Choosing Order Before Freedom. Demikian majalah TIME memberi judul
salah satu laporannya. Laporan itu tak lain adalah kesimpulan dari apa
yang dilakukan Putin di Rusia.

Seperti biasa, TIME punya tradisi untuk menentukan sosok yang layak
dipilih sebagai Person of the Year tiap akhir tahun. Dan yang terpilih
untuk 2007 adalah Vladimir Vladimirovich Putin, presiden Rusia yang
telah berhasil membawa negerinya bangkit dari keterpurukan sejak
runtuhnya Soviet tahun 1989. "Putin telah berhasil meletakkan kembali
Rusia dalam peta," demikian komentar pengantar TIME. Karena Putin,
Rusia kini menjadi negeri yang kembali diperhitungkan dalam peta serta
pentas politik dan ekonomi dunia. Ia memang bukan demokrat, bukan
figur dari kebebasan berbicara. "He stands, above all, for
stability-stability before freedom, stability before choice, stability
in a country that has hardly seen it for a hundred years," kata TIME.

Lahir di Leningrad 7 Oktober 1952, Putin adalah mantan anggota dinas
rahasia Uni Soviet (KGB) yang menjadi saksi keruntuhan Pakta Warsawa.
Ketika tembok Berlin runtuh, ia berada dalam kepungan demonstran di
kantor KGB di Berlin. Namun ia berhasil lolos dan selamat, sampai
akhirnya dipercaya oleh Boris Yeltsin sebagai perdana menteri tahun
1999--dan kemudian pejabat presiden sementara ketika Yeltsin mundur
tahun 2000. Pada pemilu Rusia Maret 2000, Putin mencalonkan diri dan
berhasil memenangi pemilu dengan 52.94 persen suara.

Kini sudah dua kali Putin menjabat sebagai presiden. Dan dalam dua
periode tersebut ia telah berhasil mendongkrak ekonomi Rusia,
menaikkan jumlah kelas menengahnya, melepaskan Rusia dari jerat hutang
IMF, serta menghidupkan kembali kekuatan militernya. Dan lebih dari
segalanya, ia mampu menaikkan bargaining politik Rusia terhadap dunia
khususnya Amerika dan Eropa. Itu semua terjadi karena Putin punya visi
yang tajam atas masa depan, tidak menerapkan demokrasi dan ekonomi
liberal ala Indonesia, yang justru membuat negara jatuh ke tangan
bandit-bandit sosial, politik dan ekonomi yang tak terhitung jumlahnya.

Kita memang tidak menginginkan pemerintahan sentralistis dan totaliter
ala Soeharto dulu, tetapi merayakan kebebasan dengan euphoria seperti
hari-hari ini juga bukan jalan yang bijaksana. Karena yang diuntungkan
hanya tikus-tikus politik dan ekonomi yang bisa membuat bangkrut
negara. Apalagi, tidak seperti Putin yang berani mengambil alih
aset-aset penting dan potensial dari tangan kaum kapitalis Rusia,
Indonesia justru melakukan yang sebaliknya, menjual aset-aset penting
yang dimiliki negara ke tangan kapitalis dunia. Jika hal ini terus
terjadi, maka jangan pernah berharap kita punya kemampuan untuk
bangkit menjadi negara yang makmur dan sejahtera.

savic, jakarta 1 januari 2008
http://savicali.blogspot.com/


mediacare
http://www.mediacare.biz


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke