http://www.ranesi.nl/arsipaktua/indonesia060905/gus_dur_menantang <http://www.ranesi.nl/arsipaktua/indonesia060905/gus_dur_menantang> Gus Dur Menantang di Tahun 2008 Aboeprijadi Santoso dari Jakarta
04-01-2008 [GusDur] Gus Dur, alias Kyai Haji Abdurrahman Wahid, membuka tahun 2008 dengan serangan-serangan frontal, baik terhadap dunia ormas Islam yang di bawah pengaruh Majelis Ulama Indonesia MUI, mau pun terhadap para politisi di kalangan legislatif dan kalangan pemerintahan SBY-Kalla. Suaranya merangkul kalangan sosial-demokrat (sos-dem) yang dewasa ini tengah tumbuh di Indonesia, sekaligus mencoba menggalang dukungan ke arah kursi presiden tahun 2009 nanti. Celakanya, peluang terakhir mantan presiden RI ke-4 ini diduga tak seberapa kuat, bahkan kalangan muda pun menunjuk: sudahlah Gus, anda kini lebih pantas jadi Bapak, atau Guru Bangsa, ketimbang memimpin negara-bangsa. Tapi bagaimana hati kecil Gus yang satu ini? Apa pun dikata, Gus Dur adalah seorang pemain politik yang tanggap, lincah dan menarik. Semasa Orde Baru Soeharto, para pengamat politik jeli seperti Salim Said menilai Abdurrahman Wahid sebagai "politikus nomor wahid". Sekarang, sambil menutup 2007 dan membuka 2008, Gus Dur tampil mencolok dengan serangan-serangan telak terhadap pelbagai lembaga politik terpenting negara. Bubarkan saja MUI itu, katanya tentang ormas Muslim yang merestui serangan-serangan terhadap minoritas Muslim mau pun non-Muslim. Gus Dur: Saya sendiri berkeyakinan bahwa MUI itu sebuah ormas. Sama dengan ormas-ormas lain. Jadi dia melebihi porsinya. Bubarin ajalah, diganti yang baru yang bener-bener mengerti tugasnya. Salah kaprah SBY juga gak becus, soal keamanan bagi politisi pun tak jelas, komentarnya menanggapi terbunuhnya pemimpin oposisi Pakistan Benazir Bhutto. Tapi paling mendasar, Gus yang masih menjabat Ketua Dewan Syuro PBNU Pengurus Besar Nadhatul Ulama ini, menuding arah republik ini sejak lahir sudah salah kaprah. Gus Dur: Dua hal yang saya anggap paling penting ya, satu orientasi pembangunan nasional kita ini sebagai bangsa dan negara, ternyata salah. Harus dibetulkan. (Yang salah siapa Gus?) Ya semua, wong mulai dari kemerdekaan kita kok. (Seperti apa kesalahan itu?) Lho? Untuk orang kaya aja kan? Tidak untuk orang melarat. Jadi yang ditekankan pada pertumbuhan. Padahal mestinya kan pertumbuhan dan pemerataan. (Kan dua tadi catatan dari 2007, yang kedua apa Gus?) Ya itu, tokoh-tokoh masih berkeliaran. (Jadi mesti digusur, gitu?) Ya, mestinya diganti dong, kayak Pak Wiranto. (Wiranto satu, siapa lagi?): Ya banyaklah. Tapi Gus Dur juga tokoh yang suka nyeloteh. Sesumbarnya sering diamini banyak orang, tapi sulit diverifikasi. Dalam acara Radio KBR68H "Kong Kow dengan Gus Dur" setiap Sabtu pagi, si Gus pekan silam misalnya sesumbar "kan Pakistan itu didirikan oleh Ali Jinnah, orang Islam yang suka makan babi dan anjing". Nah, dari mana si Gus ini bisa menuding Bapak Pakistan itu makan anjing? Pesan yang hendak disampaikan Gus, agaknya, adalah bahwa Ali Jinnah adalah seorang politikus sekuler, Muslim namun sekuler, sama dengan Soekarno, itu saja. Wiranto Tapi Gus Dur juga punya sesumbar lain yang jelas bermakna menyodok mantan lawan mau pun kawan. Tentang Wiranto, jenderal mantan Panglima ABRI yang pernah dipecat Gus Dur hingga membuat Gus Dur popular dan terpuji itu, Gus berbicara polos. Wiranto dan konco-konconya itulah yang mendirikan FPI, Front Pembela Islam, ormas yang suka melecehkan konstitusi republik dengan mengganggu kaum minoritas. Kaitan antara para perwira tinggi itu dengan FPI boleh jadi sebagian sudah menjadi pemahaman umum. Namun orang pun tahu kaitan dan penggalangan ormas oleh jenderal-jenderal politik adalah hasil operasi intelijen tentara yang tak mungkin dibuktikan secara empiris oleh siapa pun, kecuali jika salah satu penggedenya bernyanyi, demikian komentar Indro Tjahyono, pemerhati militer yang cermat itu. Jadi Indro pun membenarkan bahwa pernyataan Gus Dur seperti itu masuk akal, tak mungkin disangkal, namun tak mungkin juga dibuktikan. Walhasil, Gus Dur memang sengaja memainkan fakta dan asumsi-asumsi publik, agaknya dengan maksud untuk membidik dan melumpuhkan Wiranto, jenderal yang berambisi jadi presiden dengan memimpin Partai Hanura, Partai Hati Nurani Rakyat. Hati nurani yang tersimpan di kalbu rakyat namun tak terungkap oleh rakyat awam, adalah cita-cita kemakmuran dan keadilan. Maka menyusul Wiranto dengan Hanura yang memacu sentimen nasionalistis yang populistis, lantas Megawati dan PDI-Pnya yang kini merangkul Islam politik, dan mantan Gubernur Jakarta Sutiyoso yang miskin pesan politik, sekarang Gus Dur tampil dengan wacana pertumbuhan plus pemerataan. Gus Dur adalah tipe pemimpin yang disebut almarhum profesor Herbert Feith sebagai solidarity makers, penggalang setiakawan, bukan administrator yang cermat. Maka Gus pun dengan enak menyalahkan semua pemimpin sejak republik ini berdiri. [GusDur] Sos-Dem Singkat kata, Gus Dur tengah mengerek bendera sos-dem. Ini bukan hal baru, sebab Gus sendiri sudah lama berteman dengan pemimpin partai buruh dan sosial demokrat Eropa, seperti Wim Kok dan Ad Melkert dari Belanda misalnya. Tapi Indonesia hari-hari ini tengah semarak dengan tampilnya tuntutan generasi muda yang sebagian beraspirasi ke kiri moderat dan sos-dem. Ironisnya di situ, si Gus justru tak laku. Fadjroel Rahman misalnya yang menuntut reformasi total ingin menggusur semua generasi tua, yang usia 55 ke atas. Dan "Gus Dur kan alumnus Orde Baru, pernah jadi anggota DPR mewakili Golkar," katanya pula. "Generasi pertama pasca reformasi harus mundur kalau reformasi mau sukses karena mereka semua alumnus Orba. Ular beludak ganti kulit, tetap saja ular beludak, Bung!," demikian tegas Fajdroel, mantan tahanan Orba yang berambisi sosdem. Generasi muda yang lain bersuara moderat, tapi juga tak menginginkan Gus Dur lagi. "Sudahlah, Gus itu nggak usah lagi jadi capres, itu hanya akan menghambat regenerasi Nadhatul Ulama," komentar Direktur Imparsial Rachland Nashidik, salah satu politikus masa depan yang juga menuntut panggung baru. "Gus," menurut Rachland, "lebih tepat di luar politik negara, kalau di dalamnya dia malah kehilangan kearifannya." Nama jalan Pendapat Rachlan Nashidik ini memang banyak gemanya. Politikus-nomor-wahid seperti Gus Dur telah terbukti tidak piawai sebagai manajer, atau pengelola negara. Tak terasa setengah abad kemudian, tipologi Herbert Feith solidarity makers versus administrators masih menggejala di republik ini. Tapi, bedanya, penggalang solidaritas macam Gus Dur dan generasi muda ini punya wacana menyiapkan republik baru. Bukan mustahil, bahkan banyak kalangan menduga kuat, Gus Dur Cuma meramaikan dinamika baru. Si Gus satu ini pun orang cerdik yang mustinya sadar dirinya tak perlu dan tak bisa lagi jadi capres. Dengan kata lain, Gus Dur kini bermain lagi. Sebagai satu satunya tokoh nasional yang ayah dan kakeknya menjadi nama jalan di ibukota ini, yaitu Wahid Hasyim dan Hashim Ashari, si Gus memang pantas, dan dia sendiri agaknya diam diam menyiapkan diri jadi Bapak dan Guru Bangsa, bukan pemimpin negara bangsa, sebelum namanya menghias salah satu jalan raya di ibukota ini [Non-text portions of this message have been removed]

