SEBUAH PESAN NATAL ?
Dear Friends, Hmmm hmmm hmmm... Wah, Natal dateng lagi nih, pikirku sejak seminggu lalu. Lebaran sudah lewat, dan sekarang Natal/Tahun Baru menjelang. Hmmm hmmm hmmm... Entah mengapa aku selalu merasa risih ketika dua hari raya itu mendekat. Kenapa? Well, should I be honest here? Hmmm hmmm hmmm... karena yang ngirim SMS itu bertubi-tubi dan aku always kehabisan pulsa untuk menjawab satu persatu. Pulsanya udah habis, so melalui posting ini saya mengucapkan terima kasih kepada yang mengirimkan SMS Selamat Natal/Tahun Baru kepada saya. Dan juga terima kasih untuk yang mengirimkan Selamat Lebaran melalui SMS kepada saya yang, sampai saat ini, belum sempat saya balas juga. Hemat pulsa nihhh!!!! Kenapa yah, pada ngirim selamat ke aku kalo Lebaran dan Natal/Tahun Baru? Dan kenapa gak ada yang ngirim selamat ke aku waktu Galungan (Hari Raya Hindu Bali) atau Waisak (Hari Raya Buddhist), atau waktu Tahun Baru Suro (hari yang dihormati oleh kalangan Kejawen, walaupun gak diakui oleh republik mimpi ini)? Hmmm hmmm hmmm... mungkin aku lebih terlihat Muslim dan Kristen dibandingkan aliran2 yang lain itu yah? Pedahal aku kan mengetengahkan SPIRITUALITAS yang berada di luar agama2 itu. Agama2 is ok. Dan kita tidak harus tergantung dari agama2 untuk kultivasi spiritualitas kita masing2. Hmmm hmmm hmmm... Terus tadi ada seorang rekan dari Jawa Tengah yang telepon aku pagi2. Dia gak percaya kalo aku ini gak pergi ke gereja waktu Natal. "Semalam ke gereja gak ?", tanya dia. "Nggak", jawab aku. "Hari ini ke gereja gak ?", tanya dia lagi. "Nggak juga", jawab aku. Hmmm hmmm hmmm... so what? Ke gereja or gak ke gereja, emangnya Tuhan marah. Anyway, thanks for so many Selamat Natal SMS yang gak bisa (dan gak mao karena pengen hemat pulsa) aku balas satu persatu. Well, I accept the fact kalo tiap Lebaran terima SMS banyak, tiap Natal juga begitu. So, aku IKHLAS dan PASRAH aja deh. Apa yang terjadi, terjadilah. Mao dibilang Muslim kek, mao dibilang Nasrani kek, mao dibilang Buddhist kek, mao dibilang Hindu kek, I don't care. Apa aja deh,... hmmm hmmm hmmm... Nah, Mas B, temen yang dari Jawa Tengah dan baru pertama kali bicara dengan aku di telpon itu kemudian banyak diemnya. "Kok diem aja ?" tanya aku. "Suaranya laen," katanya. "Lha, kok tau suaranya laen? Kan belom pernah ngomong sama aku sebelumnya," tanya aku. "Suaranya kayak anak muda, gak sesuai dengan umurnya, gak sesuai dengan bayangan aku," jawabnya. Hmmm hmmm hmmm... aku ketawa aja. Abis musti ngomong apa lagi. Emang suaranya kayak gitu, gak dibikin supaya awet muda or pake jampe2 ilmu pengasihan. Dan Mas B akhirnya tanya tentang AGAMA ke aku. Aduh, pikirku. Orang2 kok pada ributin agama. Agama aja gak ngeributin orang, ini orang2 pada ributin agama. Well, never mind,... so aku jawab saja. Dia tanya tentang apakah aku percaya "agama". Maksudnya, tentang agama yang "benar",... blah blah blah. Dan jawabannya itu gampang aja. Aku memang PERNAH percaya sama agama, tapi tidak lagi. Aku sekarang pegang Essensi / Hakekat, dan itu bisa kita jalani even tanpa agama. Semua agama itu mengajarkan JALAN BALIK menuju kepada asal muasal dari segalanya. Asal muasal dari roh kita, ... dan ketika kita sampai pada perenungan yang terakhir, kita mau gak mau akan berkesimpulan bahwa roh kita dan roh Al Khalik itu memang TIDAK PERNAH berpisah. Memang selalu satu. Aku mengambil contoh Generator dan aliran listrik yang menghidupi satu kota. Nah, Tuhan itu (atau All that Is, atau Acynthia, atau Thian, atau WHOEVER we might want to call IT/HIM/HER/THEM) itu ibaratnya si Generator,... dan dia itu menghidupi satu kota itu. Dan Generator itu tidak pernah berhenti bekerja, dan memang menyambung terus ke tiap rumah yang ada di kota itu. Lalu diri kita dimana? Well, diri kita itu adalah seperti satu bola lampu. Nah, satu BOLA LAMPU yang hidup di dalam salah satu rumah di dalam satu kota itu apakah tidak berhubungan dengan Generator Tunggal itu?... Hmmm hmmm hmmm... Jawabnya tentu saja BERHUBUNGAN. Dan hubungannya itu TERUS MENERUS. Dan tidak pernah berhenti, dan tidak pernah putus. God is the Generator, dan kita manusia itu adalah bola2 lampunya. Generator itu menghidupi si bola lampu. Ada LISTRIK (Roh). Dan Listrik (Roh) yang ada di Generator itu sama persis dengan Listrik yang ada di Bola Lampu itu, ... bahkan di Bola Lampu yang terkecil. Itu analoginya antara kita manusia dengan God / Tuhan / Allah / All that Is... Lalu si Mas B bertanya lagi, kok ada banyak agama2 ? Hmmm hmmm hmmm... Aku jawab, memangnya gak boleh ? Agama2 itu METODE2 belaka. Tiap agama itu satu metode,... dan metode itu teknik2 untuk memberikan PEMAHAMAN kepada si Bola Lampu itu bahwa Listrik yang ada di dirinya itu SAMA PERSIS dengan Listrik yang ada di si Generator. Listrik di Generator itu menghidupi si Bola Lampu, itu memang benar. Tetapi listriknya itu SAMA PERSIS. So,... ROH MANUSIA itu sama persis dengan ROH TUHAN. Itu analoginya. Hmmm hmmm hmmm... Yang suka jadi masalah kan bahasa belaka. Kita harus mengkomunikasikan sesuatu yang ada di luar jangkauan bahasa. Sesuatu yang cuma bisa dirasakan tapi untuk mengkomunikasikannya harus menggunakan gambaran2. Kiasan2. Peribahasa2. Perumpamaan2... Tapi, hakekatnya itu sama saja. Karena kita manusia yang BERPIKIR, maka kita harus menggunakan SIMBOL2 untuk berkomunikasi. Nah, agama2 itu menggunakan simbol2 juga. Dan simbol2 yang digunakan itu beda2. Tapi kita bisa dengan mudah menarik benang merah kesamaan antara berbagai simbol2 itu. Ada KORESPONDENSI yang bisa ditarik antara berbagai simbol yang digunakan oleh berbagai agama/aliran kepercayaan. Contohnya:... Manusia kan berusaha untuk komunikasi dengan penciptanya. Ada yang menyebut ROH PENCIPTA yang ada di dirinya itu dengan sebutan "Subhanallah". Nah, dengan Sang Subhanallah itulah manusia itu berkomunikasi. Berbicara di batinnya dengan Subhanallah, setiap hari,... dan bahkan setiap detik. Ada pula yang menyebut ROH PENCIPTA di dirinya itu sebagai "Tuhan Yesus". Nah, berarti dengan Tuhan Yesuslah orang itu akan berkomunikasi. Ada pula yang berkomunikasi dengan "Bunda Maria". Ada yang berkomunikasi dengan "Eyang Semar". Ada yang berkomunikasi dengan "Sang Buddha". Ada yang berkomunikasi dengan "Dewi Kwan Im". Ada yang berkomunikasi dengan "Kanjeng Ratu". Ada yang berkomunikasi dengan "Roh Kudus". Hmmm hmmm hmmm... Tetapi semua itu kan SIMBOL2 belaka. Simbol2 yang memang PALING AKRAB dengan diri kita. Kita bisa memilih akan menggunakan simbol yang mana. Nah, dengan simbol itulah kita bisa MERASAKAN Manunggaling kawula lan gusti. Merasakan kesatuan dengan yang Illahi. So, in the end, bahkan segala sebutan2 itu cuma metode belaka. Metode untuk komunikasi belaka antara si Bola Lampu dengan si Generator. Mengkomunikasikan Hakekat bahwa pada dasarnya LISTRIK yang ada di si Generator itu SAMA PERSIS dengan yang ada di si Bola Lampu. (Leo) +++++++++++++ [Leo seorang praktisi PSIKOLOGI TRANSPERSONAL. HP No: 0818-183-615. E-mail: <[EMAIL PROTECTED]>. Untuk join milis SPIRITUAL-INDONESIA, please click: <http://groups.yahoo.com/group/Spiritual-Indonesia>.] Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com

