CERKAT (cerita singkat)  010408.

T R A U M A

Oleh : Tri Ramidjo


Hari Senin  1 Oktober 2007. Anakku pulang dari kantor membawa majalah TEMPO. 
Jarang dia membeli majalah itu sebab harganya cukup mahal. Harga sejilid 
majalah TEMPO bisa untuk membeli dua kilogram telur ayam negeri dan cukup untuk 
lauk makan beberapa hari. Harga Koran dan majalah memang tidak terjangkau untuk 
rumah tangga kami yang hidupnya pas-pasan.



Mengapa hari itu anakku membeli majalah TEMPO yang harganya duapuluh-dua- 
ribu-lima- ratus rupiah lebih? Mengapa uang sebanyak itu diboroskan untuk beli 
majalah? Biar bapak baca, katanya. Biar tahu apa peranan Aidit orang nomor satu 
PKI itu yang mengakibatkan bapak masuk penjara puluhan tahun, katanya.



Mulailah hari itu aku membaca majalah TEMPO, halaman demi halaman. Di halaman   
50 tertera potret Aidit sedang menginspeksi pasukan wanita saat HUT PKI ke 45. 
Di sebelah kanan bawah halaman 51 ada tulisan putih dan kuning dengan huruf 
yang cukup besar berbunyi  DUA WAJAH  DIPA NUSANTARA.  Aku tidak mengerti apa 
yang dimaksud "dua wajah" dan "Dipa Nusantara" adalah nama Aidit yang 
singkatannya DN.



Di halaman 52 dan 53 yang terdiri kurang lebih 26 alenia mengisahkan  peran 
Aidit yang memimpin partai  pada usia 31 tahun dan  dalam waktu setahun 
melambungkan partai PKI ke dalam karegori empat besar di Indonesia dan 
mengklaim memiliki 3.5 juta pendukung dan  menjadi partai komunis terbesar di 
dunia setelah Rusia dan Tiongkok.  Aidit memimipikan masyarakat Indonesia yang 
tanpa klas tetapi akhirnya terhemas  dalam prahara 1965.  "Seperti juga 
peristiwa G.30-S, kisah tentangnya dipenuhi mitos dan pelbagai takhyul."   Di 
enam  baris alenia terakhir tulisan itu berbunyi  "Apa yang disajikan dalam 
Liputan Khusus TEMPO kali ini adalah upaya mengetengahkan  versi-versi itu. 
Juga ikhtiar membongkar mitos D.N.Aidit. Bahwa ia bukan sepenuhnya "si 
brengsek" , sebagaimana ia bukan sepenuhnya tokoh yang patut  jadi panutan", 
demikian Tempo.



Di halaman 54 dan 55 berjudul Anak Belantu Jadi Kumunis. Kemudian di bawahnya  
di atas  strep kuning dengan tulisan hitam berbunyi : "Datang dari keluarga 
terhormat, bibit komunisme tumbuh  dalam diri Aidit ketika  menyaksikan nasib 
buruh kecil di perusahaan tambang timah di Belitung". Potret Aidit setengah 
badan dan potret keluarga besar Aidit. 



Ketika aku sedang asyik membalik-balik halaman majalah  Tempo itu, isteriku 
datang mendekati. Ya, aku membaca majalah itu di kamarku. 

Isteriku tanya  itu gambar bintang film mana? Biasanya kan gambar wanita yang 
dipajang di halaman depan majalah. Tapi itu kok itu potret pria. Warnanya merah 
 menantang lagi. Bintang film India, ya.



"Aidit? Aidit kan pemberontak komunis itu tokh. Yang bikin bapak ditahan 
puluhan tahun dan keluarga kita jadi berantakan?   Udah, bakar aja majalah itu. 
Buat apa baca-baca majalah gituan, Aku gak mau menderita lagi. Fitnah-fitnah 
dilemparkan paman sendiri, gara-gara komunis. Apa sih enaknya komuis itu? 
Digul, Madiun, G30S semuanya gara-gara komunis. E, paman bapak itu lho kok ya 
tega-teganya keponakan sendiri difitnah anak Digul dan akibatnya puluhaan tahun 
dibuang di Buru. Waktu kecil masih bayi ikut dibuang ke Digul, sudah tua masih 
dibuag lagi ke Pulau Buru. Sudah pak, sini majalahnya, akan kubakar." Kata 
isteriku sewot.



"Gak usah traumalah. Itu semua kan sudah masa lalu, buat apa dikenang lagi. 
Coba, kalau gak ada pejuang-pejuang Perintis Kemerdekaan Indonesia (PKI) yang  
berani berkorban sampai dibuang ke Digul, Manokwari, Bengkulu, Endeh dll. Apa 
Indonesia bisa merdeka seperti sekarang ini.  Apa ada  orang-orang Indonesia 
yang jadi Jendral  pimpinan TNI. Apa ada tentara nasionsl Indonesia? Apa ada 
the smiling general? Semua itu kan hasil dari revolusi Agustus '45. Dan 
semuanya itu didahului perjuangan perintis-perintis kemededekaan  Indonesia. 
Jelas belum. PKI adalah singkatan dari Perintis Kemerdekaan Indonesia. Tanpa 
PKI tidak akan ada Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang sayangnya  negeri 
kita sekarang ini dikuasai oleh maling-maling dan para koruptor. Semoga saja 
bapak kita Presiden SBY yang sekarang  ini bisa membasmi kotuptor-koruptor yang 
merugikan Negara dan rakyat. Sini majalahnya, aku belum selesai membacanya. " 
Kataku menimpali ocehan isteriku. 



Isteriku meninggalkanku  dan langsung ke dapur.  Dan aku meneruskan membaca 
majalah Tempo.  Aku merasa sangat sedih, begitu besarnya akibat trauma yang 
diderita isteriku dan mungkin juga keluarga lainnya. Benar-benar hebat 
propaganda orde baru Suharto selama puluhan tahun. Rakyat menjadi semakin  AHO  
(goblok - bahasa Jepang) dan cara berfikirnya mundur puluhan tahun.



Indonesia akan bisa maju lagi kalau penerangan dan agitasi politik lebih gencar 
sampai ke desa-desa.    Koran, perlu Koran masuk desa. Musik ngak-ngik-ngok dan 
pameran dada telanjang  mememenuhi tayangan TV selama 24 jam. Bagaimana budaya 
rakyat desa gak makin amblek. Apa gak prihatin? Jangan harap menteri PDK  kita 
akan turun tangan, mungkin malahan angkat tangan dan tepuk tangan 
kegirangan.**********



Tangerang, Jum'at Legi 04 Januari 2008.-





mediacare
http://www.mediacare.biz


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke