Mama Lauren dan Ramalan 2008
Selasa, 13-11-2007 00:00:58 oleh: aloysius weha 
Kanal: Opini 

 
Ramalan selalu memiliki dua sisi: skeptis dan sugestif. Bagi yang skeptis, 
ramalan sering dicap omong kosong, mendahului kehendak Sang Pemilik Hidup, 
syirik, dan sebagainya. Tentu saja, ini sikap ini tidak keliru. Namun, bagi 
yang sugestif dan cenderung percaya, ramalan menjadi daya yang menggairahkan, 
menarik untuk didiskusikan. Mengapa? Karena setiap orang ingin tahu apa yang 
sesungguhnya akan terjadi pada diri dan dunia yang dihidupinya. Dalam konteks 
ini, Mama Lauren termasuk yang paling sering dijadikan rujukan berbagai media 
untuk meneropong dan menerawang situasi selama satu tahun ke depan.

Saya tidak sedang bicara tentang apa yang diramalkan Mama Lauren di tahun 2008 
yang akan segera tiba. Saya sedang mencoba memahami dan merasa-rasakan dalam 
diri saya sendiri, mengapa dua sisi percaya dan tidak percaya selalu menaungi 
pikiran saya setiap ramalan yang dimunculkan oleh seorang juru ramal, cenayang, 
paranormal, atau apapun namanya.

Secara nalar dan dengan menggunakan ilmu statistika sederhana, setiap orang 
memiliki peluang untuk menjadi peramal. 

"Tahun depan akan banyak artis cerai, orang terkenal meninggal, bencana hebat, 
kecelakaan ini itu, dan sebagainya." Begitu kata para peramal. Tanpa menjadi 
peramal pun, orang dengan mudahnya seharusnya bisa menyimpulkan fenomena umum 
yang selalu dijumpai setiap tahun di negeri ini. Maka, terhadap ramalan semacam 
ini saya cenderung menggunakan nalar dan akal sehat.

Namun saya juga cenderung percaya, ada beberapa orang yang dianugerahi 
kemampuan untuk menelisik dan meneropong kejadian-kejadian di masa datang. 
Namun akal sehat saya mengatakan, kemampuan seperti ini tetap tidak dapat 
menentukan secara eksak kapan suatu peristiwa akan terjadi karena itu tetap 
merupakan sebuah rahasia Ilahi. Apalagi yang menyangkut umur manusia, nasib 
manusia, dan sebagainya. 

Yang bisa didekati dengan ilmu pengetahuan, seperti gunung meletus, banjir, 
tentu saja jauh lebih meyakinkan dibandingkan dengan ramalan-ramalan. Gempa, 
sejauh ini belum bisa diprediksi. Kecelakaan, juga tak bisa diramalkan namun 
bisa dicegah. 

Dari sini, saya sebenarnya hanya mau memberi ruang pada dimensi nonfisik atau 
non-ilmiah pada setiap fenomena yang saya lihat. Hanya supaya saya menjadi 
lebih waspada dan hati-hati, bahwa nalar dan akal saya memiliki keterbatasan, 
dan mungkin saya membutuhkan bantuan orang lain untuk menerjemahkan setiap hal 
yang akan terjadi pada diri dan dunia di sekeliling saya.

Maka, terhadap ramalan Mama Lauren misalnya, saya cenderung mengambil sikap 
kedua-duanya, skeptis sekaligus sugestif. Tidak menelan mentah-mentah, tetapi 
juga tidak menolaknya serta merta. 

Bagaimana dengan Anda?



Sumber gambar: sctv.co.id

www.wikimu.com







mediacare
http://www.mediacare.biz


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke