Ya memang beda antara pendidikan di eropa dengan di amerika. Kalau eropa itu 
menganut pola "press schematic" sedangkan amerika ke arah 
"breadth schematic". Press schematic itu maksudnya tidak terlalu 
banyak yang dipelajari (mata pelajarannya sedikit) tetapi terfokus dan lebih 
terspesialisasi, sehingga kepakaran ilmunya sangat dalam. Sedangkan breadth 
schematic buaaaayak sekali yang dipelajari, tapi sebenarnya nggak mengakar, 
karena kemampuan otak siswanya sudah overloading, kebanyakan pelajaran! 
Indonesia cenderung seperti amerika, makanya pelajar indonesia banyak belajar 
ilmu apa saja, tapi keilmuaannya hanya dipermukaan! Ya, mestinya harus dibenahi 
lagi sistim pendidikan di Indonesia, kalau berkiblat ke eropa, bisa di contoh 
pendidikan di swiss, perancis, jerman, inggris, dsbnya!

Salam
RDM

mediacare wrote: 
>             Oleh BS Mardiatmadja 
>  http://www.kompas. com/kompas- cetak/0712/ 19/ln/4090215. htm 
> ============ ======== 
> Menarik sekali kalau kita mempelajari hasil penelitian PISA sekitar 
> prestasi studi murid usia 15-an tahun. Murid Indonesia di kotak yang 
> sama dengan murid AS: yaitu sama-sama di bawah mutu rata-rata dari 
> ribuan murid yang diperiksa. 
> Posisi puncak diduduki bukan oleh murid-murid negara yang sering 
> dikirimi anak-anak Indonesia untuk studi. Bahkan Liechtenstein, negara 
> mini itu, secara konsisten ada di bagian atas sekali. 
> Kalau kebanyakan murid kita disekolahkan ke AS sekarang, ya 15 tahun 
> lagi kita dapat membayangkan apa jadinya. Memang dulu orientasi 
> orangtua kita mengirim anak belajar ke Eropa, tetapi sejak beberapa 
> puluh tahun terakhir kebanyakan ke tempat lain. Banyak 
> pertimbangannya. Namun, orientasi PISA boleh juga dipertimbangkan. 
> Ada soal lain. Pers Austria, Swiss, Spanyol, Jerman, Polandia, dan 
> Perancis menyajikan beberapa analisis. Kebanyakan menunjukkan 
> kegirangan karena peringkat murid-murid dari negaranya masing-masing 
> meningkat. Itu berarti bahwa tes tahun 2000 dan 2003 dipelajari 
> baik-baik dan diusahakan agar sistem studi di negara masing-masing 
> diperbaiki. Sementara itu, panitia sendiri, dari OECD, menegaskan agar 
> mereka tidak gegabah mengambil kesimpulan. Sebab, tes tahun ini 
> lumayan berbeda dibandingkan dengan tes tahun-tahun silam. Justru 
> karena itu barangkali bagi kita malah penting. Sebab, beberapa bulan 
> lagi Indonesia pasti akan disibukkan lagi dengan pertanyaan ujian 
> akhir nasional perlu atau tidak? 
> Yang pasti, tes PISA bukan ujian akhir nasional. Bahkan, di negara 
> yang menyelenggarakan semacam tes terbatas nasional, tidak dipakai 
> sebagai ukuran kelulusan. Tidak sedikit yang mengatur sekolah-sekolah 
> pada tingkat negara bagian atau provinsi karena menghargai kondisi 
> setiap wilayah yang dianggap sangat memengaruhi keadaan para murid. 
> Maka, banyak yang menolak ujian akhir nasional demi pendidikan yang 
> berbasis kemampuan anak sendiri dan untuk mendorong pertumbuhan proses 
> didik di setiap negara bagian. Sebab, banyak yang beranggapan bahwa 
> akhirnya untuk pendidikan dasar, yang penting bukan tolok ukur 
> nasional dari sudut prestasi, melainkan arah nasional yang mendorong 
> prestasi setempat. 
> Adanya PISA, yang juga mengetes murid Indonesia, mungkin dipakai 
> sebagai alasan untuk mengoreksi ujian akhir nasional. Para menteri 
> persekolahan negara bagian Jerman dan menteri pendidikan Jerman dan 
> beberapa negara lain berpikir lain. Tentu saja PISA, yang sekarang ini 
> amat memerhatikan "kemampuan membaca" (bukan hanya Pengetahuan Alam 
> dan Matematika), menuntut guru dan pemerintah untuk lebih memerhatikan 
> peningkatan kemampuan murid menyerap lingkungannya. 
> Hal itu tidak diselesaikan dengan adanya ujian yang sama bagi seluruh 
> negara untuk murid-murid. Baik partner-partner koalisi dalam kabinet 
> Austria maupun kabinet Jerman berdebat keras: mereka dengan alasan 
> masing-masing mengejar model persekolahan yang memfasilitasi murid 
> untuk lebih belajar mandiri. Tetapi sangat menarik bahwa banyak 
> menteri pendidikan mencari tahu bagaimanakah murid dari lapisan 
> masyarakat termiskin berhasil dalam tes ini. 
> Pernyataan 
> Bertubi-tubi dilontarkan pernyataan, sejauh manakah anak-anak imigran 
> dan mereka yang orangtuanya miskin mendapat kesempatan belajar. 
> Pertimbangannya tidak religius, melainkan sosial: kalau ada sebagian 
> dari rakyat tidak memperoleh hak didik mereka (apalagi kalau banyak 
> dari mereka), maka dalam perjalanan waktu seluruh masyarakat akan 
> merosot. Sekarang sudah tampak bahwa banyak dari yang dalam tes PISA 
> mendapat angka rendah itu ternyata dari keluarga yang orangtuanya 
> kurang bersekolah. Rupanya situasi intelektual dalam keluarga 
> memengaruhi pertumbuhan intelektual murid-murid secara luas. 
> Apa yang dapat kita petik bagi Indonesia? Kita tidak belajar mengenai 
> kedudukan kita yang dalam hal pengetahuan alam nomor 50 dan kemampuan 
> membaca dan Matematika pun tidak begitu jauh di ujung terbawah. Kita 
> mempunyai dalih mengenai posisi itu. Kita juga tidak mau 
> memanfaatkannya untuk mengejar target 20 persen APBN untuk sekolah. 
> Tetapi, kita dapat belajar dari reaksi banyak menteri pendidikan dan 
> pemerintahan ketika mendapati posisi murid-murid mereka. Ada yang 
> marah kepada penyelenggara tes, tetapi ada juga yang mulai mengurut: 
> apa yang dapat diperbaiki dari sistem persekolahan mereka. 
> Arah perbaikan mereka hampir semua sama: menuju ke sistem persekolahan 
> yang mendorong murid mereka semakin dapat berpikir mandiri dan yang 
> memungkinkan penyebaran akses pendidikan makin luas. Kalau demikian, 
> pengobatannya perlu jangka panjang. Sebab di satu sisi mereka 
> menyadari bahwa sistem persekolahan mereka amat terikat pada tradisi 
> masyarakat dan konstruksi seluruh sistem pemerintahan sehingga 
> perbaikannya perlu waktu lama; di sisi lain, mereka sadar sekali bahwa 
> perubahan masyarakat di masa depan hanya dapat mulai dengan mendorong 
> murid berpikir mandiri serta memperluas akses pada proses pencerdasan. 
> Tetapi kemampuan berpikir memang membutuhkan pendidikan dalam 
> mengungkapkan diri, baik secara tertulis maupun secara lisan. Sebab 
> tidak ada pikiran tanpa pengungkapan. Itu diperlukan untuk hidup: 
> cerdas secara matematis dan cerdas secara linguistis. 
> Sementara itu, ada kecerdasan sosial yang amat dibutuhkan. Hal itu 
> mencakup kepekaan sosial yang membutuhkan mekanisme persekolahan dan 
> mekanisme pergaulan sosial yang terbuka. Eksklusivitas kelompok yang 
> sesekali muncul dengan banyaknya imigran dari Eropa Timur dan Asia 
> Barat dianggap merupakan faktor penting dalam pencerdasan murid. 
> Lambat laun dirasakan bahwa hadirnya orang dari aneka agama mendorong 
> meningkatnya kebutuhan akan kecerdasan sosial, yang pada gilirannya 
> menaikkan kecerdasan kepribadian secara menyeluruh. 
> Tuntutan 
> Mulai berkembang tuntutan agar pemerintah memfasilitasi hubungan 
> lintas kelompok dan lintas agama serta mencegah bahwa ada kelompok 
> fanatik yang mau memaksakan kehendaknya mengatur pergaulan masyarakat 
> menurut selera mereka. Hal itu tidak hanya dianggap tidak sesuai 
> dengan hak asasi manusia atau demokrasi dan karena itu aparat 
> pemerintah wajib menanggapinya dengan serius. Tetapi hal itu dinilai 
> juga merosotkan kecerdasan sosial yang dalam jangka panjang akan 
> membuat masyarakat secara keseluruhan mundur ke abad pertengahan. 
> Mungkin di sanalah Indonesia dapat belajar. 
> BS Mardiatmadja Pendidik 
> www.kompas.com 
> mediacare 
>  http://www.mediacar e.biz 
> [Non-text portions of this message have been removed] 
>      



      ___________________________________________________________
Yahoo! Answers - Got a question? Someone out there knows the answer. Try it
now.
http://uk.answers.yahoo.com/ 

Kirim email ke