.

Keimanan seseorang justru menjadi kejahatan/crime ketika Ia memaksakan
Keimanannya terhadap Orang lain. Jadi Kebebasan beragama sudah menjadi
Kebenaran Universal yang mau tidak mau harus diakui oleh setiap orang kalau
ia tidak ingin menjadi Musuh seluruh DUNIA dan ALAM semesta.

Jika masih ada Kelompok Muslim Majoritas yang melegitimasi Penganiayaan
terhadap Keyakinan Kelompok Minoritas Muslim lain yang berbeda maka Berarti
ia juga MENGIZINKAN jika suatu saat terjadi Penganiayaan terhadap Penduduk
Muslim oleh Umat NON-MUSLIM DUNIA karena Keyakinan yang BERBEDA. Ingat
Muslim masih Menjadi MINORITAS di DUNIA.Ia juga akan MENGIZINKAN
Penganiayaan SUNNI DI IRAN, Pengaiayaan atas SYIAH di SAUDI dan INDONESIA.
Dan hasilnya di Iraq yang kekuatannnya 40:60 Mengizinkan Pertarungan antara
SYIAH-SUNNI hingga siapa yang kuat dan Menang dialah yang berhak memerintah.


Sekarang kita kembali kepad Diskusi Amran - Ulil.

Secara singkat dibawah ini kami mencoba untuk mengikuti pola pikir Ulil dan
Amran.

Ulil mencoba untuk tetap fokus pada PRINSIP DASAR KEADILAN UNIVERSAL yang
seyogyanya juga diperjuangkan oleh kaum Muslimin jika memang mau memberikan
kontribusi bagi PERDAMAIAN DUNIA yang ABADI. Ia memang membuat beberapa
kekeliruan dan sudah dikoreksi. Namun saya masih melihat kekeliruan yang
dibuat Ulil bukanlah sesuatu yang BESAR, hanya pada beberapa data pendukung
kecil yang juga bisa dipahami karena ditulis secara Spontan di milis, bukan
untuk suatu tulisan resmi.

Nah Fenomena Tulisan Amran cukup menarik, dan kami perhatikan banyak juga
dari kalangan Neo-Konservatif memiliki pola yang sama.

Pola itu adalah MEMBANDINGKAN KEBURUKAN MELEGALKAN KEJAHATAN.

Sudah sejak awal dari tulisan "Lembah Carmel"nya Amran, saya melihat ketidak
setujuan Amran dkk. terhadap Perbedaan Pemahaman dengan berlindung pada
TUDUHAN SESAT. Setiap yang berbeda yang "dianggap" "membahayakan" Ide-ide
perjuangan mereka dianggap SESAT bukan hanya berbeda.

Menanggapi tulisan Ulil  ketika menceritakan kehidupan Di Barat saat ini
yang memberikan Kebebasan Beragama untuk setiap orang dan membandingkannya
dengan Dunia Muslim, langsung dikritik Amran dengan membeberkan sejarah
Gelap Barat memperlakukan Kaum Minoritas Agama yang semua orang juga tahu.

Perbandingan yang dikemukakan Amran sesungguhnya tidak menyentuh masalah
yang paling mendasar. Pengakuan terhadap Kebebasan Manusia untuk Beragama
dan Berkeyakinan.

Amran berusaha menunjukkan Kebobrokan Barat Masa silam (yang sudah jauh
ditinggalkan) untuk membantah Ulil yang sebenarnya sedang membahas TOPIK
UTAMA yang sangat penting sekali.

Pola yang bisa diamati adalah Membela Keburukan di Timur dengan Menunjukkan
Keburukan yang "pernah" dilakukan Barat. Padahal seharusnya Keburukan
tersebut yang sudah jauh ditinggalkan Barat jangan lagi diterapkan di Timur.


Mudah - Mudahan Amran tidak bermaksud MELEGALKAN PEMAKSAAN Keagamaan di
Indonesia dengan Membandingkan Keburukan Kelakuan Barat zaman silam.

"Kita BOLEH TINDAS MINORITAS yang berbeda KEYAKINAN karena di BARAT juga
pernah dilakukan PENINDASAN atas NAMA AGAMA."

Apakah itu pesan utama yang ingin disampaikan oleh AMRAN? Mudah-mudahan
bukan.........


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke