Surat dari Monmartre:
MEMBACA ULANG "SELASAR KENANGAN"
Kumpulan Cerpen Srikandi Apsas
Tebal:95 hlm + xx.
Penerbit:Akoer, Jakarta, Juni 2006
[Dengan ucapan Selamat Ulang Tahun Ke-3 Kepada Milis Apresiasi Sastra]
PERAN EDUKATIF KARYA SASTRA
Tokoh-tokoh yang diciptakan oleh penulis, melalui berbagai tekhnik
pengungkapan ide dan perasaannya, kupahami sebagai bagian dari wacana sertai
mimpi penulis tentang dunia yang ia impikan. Tokoh adalah personifikasi wacana
dan mimpi penulis.Tokoh dilahirkan oleh penulis melalui "pernikahan" imajinasi
dengan kenyataan kehidupan dan pengalaman disaring oleh tingkat kemampuan
ketrampilan tekhnis dan tingkat pengetahuan dan jenis komitmennya. Tergantung
pada rabun dan tidak mata hati memandang dunia yang tak ramah guna menangkap
sari, warna rara dan hitamnya. Tokoh-tokoh inilah yang kemudian secara
berdaulat sebagai anak penulis berhadapan dengan para pembaca dengan para
pembaca yang sama berdaulatnya. Mereka berdialog langsung. Peran penulis dalam
bermasyarakat, barangkali terletak dalam menetapkan mengirimkan tokoh yang
dilahirkannya sekaligus sebagai delegasi pribadi menjumpai pembaca, untuk tidak
menggunakan istilah masyarakat. Delegasi ini, walau pun tidak bicara
banyak, tapi dengan penampilannya ia sudah banyak berbicara dan menawarkan
suatu esok. Boleh jadi di sinilah terletak makna kepujanggaan, kata yang
mengandung arti sangat dalam dan luas.Karena ia mengandung pesan, harapan dan
mimpi yang utuh tentang wajah hari ini dan esok . Penulis tidak serta-merta
menjadi pujangga dengan otodeklarasi sekedar mendapat sebutan sastrawan dan
seniman. Otodeklarasi, iklan diri tanpa jemu dan berburu sebutan, agaknya
lebih dekat kepada tingkat berkesenian instingtif yang darinya tidak bisa
diharapkan terlalu jauh dan terlalu banyak. Tidak lebih dari suatu gejala
permukaan sesaat. Berkesenian, kukira, memerlukan seniman yang "selalu mencari
dan selalu kucari jalan terbaik agar tidak ada penyesalan dan airmata", agar
tercipta keadaan "damai bersenandung", betapa pun jadul [jaman dulu]nya, jika
menggunakan lirik lagu Rinto Harahap, agar bisa menyelam lubuk hakekat dan
menampilkan tokoh yang menarik berguna bagi pemanusiawian manusia.
Sayangnya, zaman sekarang , anak negeri dan bangsa kita , lebih suka pada yang
serba "instant" alias mencoba menempuh jalan pintas -- pola pikir dan
mentalitas yang dikandung oleh globalisasi kapitalis, serta produk dari suatu
pilihan politik penyelenggara negara pada suatu periode.
Ketika membaca ulang "Selasar Kenangan" pinjaman Sairara pada November 2007
lalu di Indonesia, sebagai seorang ayah, aku sempat tertegun dan merenung.
"Selasar Kenangan", menampilkan dengan jujur kenangan "masa kecil" sembilan
penulis yang tampil di antologi ini sebagai hasil seleksi dari 21 cerpen lomba
"apsas". "Selasar Kenangan", mengingatkan aku akan teori "tabula rasa", atau
"kertas kosong" dari Mao Zedong. Anak-anak adalah "kertas kosong". Isi "kertas
kosong" itu banyak ditentukan oleh orangtua. Perangai, watak, pikiran dan
perasaan anak selanjutnya sangat ditentukan oleh ortu. Karena itu , usai
membaca ulang "Selasar Kenangan", sebagai seorang ayah, aku merasa ditegur agar
cermat menghitung kata, tindakan, gerak-gerik, menghitung jumlah perhatian
kepada anak di tengah-tengah kejaran dan himpitan pemenuhan kebutuhan hidup,
mencermati pembagian ruang di rumah agar tidak berdampak negatif bagi
perkembangan anak. Setelah berhadapan dengan tokoh-tokoh dalam "Selasar
Kenangan", suara yang mengetuk hatiku adalah "Jangan bikin anak jika tidak
bisa bertanggungjawab pada anak dan esok anak". "Jangan melahirkan anak jika
menyiksanya dengan derita karena kesalahan ortu". Melalui tokoh-tokoh "Selasar
Kenangan", aku seperti mendengar suara balita berseru kepada ayahnya dalam
lagu Batak "Ahawa Natau Sidohununku", yang menjewer telingaku sebagai ayah
bahwa betapa anak memerlukan cinta total. Anak lahir tanpa diminta
persetujuannya. Semestinya, anak dilahirkan oleh mimpi terindah dan
tanggungjawab akan esok yang membatasi eksistensi kita. Anak adalah
kesinambungan perjalanan menjelang esok yang tak berbatas. Tanggungjawab
adalah totalitas dalam menghadapi segala bentuk kegarangan "kuda liar" [wild
horse] kehidupan. Anak adalah tanda cinta agung kita pada kehidupan dan
kepercayaan akan kekuatan manusia sebagai "anak enggang putera-puteri naga"
[rengan tingang nyanak jata]. Desakan keperluan biologis seniscayanya
memperhitungkan soal-soal
ini, agar tidak meninggalkan tragedi karena kurang hitung. Berdialog dengan
tokoh-tokoh "Selasar Kenangan", sebagai ayah, aku merasa kembali seorang anak
kecil yang diam mendengar kemarahan sang ibu atau ayah. Tokoh-tokoh kanak dalam
"Selasar Kenangan", tampil di hadapanku sebagai ortu. Tokoh-tokoh "Selasar
Kenangan" kurasakan tampil ke hadapanku dan bertutur dengan semacam gugatan
halus tajam. Halus, karena mereka sudah dewasa dan malah menjadi penulis. Halus
karena mereka sudah makin beradab. Kukatakan "makin beradab" karena aku
meyakini bahwa pertambahan usia tidak otomatis menandakan tingkat peradaban
kita meningkat. Karena itu di Tanah Dayak, ada istilah "dia bahadat" [tidak
beradat]. Apakah semua penulis serta-merta menjadi orang yang "tahu adat"? Satu
pertanyaan baru yang menyusul seperti sebarisan semut merah berbisa mengusik
benakku sambil membaca cepat sejarah sastra kita hingga sekarang.
Jika demikian, benarkah bahwa karya sastra mempunyai peran edukatif? Paling
tidak itulah yang kurasakan usai membaca ulang "Selasar Kenangan", November
2007 lalu, yang dituturkan oleh para penulisnya dengan jujur. Atau barangkali
bersastra merupakan wilayah di mana kita hanya leluasa mengungkapkan diri,
memburu tujuan-tujuan narsistik tanpa perduli tanggungjawab dan kemanusiaan
serta dampak ulah sehingga masyarakat dan kemanusiaan berporos pada diri
sendiri. Dan diri sendiri dirasakan sebagai tokoh utama di panggung masyarakat
pertunjukan, bumi berhenti berputar tanpa "aku"? "Selasar Kenangan" yang
diterbitkan oleh penerbit kecil sebesar Akoer, membawaku pertanyaan-pertanyaan
dan kesan begini. Terimakasih kesederhanaan, ketulusan dan cinta berwacana.***
Paris, Musim Dingin 2008
-------------------------------
JJ Kusni, pekerja biasa di Koperasi Restoran Indonesia Paris.
[Berlanjut...]
---------------------------------
Search. browse and book your hotels and flights through Yahoo! Travel
[Non-text portions of this message have been removed]