Surat Dari Montmartre:

KONFIRMASI KELAHIRAN DAN PENGEMBANGAN DIRI SEBAGAI PENULIS 
 Menyambut terbitnya "Against the Wind" dan "Fragranced Deception" novel-novel 
May Swan 



Dari puncak Montmartre,  ketinggian kota Paris, pada puncak musim dingin yang 
merasuk tulang, aku membaca posting S. Manap, penulis kucerpen "Di 
Pengasingan",   yang sekarang tinggal di Swedia.  Posting S. Manap yang 
merupakan sebuah pemberitahuan, lengkapnya sebagai berikut: 


"Teman-teman, sahabat-sahabat dan kawan-kawan sekalian.

     Telah terbit dua buku baru dalam bahasa Inggris.
     Penulis    : May Swan, kelahiran Jakarta yang berdomisili di Singapura.
     Penerbit  : Ultimus Bandung.

     Buku pertama berjudul            : Against The Wind, tebal 220 halaman 
                                                    dengan harga  Rp 42.000.
     Buku ke dua                          : Fragranced Deception, tebal 232 
halaman,
                                                    dengan harga Rp 43.000.
     Buku dapat dibeli di CV Ultimus , Jl. Lengkong Besar 127, Bandung,40261.
                                                        Tel/Fax.62-22-4237060
                                                        [EMAIL PROTECTED]
                                                        www.ultimusbandung.info
      
 Kepada teman-teman, sahabat-sahabat dan kawan-kawan yang berminat,  disilahkan 
menghubungi Toko Buku Ultimus Bandung dan selamat membaca.
 21 Desember 2007."


Membaca posting S. Manap ini, kenangan serta-merta menyeret bayanganku ke arah 
Bandung, terutama ke tokobuku Ultimus di Jalan Lengkong di mana aku menginap 
seusai menjadi pembicara di "forum pemutaran filem tentang Koperasi Restoran 
Indonesia Paris" di kompleks ITB, karya Dhani Agustinus dari IKJ, Jakarta. 
Dalam Festival Nasional Filem Dokumenter di Yogya baru-baru ini, filem Dhani 
mendapat penghargaan sebagai pemenangan pertama.


Di Ultimus yang mempunyai halaman samping yang besar, aku berbincang-bincang 
santai dengan banyak teman-teman muda baru tentang sastra-seni, dan tentu saja 
tentang kehidupanku di Paris serta Koperasi Restoran  Indonesia Paris, di mana 
aku menjadi salah seorang pekerja kecilnya. "Salah seorang jongosnya. Kulinya!" 
jika menggunakan istilah umum yang kami gunakan dikalangan kami sendiri. Di 
sini aku "dikejar" dan diwawancarai sampai subuh buta, oleh wartawan Harian 
Jurnal Nasional [Jurnas], Jakarta, yang kabarnya didukung oleh  Susilo 
BambangYudoyono, presiden Republik Indonesia sekarang. 


Walau pun aku tidak suka diwawancarai, karena sering kudapatkan hasil wawancara 
berbeda dengan yang diucapkan dan dimaksudkan oleh yang diwawancarai, tapi 
ditempatkan dalam keadaaan begini, aku tidak memperoleh alasan baik untuk 
menolaknya.  Sayangnya, dan aku sesalkan, walau pun sudah bolak-balik  berjanji 
akan mengirimiku kopie wawancara itu, sampai detik terakhir aku meninggalkan 
Indonesia, apa yang dijanjikan itu tak pernah kuterima. Sesalku terletak pada 
ingkarnya seseorang akan kata, apalagi dari seorang wartawan yang bekerja 
dengan kata. Karena banyak pengalaman buruk dengan para wartawan, maka aku 
pernah menolak, misalnya, diwawancarai ulang oleh wartawan Harian The Straits 
Time, Singapura, menolak permintaan wawancara majalah Asia Week, Hongkong dan 
sempat membentak wartawan UPI ketika ia membuka dialog dengan mengejek orang 
Dayak. Dari pengalaman-pengalama ini, maka  hingga sekarang, aku sampai pada 
hipotesa bahwa "wartawan itu egois, kata-katanya sulit dipercayai". "Janji 
hanyalah salah satu siasat memenuhi kepentingannya, merampungkan pekerjaannya". 
Yang celaka, apa yang kita ucapkan, sering keluar di tulisan mereka  tidak 
sesuai dengan yang kita maksudkan. Keadaan  begini yang membuatku ogah sekali 
diwawancarai. Cara begini, kuanggap berbahaya dan tidak "fair". Tidak korek. 
Tidak gampang menghormati yang diwawancarai. Padahal pers mempunyai kedudukan 
sebagai "kekuatan keempat". Kata-kata ini kutulis untuk bertanya : Bagaimana 
wartawan menghormati diri mereka sendiri? Menjadi wartawan yang bermartabat 
manusiawi.


Waktu  berbincang-bincang hingga larut subuh dengan beberapa kawan muda yang 
baru kukenal, tentu saja di antara mereka terdapat Bilven Gultom, 
penanggungjawab CV Ultimus, seorang anak muda yang masih dihangat oleh mimpi 
manusiawi.  Waktu itu, Bilven memberiku secarik kertas berisikan ikhtisar 
"Against the Wind" , novel May Swan, penulis Indonesia-Singapura, yang sedang 
berada di proses pencetakan. Kubaca lembaran kertas yang diberikan oleh Bilven 
itu dalam hati yang kemudian sibuk berdialog sendiri. Juga diam-diam. Bilven 
hanya memandangku dengan sorot mata bermakna. Tapi tak sepatah pun kata terucap 
kecuali mengalihkan tema percakapan. Ke masalah-masalah mendesak yang dihadapi 
Ultimus hari ini dan tahun depan. "Sayang sekali jika tempat strategis dan 
berfungsi majemuk begini tidak bisa dipertahankan",ujarku pada Bilven sambil 
sibuk dengan dialog diamku dengan diri sendiri setelah membaca lembaran kertas 
tadi, dan membayangkan tanpa banyak ilusi adanya solidaritas dari Eropa dan 
tempat-tempat lain guna membantu Ultimus mengatasi persoalan mendesaknya, 
terutama dari segi finansial -- sewa gedung sekitar 25 juta.  Aku menyukai 
tempat ini. Tapi kesukaan ini sekaligus terasa menyakitkan ketika sekarang, aku 
sendiri tidak bisa berbuat banyak. Kisah terbuka Bilven mengatakan kepadaku 
betapa sulitnya menjadi pemimpi di Indonesia. Kesulitan yang mengingatkan aku 
akan ide sinik Rendra dalam puisi-puisinya bahwa ia menganjurkan anaknya 
menjadi  bandit, pencopet dan sejenisnya. Di negeri "jalan pintas" ini, menjadi 
penjahat lebih gampang dari pada menjadi pemimpi. Tapi sebelum pamit, aku 
melihat Bilven Gultom yang lebih Sunda daripada Batak, masih saja seorang 
pemimpi sama pemimpinya dengan Halim HD atau Wari Atun dari Muntilan, atau Mas 
Yok dari Syarikat Indonesia Yogya. Dll... Apalagi aku masih kuat   terpancang 
pada pengalaman yang tersimpul dalam   pepatah Tiongkok Kuno bahwa "daya tahan 
seekor kuda diuji dalam perjalanan jauh". Selagi bernafas kita belum bisa 
memastikan kata terakhir apa yang kita ucapkan. Lebih-lebih sebagai penulis 
yang bekerja dengan kata dan ide.


Dengan diterbitkannya sekaligus dua novel "Against the Wind" [Menarung Angin] 
dan "Fragranced Deception" [Selingkuh Indah-- ?!--], May Swan, si puteri naga 
[Liong],   dengan ini menambah jumlah karya tulisnya setelah menulis  kucerpen 
"Matahari Di Tengah Malam" dan satu karya berbahasa Inggris tentang Myanmar. 
Melalui dua karya terbarunya ini , si puteri naga May Swan telah memastikan dan 
mengembangkan dirinya menjadi penulis sehingga tak ada alasan nalar 
kekhawatiran Bismo dari Ceko bahwa May Swan akan "istirahat". Kehidupan seorang 
penulis sejati tidak punya masa akhir, seperti sebuah kalimat hanya berakhir 
titik. Dan titik bagi penulis hanyalah kematian, sedang kehidupan adalah 
kalimat berujung koma. Kehidupan seorang penulis , kukira tidak mengenal usia, 
tak obah keadaan pinisi di laut,  yang berlayar tak punya sampai dan tak punya 
dermaga bagi jiwanya yang selalu resah bertanya. Juga tak punya puncak. Jika 
menggunakan perbandingan sastra Dayak dalam "Sansana Bandar", penulis adalah 
tokoh Bandar yang mengelana memburu makna. Duka-derita, pahit-getir akan ia 
obah jadi buah manis pencarian, yang mengeraskan tulang-belulangnya dan makin 
memerahi darahnya. Membuatnya semakin Sairara, ujar orang Batak. Dengan 
baris-baris ini, aku menyatakan kebanggaan dan kegembiraan atas terbitnya dua 
novel ini berbarengan. Tanda dari kreativitas yang mampu mengalahkan tantangan 
berwajah Dasamuka. Bukti bahwa manusia bisa jadi pemenang. Bisa jadi subyek!  
Terbitnya dua novel May Swan sekaligus ini , jika menggunakan istilah Cie Lan, 
pendidik dari Klaten, May Swan si puteri naga,  sedang tanpa letih membangun 
monumennya. Membangun Taj Mahal-nya dalam bentuk sastra. Karya, tidakkah sebuah 
monumen bagi penulis? Dan May Swan kukira, mampu membangun monumen monumental, 
membangun TajMahal-nya,  karena ia menyertai karyasastranya dengan studi: 
terutama sejarah, politik, filsafat, sosiologi, psikhologi dan segi-segi lain 
kehidupan. Kepekaannya terhadap kehidupan, membuat ia menjadi makin puitis dan 
tajam dalam melihat masalah serta produktif. 


Aku percaya sekali, bahwa tahun baru yang sebentar lagi tiba akan menghadirkan 
kehadapan kita sejumlah karya-karya baru Puteri Naga ini . Kukira di sinilah 
terletak makna pergantian tahun bagi anak manusia. Terletak pada kemampuan, 
tekad dan janji berkreasi untuk memanusiawikan hidup dan diri sediri. 
Menjadikan airmata dan darah duka sebagai "penyang" [bahasa Dayak, berarti 
sangu spiritual  kehidupan]:  berlaga. Ucapan Selamat Tahun Baru bukanlah 
sekedar basa-basi tatakrama kosong dan kering tapi satu ketulusan setia pada 
nilai. Pada kesempatan ini, aku ingin menyampaikan ucapan selamat ini, termasuk 
kepada Puteri Naga yang telah mengkofirmasi kelahiran dirinya  sebagai penulis 
dan mengembangkan lebih lanjut konfirmasi diri ini. Karya adalah suatu 
proklamasi eksistensi dan tingkat martabat  diri masing-masing. Pernyataan 
terbuka: "Inilah aku!"****


Paris, Desember 2007.
-----------------------------
JJ. Kusni, pekerja biasa pada Koperasi Restoran Indonesia, Paris.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke