Kabar Indonesia.

Yang dominan dalam masyarakat Belanda adalah mereka yang percaya.

            
Tuhan Ada? Tidak, yang Ada Adalah "Iets"
            
Oleh : Redaksi-kabarindonesia 

            
30-Des-2007, 13:07:40 WIB - [www.kabarindonesia.com]

           
            
KabarIndonesia - Diskusi antara atheis dan religius 
memang kadangkala muncul di media Belanda. Dalam diskusi tentang 
percaya atau tidak, religius atau atheis, kata Belanda 'iets' 
mendapat makna tersendiri: ietsisme. Apa itu?

            
Iets
            
Bahasa Belanda mengenal kata "iets" atau sesuatu, sering 
juga disebut "ietsje",  akhiran sje atau tje mengubah konotasi kata 
tertentu menjadi kata yang mengacu pada hal yang kecil. Misalnya 
kata tas untuk tas, kalau menjadi tasje adalah tas kecil, juga nama 
Jan untuk anak laki-laki menjadi,  Jantje, si Jan yang kecil. 
Nah "iets" akhir-akhir ini mendapat arti tersendiri dalam diskusi 
ihwal percaya atau tidak, religius atau atheis.

            
Karena ada juga orang Belanda yang masih ragu, kalau 
ditanya anda percaya ada Tuhan, mereka akan bilang, wah saya tidak 
tahu ya, mungkin ada, saya toh merasa ada sesuatu, atau "iets" 
bahkan ada yang bilang "ietsje". Sesuatu yang kecil yang berada nun 
jauh di atas sana dan yang berfungsi sebagai Tuhan, walaupun beda 
juga dengan tuhan yang diajarkan oleh agama-agama mapan, semacam 
Kristen atau Islam.
             
            
Diskusi antara atheis dan religius memang kadangkala 
muncul di media Belanda. Misalnya kalau ada sekolah Kristen yang 
menolak teori evolusi yang menurut ajaran mereka bertentangan dengan 
kisah terciptanya dunia oleh Tuhan selama  6 hari. Bagaimana teori 
evolusi ini bisa dicocokkan dengan ajaran injil? Nah,  hampir dua 
abad lalu sebagian kecil dari gereja protestan Belanda yang saat itu 
adalah agama mayoritas, menyatakan injil bukan buku sejarah, jadi 
apa yang kita baca itu cuma simbol saja, jangan diinterpretasikan 
secara "letterlijk" atau harafiah. Pemecahan yang sia-sia, karena 
jemaat gereja protestan besar ini akhirnya berkurang juga.
             
            
Teori evolusi
            
Diskusi teori evolusi ini akhirnya menjurus ke masalah 
atheis atau percaya, dunia terwujud secara kebetulan, atau memang 
ada kekuatan ilahi yang menciptakannya dengan disain mapan yang 
dengan isitilah mahalnya disebut kreatonisme. Multatuli yang mungkin 
anda kenal namanya di Indonesia sebagai penulis yang anti tanam 
paksa kolonial Belanda bukan saja menciptakan Max Havelaar, roman 
yang menampilkan sosok Saidja dan Adinda. Ia juga menulis berbagai 
artikel yang mengolok-olok para fundamentalis Kristen yang menentang 
teori evolusi.

            
Kepada mereka yang percaya dunia diciptakan selama 6 
hari dan Adam dan Hawa adalah orang pertama, Multatuli mengejek: "ah 
anda itu kan hewan menyusui", atau dengan kata lain, manusia itu kan 
saudara kera dan bukan mahluk yang spesial, mahkota di alam semesta 
ciptaan kekuatan maha besar, sebagaimana diajarkan oleh agama. 
Multatuli termasuk kelompok intelektual atheis abad ke 19 di Belanda.
             
            
Ietsisme
            
Kita kembali ke Belanda abad ke 21 ini, lalu apakabar 
atheisme di Belanda? Ternyata sedikit sekali orang Belanda yang saya 
jumpai dan yang bilang ia atheis atau tidak percaya pada Tuhan. 
Memang gereja tidak dikunjungi secara rutin seperti dulu, teori 
evolusi sudah diterima sebagai bagian kurikulum sekolah Belanda, 
juga di sekolah-sekolah Kristen, tapi toh orang belum bisa pamit 
dari ide bahwa ada kekuatan yang lebih besar yang ikut mengatur 
hidup kita. Mungkin bukan Tuhan dalam arti religius yang diajarkan 
oleh agama, namun sesuatu atau "iets". Orang yang atheis tentu saja 
mencemooh mereka yang tidak konsekwen itu. Mereka menyebut agama 
baru ini "ietsje, ietsisme". Percaya sama sesuatu tapi tidak tahu 
apa.
             
            
Trend baru
            
Kabinet Belanda yang sekarang adalah kabinet yang 
didominasi oleh dua partai Kristen. Partai buruh sosial demokrat 
PvdA yang non religius ikut sebagai mitra ketiga. Tentu saja suasana 
dalam kabinet Balkenende 4 ini sangat bernuansa Kristen. Lalu 
bagaimana dengan para menteri dari partai buruh sosial demokrat ini. 
Mereka mayoritas tidak percaya dengan adanya Tuhan lagi, bahkan 
seorang di antara mereka Ronald Plasterk yang menduduki jabatan 
menteri pendidikan dan kebudayaan secara gamblang menyatakan ia 
atheis. Belum pernah ada menteri pendidikan Belanda yang menyatakan 
dirinya ia atheis. Ronald Plasterk mengakui hal ini ketika ia belum 
menjadi menteri dan masih berkarir sebagai penulis kolom.
             
            
Ketika para menteri Kristen rekan Ronald Plasterk 
ditanya bagaimana anda harus bekerjasama dengan seorang atheis, 
Ronald rupanya kikuk juga. Ia menyatakan ia percaya ada iets atau 
sesuatu. Ucapan yang mengecewakan para pendukung atheisnya. Akhirnya 
ada menteri atheis tapi kok tidak berani blak-blakan.
             
            
Kejadian ini menyimpulkan bahwa mereka yang dominan 
dalam masyarakat Belanda adalah mereka yang percaya. Orang yang 
tidak percaya selalu harus membela diri, yah sudah kalau non 
religius susah diterima kita sebut diri kita percaya pada "iets" 
atau sesuatu saja. Sebenarnya pilihan seorang pengecut juga.   
             
            
Belanda tidak mengenal departemen agama, tapi kalau 
misalnnya ada, maka segera akan diangkat seorang dirjen urusan agama 
ietsisme ini. Karena jumlah mereka yang mengaku percaya ada "iets" 
yang mengatur di atas lambat laun bertambah juga. Trend baru dalam 
gaya hidup modern abad ke 21.

            
Sumber:  Radio Nederland Wereldomroep (RNW)

mediacare
http://www.mediacare.biz


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke