Warta Berita - Radio Nederland, 21 Desember 2007 MEMPERTANYAKAN PENYEGELAN POLISI TERHADAP AHMADIYAH
Intro: Wakil Presiden Jusuf Kalla meminta polisi segera membuka segel yang mereka pasang pada rumah ibadah jemaah Ahmadiyah di Kuningan dan Tasikmalaya, Jawa Barat. Langkah penyegelan itu memang menimbulkan banyak kritik, karena mengapa polisi harus melakukannya? Apakah itu benar-benar untuk melindungi para pengikut Ahmadiyah atau justru menghalang-halangi mereka beribadah? Lebih dari itu polisi harus menuruti siapa? Menuruti MUI yang menyatakan Ahmadiyah bertentangan dengan Syariat Islam atau menuruti pemerintah yang memang tidak bersikap soal agama? Berikut penjelasan Budi Witjaksono, pakar polisi pada Universitas Diponegoro di Semarang. Budi Witjaksono [BW]: Jadi begini yah, ini memang sulit sekali. Jadi polisi ini, sebetulnya, pada satu sisi, dia bisa dianggap melanggar hak-hak azasi manusia. Sisi lain, dia juga harus menjaga ketertiban, supaya tidak banyak terjadi korban lebih jauh lagi. Jadi masalah ini. Jadi ini ada dua hal. Dari satu sisi, dia memang melanggar hak azasi manusia. Tapi, dari sisi lain, dia menjaga, supaya tidak ada korban lebih jauh. Radio Nederland Wereldomroep [RNW]: Bagaimana, apakah polisi harus mengikuti, misalnya fatwa MUI, bahwa ajaran Akhmadiyah ini sesat, misalnya. Apakah itu merupakan sebuah acuan bagi polisi? BW: Saya kira tidak. Memang betul, saya kira tidak. Kalau mengikuti itu, tidak benar. Karena, polisi itu, aparat negara. Jadi, endak benar ngikuti itu. Tapi kan, polisi itu, kan tidak cuma sebagai penegak hukum. Polisi juga penjaga ketertiban, pengayom masyarakat. Dan mengayomi masyarakat itu tidak selalu berdasarkan hukum, gitu lho. Jadi, kalau ternyata ada bahaya lain, yang bisa membahayakan, justru warga Ahmadiyah, memang polisi harus mengambil tindakan seperti itu. Memang, seolah-olah, Ahmadiyah dirugikan. Tapi, saya melihat sisi lain, juga menyelamatkan. Dan saya tahu persis, bahwa polisi tidak mampu, saya kira, untuk melawan demikian saja. Meskipun enggak bener ja. Tapi, faktanya, saya yakin, polisi kurang mampu mengatasi aksi teror orang-orang Islam yang anti Ahmadiyah tersebut. Saya juga sebenarnya kurang sependapat dari segi ini. Tapi kan, tindakan polisi itu, untuk menjaga kebringgasan lebih berat. Meskipun ini, sebetulnya juga salah satu kegagalan dari polisi. Mengapa tidak bisa melindungi warganya, meski pun seorang, gitu ya. Jadi, merupakan suatu kegagalan juga. Tapi, daripada korban lebih banyak lagi, memang yang diambil polisi ini, meskipun salah, tapi ya, masih ada baiknya. Kalau saya bilang, begitu. RNW: Apakah pendapat Pak Budi ini juga berlaku untuk masalah-masalah lain? Karena misalnya soal kerusuhan antar ummat beragama ini cukup banyak di Indonesia. Bagaimana Pak Budi menilai peran polisi dalam hal ini? Wawancara Radio Nederland Wereldomroep selengkapnya dengan Budi Witjaksono dapat anda ikuti, pada situs web kami: WWW.RANESI.NL mediacare http://www.mediacare.biz [Non-text portions of this message have been removed]

