Aduh kecil kali secup di milis ini yaa...
bagaimana kalau menyebarluaskan ilmu kanuragan. Tentu almarhum empu
Damarulan bahagia sekali di alam baka sana. Karena ilmu kanuragannya
bayak dipelajari orang terutama kita orang Indonesia. Lihat betapa
saktinya orang dulu, walau dengan minim ilmu pengetahuan. Dengan
ilmu kanuragan kalaupun indonesia dijadikan iraq kedua, kita gunakan
aja ilmu kanuragan yg kita miliki. Akan lari kebirit-birit itu
tentara Amerika berserta keroco-keroconya. Hahahahahaaa
--- In [email protected], "putra_semarapura"
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>
> jadi ini ceritanya lagi mencoba menyebarluaskan pengetahuan
neh...,
> saya kira yang ikutan milis disini sudah pada berilmu pengetahuan.
> ngomong-ngomong, postingan topiknya kok nggak pernah ganti-ganti
> yah....
>
> =============
>
> --- In [email protected], sFe <salma.fei@> wrote:
> >
> > Keharaman makanan tertentu seperti babi, ancaman terhadap
> > yang enggan menyebarluaskan pengetahuan, anjuran bersedekah,
> > kewajiban menegakkan hukum, wasiat sebelum mati, kewajiban
> > puasa, hubungan suami-istri, dikemukakan Al-Quran secara
> > berurut dalam belasan ayat surat Al-Baqarah. Mengapa
> > demikian? Mengapa terkesan acak? Jawabannya antara lain
> > adalah, "Al-Quran menghendaki agar umatnya melaksanakan
> > ajarannya secara terpadu." Tidakkah babi lebih dianjurkan
> > untuk dihindari daripada keengganan menyebarluaskan ilmu.
> >
> > Bersedekah tidak pula lebih penting daripada menegakkan
> > hukum dan keadilan. Wasiat sebelum mati dan menunaikannya
> > tidak kalah dari berpuasa di bulan Ramadhan. Puasa dan
> > ibadah lainnya tidak boleh menjadikan seseorang lupa pada
> > kebutuhan jasmaniahnya, walaupun itu adalah hubungan seks
> > antara suami-istri. Demikian terlihat keterpaduan
> > ajaran-ajarannya.
> >
> > Al-Quran menempuh berbagai cara guna mengantar manusia
> > kepada kesempurnaan kemanusiaannya antara lain dengan
> > mengemukakan kisah faktual atau simbolik. Kitab Suci
> > Al-Quran tidak segan mengisahkan "kelemahan manusiawi,"
> > namun itu digambarkannya dengan kalimat indah lagi sopan
> > tanpa mengundang tepuk tangan, atau membangkitkan potensi
> > negatif, tetapi untuk menggarisbawahi akibat buruk kelemahan
> > itu, atau menggambarkan saat kesadaran manusia menghadapi
> > godaan nafsu dan setan.
> >
> >
> > Ketika Qarun yang kaya raya memamerkan kekayaannya dan
> > merasa bahwa kekayaannya itu adalah hasil pengetahuan dan
> > jerih payahnya, dan setelah enggan berkali-kali mendengar
> > nasihat, terjadilah bencana longsor sehingga seperti bunyi
> > firman Allah:
> >
> >
> > "Maka Kami benamkan dia dan hartanya ke dalam bumi"
> > (QS Al-Qashash [28]: 81).
> >
> >
> > Dan berkatalah orang-orang yang kemarin mendambakan
> > kedudukan Qarun, "Aduhai, benarlah Allah melapangkan
> > rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dari hamba-
> > hamba-Nya dan mempersempitkannya. Kalau Allah tidak
> > melimpahkan karuniaNya atas kita, niscaya kita pun
> > dibenamkannya. Aduhai benarlah tidak beruntung orang-
> > orang yang kikir (QS Al-Qashash [28]: 82).
> >
> >
> > Dalam konteks menggambarkan kelemahan manusia, Al-Quran,
> > bahkan mengemukakan situasi, langkah konkret dan
> > kalimat-kalimat rayuan seorang wanita bersuami yang dimabuk
> > cinta oleh kegagahan seorang pemuda yang tinggal di
> > rumahnya,
> >
> >
> > Maksudnya,
> >
> > "(Setelah berulang-ulang kali merayu dengan berbagai
> > cara terselubung). Ditutupnya semua pintu dengan amat
> > rapat, seraya berkata (sambil menyerahkan dirinya
> > kepada kekasihnya-setelah berdandan), "Ayolah kemari
> > lakukan itu!" (QS Yusuf [12]: 23).
> >
> >
> > Demikian, tetapi itu sama sekali berbeda dengan ulah
> > sementara seniman, yang memancing nafsu dan merangsang
> > berahi. Al-Quran menggambarkannya sebagai satu kenyataan
> > dalam diri manusia yang tidak harus ditutup-tutupi tetapi
> > tidak juga dibuka lebar, selebar apa yang sering
> > dipertontonkan, di layar lebar atau kaca.
> >
> >
> > Al-Quran kemudian menguraikan sikap dan jawaban Nabi Yusuf,
> > anak muda yang dirayu wanita itu, juga dengan tiga alasan
> > penolakan, seimbang dengan tiga cara rayuannya,
> >
> >
> > Yang pertama dan kedua adalah,
> >
> > "Aku berlindung kepada Allah, sesungguhnya suamimu
> > adalah tuanku, yang memperlakukan aku dengan baik"
> > (QS Yusuf [12]: 23).
> >
> >
> > Yang ketiga, khawatir kedua alasan itu belum cukup.
> >
> > "Dan sesungguhnya tidak pernah dapat berbahagia orang
> > yang berlaku aniaya" (QS Yusuf [12]: 23).
> >
> >
> > Dalam bidang pendidikan, Al-Quran menuntut bersatunya kata
> > dengan sikap. Karena itu, keteladanan para pendidik dan
> > tokoh masyarakat merupakan salah satu andalannya.
> >
> >
> > Pada saat Al-Quran mewajibkan anak menghormati orangtuanya,
> > pada saat itu pula ia mewajibkan orang-tua mendidik
> > anak-anaknya. Pada saat masyarakat diwajibkan menaati Rasul
> > dan para pemimpin, pada saat yang sama Rasul dan para
> > pemimpin diperintahkan menunaikan amanah, menyayangi yang
> > dipimpin sambil bermusyawarah dengan mereka.
> >
> > Demikian Al-Quran menuntut keterpaduan orang-tua,
> > masyarakat, dan pemerintah. Tidak mungkin keberhasilan dapat
> > tercapai tanpa keterpaduan itu. Tidak mungkin kita berhasil
> > kalau beban pendidikan hanya dipikul oleh satu pihak, atau
> > hanya ditangani oleh guru dan dosen tertentu, tanpa
> > melibatkan seluruh unsur kependidikan.
> >
> > Dua puluh dua tahun dua bulan dan dua puluh dua hari
> > lamanya, ayat-ayat Al-Quran silih berganti turun, dan selama
> > itu pula Nabi Muhammad Saw. dan para sahabatnya tekun
> > mengajarkan Al-Quran, dan membimbing umatnya. Sehingga, pada
> > akhirnya, mereka berhasil membangun masyarakat yang di
> > dalamnya terpadu ilmu dan iman, nur dan hidayah, keadilan
> > dan kemakmuran di bawah lindungan ridha dan ampunan Ilahi.
> >
> > Kita dapat bertanya mengapa 20 tahun lebih, baru selesai dan
> > berhasil? Boleh jadi jawabannya dapat kita simak dari hasil
> > penelitian seorang guru besar Harvard University, yang
> > dilakukannya pada 40 negara, untuk mengetahui faktor
> > kemajuan atau kemunduran negara-negara itu.
> >
> > Salah satu faktor utamanya -menurut sang Guru Besar- adalah
> > materi bacaan dan sajian yang disuguhkan khususnya kepada
> > generasi muda. Ditemukannya bahwa dua puluh tahun menjelang
> > kemajuan atau kemunduran negara-negara yang ditelitinya itu,
> > para generasi muda dibekali dengan sajian dan bacaan
> > tertentu. Setelah dua puluh tahun generasi muda itu berperan
> > dalam berbagai aktivitas, peranan yang pada hakikatnya
> > diarahkan oleh kandungan bacaan dan sajian yang disuguhkan
> > itu. Demikian dampak bacaan, terlihat setelah berlalu dua
> > puluh tahun, sama dengan lama turunnya Al-Quran.
> >
> > Kalau demikian, jangan menunggu dampak bacaan terhadap
> > anak-anak kita kecuali 20 tahun kemudian. Siapa pun boleh
> > optimis atau pesimis, tergantung dari penilaian tentang
> > bacaan dan sajian itu. Namun kalau melihat kegairahan
> > anak-anak dan remaja membaca Al-Quran, serta kegairahan umat
> > mempelajari kandungannya, maka kita wajar optimis, karena
> > kita sepenuhnya yakin bahwa keberhasilan Rasul dan generasi
> > terdahulu dalam membangun peradaban Islam yang jaya selama
> > sekitar delapan ratus tahun, adalah karena Al-Quran yang
> > mereka baca dan hayati mendorong pengembangan ilmu dan
> > teknologi, serta kecerahan pikiran dan kesucian hati.
> >
> > Kita wajar optimis, melihat kesungguhan pemerintah menangani
> > pendidikan, serta tekadnya mencanangkan wajib belajar.
> >
> > Ayat "wa tawashauw bil haq" dalam QS Al-'Ashr [103]: 3 bukan
> > saja mencanangkan "wajib belajar" tetapi juga "wajib
> > mengajar." Bukankah tawashauw berarti saling berpesan,
> > saling mengajar, sedang al-haq atau kebenaran adalah hasil
> > pencarian ilmu? Mencari kebaikan menghasilkan akhlak,
> > mencari keindahan menghasilkan seni, dan mencari kebenaran
> > menghasilkan ilmu. Ketiga unsur itulah yang menghasilkan
> > sekaligus mewarnai suatu peradaban.
> >
> > Al-Quran yang sering kita peringati nuzulnya ini bertujuan
> > antara lain:
> >
> > 1. Untuk membersihkan akal dan menyucikan jiwa dari
> > segala bentuk syirik serta memantapkan keyakinan
> > tentang keesaan yang sempurna bagi Tuhan seru sekalian
> > alam, keyakinan yang tidak semata-mata sebagai suatu
> > konsep teologis, tetapi falsafah hidup dan kehidupan
> > umat manusia.
> >
> > 2. Untuk mengajarkan kemanusiaan yang adil dan beradab,
> > yakni bahwa umat manusia merupakan suatu umat yang
> > seharusnya dapat bekerja sama dalam pengabdian kepada
> > Allah dan pelaksanaan tugas kekhalifahan.
> >
> > 3. Untuk menciptakan persatuan dan kesatuan, bukan saja
> > antar suku atau bangsa, tetapi kesatuan alam semesta,
> > kesatuan kehidupan dunia dan akhirat, natural dan
> > supranatural, kesatuan ilmu, iman, dan rasio, kesatuan
> > kebenaran, kesatuan kepribadian manusia, kesatuan
> > kemerdekaan dan determinisme, kesatuan sosial, politik
> > dan ekonomi, dan kesemuanya berada di bawah satu
> > keesaan, yaitu Keesaan Allah Swt.
> >
> > 4. Untuk mengajak manusia berpikir dan bekerja sama
> > dalam bidang kehidupan bermasyarakat dan bernegara
> > melalui musyawarah dan mufakat yang dipimpin oleh
> > hikmah kebijaksanaan.
> >
> > 5. Untuk membasmi kemiskinan material dan spiritual,
> > kebodohan, penyakit, dan penderitaan hidup, serta
> > pemerasan manusia atas manusia, dalam bidang sosial,
> > ekonomi, politik, dan juga agama.
> >
> > 6. Untuk memadukan kebenaran dan keadilan dengan rahmat
> > dan kasih sayang, dengan menjadikan keadilan sosial
> > sebagai landasan pokok kehidupan masyarakat manusia
> >
> > 7. Untuk memberi jalan tengah antara falsafah monopoli
> > kapitalisme dengan falsafah kolektif komunisme,
> > menciptakan ummatan wasathan yang menyeru kepada
> > kebaikan dan mencegah kemunkaran.
> >
> > 8. Untuk menekankan peranan ilmu dan teknologi, guna
> > menciptakan satu peradaban yang sejalan dengan jati
> > diri manusia, dengan panduan dan paduan Nur Ilahi.
> >
> > Demikian sebagian tujuan kehadiran Al-Quran, tujuan
> > yang tepadu dan menyeluruh, bukan sekadar mewajibkan
> > pendekatan religius yang bersifat ritual atau mistik,
> > yang dapat menimbulkan formalitas dan kegersangan.
> >
> > Al-Quran adalah petunjuk-Nya yang bila dipelajari akan
> > membantu kita menemukan nilai-nilai yang dapat
> > dijadikan pedoman bagi penyelesaian berbagai problem
> > hidup. Apabila dihayati dan diamalkan akan menjadikan
> > pikiran, rasa, dan karsa kita mengarah kepada realitas
> > keimanan yang dibutuhkan bagi stabilitas dan
> > ketenteraman hidup pribadi dan masyarakat
> >
> > Itulah Al-Quran dengan gaya bahasanya yang merangsang
> > akal dan menyentuh rasa, dapat menggugah kita menerima
> > dan memberi kasih dan keharuan cinta, sehingga dapat
> > mengarahkan kita untuk memberi sebagian dari apa yang
> > kita miliki untuk kepentingan dan kemaslahatan umat
> > manusia. Itulah Al-Quran yang ajarannya telah merupakan
> > kekayaan spiritual bangsa kita, dan yang telah tumbuh
> > subur dalam negara kita.
> >
> > WAWASAN AL-QURAN
> > Tafsir Maudhu'i atas Pelbagai Persoalan Umat
> > Dr. M. Quraish Shihab, M.A.
> >
> >
> > Send instant messages to your online friends
> http://uk.messenger.yahoo.com
> >
> > [Non-text portions of this message have been removed]
> >
>