KEMURTADAN SEORANG PENGUASA Jenis kemurtadan yang paling berbahaya adalah
kemurtadan seorang penguasa. Dia yang seharusnya diharapkan bisa memelihara
aqidah umat dan memberantas kemurtadan serta mengusir orang-orang yang murtad
dan tidak memberi kesempatan kepada mereka untuk tetap tinggal di lingkungan
masyarakat Islam, tetapi ternyata dia sendiri yang mempelopori kemurtadan, baik
secara rahasia ataupun secara terang-terangan. Dia menyebarkan kefasikan, dan
yang melindungi orang-orang yang murtad. Membukakan jendela dan pintu untuk
mereka. memberikan kepada mereka simbul dan nama, sehingga kondisinya seperti
yang diungkapkan dalam pepatah Arab, "Haamiiha wa Haraamiiha," atau yang
dikatakan oleh seorang penyair
"Penggembala kambing itu semestinya memelihara kambingnya dari serigala,
tetapi bagaimana jika para penggembala itu sendiri menjadi serigala."
Kita lihat penguasa seperti ini telah menjadi pendukung dan pelindung
musuh-musuh Allah, dan ia memusuhi wali-wali Allah (orang-orang yang beriman),
menghina aqidah, melecehkan syari at,. tidak menghargai perintah dan larangan
Allah dan Nabi-Nya, merendahkan seluruh kesucian dan kemuliaan ummat yaitu para
sahabat yang abrar, dan keluarga Nabi yang ath-haar, khulafa' akhyaar dan para
imam yang alim dan para pahlawan Islam. Mereka itu menganggap bahwa orang yang
berpegang teguh pada syari'at Islam sebagai kriminal dan ekstrimis, seperti
shalat di masjid bagi kaum laki-laki dan memakai hijab (jilbab) bagi kaum
wanita.
Mereka tidak cukup berbuat demikian, tetapi mereka bekerja sesuai dengan
falsafah (teori) "Taifif Al Manaabi'" (mengeringkan/mematikan sumber) dengan
berterus terang, dalam pendidikan, penerangan dan kebudayaan. Sehingga tidak
tumbuh (muncul) dari padanya kecerdasan seorang Muslim dan tidak pula
kepribadian seorang Muslim.
Mereka tidak berhenti sampai di situ, tetapi mereka juga mengusir (menekan)
para da'i yang sebenarnya. Mereka menutup pintu-pintu bagi setiap gerakan
dakwah yang jujur yang menginginkan pembaharuan dan aktualisasi semangat
beragama serta memajukan (memakmurkan) dunia berdasarkan dien.
Anehnya sebagian dari mereka--selain yang berterus terang dengan
kemurtadannya--ada yang senang menggunakan simbul Islam agar dikatakan oleh
ummat bahwa mereka itu orang-orang Islam. Padahal mereka ingin merobohkan
bangunan ummat dari dalam. Sebagian mereka ada yang berusaha menjadikan agama
sebagai sentuhan saja yaitu dengan mendorong masyarakat untuk beragama dengan
berpura-pura dan merekrut para ulama yang sering disebut "Ulama Sulthah dan
Ulama Syurthah"(Ulama pemerintah dan spionase penguasa).
Di sinilah keadaan menjadi sulit, siapakah yang akan melaksanakan had
(hukuman) kepada mereka? Atau siapakah orang (ulama) yang berani memberi fatwa
atas kekufuran mereka, padahal itu kekufuran yang nyata yang dalam istilah
hadits disebut "Kufrun Bawwah." Siapakah yang akan menghukumi kemurtadan
mereka, sementara lembaga fatwa dan peradilan yang resmi (sah) ada di tangan
(kekuasaan) mereka?
Maka tidak ada lagi yang dapat dilakukan kecuali pembentukan"Opini Umum"
ummat Islam dan kesadaran umum yang Islami. Yang hanya dapat dilakukan oleh
orang-orang yang bebas (dari jeratan jahiliyah) dari para ulama, para da'i dan
para pemikir yang masih teguh dan tsabat di saat pintu-pintu di hadapannya
telah ditutup, dan segala jalan telah diputus. Di saat itu mereka akan berubah
menjadi gunung berapi yang akan meletus di hadapan para Thaghut yang murtad.
Maka bukan persoalan yang gampang menghilangkan masyarakat Islam dari
identitasnya atau menjatuhkan aqidah dan risalahnya yang itu merupakan sumber
kekuatan dan rahasia kekekalannya.
Telah teruji dalam sejarah penjajahan Barat (Perancis) di Aljazair dan
penjajahan timur (Rusia) di berbagai wilayah negara-negara Islam di Asia
--meskipun pengalaman itu keras dan memakan waktu cukup lama di
sana-sini--bahwa mereka tidak bisa mencabut akar identitas Islam dan
kepribadian Islami dari ummat Islam. Akhirnya pergilah para penjajah itu dan
tetaplah Islam dan kaum Muslimin dengan keberadaannya.
Hanya saja peperangan yang disulut untuk menghadapi Islam dan para da'inya
oleh sebagian penguasa Nasionalis sekuler yang kebarat-baratan di sebuah
negara. maka setelah negara itu merdeka, permusuhannya justru lebih tajam dan
semakin keras daripada peperangan/serangan pada penjajah itu sendiri.
Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com
[Non-text portions of this message have been removed]