KRONIK DAN DOKUMENTASI WIDA
   
  Dhani Agustinus Sabet Film Dokumenter Terbaik Di Kompetisi Yogyakarta
   
   
  Dhani Agustinus, sutradara muda usia, pengajar di Fakultas Film Institut 
Kesenian Jakarta, pernah belajar di Akademi Filem terbaik Perancis, Le Femis 
Paris dan sekarang melanjutkan studi S2-nya di Paris, dalam kompetisi nasional 
filem dokumenter di Yogyakarta bulan ini, telah berhasil menyabet hadiah "Film 
Terbaik" dengan filmnya tentang "Restaurant Indonesia" di Paris. Dalam surat 
listrik pendeknya kepada saya, mengenai kemenangan ini, Dhani menulis antara 
lain: 
   
   
  "Kemenangan ini juga saya berikan kepada teman-teman di Restaurant yang telah 
memberikan dukungan luar biasa dalam proses pengerjaan film ini". 
   
   
  Suatu sikap rendah hati seorang seniman yang jujur pada dirinya, setia pada 
kehidupan, membuka mata dan telinga untuk membaca, mendengar suara  dan 
merasakan denyut kehidupan serta masyarakatnya lalu menuangkan semua itu dalam 
bentuk karya seni. Sikap yang terakhir kali Dhani ucapkan di Kedai Semarang, 
TIM Jakarta, bulan Oktober tahun ini sehari sebelum ia berangkat ke Paris.  
Masih terbayang di mata kenanganku wajah Dhani ketika itu, ketika berucap: "Aku 
belajar dan berkarya untuk bangsa, negeri dan kemanusiaan. Bukan untuk diriku 
sendiri".
   
  Melihat cahaya mata menyala itu, kembali aku merasakan bahwa Indonesia masih 
meru^pakan sebuah negeri di mana kita masih bisa berharap. Kata-kata yang 
kuucapkan dalam pertemuanku dengan penyair asal Sungai Asahan, Amarzan Ismail 
Hamid, di gedung Majalah Tempo dimana ia bekerja.
   
  "Benar, kau mengucapkan itu?"tanyanya.
   
  "Kan itu kalimat yang kuucapkan".
   
  "Sekali pun Indonesia amburadul seperti sekarang?" 
   
  "Iya!"
   
  "Kau hebat mengucapkan hal demikian".
   
  "Demikianlah bacaanku atas yang kulihat, Zan.  Dalam kegelapan kukira masih 
ada secercah cahaya ". 
   
   
  Aku jadi heran sendiri mendengar dorongan psikhologis Amarzan sobat lamaku 
yang saling mencari dan mengenang saat kami terpisah geografi dan oleh 
peristiwa. Amarzan selalu tak segan menasehati, mengkritik dan menaruh 
kepercayaan harapannya padaku.  "Zan, aku bisa menuturkan banyak contoh 
membuktikan apa yang kuucapkan tadi",  ujarku dalam hati. Kata-kata yang 
sengaja tak kukeluarkan karena didesak waktu dan aku baru menerima sms dari 
seorang teman yang mengatakan bahwa ia sudah kesal menungguku. Tak ada ujung, 
jika kami bertemu dan berbicara. Entah apa yang mempertalikan kami sejak remaja 
hingga menjadi begini erat: Seorang Batak dan seorang Dayak dengan kedirian 
masing-masing. Sambil turun tangga gedung Majalah Tempo mencari seorang penting 
yang menungguku, aku berucap pada diri: O, ada memang dan mungkin memang suatu 
persahabatan tulus yang relatif langgeng dalam kehidupan singkat ini. 
Persahabatan tulus dalam kehidupan, kukira, bukanlah sesuatu yang umum di tengah
 kegampangan kita menyerah dan mengambil jalan pintas sehingga jika tidak awas, 
kita bisa ditohok dari belakang oleh orang-orang yang bertelunjuk lurus tapi 
kelingkingnya berkait. Menjadi anak manusia dengan kadar manusiawi bukanlah 
sesuatu yang gampang dan tidak pula sederhana. Memanusiawikan diri adalah suatu 
pergulatan sepanjang hidup. Bersahabat, mencintai pun demikian. 
   
   
  Mengingat hubunganku dengan Dhani, aku bertanya-tanya pada diri apakah Dhani 
akan menjadi Amarzan  baru dari angkatan muda dalam hidupku?  Waktu yang penuh 
misteri mencegahku menjawabnya sekarang. Yang jelas sampai sekarang, bagiku, 
Dhani merupakan seorang sahabat yang tak akan hilang sekali pun barangkali kami 
jarang berkirim kata.
   
   
  Surat listrik Dhani di atas yang ia kirimkan kepadaku ketika karyanya 
menyabet penilaian sebagai "Film Terbaik", kupahami sebagai ujud kesetiaan 
seorang sahabat, dan kesetiaan seorang seniman pada sumber karyanya: kehidupan! 
Lika-liku Koperasi Restoran Indonesia Paris hanyalah sebagian kecil saja dari 
keadaan kehidupan anak bangsa dan anak manusia. Dan lika-liku inilah yang 
dengan alasan entah apa telah diangkat oleh Dhani sebagai seniman filem. 
Koperasi Restoran Indonesia bagiku adalah ikon persahabatan, ikon dari 
serangkaian nilai dan usaha mengejawantahkannya dengan ketegaran. Ikon dari 
sebuah cinta bermartabat serta berharga diri.  Ikon solidaritas betapa pun 
sederhananya.  
   
   
  Ketika para juri memutuskan film Dhani Agustinus ini sebagai "Film Terbaik" 
dokumenter tahun ini, apakah mereka sadar sesadarnya bahwa di balik filem 
tersebut tersimpan rangkaian nilai tersebut?
   
   
  Berita tentang keberhasilan Dhani dengan filmnya ini kumasukkan ke dalam 
"Kronik Dan Dokumentasi Wida" , justru berlatar nilai-nilai yang kusebutkan di 
atas. Nilai-nilai yang tidak berkeinflasian di negeri kita.  Kukira Dhani pun 
sepakat bahwa keberhasilannya bukanlah suatu puncak dalam pencarian dan dalam 
berkarya. Puncak hanya berperspektif menurun.***
   
   
  Paris, Desember 2007.
  -----------------------------
  JJ. Kusni, pekerja biasa Koperasi Restoran Indonesia, Paris.
   
              
   
  Lampiran:
                  Berita Terkini        "Restaurant Indonesia" Sabet Film 
Terbaik Kategori Umum FFD 2007

Dude - GudegNet



  Setelah enam hari diselenggarakan sejak 10 Desember 2007, Festival Film 
Dokumenter 2007 Sabtu malam (15/12) akhirnya ditutup dengan penganugerahan film 
dokumenter terbaik yang dibagi menjadi empat kategori yakni Kategori Pemula, 
Film Favorit, Film Penghargaan Khusus dan Film Terbaik Kategori Umum. 

Untuk Kategori Pemula, juri yang terdiri dari Budi Irawanto, M Zamzam 
Fauzannafi, dan Seno Joko Suyono memilih film "Anakku Bukan Penjarah" yang 
disutradarai oleh Zainal Abidin dari Jakarta sebagai film dokumenter terbaik 
untuk Kategori Pemula di Festival Film Dokumenter 2007. 

Untuk kategori Film Favorit diraih oleh film "Water From Heaven" yang 
disutradarai oleh Wawan Sumarmo dari Jakarta. Kategori ini dinilai oleh juri 
komunal yang terdiri dari 40 siswa SLTA dari 7 sekolah di Yogyakarta. 

Pada kategori Penghargaan Khusus, dewan juri menetapkan film "Jakarta Beda" 
yang disutradarai oleh Sakti Parantean sebagai film terbaik kategoti khusus. 

Sedangkan untuk film terbaik Kategori Umum, juri final Kategori Umum yang 
terdiri dari P.M Laksono, J.B Kristanto, Seno Gumira Ajidarma, dan Alain 
Compost memutuskan film "Restaurant Indonesia" karya sutradara Dhani Ignatius 
sebagai film terbaik Kategori Umum dalam Festival Film Dokumenter 2007. 

Festival Film Dokumenter 2007 kali ini mendapatkan banyak masukan dari dewan 
juri. Secara umum film yang berkompetisi mengalami penurunan dalam hal kualitas 
dan menjawab kritik dan evaluasi juri dari tahun sebelumnya. Film-film tersebut 
belum tuntas mengatasi persoalan elementer dalam penciptaan film dokumenter 
dari kurangnya riset, ekplorasi, fokus hingga teknik penggarapan. Proses 
belajar dan penciptaan juga dinilai kurang oleh dewan juri. 

Meski masih banyak kekurangan kekurangan seperti di atas, film "Restaurant 
Indonesia" secara umum dianggap memiliki standar yang lebih baik dari segi 
teknik, tidak kontroversial, serta memiliki isi cerita yang unik yang tidak 
dimiliki oleh film lain. 

"Secara umum, film "Restaurant Indonesia" memiliki standar yang lebih baik dari 
segi teknik, tidak kontroversial, serta memiliki isi cerita yang unik yang 
tidak dimiliki oleh film lain," ungkap PM. Laksono kepada GudegNet usai 
penutupan Festival Film Dokumenter 2007 Sabtu (15/12) di Benteng Vredeburg.
  Update: 17 Desember 2007 
   
          Sumber: Harian Jurnal Nasional, Jakarta, 18 Desember 2007      
Pendidikan dan Kebudayaan
  
"Restaurant Indonesia" Film Dokumenter Terbaik
  

  Yogyakarta | Senin, 17 Des 2007
    Film dokumenter Restaurant Indonesia dengan sutradara Dhani Agustinus 
memperoleh penghargaan sebagai film terbaik untuk kategori umum pada Festival 
Film Dokumenter (FFD) ke-6 tahun 2007 yang berakhir Sabtu (15/12) malam di 
Benteng Vrederburg, Yogyakarta. Untuk kategori pemula dimenangkan "Anakku Bukan 
Penjarah", dan pemenang penghargaan khusus adalah "Jakarta Beda".
"Secara umum film Restaurant Indonesia memiliki standar lebih baik dibanding 
film-film finalis lain. Di antara dewan juri, film ini paling tidak ada 
kontroversinya, sehingga dia dinyatakan menang mutlak," jelas PM Laksono, salah 
seorang tim juri untuk kategori umum. Juri lain di kategori ini adalah Alain 
Compost, JB Kristanto, dan Seno Gumira Adjidarma.
  
Isi film bedurasi 23 menit tersebut berkisah tentang perjuangan para pendidi 
Restaurant Indonesia di Paris, Prancis. Sebagian pendiri adalah "pengungsi 
politik" yang tidak bisa pulang ke Indonesia dalam waktu lama pada zaman Orde 
Baru. Mereka sepakat untuk memberi akses pekerjaan kepada teman-teman senasib 
agar tidak selalu tergantung kepada Pemerintah Prancis.
  
Suka, duka, kendala, dan masalah selalu menghadang mereka, termauk diboikot 
para pejabat di Jakarta pada masa Orde Baru. Perjalanan panjang menempa 
kelangsungan restoran ini, sampai kemudian saat ini dianggap sebagai salah satu 
wakil kebudayaan Indonesia di Perancis. Pada salah satu adegan terdapat tarian 
Jawa sedang dipertunjukkan di Restaurant Indonesia tersebut.
  
FFD ke-6 tahun 2007 ini berlangsung 10-15 Desember. Untuk kompetisi film 
dokumenter Indonesia diikuti 26 film kategori pemula dan 32 film kategori umum 
dari seluruh Indonesia seperti Banda Aceh, Dumai, Padang, Banten, Jakarta, 
Bandung, Cilacap, Banjarnegara, Yogyakarta, Magelang, Probolinggo, Denpasar, 
Samarinda, dan Makassar.
  
Film peserta melalui tahapan seleksi yaitu administrasi, penjurian madya, dan 
penjurian final. Selain itu diadakan penjurian komunal yang diikuti 40 siswa 
dari tujuh (7) SMA di Yogyakarta. Para juri komunal ini memilih "Water from 
Heaven" dengan sutradara Wawan Sumarno sebagai film favorit. Film berdurasi 15 
menit ini menceritakan anak bernama Badruzaman yang setiap hari harus 
menyeberangi sungai dengan arus sangat deras agar sampai di sekolahnya.
  
Sedangkan "Jakarta Beda" berdurasi 17 menit dengan sutradara Sakti Parantean. 
Film ini memotret situasi Jakarta sebagai ibukota negara yang jika 
sehari-harinya "dijangkiti" kemacetan arus lalu lintas, tetapi kini juga 
banjir. Seperti dialami Agus yang harus menyusuri jalanan Jakarta pada awal 
2007 ketika sedang kedatangan tamu tak diundang, yaitu banjir. 
  Dengan dikawal polisi, Agus mencoba menemui temannya, menyusuri jalanan yang 
tidak saja macet, tapi juga banjir. Jakarta memang beda."Sebenarnya, secara 
umum film-film peserta kompetisi kali ini mengalami penurunan kualitas dan 
belum menjawab kritik serta evaluasi juri pada tahun-tahun sebelumnya. Film 
peserta belum tuntas mengatasi persoalan elementer, mulai dari riset yang 
rendah, kurangnya eksplorasi, fokus tidak jelas, sampai teknik penggarapan yang 
kurang kreatif," tambah PM Laksono pada malam itu.
Heru Prasetya 

  Budi Winarno
   
   
  Keterangan foto:
   
  Dhani Agustinus dan Emil di Akademi Film Le Femis, 2005.[Dari: Dok. JJK. 
Foto:Jelitheng].


   
   
   
   


       
---------------------------------
 Yahoo! Movies - Search movie info and celeb profiles and photos.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke