Benarkah Agama Merupakan Produk Kebudayaan? Rabu, 5 Des 07 10:45 WIB
Kirim teman
Assalamu'alaikum
Ustadz, dalam ilmu sosiologi kita menemukan agama sebagai unsur kebudayaan.
Sedangkan kita juga ketahui kebudayaan merupakan hasil manusia
Lalu bagaimana dengan agamaIslam? Bukankahagama Islamditurunkan Allah?Mohon
penjelasannya dan terima kasih.
Wassalam
Arif
Jawaban Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Ilmu sosiologi yang anda pelajari itu buatan siapa? Kalau buatan orang yang
beriman, tentu dia tidak akan mengatakan bahwa agama Islam adalah bagian dari
kebudayaan, tetapi agama Islam dan juga seharusnya semua agama yang dianut oleh
umat manusia berasal dari Allah SWT.
Bedanya, agama Islam yang kita peluk ini adalah agama yang masih terawat,
asli dan tidak mengalami penyimpangan. Sedangkan agama selain Islam, baik
Kristen Katolik, Protestan maupun Yahudi, meski berasal dari Allah juga, namun
sudah sejak awal mengalami pemalsuan dan penyimpangan.
Selain itu ada juga memang kepercayaan yang terkadang disebut sebagai agama
dan merupakan hasil budi daya manusia. "Agama' itu lebih kita kenal sebagai
agama ardhi (bumi), karena tidak turun dari langit (baca:Allah), melainkan
direkayasa dan dihasilkan oleh otak manusia yang menghuni bumi.
Teori sosiologi yang anda pelajari itu lebih tepat kalau yang dimaksud dengan
agama adalah agama ardhi, bukan agama samawi. Dan akan menjadi sebuah kesalahan
fatal ketika agama Islam ikut juga dimasukkan ke dalam kelompok agama lain yang
merupakan hasil budi daya manusia.
Nah, masalahnya ilmu sosiologi yang anda dan kita semua pelajari itu buatan
orang-orang kafir yang bukan beragama Islam. Jadi cara pandangnya sangat
dangkal dan terbatas. Soalnya, penulis teori-teori sosiologi itu bukan orang
yang beraqidah Islam, melainkan orang kafir non muslim, entah yahudi atau malah
mungkin atheis.
Kurikulum Buatan Kaum Kafir
Persoalan yang paling mendasar dalam dunia pendidikan dan ilmu pengetahuan
sosial kita adalah kita dengan mudah menelan mentah-mentah semua teori-teori
yang diajarkan oleh orang kafir. Baik dalam bidang sosiologi, psikologi, bahkan
sampai kepada sains.
Bukankah sejak masih di bangku SD, umat Islam di Indonesia ini 'dicekoki'
dengan teori Charles Darwin, Thomas Robert Malthus dan segudang terorti dusta
lainnya? Dan ketika mereka meneruskan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi,
semakin banyak saja teori-teori kufur yang dijejalkan ke kepala kita.
Coba bayangkan bagaimana dahulu waktu kuliah, kita sebagai mahasiswa
seringkali diminta untuk membaca buku-buku referensi yang berbahasa Inggris.
Tanpa harus menggenaralisir bahwa semua buku berbahasa Inggris itu berisi
akidah yang bertentangan dengan aqidah Islam, namun kenyataannya memang sulit
dipungkiri bahwa buku-buku itu ditulis oleh orang yang tidak pernah sujud
kepada Allah, tidak pernah basah wajahnya dengan air wudhu'.
Kalau mereka membuat teori lalu bertentangan dengan aqidah dan syariah Islam,
maka kemungkinannya sangat besar. Sayangnya, mentalitas mahasiswa dan dosen
kita justru tidak pernah kritis. Semua dilahapnya mentah-mentah dan kemudian
diajarkan kembali kepada mahasiswa.
Islamisasi Kurikulum dan Ilmu Pengetahuan
Kalau dipikir-pikir sesungguhnya yang perlu dikerjakan oleh umat Islam di
negeri ini cukup banyak, ketimbang tiap hari botak mikirin siapa yang jadi
bupati atau Presiden 2009. Ada begitu banyak lahan garap yang selama ini
nganggur menunggu mujahid yang berjuang di bidang tersebut. Dan tidak akan
lantas berubah meski yang jadi anggota DPR dan Presiden dari kalangan umat
Islam.
Lagian untuk menulis ulang materi ilmu pengetahuan yang diajarkan di sekolah
dan perguruan tinggi, tidak perlu menunggu ada umat Islam yang jadi anggota
legislatif atau jadi bupati. Sekarang pun sudah bisa dikerjakan, sebab umat
Islam saat ini banyak yang sudah bisa membangun sekolah sendiri.
Sayangnya, yang mereka bangun cuma bangunan pisik sekolahnya saja, sedangkan
kurilkulum pendidikannya tetap saja menjiplak dari konsep barat yang kafir dan
tidak bertuhan.
Coba hitung berapa banyak umat Islam punya sekolah, mulai dari SDIT,
pesantren sampai sekolah boarding, bahkan perguruan tinggi milik ormas Islam
juga tersebar di berbagai penjuru nusantara, tapi kurikulumnya tetap mengacu ke
sumber-sumber kebatilan yang bertentangan dengan syariah dan aqidah Islam.
Inilah pe-er terbesar yang seharusnya umat Islam sejak dini sudah
berkonsentrasi lebih besar di dalamnya. Logikanya, buat apa kita punya sekolah
dalam jumlah yang banyak, tapi kurikulumnya sekuler dan anti Islam?
Ayo siapa yang mau berlomba dalam kebajikan?
Wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Sarwat, Lc
Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com
Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com
[Non-text portions of this message have been removed]