Dear all! Lama saya tidak nongol di sini. Saya ikut main dalam filmnya Garin Nugroho terbaru di Bali.
Sekarang saya sudah di Jakarta kembali. Shooting di Bali film "Di Bawah Pohon" karya in progress sutradara Garin sudah rampung, tapi mungkin akan ada retake shooting di Jakarta, entah untuk adegan yang mana. Yang terang saya harapkan adegan penutup di tepi pantai Sanur menggambarkan kebangkitan hidup kembali (tokoh Darma yang saya perankan itu) di atas katil penggotong mayat itu diulang kembali. Saya tidak puas dengan setnya, termasuk langit dengan matahari terbit di pantai itu, selain katil tempat saya menarikan Ritus Topeng itu kurang kukuh sehingga mengganggu keseimbangan ketika saya berdiri dengan satu kaki dalam pose Siwa Nattaraja. Demikian juga ketika melangkah di pasir menuju ombak tepi pantai, pasirnya juga mudah amblas kena injak kaki. Film Garin Nugraha terbaru ini mengungkapkan dunia kehidupan masyarakat Bali zaman sekarang yang tidak bisa dilepaskan dari kosmologi warisan budaya nenekmoyangnya, dalam berinteraksi dengan dunia dari luar Bali sekarang. Garin memilih beberapa seni pertunjukan sakral dan upacara suci keagamaan dilengkapi dengan latar belakang proses persiapannya untuk bahasa ;penmgungkapan semua itu. Jadi, dia tidak mengandalkan kepada bahasa berupa kata-kata dalam bentuk dialog maupun narasi, meskipun masih ada kata-kata dan dialog berupa cipratan-cipratan kecil tak ubahnya percikan tirta suci Sang Pedanda saja. Karenanya, adegan-adegan yang saya ada di dalamnya nyaris berupa peristiwa tanpa kata, melainkan peristiwa untuk ditangkap dengan mata. Tokoh yang saya makinkan bernama Darma, adalah salah seorang manusia dalam masyarakat Bali tradisional itu, yang menghilang sejak tahun 60-an, tidak diketahui di mana keberadaannya, sehingga disimpulkan sudah mati. Maka oleh masyarakat dia pun diaben secara absensia, sesuai dengan tradisi yang berlaku, lengkap dengan upacara pengabenan (pembakaran mayat) itu. Tapi setelah 40-an tahun Darma muncul kembali di Bali dalam keadaan hidup! Kenyataan ini menggoncangkan jiwa Darma, karena dia diposisikan berada di dua dunia, yakni dunia skala dan dunia niskala. Dunia skala adalah dunia yang bisa diamati dengan panca indra kita, termasuk dengan mata dan rabaan. Sedangkan seorang orang yang sudah diupacarai dengan pengabenan, dia berada di dunia niskala yang tidak bisa diamati dengan panca indra. Dualisme ini bisa diselesaikan lewat seni pertunjukan sakral Calonarang: apakah dia seutuhnya akan berada di dunia nyata kita ini, atau akan berada di dunia niskala di sana. Dalam Calonarang itu Darma memerankan salah satu tokohnya yang akan dinyatakan mati suri, sehingga nyawanya bisa direnggut oleh makhluk jadi-jadian anak buahnya Rangda yang secara popupler disebut Leak itu. Kalau kesaktian pimpinan grup Calonarang ini (Ngurah Hartha) kalah dalam pertarungannya dengan Sang Leak yang datang ke gelanggang pertunjukan, maka Darma tidak akan bisa hidup lagi. Mati. Dan itu berarti saya harus berani menanggung resiko ini, resiko untuk mati dalam arti yang sebenarnya! Dalam temu pers di Denpasar menjelang pembuatan film ini saya menyatakan siap secara jasad dan ruh untuk memerankan langsung adegan yang beresiko itu, ketika ditanya apakah untuk adegan itu akan ada stand-in untuk saya. Shooting adegan beresiko ini diambil pada hari terakhir, setelah jam 12 tengah malam. Penonton datang berjubel mengelilingi arena pertunjukan Calonarang malam itu. Jadi, setelah Darma mati, maka mayatnya dibawa ke kuburan. Ya, kuburan betulan yang letaknya sekitar satu KM dari tempat pertunjukan! Saya digotong di atas katil sepanajang jalan dalam gelap malam yang hanya diterangi obor yang di bawa beberapa orang. Penonton tampaknya tidak ada yang berani ikut, maka saya hanyalah diiringi oleh beberapa orang pilihan Ngurah Hartha saja. Mereka setia menemani/melindungi saya setelah saya dibaringkan di atas tanah pekuburan pada tengah malam buta itu. Nah, menjelang pagi, dalam sunyi pekuburan, saya diperiksa apakah masih hidup atau sudah mati. Upacara pun dilakukan menyambut hidup- kembalinya Darma/saya di tengah pekuburan itu. Nah, pada saat inilah justeru saya merasakan bulu roma saya meremang, sekujur tubuh saya merinding, dan ada rasa ngeri yang dalam! Padahal sebelumnya saya merasa tenang-tenang saja sejak saya ditutupi dengan kain putih di atas katil itu sampai saya dibaringkan di tanah pekuburan! Apakah kematian justeru memberikan ketenangan, sedangkan hidup membuat diri jadi merinding? Mereka yang menemani saya di kuburan malam itu memeluk saya, dan wajah-wajah mereka gembira setelah menemukan saya hidup kembali! Sebuah pengalaman merasakan mati yang tidak akan pernah saya lupakan di dalam hidup saya!

