Surat Dari Montmartre:
   
   
  MENCOBA MEMBACA MASA SILAM
  [Kepada A. Kohar Ibrahim, Putera Indonesia Asal Betawi  Yang Bersemangat].
   
   
   
  Kohar  putera Betawi, syohibku yang bertahun tak berjumpa,
   
  Sangat menarik apa yang kau katakan bahwa: "Maka gamblang sekali, dalam hal 
adanya manifestasi aksi berupa Manifes Kebudayaan (Manikebu) yang dikonsepsi 
dan dideklarasikan oleh sementara kalangan budayawan, sastrawan dan penyair 
Indonesia itu tak lain tak bukan merupakan peristiwa politik – bukan 
semata-mata kebudayaan". 
   
  Pendapat ini menunjukkan bahwa Manifes Kebudayaan selain merupakan peristiwa 
kebudayaan juga sekaligus merupakan "peristiwa politik", peristiwa dan tindakan 
yang menunjukkan dengan gamblang hubungan politik dengan kehidupan kebudayaan, 
sebagaimana juga yang kita saksikan bersama di Tiongkok semasa Revolusi Besar 
Kebudayaan Proletar [RBKP] di tahun 65an ke atas, dengan segala kesalahan, 
kelemahan dan segi positifnya.  Seperti Bung ketahui dengan baik bahwa RBKP 
berawal dari polemik tentang novel "Hai Rui Dipecat Dari Jabatannya". Peristiwa 
ini dan juga berdasarkan peristiwa-peristiwa sebelumnya termasuk Gerakan 4 Mei, 
disimpulkan oleh Mao Zedong sebagai "peristiwa kebudayaan mendahului peristiwa 
politik". Kukira kesimpulan  ini pun berlaku untuk  Indonesia antara lain 
dengan penerbitan Tetra Pulau Buru karya Pramoedya A. Toer, penulis  yang 
banyak Bung bicarakan dalam tulisan serial Bung. Kukira , Hasyim Rachman dan 
Joesoef Isak, tidak kebetulan menerbitkan Tetra Pulau
 Buru itu. Joesoef Isak pada berbagai kesemopatan mengatakan bahwa "kebebasan 
merupakan HAM, hak alami anak manusia, dan ia bukan pemberian penyelenggara 
negara tingkat mana pun. Hak yang harus dibela. Jika dirampas, ia harus direbut 
kembali". Penjara, pembunuhan, penyiksaan dan penangkapan? Hanyalah resiko 
dalam membela dan merebut kembali hak alami itu. Joesoef Isak dan lain-lain 
sudah membuktikan kata-katanya ini dengan perbuatan, antara lain dengan 
menerbitkan tetra Pulau Buru Pram pada masa masih berkuasanya Soeharto. 
Penerbitan tetra ini, kukira, selain merupakan peristiwa budaya, juga adalah 
peristiwa politik. 
   
   
  Dilihat dari analisa Mao Zedong di atas, dibandingkan dengan pendapat dan 
sikap Joesoef Isak ini, plus sejarah negeri ini sendiri,  aku melihat di 
Indonesia pun  agaknya dunia kebudayaan memang merupakan ruang pergulatan awal 
yang kemudian menjalar ke bidang-bidang lain, termasuk politik. Konsep 
Indonesia Merdeka, Sumpah Pemuda 1928, misalnya, kukira, awalnya, adalah konsep 
di dunia budaya. Dunia pemikiran.  Kemudian menjalar ke lingkup lain. Sumpah 
Pemuda, Indonesia Merdeka kemudian berkembang menjadi tekad "Merdeka Atau 
Mati". Tidakkah "Merdeka Atau Mati" pun adalah suatu ide dan sikap budaya juga? 
Ide yang menjelma menjadi kekuatan material ketika ia jadi milik masyarakat.  
Dengan ini, aku mau mengatakan peran budaya sebagai dasar membangun hari ini 
dan esok.
   
   
  Sampai sekarang, aku tidak menganggap bahwa  RBKP merupakan  sesuatu yang 
serba hitam semata. Betapa pun mungkin seperti pernilaian CC Partai Komunis 
Tiongkok, RBKP dipandang 60% keliru. Enam puluh persen keliru artinya persen 
yang tersisa mempunyai arti positif. Sedangkan peristiwa politik dan budaya 
berbentuk Manifes Kebudayaan dan kelahiran Lekra itu sendiri, barangkali, bisa 
diangkat sebagai salah satu bukti bahwa pertarungan budaya mengawali pergulatan 
lebih lanjut di bidang-bidang lain, seperti halnya politik budaya kolonialis 
Belanda "ragi usang" terhadap etnik Dayak.
   
   
  Politik dan kebudayaan,  termasuk sastra-seni, jika kita menyimak data-data 
sejarah negeri mana pun, agaknya saling bertautan dan pengaruh-mempengaruhi. 
Sekali pun mereka, bidang-bidang itu berada dan mempunyai tempat masing-masing 
yang mandiri sebagaimana kedudukan sebuah sekrup dalam mesin keseluruhan suatu 
masyarakat manusia.  Mandiri, tapi saling bertautan. Pengaruh-mempengaruhi 
sebagaimana hubungan suatu negara dan bangsa berdaulat satu dengan yang lain di 
lingkup dunia. Dalam kontek sebagai "utus kalunen" [keluarga  manusia] , jika 
menggunakan alur pikiran manusia Dayak dahoeloe. Saling hubungan antara sektor 
satu dan sektor lain ini akan menjadi kian gamblang jika kita , termasuk 
sastrawan-seniman, tidak berkurung dalam ruang sempit kejuruannya, tapi paling 
tidak, membuka jendela dan pintu pandangannya lebar-lebar untuk melihat dan 
memahami dunia serta kehidupan seutuhnya, mencemplungkan diri ke 
tengah-tengahnya agar pemahaman itu menjadi lebih mendalam dan
 menyentuh hakiki. Yang kumaksudkan dengan "membuka jendela dan pintu pandangan 
lebar-lebar", bisa juga dikatakan secara lain yaitu mempelajari segala segi 
kehidupan bermasyarakat, mencoba melihatnya dari berbagai sudut pandang seperti 
psikhologi, filsafat, sejarah, sosiologi, ekonomi, ilmu bahasa,  termasuk dan 
terutama politik [yang oleh sementara teoritisi politik dipandang sebagai 
pencerminan terpusat dari segala kepentingan, terutama kepentingan ekonomi], 
dan lain-lain.... Semua segi-segi itu akan tercermin, mendapat pantulannya di 
dalam sebuah karya sastra-seni, entah langsung atau tidak langsung, walau pun 
karya sastra-seni memang bukan tulisan ilmiah seperti karya-karya sejarah, 
sosiologi, psikhologi, ilmu bahasa, filsafat dan lain-lain dengan daftar 
bibliografi, dan catatan kaki atau kutipan-kutipan penunjang... Peranan 
segi-segi yang kusebutkan di atas, hampir nampak pada rupa-rupa karya seperti, 
pada karya-karya Pram, Rendra, Mochtar Lubis, Martin Aleida, Lan
 Fang dan bahkan juga pada novel Ita Siregar ["Mencari Daniel"], Fransisca Ria 
Susanti [Kembang-Kembang Genjer],  dan lain-lain untuk menyebut beberapa nama 
saja...  Karena itu pula, aku melihat bahwa sebuah karya sastra-seni bisa 
dilihat dan atau dibicarakan dari berbagai sudut pandang. Sebaliknya, 
sastra-seni sebagai bagian, katakan skrup, tempat berdiri,  memandang 
keseluruhan [baca: masyarakat] dari tempat berdirinya yang otonom. Hasil dan 
isi  pandangan, tergantung tentu saja pada kadar si penglihat. Cara 
pengungkapan isi, pandangan dan sikap terhadap tema yang dibahas pun sangat 
pribadi dan bertautan dengan taraf kemampuan tekhnis yang terkait.
   
   
  Masalah ini aku sentuh untuk mencoba menanggap surat berikut yang baru saja 
kuterima ketika kembali berada di Paris [aku kutip selengkapnya, dan aku akan 
coba menjelaskan pandanganku lebih lanjut]:
   
   
  ----- Original Message -----   From: "patria nusatama" <[EMAIL PROTECTED]>
  To: "jj kusni" <[EMAIL PROTECTED]>
  Sent: Friday, December 14, 2007 8:23 AM
  Subject: Dskusi di Yayasan Umar Kayam Itu

  

  "Saat diskusi bung di Yayasan Umar Kayam Yogyakarta, beberapa waktu yang 
lalu, bung menyatakan bahwa sastra dan seni adalah otonom dan haruslah 
terpisah/dipisahkan dari dunia politik. Saya jadi cenderung ingin mempersoalkan 
pernyataan bung tersebut. Bisakah bung menjelaskannya secara lebih mendalam 
soal pernyataan tersebut? Sebab kayaknya kok tidak mungkin melihat dunia sosial 
dan kelembagaan serta aktivitas berseni bisa dipandang atomistik/terpisahkan 
atau ada pemilahan-pemilahan antara dunia politik dan dunia seni. Sebab sebagai 
pekerja seni dan sastra ketika melakukan kerja berkesenian adalah sebagai 
makhluk individu, akan tetapi mana mungkin si individu pekerja seni kedap  dari 
persoalan hidup bermasyarakat. Sebab ia toh  hidup di alam dunia, dan tetulah 
ia merespon persoalan sosial kemasyaraktan yang hidup berkembang di 
sekelilingnya. Pada saat berkerja seni seorang pekerja seni toh tetap merajut 
realitas sosial yang sudah dicerapnya ke dalam alam  kesadaran maupun
 ketidaksadarannya yang kemudian direspon di dalam karyanya. Ketika berkarya 
dia toh tetap hidup sebagai makhluk sosial yang melakukan tenunan reaksi 
intersubjektif, walupun toh dalam imajinasi pekerja seni tersebut. Dan manakala 
karya seninya kemudian dibaca atau dinikmati oleh audience atau pemirsa atau 
pembacannya toh ia menjadi bagian dari relasi intersubjektif dalam jejaring 
sosial kemasyarakatan. Karya tersebut baru bisa dimaknai atau berbunyi manakala 
diinterpretasikan berdasarkan kode budaya dan kode sosial politik 
masyarakatnya. Jadi maksud bung sebenarnya bagaimana? Persoalannya berikutnya, 
apakah mungkin seorang individu pekerja seni mampu bekerja seni dengan 
menjalani hidup  vacum dari realitas sejarah dan kehidupan aktualnya sebagai 
bagian dari jejering sosial kemasyaraklatan? Mohon, bung bersedia menjawab 
pertanyaan saya ini.
Salam
Patria"
   
   
  Surat ini walau pun bersifat pribadi tapi kuangkat karena isinya kuanggap 
mengandung nilai umum yang menarik perhatianku. Kuharap Bung Patria tidak 
berang oleh penyiaran terbuka surat pribadi bernilai ini.
   
  Paris, Desember 2007.
  -----------------------------
  JJ. Kusni, pekerja biasa pada Koperasi Restoran Indonesia, Paris.
   
  [Berlanjut....]

       
---------------------------------

Search. browse and book your hotels and flights through Yahoo! Travel


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke