Kisah Ironis di awal Tahun Baru 2008  
 
 Hari sabtu siang tanggal 5 januari 2008, aku mengenjot sepeda melawan angin  
pergi menuju stasion Amstel- Amsterdam. Seperti biasanya aku sekaligus 
mengambil koran gratisan bernama "Dag.nl". Sembari menunggu Metro, aku membaca 
berita tentang "Voormalig dictator Indonesiƫ in kritieke toestand in 
ziekenhuis" (Mantan diktator Indonesia dalam keadaan kritis di Rumah Sakit). 

Dalam berita tersebut diceritakan bahwa Soeharto membutuhkan pacemaker ke dua 
dan pula dinyatakan dari pihak dokternya bahwa kondisi kesehatannya tidak akan 
membahayakan nasib hidupnya. 

Seusainya aku membaca kabar mengenai kasus sakitnya Soeharto itu, sejenak aku 
termenung lalu tersirat ingatanku tentang berita, yang pernah kubaca di koran 
gratisan yang sama, yaitu mengabarkan tentang gugatan kasus korupsi Soeharto 
dalam sidang Pengadilan Sipil. Dinyatakan pula bahwa uang yang dicuri melalui 
yayasan Supersemar selama 32 tahun masa  pemerintahannya bernilai kurang-lebih 
1,1 milyar euro. 
 
 Beberapa menit lagi metro akan tiba untuk membawaku ketempat tujuan, dan aku 
masih tetap duduk terpaku menatap gambar di koran gratisan tersebut, yang 
memuat pula foto mantan diktator mengenakan kemeja putih, bergaya seperti 
seorang suci, terlihatlah senyuman khas dari "The Smiling General" Soeharto. 

Namun pikiranku masih terpancang pada berita tadi pagi via email dari seorang 
kawan di Tanah Air: "Banjir besar hampir merata di Indonesia, cuaca yang 
mendung sepanjang hari seperti gambaran kesedihan rakyat jelata. Antre minyak 
tanah ada dimana-mana termasuk di Jakarta, tapi kok masih ada orang yang 
buang-buang uang jutaan cuma buat pesta pergantian tahun ya?" Seketika itu 
kurasakan sekujur badanku menggigil kedinginan. 

Serasa pula aku tak berdaya mengingat kepedihan rakyat jelata yang sedang 
mengalami korban bencana Longsor-Banjir, seperti yang digambarkan pada cuplikan 
video dari liputan metro  TV pada tanggal 26 desember 2007. Padahal 
penggambaran tentang "The Smiling General" Soeharto pernah pula dinyatakan oleh 
O.G. Roeder belumlah sirna dari ingatan peristiwa berdarah 1965, "sang  Jendral 
tersenyum, maka matilah jutaan rakyatnya".  
 
 Selama dalam perjalananku menuju rumah, kusempatkan untuk ber-sms ke kawan 
lainnya, "apa masih ada harta korupsine sing masih bisa direbut kembali?"
 kawanku menjawab, "Lho, lagi-lagi nyatane beritane adalah "Kebal Hukum" atas 
kasus korupsine yo wis dimenangke eSBeYe. Saiki sing ndue kuoso yo nyambangi 
Soeharto, jarene loro nemen." 
 "Lha, sing mantan jendral iku yo maleh senyum koyo mbiyen. Ironisne yo wis 
dikenal sebagai "SiMaling Jenderal" ditambah karo pangkate Haji Muhammad 
Soeharto. Opo korbane podo gelem ngapuro dosane Soeharto?" "Piye toh? 
 "La sing jelas susah matine kuwi Soeharto. Yo wis pasrah sing gawe urip wae. 
Monggooo..!"

Sesampainya aku di rumah, telepon pun terdengar  berdering...Seorang kawanku 
dari luar kota menyampaikan berita yang sama, yaitu tentang kasus sakitnya 
Soeharto. Kemudian katanya: "Rupanya kekuasaan kerajaan Cendana masih 
berpengaruh juga ya dikalangan para elit politik Indonesia? Yang nyatanya 
sampai saat ini ia masih bisa tersenyum biarpun segala kejahatan yang telah 
dilakukannya tak pernah terungkap secara tuntas!". 


Amsterdam, 05 01 2008

Sumber:

http://www.dag.nl/Nieuws/Artikelpagina-Nieuws/Oud-president-Suharto-ernstig-ziek.htm
 
http://www.dag.nl/Video/Artikelpagina-Video/Tientallen-doden-door-aardverschuiving-op-Java-video.htm


Information about KUDETA 65/ Coup d'etat '65, click: http://www.progind.net/   
http://geocities.com/lembaga_sastrapembebasan/ 






       
---------------------------------
Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile.  Try it now.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke