Ideologi Transnasional Sukses, Indonesia Berubah Total

Ideologi Transnasional Sukses, Indonesia Berubah Total
02/07/2007
Keberadaan idologi transnasinal belakangan ini menjadi perbincangan yang cukup
mengemuka, khususnya dikalangan umat Islam akibat gerakan-gerakan yang mereka
lakukan dan kaum nasionalis yang merasa terancam akan kelangsungan NKRI terkait
dengan upaya formalisasi syariah di Indonesia. Sebenarnya apa dan bagaimanakan
ideologi transnasional ini. Bagaimana sejarah dan apa akibatnya jika ideologi
ini terus berkembang di Indonesia, berikut ini pandangan Dr. KH Ghozalie Said,
penulis buku "Ideologi Kaum Fundamentalis Trans Pakistan Mesir," dengan NU
Online saat berkunjung di kantor PBNU pertengahan Juni lalu
Islam transnasional ini sebenarnya apa?
Saya memang menulis buku "Ideologi Kaum Fundamentalis Trans Pakistan Mesir,"
itu istilah, tapi akhir-akhir ini, ini sebetulnya istilah badan intelejen dan
rupanya berdasarkan laporan-laporan anggota BIN, yang dimaksud adalah gerakan
Islam yang berada di tanah air tapi yang mengendalikan dari luar, misalnya
Ikhwanul Muslimin, suatu contoh, ini pengendali utamanya dari mesir. Jadi
kedudukan al Mursyidul Aam di Mesir.
Kemudian menuju ke Indonesia dalam sejarah penjangnya menjadi dua faksi. Faksi
pertama faksi resmi, namanya ikhwan juga. Di masing-masing negara lain, namanya
lain-lain. Di Sudan namanya Jamaah Islamiyah, menjadi partai politik karena
menerima negera demokrasi dan menerima negera nasional, tetapi penerimaan ini
sebagai sarana membentuk pemerintahan Islam dengan syariah. Namanya macem-macem,
di Aljazair menjadi FIS, di Syiria dulu ada partai sendiri, saya lupa, di
Palestina menjadi Hamas dan kemudian di Indonesia menjadi PKS. Ini jalur resmi
dan musryidul amnya ada di Mesir.
Kemudian ada faksi jihad, istilah BIN-nya itu Hudaibiyah. Yang saya tahu itu
Hadibi karena musryid aamnya yang kedua itu Hassan Hadibi. Nah ketika Hassan
Hadibi menjadi mursyid aam, ada faksi tandimul khosnya, walaupun sudah ada sejak
zaman Hassan al Banna, tetapi lebih radikal ketika tokoh tandimul khosnya itu
dipegang oleh Sayyid Qutb. Tandimul khos itu kalau bahasa NU-nya Banser, para
militer. Kalau Bansernya sini kan tidak punya senjata, disana punya senjata.
Doktrinya itu dari Sayyid Qutb. Bukunya yang sangat terkenal itu Maali fit
Thorieq atau Pelita Jalan yang menyatakan diantaranya, suatu negara yang tidak
memberlakukan syariah, berarti negera itu jahiliyah. Maka musuh utamanya adalah
pemimpin negera itu. Sebelum memusuhi Israel, memusuhi negaranya sendiri saja.
Kedua, negara yang tidak memberlakukan syariat Islam ya negera jahiliyah, karena
negera jahiliyah, fikih menjadi tidak penting. Itu nanti berbeda dengan Wahbah
Zuhaili, yang waktu itu masih muda.
Faksinya Sayyid Qutb ini membentuk Islam radikal yang non negera, non resmi dan
keras yang melahirkan di mesir Jamaah Islamiyah, Al Jamaat al Islamiyyah. Itu
anti negera, ini juga trans ke seluruh negara yang kemudian ketemu, ketika
Soviet menduduki Afganistan, dibantu oleh kaum Salafy Saudi, yang tokohnya Osama
bin Laden, ketemulah faksi ikhwan dengan faksi yang Wahabi, di Afganistan.
Dari Afganistan, ada yang mengirim kelompok-kelompok sukarelawan dari
Indonesia, ada Amrozi, masih anak-anak ketika disana, tapi sudah latihan perang.
Akhirnya jamaah Islamiyah yang muncul disana itu. Ini yang suka ngebom-ngebom.
Kalau faksi yang resmi itu ya ikhwan yang menganggap sebagai haraqah ustadziyah
atau gerakan guru. Guru gerakan Islamiyah, jadi harus ditiru. Lha ketemu juga
dengan kelompok lain yang mungkin non ikhwan sama-sama anti negera.
Gerakan model kedua dulu juga ikhwan yaitu Hizbut Tahrir (HT). Dulu Syeikh
Taqiyuddin an Nabhani bergabung dengan ikhwan ketika perang melawan Israel tahun
1948, kalah, kemudian ia mendirikan sendiri gerakan Islam karena setelah
dievaluasi tidak memiliki khilafah Islamiyah sehingga membuat umat Islam kalah.
maka ia mendirikan ini. Dan ini pengendalinya juga dari Yordania. Baik Ikhwanul
Muslimin di Mesir dilarang, HT di Yordania juga di larang. Di tiga negara kan,
di Lebanon, Syiria dan Jordania kan dilarang. Itu dirahasiakan, pemimpin
sekarang namanya Abu Rosta. Di Indonesia itu kan ngak pernah muncul itu ketua
HTI itu namanya Habib Abdurarahman, yang muncul kan Ismail Yusanto, itu
sebenarnya kan krucuknya sebetulnya, terus di Surabaya ada dokter Usman.
Pokoknya Jubirnya.
Nah HT ini ciri khasanya itu taat pada kebijakan internasional ini, itu tidak
mau menerima negera. Jadi dia tidak akan mau menjadi partai politik, tidak akan
mau karena negera itu sistem yang kufur, demokrasi itu sistem yang kufur.
Konsekuensinya, ia bisa mentaksir pada orang lain, walaupun disembunyikan.
Karena sudah kufur, berarti ini…. Ada tahapan-tahapannya. Ini yang HT.
Kemudian, ada gerakan nasional juga, transnasional juga tapi dikendalikan juga,
ada Pengurus Cabang Istimewa (PCI) NU di Jepang, di Inggris dan lainnya, tapi
itu semuanya bangsa Indonesia. Di Amerika ada, di Australia ada, semuanya
Indonesia. Itu bedanya,
Konflik itu timbul ketika gerakan transnasional ini menggerogoti asset-aset
milik NU atau Muhammadiyah atau organisasi lainnya?
Kayak NU atau Muhammadiyah kan ikut ambil bagian dalam mendirikan negera ini.
Jadi antara Islam dan nasionalisme orang Indonesia yang menjadi the founding
father adalah adalah sesuatu yang tidak bisa dipisah. Seperti orang Melayu pasti
Islam, Islam adalah orang Melayu, sudah menyatu seperti itulah, otomatis
merekalah yang membuat budaya, diantaranya budaya masjid, tradisinya, yang sudah
terbentuk karena sudah lama. Nah gerakan-gerakan baru ini kan belum punya
tradisi, nah paling cepat ngambilin masjid yang tak terawat, mereka masuk. Tapi
saya kira kita ambil manfaatnya saja. Kalau tidak gitu, NU kan tidur terus.
Menurut saya begitu. Memang programnya masjid-masjid di tingkat kabupaten akan
dikuasai, terutama HTI. Kalau Ikhwanul Muslimin, kalau partai politiknya jadi
PKS yang berasal dari usroh, tarbiyah Islamiyah itu di kampus-kampus itu yang
digerogoti kan Muhammadiyah karena banyak kader Muhammdiyahnya. Tapi banyak juga
yang membuat masjid. Tapi kalau HTI tidak, nga buat
masjid, kalau PKS membuat masjid yang memang disediakan untuk kegiatan mereka.
HTI kan juga berusaha masuk ke pesantren-pesantren?
Oh ya, mereka aktif, jam lima pagi itu sudah datang ke mana-mana dan mereka
umumnya tidak faham, hanya didoktrin saja, khilafah Islamiyah, wong saya
diparani tak bilangin, kapan sih khilafah Islamiyah ini berdiri. Kan Syeikh
Taqiuddin an Nabhani kan bilang 30 tahun, mulai tahun 1952. Sekarang kan sudah
50 tahun lebih, mana yang ada khalifahnya. Saya kira itu romantisme masa silam,
bukan masa depan. Kalau NU Muhammadiyah kan masa depan, mereka kan ingin kembali
ke masa silam.
Ketika gerakan-gerakan ini pemimpin pusatnya berada di luar negeri, apakah ini
akan mengancam integritas Indonesia?
Saya kira kalau ini sukses, ya otomatis dirubah negera ini, menjadi negera
Islam, otomatis tidak negera kesatuan, tidak UUD 1945, mesti dirubah karena
memang sudah begitu programnya. Saya kira pemerintah itu mestinya jelas ada
kebijakan, tidak dibiarkan begitu saja. Atau memang disengaja oleh pemerintah
disamping ada gerakan Islam, ada gerakan kiri sebagai pengimbang. Katanya ada 27
Juni ini ada Kongres Khilafah di Senayan. Dan bukan main mereka, suplai dananya,
disamping dari anggota disini, itu dari orang-orang kaya Saudi. Itu kan kelompok
ahlusunnah yang seperti itu, ahlusunnah sendiri kan macem-macem. Lain pula yang
syiah. Ada dua syiah di Indonesia, ada Ijabi, itu moderat, plural, ada pula
Elkap, koordinasi ahlul bait pokoknya, ya itu yang agak fundamentalis.
Kalau dilihat dari aspek ajaran, itu sebenarnya ada ajaran yang signifikan
tidak, atau sekedar ideologi politiknya?
Sebenarnya kalau dalam bidang peribadatan, hampir rata, Wahabi semua. Mereka
tidak seneng tahlil, paling moderat, tidak anti tetapi tidak melaksanakan. Lha
yang paling ekstrim itu anti, itu dibidang tradisi keagamaan. Tradisi pemahaman
politiknya adalah hadist nabi "man maata, walaisa biunukhihi baiah mata mitaatan
jahiliyyah" barangsiapa yang meninggal dan tidak pernah berbaiat khalifah, maka
ia mati jahiliyyah, dianggap mati kafir. Ini kan berat secara teologis. Kita ini
dianggap tidak Islam lagi karena tidak ikut faham mereka. Itu hampir sama. Jadi
kalau Ikhwanul Muslimin, wama la yahkum bima anzalallah, faulaaika humul
kaafiruun. Itu dalilnya dan saya lihat khutbah-khutbahnya begitu, saya denger
begitu. ya otomatis berbeda dengan NU.
Lha NU itu harus membuat cara berfikir tandingan yang mengimbangi cara fikir.
Ini harus diputuskan dalam forum tertinggi. Jadi kalau di HTI itu ada namanya
taqwim assaqsayah islamiyyah atau pembentukan kepribadian Islam, itu perlu
perbedaan. Kalau di HTI itu bagaimana mengamalkan syariah, tapi yang tak ada
tahlilannya, kan beda dengan NU. Kemudian kedua, tafkih, intelektualitasi, beda
itu. Kalau NU kan tak suka berdebat, kalau mereka, masalah harus diperdebatkan,
namanya syiroul fikr atau pertarungan pemikiran.
kedua itu ada taamul maklumah atau gerakan sosial. Jadi ada dua tangga, satu
namanya syiraul fikr. Kedua taamul maklumah, dan yang terakhir istilamul hukm
atau merebut kekuasaan. Lha di NU supaya begitu gimana, kan jelas. Makanya harus
ada fikrah nahdliyyah harus jelas apa yang harus dituju.
Mereka berhasil menarik kalangan muda dan intelektual kampus sehingga dalam
pemilu berhasil menarik suara yang cukup besar, apa yang menjadi kunci
keberhasilannya?
Karena kecenderungan masyarakat sekarang cenderung berfikir istidlali. Itulah
yang paling benar, berfikir normatif, dari Qur'an, Hadist, kalau nga ada ya
salah lah. Lha ini paling gampang, sementara kelompok lain terbiasa cara
berfikir istiqroi. Ini sebenarnya applied, eksperimen. Lha cara berfikir seperti
ini lamban, butuh intelektualitas yang tinggi, sedangkan yang satunya tidak
butuh. Lho nga ada di Qur'an, bid'ah, lha gitu kan gampang. Tapi kalau ini kan
butuh penalaran yang dalam.
Sebab kedua, orang Islam yang lama itu kayak NU dan Muhammadiyah cenderung
korup menurut saya, sudah menikmati singgasananya, nga bisa melakukan mobilisasi
ekonomi yang baik. NU kan sudah berumur 80 tahun lebih, tapi kan kalau lihat
proposalnya, 90 persen kan permohonan bantuan. Lha kok begini, melihat
pemimpinnya kok tengkar, korup, lha otomatis ini kan tidak menarik bagi kalangan
muda, tidak ideal.
Sebab ketiga, konstitusi kita itu dianggap dalam perjalanannya tidak pernah
stabil, tergantung yang mimpin. Waktu dipimpin Soekarno, ya presiden seumur
hidup. Setelah Soeharto ya P4. reformasi ya ganti lagi, kan ruwet ini, ganti
lagi. Nah ini menimbulkan kekecewaan pada generasi muda, apa tidak lebih baik
Islam sebagai solusi. Dimana-mana ya begitu kampanyenya, disamping tekanan
internasional seperti Islam selalau dirugikan yang memunculkan perlawanan.
Ke depan gimana? Apa bisa berkembang semakin besar, stagnan atau malah
mengalami penyusutan?
Tergantung pada sparing partnernya. Kalau NU masih seperti sekarang dan tidak
ada peningkatan, baik dari sisi kegiatan, pengaturan organisasi, mereka akan
berkembang. Tetapi kalau ada semangat melakukan perbaikan ke dalam, pemimpinnya
menjadi bersih, saya kita tidak bisa itu. Tapi kita lihat saja karena programnya
ini, tahun 2009, yang partai politik targetnya merebut RI 2, tahun 2014 RI 1.
Kita lihat dan ini test casenya pemilu DKI. Kemarin di Banten kalah pemimpinnya,
sekarang DKI bagaimana, kalau menang ya tambah dekat. Harus siap-siap konstitusi
ini diganti. Saya kira itu.
Disitu bedanya, karena NU dan Muhammadiyah sebagai founding fathers yang ikut
meletakkan Pancasila. Artinya ada suasana keterikatan secara kebatinan dalam
kontinyuitas negera. Jadi history continuity. Kita punya beban moral. Tapi kalau
istilahnya Anis Matta ketika kampanye waktu saya datang "Kami akan datang
sebagai partai yang tidak pernah dilakukan oleh orang-orang pendahulu kita" dia
menyitir sebuah syair. Jadi kalau PKB kan masih terbayang-bayang kebesaran NU,
PAN masih terbayang-bayang kebesaran orang Muhammadiyah. Kalau PKS datang tanpa
bayang-bayang orang tua. "Kami orang muda dan tak mengatakan siapa pendahulu
kita. Pendahulu kita adalah kita sendiri." He he he………. (mkf)


***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://ppi-india.blogspot.com 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke