Kronik Dokumentasi Wida:
   
   
  ALAM LEMBANG
   
   
   
  Tak berapa lama kemudian, teman lain yang menemaniku bekerja malam , masuk ke 
dapur mengatakan bahwa perempuan Austria itu alias Madame Dhalin,  ingin makan 
"l'entrée" [makanan pembukaan] dahulu karena ia sangat lapar sambil menunggu 
suaminya datang. 
   
   
  Seperti diketahui, makan di Perancis merupakan semacam upacara. Terdiri dari 
"aperitif" [minuman pendorong selera makan] beserta segalanya nyamiannya, lalu 
l'entreé , disusul oleh makanan pokok, kemudian le dessert [cuci mulut], kopi  
atau teh dan terakhir digestif, minuman penghancur lemak dan pelancar 
pencernaan seperti cognac, calvados, whisky, arak, dan lain-lain ....  Untuk  
aperitif, restoran kami menciptakannya sendiri. Sementara aku sendiri, dengan 
semangat Dayak-ku , pernah menciptakan aperitif yang kunamakan aperitif 
Palangka Raya, yaitu bir dicampur dengan sirop. Teman-teman hanya senyam-senyum 
mendengar minuman tersebut kunamakan Palangka Raya. Ya, aku namakan demikian, 
karena aku tahu orang Perancis suka sekali pada eksotisme dan sebagai orang 
restoran yang menjual makanan dan minuman, aku memanfaatkan kesukaan orang 
Perancis akan eksotisme ini. Eksotisme yang tercermin juga di bidang hal-hal 
yang sangat pribadi seperti memilih pacar, suami atau istri. Selain
 oleh latarbelakang sejarah politik dan ekonomi, barangkali karena kuriusitas 
eksotis ini maka bangsa Perancis merupakan negeri campuran yang oleh mantan 
Presiden Jacques Chirac dilambangkan dengan pemakaman kembali sastrawan 
Aleksander Dumas di Pantheon, makam putera-puteri terbaik negeri ini. 
Aleksander Dumas, seperti diketahui, ayahnya seorang asal Afrika, jendral dalam 
Angkatan BersenjataPerancis. Secara kenyataan sejarah, adakah bangsa-bangsa di 
dunia ini yang murni dalam pengertian tak tercampur dan tak terpengaruh oleh 
unsur-unsur luar? Adakah kebudayaan yang disebut murni lokal dan nasional? 
Nasionalisme sering bahkan mengarah ke kecupetan dan membahaya kemanusiaan. 
Ketika membaca sejarah Indonesia, sering aku bertanya-tanya, apakah etnisisme 
dan nasionalisme bukannya hanya satu taraf saja dari perkembangan menuju 
ketunggalan manusiawi yang dilahirkan oleh kondisi zaman dan tingkat kesadaran. 
Pertanyaanku ini mengacu pada pandangan hidup-mati manusia Dayak yang
 terdapat dalam sastra lisan mereka: konsep "rengan tingang nyanak jata" [anaj 
enggang putera-puteri naga]. Konsep yang menunjukkan bahwa bumi bukan pinjaman 
Tuhan, Hatala Ranying,  tempat hidup anak manusia secara manusiawi. Menurut 
konsep Dayak ini, jika bumi hanya dipinjamkan kepada manusia, maka Hatala 
Ranying tidak lain dari sejenis tuantanah dengan ciri yang otoriter. Sedangkan 
di kalangan manusia Dayak,  mereka merasa diri egaliter terhadap yang lain, 
merasa diri semua pangkalima, ujud konsekwensi logis dari konsep "rengan 
tingang nyanak jata" sehingga maharaja [raja] menjadi simbol sangat buruk. 
Hatala Ranying manusia Dayak agaknya lebih egaliter dan demokratis serta 
membebaskan. Islam dan Kristen adalah agama baru datang ke Tanah Dayak. Kristen 
bahkan pernah dipandang dan nyata pernah digunakan oleh penjajah Belanda dalam 
usaha kolonialisasinya. Dengan latarbelakang ini, ketika menjadi guru kecil di 
Universitas Kristen Palangka Raya, aku senantiasa menggarisbawahi
 pentingnya mengenal konsep dan sejarah lokal, di samping mempelajari 
konsep-konsep Barat  yang oleh banyak orang dipandang sebagai modern, sehingga 
secara wacana,  modern sering oleh sementara orang dipandang sebagai identik 
dengan Baratisasi [Westerniasi]. Sampai-sampai mengatakan bangsa lain, apalagi 
etnik-etnik di negeri kita tidak punya pandangan filosofis dan bahwa hanya 
Yunani Kuno  satu-satunya induk pemikiran filsafat di dunia.  Aku khawatir 
pandangan begini, mencerminkan keterasingan kita dari diri sendiri, budaya, 
sejarah  dan negeri kita sendiri. Lalu bangga dengan gelar doktor serta 
profesor doktor yang asing dari kenyataan. Padahal sesungguhnya tidak lain dari 
epigon yang mengunyah-ngunyah suguhan Barat bagai lembu memamah rumput 
makanannya mentah-mentah atau gajah "menguntal" semua makanan yang diberikan 
kepadanya tanpa pilih-pilih lagi. Apakah bangsa ini bangsa sejenis lembu dan 
gajah tapi  mengira diri sudah modern padahal akhirnya memelihara perbudakan
 secara tak sedar dan bangga menjadi budak? Aku khawatir saja, dan sangat 
berharap aku salah lihat dan salah baca. Hal begini aku lihat pada  
kecenderungan dunia pendidikan di negeri kita, oleh pengarahan para profesor 
doktor, kendati pun sampai botak, tapi berkutat pada Baratisasi, dan atas nama 
"go international", asing dari kampunghalaman, dan   yang sama sekali bukan 
jaminan bisa menyelamatkan negeri ini sebagaimana telah  diperlihatkan   oleh 
yang disebut kelompok Berkeley Mafia, pengikut Rostow [dengan teori trickle 
down effect-nya yang di Indonesia menjadi trickle up effect!] ,  pendamping 
Orde Baru.
   
   
  "Satu gado-gado lagi untuk meja B1, meja orang Indonesia ",  pinta teman yang 
menemaniku bekerja di ruangan tamu kepada teman-teman di dapur, dengan nafas 
ngos-ngosan gugup oleh laliran tamu. 
   
  "Benerankah ia orang Indonesia ?", tanya teman-teman dapur mencandai teman 
yang tegang sendiri oleh semangat melayani pelanggan sebaik mungkin dan 
terpengaruh oleh ideaku bahwa ketika servis, sesungguhnya kita mengemban nama 
bangsa sekaligus. "Servis buruk sama dengan melecehkan bangsa dan menghina 
bangsa sama dengan menghina diri sendiri. Harus ada harga diri dalam servis. 
Bila perlu , tamu yang kurang ajar kita usir ", demikian ujarku pada berbagai 
kesempatan.  "Kita, tak ada harganya jika kita tak punya harga diri. Tak bisa 
menghargai diri sendiri. Restoran ini ada dan berlanjut justru karena harga 
diri". Apakah sekarang kita sebagai anak bangsa sudah berharga diri republiken 
dan berkeindonesiaan?
   
   
  Untuk melihat sendiri wajah orang yang mengaku diri sebagai orang Indonesia 
itu, aku sengaja mengantar sendiri gado-gado yang ia pesan, menyusul pesanan 
istrinya orang  dari Austria itu. Secermat mungkin aku mengamati lelaki 
"Indonesia" itu dari kepala hingga ke kaki. Ia berambut hitam agak gondrong. 
Berkulit gelap. Kekar.Ukuran badan sesuai dengan ukuran rata-rata orang 
Indonesia. Ngganteng dan terkesan padaku sebagai orang berwatak. Percaya diri.  
 Dengan istrinya, kudengar, ia berbicara dalam bahasa Inggris, hal  yang 
membuat kuriusitasku makin menjadi. 
   
   
  Setelah piring gado-gado itu kuhidangkan, lelaki itu mengucapkan dengan sikap 
sangat-sangat sopan "Terimakash" dengan lidah terdengar agak  aneh bagi telinga 
orang Indonesia.  Termasuk untuk telingaku yang berdasarwarsa hidup di luar. 
Tapi aku masih belum berani menanyakan ia dari mana. Aku masih menunggu waktu. 
Ia selanjutnya selalu berbahasa Indonesia kepadaku, dalam  bahasa Indonesia 
yang sangat baku. Caranya menggunakan bahasa Indonesia, mengingatkan keadaanku 
ketika pertama kali pulang ke Indonesia setelah berdasarwarsa merantau mengitar 
busur-busur bumi.  Pada waktu itu,  aku merasa tak ada yang salah dengan bahasa 
Indonesiaku, tapi para ponakan dan keluarga yang mendengarku ternyata diam-diam 
tertawa. Kemudian kuketahui mereka menganggap bahasa Indonesiaku "lucu". 
"Aneh".  "Terlalu baku", "baku dalam tatabahasa dan pengucapan",  ujar mereka.  
Sementara aku sendiri merasa bahwa  tidak ada yang salah dengan bahasa 
Indonesiaku. Justru mereka yang berbahasa Indonesia
 tidak rapi dan tidak benar bahkan sering tidak cermat menggunakan kata. 
Ketidakcermatan mereka memilih kata ini sering menimbulkan sedikit 'ribet' di 
kalangan kami karena karena pengertian istilah yang mereka gunakan kurasakan 
kadang berarti negatif. Demikian juga dalam menggunakan awalan dan akhiran. 
Soal tatabahasa dan istilah bagiku bukanlah soal kecil. Ia berhubungan dengan 
pengertian dan pandangan seseorang. Karena itu sering kukatakan pada keluargaku 
tentang adanya keadaan bahwa orang itu "tidak buta aksara tapi tidak bisa 
membaca", "bisa berbicara tapi tidak bisa berbahasa",  "punya telinga tapi 
tidak bisa mendengar". Akibatnya memandang apa yang dipikirkannya sebagai 
pikiran dan ucapan interlokutornya. Lalu menjadi tidak komunikatif.  Untung, 
jika menggunakan filsafat untung orang Jawa, waktu membantu kami saling 
memahami, ditambah memang ada niat untuk saling memahami. Peranan niat, kukira 
sangat penting dan sangat mempengaruhi tindakan serta  dalam mewujudkan
 pilihan. Termasuk pilihan politik. 
   
   
  Keadaan demikianlah yang kembali terbayang ulang dan membuatku tersenyum 
sendiri dalam hati saat mendengar lelaki "Orang Indonesia" itu berbicara. 
Menertawai diri sendiri. 
   
   
  Semua makanan yang dihidangkan, termasuk sambal terasi bikinan jurumasak 
restoran kami,  bersih dari piring, dimakan oleh lelaki tampan "Orang 
Indonesia" yang sopan dan korek itu.  Pada diri,  aku berkata: "Begitu dalam 
rindunya pada Indonesia? Darimana gerangan lelaki tampan sopan dan penuh 
percaya diri ini? Berapa lama sudah ia terpental dari Indonesia?" 
   
   
  Semua teman menjadi sangat ingin tahu tentang diri lelaki yang diakui oleh 
perempuan Austria itu sebagai suaminya. Dan agaknya ia sendiri ingin berbicara 
banyak kepada kami. Hanya saja kesibukan kerja melayani para pelanggan, membuat 
kami tidak mempunyai peluang.  Ketika kesibukan mereda, para pelanggan mulai 
satu per satu pulang, "Orang Indonesia" dan istri Austria-nya masih saja duduk 
di kursi mereka sambil bermesraan. Suasana yang tidak asing lagi bagi kami.
   
   
  Tengah malam. Aku masih sibuk di dapur membantu teman-teman dapur "beberes", 
pekerjaan cukup berat. Restoran harus rapi seperti tak ada pelanggan, jika 
servis sudah selesai. Lelaki "Orang Indonesia" itu sudah mulai berdiri dari 
kursinya sambil membantu  istri Austria-nya  dengan menarik meja dan kursi. 
Mengenakan mantel dinginnya. Soejoso, penanggungjawab koperasi,  yang bekerja 
di bar, segera mendekati lelaki "Orang Indonesia" itu. Mengajaknya berbicara. 
Tentu untuk menjawab kuriusitasnya juga , yang ia pendam sejak melihat lelaki 
itu. Iya, kami memang senantiasa ingin dekat dan mengenal para pelanggan kami. 
Ingin agar terjalin suatu hubungan manusiawi antara kami dan para pelanggan. 
Dengan sikap ini, kami mendapatkan tidak sedikit teman-teman baru yang setia 
dan merasakan koperasi kami sebagai usahanya sendiri. Kedudukan koperasi yang 
mempertemukan banyak hati dari pelbagai penjuru bumi, pernah kusebutkan sebagai 
"jembatan pelangi" di mana segala yang tidak terduga dan
 kebetulan saling bertemu. O, indahnya kasihsayang dan perdamaian. O, agungnya 
kemanusiaan dan kasihsayang, kurasakan sebagai kekuatan magis bagi hidup, walau 
pun kadang seperti cakrawala, nampak di mata tak teraih tangan, tapi masih 
diucapkan di detik helaan nafas penghabisan. Masih diburu "rengan tingang 
nyanak jata". Manusia tidak mati. Manusia tidak terkalahkan oleh tragedi. **** 
   
   
  Paris, Desember 2007.
  -----------------------------
  JJ. Kusni, pekerja biasa di Koperasi Restoran Indonesia, Paris.
   
   
  [Berlanjut....]

       
---------------------------------

Search. browse and book your hotels and flights through Yahoo! Travel


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke