--- In [email protected], sFe <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>

Natal: Membebaskan Keselamatan Eksklusif
Oleh Stevanus Subagijo 


Senin, 24 Desember 2007
Ada salah persepsi akut, terus terulang dan dianggap kebenaran ketika 
dunia menyambut Natal. Yakni bahwa Natal adalah eksklusif milik dan 
diperingati hanya untuk dan oleh umat Kristen, sebagai pengikut Yesus 
yang dilahirkan itu. Natal diposisikan sebagai "kavling keselamatan" 
atau spiritual cluster dari proyek surgawi untuk komunitas Yahudi 
saat itu yang menunggu datangnya Mesias yang dijanjikan.

Pasca pelayanan Yesus, Natal diidentikkan sebagai paket keselamatan 
Allah yang diperluas, yakni berlaku untuk mereka yang mengimani Yesus 
sebagai mesias. Meski tampak diperluas, paket keselamatan itu dalam 
perjalanannya justru mengalami pembonsaian "untuk kalangan sendiri", 
hanya untuk komunitas Kristen. 

Konsekuensi Natal sebagai paket keselamatan eksklusif telah 
mendegradasikan makna Natal yang sesungguhnya. Yesus memang lahir di 
tengah-tengah komunitas Yahudi dan pasca pelayanan-Nya hak 
keselamatan itu diperluas menjadi milik orang Kristen. Akibatnya 
makna kelahiran Yesus sebagai Juruselamat hanya bisa dinikmati oleh 
mereka. Di luar kelompok ini, makna Natal, datangnya Juruselamat dan 
janji keselamatan kekal, tidak ada peruntukkannya. Kita kehilangan 
substansi Natal yang sesungguhnya. 

Kelahiran Yesus yang merupakan rencana dan campur tangan Allah lewat 
pembuahan janin lewat Roh Allah, lewat nubuatan Nabi-Nabi, sehingga 
Mesias itu sungguh nyata, hadir, dalam ruang dan waktu manusia, 
bagaimana mungkin dibatasi, eksklusif hanya untuk orang Kristen ? 
Jika Natal eksklusif untuk orang Kristen saja, rencana dan campur 
tangan Allah atas peristiwa Natal menjadi disanksikan. Natal seperti 
itu justru kontradiktif dengan sifat-sifat Allah sebagai penggagas 
Natal yang Maha Tak Terbatas. Allah yang lintaskomunitas, 
lintaskonteks, lintas-privilege, lintasagama, pendeknya melintasi 
batas-batas yang diciptakan manusia dan tak mungkin dipenjarakan oleh 
pengkotak-kotakan buatan manusia. 

Ketika Allah menghadirkan Natal di Betlehem, itu juga berlaku untuk 
hadirnya Natal di sini. Bayi Yesus, sebagai juruselamat, Ia bukan 
hanya menjadi juruselamat komunitas Kristen, tetapi juga juruselamat 
semua kalangan. Keselamatan itu universal, kekristenan sebagai 
agamalah yang mempersempit menjadi seolah-olah hak miliknya. 
Konsekuensi Natal sebagai rencana Allah ialah menyelamatkan seluruh 
dunia. (Yohanes 4:42) Klaim awal tentang keselamatan universal telah 
mengalami penyempitan, menjadi skandal keselamatan yang terbatas 
untuk kalangan Kristiani saja. Masyarakat Betlehem, komunitas Yahudi, 
komunitas Kristen awal, dan gereja tidak berhak menjadi tembok yang 
membatasi keselamatan dari Allah yang Maha Tak Terbatas itu menjadi 
eksklusif. 

Persoalannya, jika Natal merupakan proyek keselamatan universal yang 
diresponi sebagai sukacita bagi dunia, bagaimana menjembatani 
eksklusivitas Kristen dan gereja khususnya yang identik dengan Natal, 
dengan mereka yang bukan Kristen dan tak mengenal gereja. Mal dan 
pengunjungnya, televisi dan penontonnya mungkin memaknai Natal dengan 
berbelanja, makan, melihat tayangan, memasang pohon dan kerlip lampu 
dan sebagainya, itu semua hanya tujuan artifisial dan komersial, tapi 
bukan tujuan sesungguhnya Natal. Natal bagi semua kalangan ialah 
bagaimana memaknai keselamatan itu bisa diterima dan dirasakan 
sebagai milik bersama. 

Natal dengan demikian dikembalikan kepada "keselamatan besar" awal 
yang multimakna, dan kepada mereka yang belum terselamatkan dalam 
banyak arti. Natal itu buat mereka yang miskin, berduka, lapar-haus, 
teraniaya, pendeknya yang tak dipandang bahkan dihina oleh dunia ini. 
Natal seperti awalnya perlu dilepaskan dari baju agama. Tuntutan 
Natal bagi orang Kristen dan gereja ialah membuka jalan "keselamatan 
besar" kepada orang lain yang berbeda tanpa orang itu menjadi sama 
dengan dirinya. Natal itu membawa kabar keselamatan dalam makna 
seluas-luasnya dan tanpa syarat. 

Syarat itu justru dikenakan Allah kepada diri-Nya sendiri, dengan 
meninggalkan ke-Allah-annya dan lahir dalam rupa manusia Yesus. Natal 
meneladankan bahwa keselamatan membutuhkan pengorbanan, yakni 
pengenaan syarat pada diri si pemberi. Pengorbanan diri 
yang "keterlaluan", tapi sangat mulia. 

Natal dengan demikian memberikan stigma bebas tanpa syarat apapun 
kepada yang lain untuk menerima "keselamatan besar" selagi ia mau, 
selama ia berkenan dan sebanyak kita mampu memberikan. Kabar 
keselamatan harus diperluas, dari keselamatan kekal untuk dirinya ke 
keselamatan dalam makna luas untuk dunia ini. Porsi keselamatan untuk 
dunia harus terus ditambah untuk menutupi gerusan berbagai potret 
ketidakselamatan. Dan, makna keselamatan yang sangat luas itu bukan 
hanya identik keselamatan iman yang digampangkan asal pindah beragama 
Kristen. 

Orang Kristen dan gereja bisa berperan dalam proses penyelamatan 
lewat kiprah dan otoritasnya dalam menyelamatkan sesama manusia dan 
alam, dari penderitaan, kebodohan, kemiskinan, kesakitan, kerusakan, 
kehancuran dan sebagainya. Jika kita belum bisa menjadikan seluruh 
dunia ini menjadi murid-Nya sebagai stempel keselamatan kekal, paling 
sedikit kita bisa menyelamatkannya dalam kehidupan tidak kekalnya di 
dunia. 

Berkaca dari Natal inilah, orang Kristen dan gereja perlu 
menjembatani agar proyek keselamatannya yang bersifat eksklusif itu 
menjadi "pasar keselamatan" universal. Proyek keselamatan harus 
menjadi "rahmat bagi sekalian alam", menjadi "sukacita bagi dunia", 
dan joy to the world.

Keselamatan harus dipancarkan kepada siapapun yang dalam posisi 
durung slamet dalam makna seluas mungkin, tak soal dari mana 
datangnya mata air keselamatan itu. Kita tahu sumber keselamatan 
Natal adalah Allah sendiri. Ia tak sekadar memberi bekal, tapi sudah 
menyediakan full package keselamatan sebagai proses perubahan 
totalitas hidup bagi siapa saja, tanpa pandang bulu.*** 

Penulis adalah peneliti pada Center for National Urgency Studies 
Jakarta 

Kirim email ke