Berdayalah Bali
oleh Anand Krishna*

"Berdayalah Bali" bukanlah seruan untuk "Memberdayakan Bali", pun
untuk memperoleh "daya dari luar". "Berdayalah Bali" adalah seruan
untuk mengingatkan Bali akan "daya yang dimilikinya"!

Ingatlah Dayamu, Kekuatanmu, Kemampuanmu.... Sekaligus kelemahanmu,
kekuranganmu - supaya semua itu dapat kau atasi. "Bali" sebagaimana
pernah saya bahas lewat kolom yang sama, berarti "kekuatan" sekaligus
"kesiapsediaan untuk berkorban" - tentunya demi tujuan yang mulia.

Belakang ini wacana tentang Otonomi Khusus bagi Bali semakin menguat.
Bali memang membutuhkan penanganan secara khusus.... Namun, sebelum
hal itu terjadi - Bali sudah dapat menangani dirinya secara khusus.
Untuk itu, Bali tidak perlu menunggu keputusan dari mana pun jua.
Adalah kesiapsediaan untuk berkorban yang dibutuhkan.
Pengorbanan-pengorbanan kecil yang dibutuhkan demi tujuan yang besar,
dan jauh lebih mulia.

Baru-baru ini Bali menjadi Tuan Rumah bagi Konperensi PBB tentang
Perubahan Iklim. Bali pun menawarkan "Nyepi" sebagai solusi khas Bali.
Masih ada lagi "Tri Hita Karana" yang merupakan Kearifan Lokal Bali.
Sekarang, saatnya kita membuktikan kepada seluruh dunia bahwa "we mean
what we say".

"Nyepi" harus dimaknai sebagai Adat Lokal Bali yang telah "Membudaya".
Adat yang sudah terbukti manfaatnya, sehingga perlu dilestarikan.
Selama "Menyepi" kita tidak sekedar menghemat energi "bensin" dan
"listrik" dan lain sebagainya - tetapi juga energi "diri" atau Prana
dan energi mental, emosional. Saat Menyepi terjadilah Pengendalian
Diri secara alami. Napsu Birahi tidak mengganggu. Pun,
keinginan-keingingan lain dengan sendirinya terkendali.

Maka, sungguh tidak masuk akal bila saat "Nyepi" sebagian diantara
kita malah main judi atau mencari hiburan lain. Semuanya itu tidak
sesuai dengan tujuan kita menyepi. Menyepi ibarat Proses Turun
Mesin... Seluruh kegiatan semestinya berhenti, dan berhenti total.
Termasuk kegiatan mental dan emosional.... Maka, dengan terjadinya
penghematan energi itu - dengan mudah kita dapat mengakses Lapisan
Kesadaran yang lebih tinggi, Lapisan Kesadaran Supra.

Berada pada Lapisan Kesadaran Supra itulah manusia baru dapat memahami
dan menjalani Tri Hita Karana. Konsep Tri Hita Karana ini bukanlah
konsep biasa, namun sebuah "Pencerahan" yang terjadi pada Lapisan
Kesadaran Supra.

Adanya konsep Tri Hita Karana dan adanya bukti-bukti nyata di lapangan
bila konsep itu pernah dipraktikkan dengan sungguh-sungguh membuktikan
bila Manusia Bali adalah Manusia yang Sadar, Manusia yang Tercerahkan.

Wahai Manusia Bali, apa yang terjadi pada dirimu saat ini?
Apakah kau masih menyadari Hubunganmu dengan Sesama, dengan
Lingkungan, dan dengan Hyang Maha Ada - Sang Keberadaan? Adakah
Ucapan, Pikiran dan Tindakan-mu sudah selaras? Adakah kau Karya-mu
Hari Ini berlandaskan pada Kebijakan Masa Lalu, dan demi Hari Esok
yang Lebih Gemilang?

Berdayalah Bali, Berdayakanlah dirimu Bali..... Pulau yang kecil tapi
sangat indah ini sedang dirusak keindahannya oleh para investor, para
pengembang yang tidak paham, tidak apresiatif terhadap Nyepi dan Tri
Hita Karana.

Kita sudah kehilangan Pantai Kuta, sebentar lagi Pantai Legian.... Mau
kehilangan berapa pantai lagi? Angin ribut, bau amis karena ikan-ikan
yang mati - semuanya itu adalah Wahyu dari Hyang Widhi. Allah telah
menurunkan ayat-ayat-Nya. Tuhan telah berbicara. Biarlah mereka yang
memiliki sepasang telinga mendengar wahyu itu. Biarlah mereka yang
memiliki sepasang mata membaca ayat-ayat itu.

Pembangunan yang tidak selaras dengan Tri Hita Karana; para investor
yang tidak apresiatif terhadap Budaya Bali - semuanya harus
dihentikan, dan segera. Sekarang, dan saat ini juga.

Untuk menunjukkan cinta kita terhadap lingkungan, kita melepaskan
penyu ke lautan bebas. Namun, sebelum dilepaskan, penyu-penyu itu
sudah sengsara, sudah dalam keadaan sekarat karena mesti menunggu
kedatangan seorang pejabat.... Kemudian, di lepaskan pun ke laut yang
sudah tercemar..... Inilah praktik Tri Hita Karana yang kita lakukan.

Merokok tidak hanya berbahaya bagi kesehatan perokok, tetapi juga bagi
kesehatan orang lain yang tidak merokok. Pun, asap rokok itu menambah
kadar karbon dioksida di udara.... Apalagi merokok di pura, di masjid,
di pelataran gereja, di tempat-tempat yang kita sucikan.... Seperti
inikah pemahaman kita tentang Tri Hita Karana?

Masih banyak cerita, banyak hal yang dapat dibahas.... Namun, yang
paling penting adalah "Mencari Solusi" - solusinya apa?

Solusinya, sebelum memperoleh Otonomi Khusus, para Bupati seluruh Bali
sudah bisa berkumpul dan membentuk semacam Dewan atau apapun
sebutannya untuk memikirkan Pembangunan di Bali secara utuh dan
terpadu. Baik Pembangunan Fisik maupun Non-Fisik, Sekala dan Niskala....

Seorang kepala daerah tidak bisa dan tidak boleh mengambil keputusan
semaunya dia - bila ia masih mencintai Bali. Pencemaran yang terjadi
di Kuta, di Legian atau dimana pun jua sudah pasti berdampak terhadap
seluruh Bali. Demi keuntungan sesaat, demi pendapatan daerah - kita
tidak bisa mengorbankan seluruh Bali.

Tempat-tempat ibadah kita mesti menjadi Pusat-Pusat Spiritual dimana
para pelaku agama memperoleh pencerahan tentang spirit atau jiwa,
semangat di balik setiap ritual yang dilakukannya.

Sekali lagi, Temu Hati antara Para Bupati sudah tidak dapat ditunda
lagi. Program Pembangunan di daerah mana pun jua mesti dipikirkan
bersama demi keselamatan pulau ini. Para investor nakal atau mereka
yang tidak apresiatif terhadap Budaya Bali - tidak boleh lagi
menanamkan sepeser pun di pulau ini. Dan, untuk itu, Bali tidak perlu
menunggu Otonomi Khusus..... Mulai sekarang dan saat ini juga, Bali
sudah dapat menangani persoalan-persoalan yang sedang dihadapinya
secara khusus.

Tentunya para bupati yang saat ini memiliki kebebasan untuk berbuat
apa saja di daerahnya - mesti berkorban. Mesti sedikit mengorbankan
wewenangnya. Tapi, demi apa? Demi tujuan yang jauh lebih mulia - yaitu
bukan sekedar pembangunan di daerahnya, tetapi demi Keselamatan Pulau
ini......

Saya yakin seyakin-yakinnya bila Bupati Badung akan mengambil Langkah
Pertama, bahkan akan memfasilitasi pertemuan seperti itu. Saya telah
bertemu dengan hampir semua Bupati di seluruh Bali, dan saya bisa
memastikan bila langkah yang diambil oleh Bupati Badung akan
ditanggapi dengan hangat oleh Bupati-Bupati lain.

Saudara Bupati Badung yang saya hormati, saya sayangi - saatnya kau
mengukir sejarah baru bagi pulau yang indah ini...... Inilah
Karma-mu...... Buktikan dirimu sebagai seorang Karma Yogi yang tidak
membutuhkan penghargaan dari mana-mana untuk berbuat baik, untuk
berbuat yang terbaik bagi Bali! 

*Seorang Aktivis Spiritual, Anand Krishna telah menulis lebih dari 110
judul buku dan mendirikan/menggagas berbagai lembaga dan gerakan
sosial, pendidikan dan lain sebagainya (www.anandkrishna.org,
www.aumkar.org, www.californiabali.org) 

Sumber
http://aumkar.org/indo/main.php?id=rg-berdayalahbali



mediacare
http://www.mediacare.biz


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke