Apa yang ada dalam benak seorang muslim ketika mendengar kata Al Masih atau 
yang dalam terjemahan bahasa Indonesianya disebut dengan ‘Juruselamat’? Mungkin 
berbagai persepsi akan muncul seputar sebutan istimewa tersebut. Patut 
diketahui bahwa istilah ‘Al Masih’ atau ‘Juruselamat’ itu sendiri bermula dari 
kebiasaan bangsa Israel untuk memberikan sebutan kehormatan kepada orang-orang 
yang mereka anggap suci atau telah berjasa pada kehidupan mereka. 
   
  Dengan kata lain sebutan semacam itu berlaku umum bagi siapa saja yang 
menurut ketetapan mereka telah memenuhi syarat sebagai seorang yang pantas 
dianggap suci atau dihormati. Adapun beberapa orang yang telah memenuhi 
kriteria tersebut, Perjanjian Lama telah mencontohkannya sebagai berikut:


  • Saul

“Bukankah Tuhan telah mengurapi engkau menjadi raja atas umat-Nya Israel? 
Engkau akan memegang tampuk pemerintahan atas umat Tuhan, dan engkau akan 
menyelamatkannya dari tangan-tangan musuh-musuh di sekitarnya. Inilah tandanya 
bagimu, bahwa Tuhan telah mengurapi engkau menjadi raja atas milik-Nya 
sendiri.” (I Samuel 10:1)


  • Harun

“Kemudian dituangkannya sedikit dari minyak urapan itu ke atas kepala Harun dan 
diurapinyalah dia untuk mengkuduskannya.” (Imamat 8:12)


  • Elisa

“Juga Yehu, cucu Nimzi, haruslah kau urapi menjadi raja atau Israel, dan Elisa 
bin Safat dari Abel Mehola, harus kau urapi menjadikan Nabi menggantikan 
Engkau.” (I Raja-raja 19: 16)


  • Daud

“Maka datanglah semua tua-tua Israel menghadap raja lalu raja Daud mengadakan 
perjanjian dengan mereka di Hebron di hadapan Tuhan; kemudian mereka mengurapi 
Daud menjadi raja atas Israel.” (II Samuel 5: 3)


  • Solomo

“ Imam Zadok telah membawa tabung tanduk berisi minyak dari kemah, lalu 
diurapinya Salomo. Kemudian sangkakala ditiup, dan seluruh rakyat berseru 
‘Hidup Raja Salomo.’” ( I Raja-raja 1 : 39)


  • Koresy

“ Beginilah firman Tuhan: Inilah firman-Ku kepada orang yang Kuurapi, kepada 
yang tangan kanannya kupegang supaya Aku menundukkan bangsa-bangsa di depannya 
dan melucuti raja-raja, supaya Aku membuka pintu-pintu di depannya dan supaya 
pintu gerbang tidak tinggal tertutup.” ( Yesaya 45 : 1)

Pertanyaan berikutnya yang mungkin muncul adalah mengapa Nabi Isa as. 
mendapatkan sebutan atau julukan yang serupa? Apa yang melatarbelakangi Nabi 
Isa as. mendapatkan julukan Al Masih? Untuk mengetahui jawabannya orang harus 
mengetahui lebih dahulu latar belakang dan kondisi masyarakat pada kala itu. 
Tanpa itu orang mustahil dapat mengetahui penyebabnya. 

Telah diriwayatkan bahwasannya Nabi Sulaiman as bin Daud as dikenal sebagai 
seorang nabi sekaligus raja terakhir bagi bangsa Israel. 
   
  Kemudian beliau digantikan oleh puteranya Rabeam, yang melanjutkan tahta 
kekuasaan ayahnya selama masa fatrah (masa antara dua orang nabi), yakni 
sekitar tujuh belas tahun. Setelah Rabeam wafat, bangsa Israel terpecah-belah 
dan harus menghadapi serangan-serangan dari pihak asing yang ingin menguasai 
tanah Palestina. 
   
  Secara intern, bangsa Israel terpecah-belah menjadi kerajaan-kerajaan kecil, 
berbagai golongan dan suku-suku. Keadaan ini terus berlangsung hingga tahun 722 
SM. Sedangkan secara ekstern, keberadaan raja bernama Nebukadnezar dari luar 
kalangan bangsa Israel mulai mengancam kemanan penduduk Palestina. Raja ini 
tidak segan-segan memerintahkan untuk menghancurkan Heikal di Baitul Maqdis dan 
mengasingkan bangsa Israel ke daerah Babel serta menjadikan mereka sebagai 
budak. 

Pada pertengahan abad keempat sebelum masehi, pasukan Macedonia yang berada di 
bawah pimpinan Alexander Yang Agung berhasil menjajah Asia, termasuk 
menghancurkan kuil-kuil umat Majusi di Iran. Setelah itu disusul oleh 
penyerbuan pasukan Antacios dari Yunani. Pasukan ini berhasil meratakan tanah 
Heikal untuk yang kedua kalinya, setelah sebelumnya Heikal sempat diijinkan di 
bangun kembali oleh raja Kaikhasrau dari Iran. 
   
  Mereka membakar semua kitab-kitab suci bangsa ini dan menyiksa rakyatnya 
dengan siksaan yang amat pedih. Siksaan berkepanjangan itu baru bisa diakhiri 
setelah muncul seorang bernama Yahuda Makkabi. Mereka kemudian kembali 
mendirikan Baitul Maqdis pada tahun 167 SM. Mereka juga berhasil menyusun ulang 
Kitab Taurat. Namun sayang, generasi penerusnya mulai menyimpang dari kebenaran.

Karena Yahuda Makkabi bukan berasal dari keturunan nabi Daud as. maka bangsa 
Israel memohon kembali kepada Allah agar dihadirkan seorang raja dari keturunan 
nabi Daud as. yang diharapkan mampu mengembalikan kejayaan mereka yang telah 
hilang. Akhirnya pada tahun 63 SM pemerintahan Makkabi pun berakhir. Mereka 
dihancurkan oleh pasukan Pompei dan bangsa Israel sekali lagi jatuh menjadi 
bangsa terjajah. 

Dari segi keagamaan, bangsa Israel pada masa itu telah terpecah belah menjadi 
banyak golongan dan aliran, namun secara umum mereka terdiri dari 5 kelompok:


  • 1. Kelompok Saduki

Mereka tergolong kelompok keagamaan paling kaya di antara kalangan bangsa 
Israel, di antaranya mereka memiliki banyak pusat-pusat penting yang bergengsi 
dan berpengaruh. Dalam kepercayaan mereka manusia menerima ganjaran atau siksa 
atas tingkah lakunya hanya di dunia saja. Golongan ini tidak meyakini adanya 
akhirat, kiamat dan hari pembalasan di kemudian hari.

Mereka juga berpegang teguh pada tradisi-tradisi klasik dan menolak setiap 
bentuk bid’ah serta menyerahkan kekuasaan Heikal secara penuh kepada seluruh 
masyarakat. Penamaan kelompok ini dinisbahkan kepada seseorang bernama Saduki 
yang pada masa Nabi Daud as dan Nabi Sulaiman as bertugas memelihara tempat 
peribadatan.

• 2. Kelompok Farisi

Tingkatan mereka berada di bawah tingkatan Saduki baik dari segi perbendaharaan 
pusat-pusat penting maupun pengaruhnya, hanya saja mereka memiliki jumlah lebih 
besar. Mereka dikenal sebagai kelompok yang tidak mau bekerjasama dengan 
kelompok lain, tinggi hati dan sangat ketat menjalankan Hukum Taurat. Dalam 
keyakinan mereka hari kiamat dan hari pembalasan itu ada. Oleh karena itu, 
mereka menganjurkan kepada para pengikutnya untuk meninggalkan kelezatan hidup 
dan hanya mendekatkan diri kepada Allah. Golongan ini umumnya mengasingkan diri 
dari kehidupan masyarakat. Hidup di gubuk-gubuk terpencil dan hanya menyembah 
kepada Allah semata.

Nama mereka di adopsi dari istilah Ibrani yang dalam bahasa Arabnya analog 
dengan kata “al-Firzi” karena mereka selalu berusaha memisahkan diri dari 
kelompok lainnya. Dalam catatan sejarah kelompok ini dikenal sebagai kelompok 
yang menentang keras setiap bid’ah lain yang akan mencampuri tradisi 
peribadatan mereka.

• 3. Kelompok Aseni atau Asen

Kelompok ketiga ini, berjumlah minoritas dibandingkan kelompok Saduki dan 
Farisi. Mereka dikenal sebagai kelompok yang berpegang teguh pada akidah, tekun 
menjalankan ibadah, dan menyatakan dirinya sebagai kelompok keturunan murni 
Bani Israel. 
  
Di antara cerminan penderitaan hidup mereka dan kesengsaraannya adalah 
diharamkannya memiliki dua pakaian, dua sandal atau menyimpan harta dan makanan 
pokok untuk sehari-hari esok. Sifat yang lebih dominan dalam kehidupan mereka 
adalah sifat kependetaan.

• 4. Kelompok Golat

Mereka adalah pecahan-pecahan kecil dari kelompok Aseni yang memilih hidup 
zuhud, menderita, dan kependetaan.

• 5. Kelompok Samier

Mereka adalah kolaborasi dari orang-orang Yahudi dan Syiria. Nenek moyang 
mereka berasal dari kabilah Syiria yang oleh raja Babel dikembalikan ke 
Palestina agar mereka menetap di sana sebagai pengganti kaum Yahudi yang telah 
diasingkan ke daerah yang berada di antara dua sungai.

Kelompok Samier dikenal sebagai kelompok yang banyak mengadopsi bid’ah dan 
tradisi-tradisi asing ke dalam syariat mereka. Mereka tergolong kelompok Bani 
Israel yang memiliki semangat tipis dalam menjalankan dan mengikuti syariat 
Nabi Musa as.
  

Keadaan yang sudah terpecah belah menjadi banyak golongan ini kian diperburuk 
dengan perilaku para golongan rahib yang menuntut sejumlah tarif kepada 
masyarakat yang hendak melakukan kegiatan ritual keagamaan. Masyarakat 
diwajibkan menyerahkan nazar dan korban kepada mereka. Untuk itu para rahib 
tidak segan-segan memasukkan hal-hal yang mereka inginkan sendiri ke dalam 
nash-nash Kitab Taurat, seolah-olah itu merupakan bagian dari firman Allah. 
   
  Selain mereka juga ada sekelompok ahli agama dan pendeta yang masuk ke dalam 
lapisan masyarakat dan memonopoli agama untuk kepentingan diri mereka sendiri. 
Mereka membuat akte pengampunan dosa, menetapkan yang haram menjadi halal dan 
mengesahkan yang halal menjadi haram, tergantung dari besarnya uang yang mereka 
terima dari jemaahnya. Pengkultusan individu terhadap individu lainnya dan 
penerapan sistem perbudakan begitu merajalela kala itu. Pendeknya, masyarakat 
Israel benar-benar menghadapi dilema keagamaan yang sangat pelik. Hanya sedikit 
sekali orang-orang yang masih lurus jalannya seperti keluarga Nabi Zakaria dan 
keluarga Imran (nenek moyang Nabi Isa as).

Sementara itu, dalam kehidupan intelektual mereka banyak dipengaruhi oleh 
aliran-lairan filsafat Yunani Klasik dan filsafat Romawi. Contohnya adalah apa 
yang terjadi sekitar tahun 150 SM. Saat itu diperkenalkan sistem filsafat 
Yahudi yang dirintis oleh Aristobulus dan kemudian berkembang dalam masa Philo 
Judaeus dari Alexandria ( 45 SM-50 M ). S
   
  Sebagian besar karya Judaeus sendiri merupakan komentar-komentar 
cerita-cerita dalam Injil yang dipandang dari kaca mata filsafat bersifat 
Platonis. Baginya, agama dan filsafat Yunani mempunyai sumber yang sama, yakni 
Allah mewahyukan dan menyatakan diri-Nya kepada manusia. Allah dipandang 
sebagai tokoh adikodrati yang secara mutlak berbeda dengan kosmos dan memang 
harus berbeda dengan kosmos. Allah adalah roh transeden yang tidak ada dalam 
dunia ini melainkan di seberang sana. Ia adalah Sang Ada (Ho On), sedangkan 
dunia adalah benda. Allah dan dunia tidak dapat disatukan, karena itu 
diperlukan perantara, yakni Logos. Pendekatan dan metode interpretasi Judaeus 
ini nantinya sangat berpengaruh pada pemikiran umat Kristiani pada masa-masa 
berikutnya.

Dalam alam dan kondisi masyarakat yang tercampur baur semacam inilah Allah 
kemudian mengirim Nabi Isa as. sebagai juruselamat bagi bangsa Israel yang 
dilematis. Sebetulnya misi utamanya adalah meluruskan kembali pola keimanan, 
kepercayaan keagamaan dan pola pikir masyarakat yang salah kaprah. Dia 
mengemban amanah mengembalikan bentuk ritual keagamaan yang telah banyak 
disimpangkan, serta menambahkan beberapa ajaran baru seperti tentang toleransi 
dan cinta kasih kepada sesama yang belum pernah diajarkan nabi-nabi sebelumnya. 
   
  Jadi, misi Nabi Isa as bukanlah sebagai logos, seperti yang dipercayai oleh 
penganut faham Judaeus, apalagi sebagai Tuhan yang datang untuk menyelamatkan 
dunia dengan menghilangkan segala ritual keagamaan berupa ‘amal ibadah’. Akan 
tetapi misi utamanya adalah mendorong umat manusia untuk melakukan ritual 
keagamaan berupa amal ibadah dengan cara yang benar dan jauh lebih baik 
dibandingkan dengan apa yang dilakukan kelompok-kelompok keagamaan Yahudi.

“Berkata Isa: ’Sesungguhnya aku ini hamba Allah Dia memberiku Al Kitab (Injil) 
dan Dia menjadikan aku seorang nabi. Dan Dia menjadikan aku seorang yang 
diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) 
shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup; dan berbakti kepada ibuku, dan 
Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka. Dan kesejahteraan 
semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal, 
dan pada hari aku dibangkitkan kembali.’ Itulah Isa putera Maryam yang 
mengatakan perkataan yang benar, yang mereka berbantah-bantahan tentang 
kebenarannya,” 
(QS. Maryam: 30-34)

http://forum.swaramuslim.com/more.php?id=4305_0_30_0_M

 Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke