Sajak-sajak Joko Pinurbo
Kredo Celana Yesus yang seksi dan murah hati, kutemukan celana jinmu yang koyak di sebuah pasar loak. Dengan uang yang tersisa dalam dompetku kusambar ia jadi milikku. Ada noda darah pada dengkulnya. Dan aku ingat sabdamu: "Siapa berani mengenakan celanaku akan mencecap getir darahku." Mencecap darahmu? Siapa takut! Sudah sering aku berdarah, walau darahku tak segarang darahmu. Siapa gerangan telah melego celanamu? Pencuri yang kelaparan, pak guru yang dihajar hutang, atau pengarang yang dianiaya kemiskinan? Entahlah. Yang pasti celanamu pernah dipakai bermacam-macam orang. Yesus yang seksi dan rendah hati, malam ini aku akan baca puisi di sebuah gedung pertunjukan dan akan kupakai celanamu yang sudah agak pudar warnanya. Boleh dong sekali-sekali aku tampil gaya. Di panggung yang remang-remang sajak-sajakku meluncur riang. Makin lama tubuhku terasa menyuut dan lambat laun menghilang. Tinggal celanamu bergoyang-goyang di depan mikrofon, sementara sajak-sajakku terus menggema dan aku lebur ke dalam gema. "Hidup raja celana!" Hadirin terkesima. Kelak akan ada seorang ibu yang menjahit sajak-sajakku menjadi sehelai celana dan celanaku akan merindukan celanamu. (2007) Kepada Helen Keller Mataku berhutang kepada matamu. Mataku sering meminjam cahaya matamu untuk menulis dan membaca ketika tubuhku padam dan gelap gulita. (2007) Kompas - Minggu, 23 Desember 2007 mediacare http://www.mediacare.biz [Non-text portions of this message have been removed]

