"Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamannya, lalu dia mati dalam 
kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan akhirat, dan 
mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya." (Al Baqarah: 217)


uztad murtad <[EMAIL PROTECTED]> wrote:          Gue malah PRIHATIN banget ama 
hidupnya Salma ini ... kapan yaa dia bisa hidup DAMAI ... kapan yaa hatinya 
TEDUH
Semakin banyak dia baca ayat2 Quran... semakin tidak tahu siapa Allah itu 
sebenarnya .....

Bener-bener ..kaciaaaan deh, gue doa-in semoga Salma kembali kejalan yang benar 
... itu juga kalo dia mau.

sFe <[EMAIL PROTECTED]> wrote:      
          Kaifa Ihtadaitu
  2/1/2008 | 23 Dzulhijjah 1428 H | Hits: 6
  Anak-Anak Muslim Yang Cerdas Oleh: DR. Amir Faishol Fath   
---------------------------------
      
    Udara malam itu di Sanfrancisco masih sangat dingin. Kota yang indah ini 
memang terletak di tepi laut yang membentangkan kemaha-indahan Allah Sang 
Pencipta. Siapa pun yang datang ke kota ini akan terkagum dengan pemandangan 
alamnya. Sayangnya banyak orang yang diam di dalamnya tidak tahu cara 
mensyukuri keindahan tersebut. Mereka mengira bahwa untuk membalas nikmat yang 
demikian agung itu cukup hanya dengan tertawa-tawa, membuka aurat di tepi 
pantai, berfoto-foto, mabuk-mabukan dan lain sebagainya. 
   
  Mereka mengira bahwa gedung-gedung tinggi menjulang yang mereka bangun itu 
sudah cukup sebagai bukti syukurnya kapada Allah. Mereka tidak tahu cara 
mensyukuri nikmat itu, sebab mereka tidak belajar tuntunan Allah Sang Pencipta. 
Mereka mengira itu cara bersyukur yang baik. Padahal itu menodai keindahan 
ciptaanNya. Mereka bingung, karena mereka sendiri tidak mau belajar bagaimana 
seharusnya hidup yang benar menurut Sang Pencipta. Sungguh Allah mempunyai 
tujuan yang sangat mulia dalam segala ciptaanNya. Tidak ada maksud Allah dalam 
menciptakan segala keindahan di muka bumi ini untuk kesia-siaan. Tidak mungkin 
Allah menciptakan alam yang sedahsyat ini, dengan tujuan agar manusia 
berfoya-foya dengan dosa-dosa.
  
Perhatikan di malam itu, ternyata aku menyaksikan kenyataan yang sangat luar 
biasa. Di sebuah rumah tempat aku bersinggah, aku mendengar suara seorang ibu 
sedang mengajarakan anaknya membaca Al Qur’an. Padahal ibu itu baru saja 
kembali dari tempat kerja. Dari wajahnya nampak rasa lelah yang masih belum 
hilang. Ibu itu telah mensyukuri keindahan kota dengan cara seperti yang Allah 
ajarkan. Ibu itu tidak suka kalau anaknya nanti tidak tahu tuntunan Allah. 
Dalam sebuah obrolan ibu itu berkata: 
   
  “Aku tidak mau anakku seperti mereka yang bodoh itu. Aku takut kalau anakku 
nanti tersesat jalan. Karenanya akau harus bersungguh-sungguh mengejarkan 
anakku Al Qur’an”.
  
Memang kekhwatiran akan masa depan anak dari segi moral dan agama sering kali 
aku dengar dari beberapa keluarga muslim Indonesia di Amerika. Benar, secara 
pendidikan umum anak-anak mereka tidak akan kehilangan masa depan. Tetapi dari 
sisi moral dan agama mereka sangat khawatir. Karena itu mereka selalu berusaha 
untuk mengikutkan anak-anak mereka dalam program sekolah agama setiap hari Ahad 
“ Sunday School”. 
   
  Kegiatan ini hampir merata. Tidak saja di kalangan umat Islam Indonesia, 
tetapi juga di kalangan umat Islam Amerika secara umum. Di beberapa kota yang 
sempat aku kunjungi seperti Houston, Denver, Los Angles, Washington, New York, 
Chicago dan Sanfrancisco, selalu aku temui penampilan anak-anak kecil membaca 
Al Qur’an. Mereka ternyata bisa tampil dengan sangat mengagumkan. Bahkan di 
sebagian kota seperti Denver ada anak-anak yang menampilkan lagu nasyid. 
Penampilan itu menambah cerah suasana malam Ramadhan. 
   
  Di Houston ada perlombaan menulis artikel Islam tentang Ramadhan. Hasilnya 
memuaskan. Di Washinton anak-anak mereka sangat kritis. Ketika dibuka 
pertanyaan, ada yang bertanya: “Mengapa Allah mengutus nabi dari laki-laki saja 
kok tidak perempuan?”
Anak-anak kecil di Amerika memang dididik kritis dan berani. Karena itu, setiap 
mereka ditegur selalu bertanya: why? Karenanya orang tua mereka harus pandai 
memberikan alasan. Jika tidak, mereka tidak mau menerima teguran begitu saja. 
   
  Memang banyak pengakuan dari orang tua: bahwa mereka seringkali sangat 
kerepotan untuk menjawab. Terutama jika masalahnya berkenaan dengan agama. 
Karena itu para orang tua di Amerika banyak yang semangat belajar ilmu agama. 
Mereka terdorong bukan saja karena harus menjawab pertanyaan sang anak yang 
sangat kritis, tetapi juga mereka harus memberikan contoh yang baik sesuai 
dengan tuntunan Islam. Contoh dalam bentuk perkataan dan perbuatan. Bagi para 
orang tua, Islam memang harus dipelajari. Tidak sedikit dari mereka yang 
menyesal mengapa dulu ketika masih muda tidak belajar Islam dengan 
sungguh-sungguh.
  
Memang semasa di Indonesia tantangan untuk belajar Islam tidak sedahsyat di 
Amerika. Di Indonesia mereka masih mendengar adzan, masih banyak orang 
berjilbab, masih banyak orang Islam, masih banyak pesantren dan sekolah Islam. 
   
  Tetapi setelah mereka di Amerika, tidak bisa tidak mereka harus belajar 
Islam, tidak saja untuk diri mereka tetapi lebih dari itu untuk anak-anak 
mereka. Inilah gambaran bahwa Islam tidak boleh disepelekan. Bagaimana pun 
Islam tetap agama fitrah. Islam kebutuhan fitrah manusia. 
   
  Manusia sampai kapan pun tidak akan pernah bisa menghindar dari Islam. 
Sungguh aku katakan: “Kebutuhan manusia terhadap Islam sebenarnya seperti 
kebutuhan ikan terhadap air. Bila manusia tanpa Islam ia pasti mati jiwanya. Ia 
berjalan tanpa ruh. Tidak punya arah. Tidak tahu mau kemana harus melangkah”. 
Allahu a’lam bish shawab. 





  Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 


  Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 

                         

 Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 
 Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke