Tomodihardjo Soeprijadi ....wrote: Subject: Mengadang Han Suyin
From: "Tomodihardjo Soeprijadi" <[EMAIL PROTECTED]>
To:  <[EMAIL PROTECTED]>,
  <[EMAIL PROTECTED]>,
 "harsutejo" <[EMAIL PROTECTED]>,
 "HKSIS" <[EMAIL PROTECTED]>,
 "firman ichsan" <[EMAIL PROTECTED]>,
 "Ilyas" <[EMAIL PROTECTED]>,
 "Kabarindonesia.com" <[EMAIL PROTECTED]>,
 "MD. Kartaprawira" <[EMAIL PROTECTED]>,
 "sangumang kusni" <[EMAIL PROTECTED]>,
 "heri latief" <[EMAIL PROTECTED]>,
 "milis  nasional" <[EMAIL PROTECTED]>,
 "Putu Oka" <[EMAIL PROTECTED]>,
 "Umar Said" <[EMAIL PROTECTED]>,
 "Meily Siauw" <[EMAIL PROTECTED]>,
 "Dian Su" <[EMAIL PROTECTED]>,
 "Kusalah Subagyo" <[EMAIL PROTECTED]>,
 "Abuprijadi Santoso tossi20" <[EMAIL PROTECTED]>,
 "Chalik Hamid" <[EMAIL PROTECTED]>
Date: 08 Jan 2008 17:48 GMT

  MENGADANG HAN SUYIN
 Oleh Soeprijadi  Tomodihardjo

DALAM sebuah risalah yang tersiar di beberapa milis  sekitar awal November lalu 
Joesoef Isak mengabarkan bakal terbitnya sebuah buku  karangan Han Suyin 
terjemahan bahasa Indonesia berisi biografi Zhou En.lai,  seorang negarawan 
ulung China. Pengarang usia 90-an ini telah menulis belasan  roman dan novel 
antara lain The Cripple Tree, Birdless Summer, A Many  Splendoured Thing dll., 
semuanya terpaut erat sejarah (negeri) leluhurnya yang  sangat dicintainya. 
Yang terakhir itu juga difilmkan dan beredar sejak 1960-an  dengan Willam Hoden 
dan Jenifer Jones selaku peran utama. Namun selama ini jejak  perdana menteri 
Zhou En-lai sebagai negarawan ulung belum pernah selengkap  sekarang tersaji 
dalam karya Han Suyin yang semoga segera terlaksana  penerbitannya dalam bahasa 
kita. 
 Mengapa calon penerbit yang hingga kini belum disebut  oleh Joesoef Isak itu 
begitu gairah menerbitkan buku Han Suyin ini, patut  ditunggu jawabnya. Namun 
setidaknya Joesoef Isak sendiri berilusi akan sangat  bermanfaat bagi negara 
bangsa yang sedang tersandung pelbagai kendala dalam  perjuangan membangun 
kembali martabatnya sebagai republik kesatuan. Sebuah  republik yang 
terus-menerus dilanda perang dengan pelbagai bentuknya: konflik  etnik, agama, 
ideologi, sekat-sekat kelas dalam masayrakat dll. Seakan tak  pernah tercipta 
perdamaian sejati kecuali gencatan senjata informal yang  sewaktu-waktu selalu 
berkobar kembali dalam bentuk teror dan konflik fisik.  Sebuah republik yang 
sudah puluhan tahun menunggu dengan sia-sia munculnya  seorang pemimpin, bukan 
sekedar pembesar negara. 
 Kebangkitan Republik Rakyat Cina yang dengan pesat  melesat sebagai negara 
besar di samping pesaingnya (AS, Rusia, Inggris, Prancis  ) menjelang sejak 
akhir abad lewat, tidak terlepas dari peran figur Zhou En-lai  sebagai pemimpin 
teladan. Adalah Perdana Menteri Zhou En-lai yang memiliki  kharisma besar, 
telah berhasil merahabilitir Deng Xiao Bing yang terjungkal dari  posisi 
politbiro dan pemerintahan selama revolusi kebudayaan proletar. Adalah  Deng 
Xiao Bing pelaksana strategi Zhou En-lai dalam pembangunan negerinya ketika  
sang negarawan tak sempat lagi melakukannya karena tutup usia. 
 Barangkali itu jawabnya, mengapa buku Han Suyin yang  menelaah figur Zhou 
En-lai sebagai negarawan besar perlu diterbitkan dan dibaca  di Indonesia. 
Kebijakan negarawan ini sebagai pemimpin kharismatik merupakan  teladan 
menonjol, bukan hanya bagi negerinya sendiri tapi juga bagi banyak  negara 
"dunia ketiga" di mana dia bersama rekan-rekannya, Sukarno, Nehru, Sekou  
Toure, Sihanouk, Nazer dll. pernah memelopori gerakan pembebasan Asia-Afrika  
dengan konferensi puncaknya di Bandung (1955). Sebuah kerjasama dan setia-kawan 
 yang memegang teguh kesadaran siapa musuh siapa kawan. Dalam skala nasional  
negeri kita kesadaran ini merupakan faktor utama yang sering dilupakan bahkan  
dilanggar karena egoisme etnik, agama, ideologi, bahkan sekat-sekat kelas di  
masyarakat kita.
 Mao Zedong - Zhou Enlai - Lin  Biao
 Dari sisi ideologi rasanya akan sangat menarik untuk  mengikuti latar belakang 
runtuhnya Lin Biao sebagai panglima Tentara Pembebasan  (angkatan bersenjata) 
Cina. Peristiwa bersejarah ini bermula dari pertentangan  antara Lin Biao 
dengan Mao Zedong yang juga melibatkan Perdana Menteri Zhou  En-lai. Dalam 
sidang pleno ke-2 dari Kongres ke-9 Partai Komunis Cina di Lushan  (21 Agustus 
1970), Lin Biao mengajukan usul agar posisi jabatan Presiden  (terakhir dijabat 
Liu Shao-chi hingga pemecatannya, 1966) dipulihkan kembali.  Usul ini mendapat 
dukungan Chen Boda, seorang anggota politbiro. Isi dan  prosedur usul ini 
merupakan acara resmi biasa, namun agaknya bagi Ketua Mao  merupakan move murid 
terbaiknya itu. Sebab, jika sistem kepresidenan dipulihkan,  otomatis Ketua Mao 
bakal tampil sebagai Presiden dan Lin Biao selaku orang kedua  dalam jajaran 
kekuasaan, otomatis menduduki posisi Wakil Presiden. Lantas apa  yang terjadi 
jika sang Ketua uzur karena umur dan tidak berdaya
 lagi? Jawabnya:  Lin Biao bakal mengoper segala kekuasaan, baik sebagai Ketua 
Partai maupun  Presiden Republik Rakyat Cina. 
 Hampir semua media dalam dan luarnegeri sampai pada  kunklusi ini. Tetapi 
rakyat Cina sendiri baru satu tahun kemudian menerima  pengumuman resmi tentang 
realitas sebenarnya. 
 Suatu ketika di bulan September 1971 sebuah peristiwa  bersejarah yang 
mengagetkan mengguncang politbiro Partai Komunis Cina. Lin Biao,  jendral besar 
Chie Fang Chun (Tentara Pembebasan Rakyat ), pejuang ulung yang  dikenal 
sebagai murid terbaik Mao Zedong, tiba-tiba terbuka kedoknya sebagai  musuhnya. 
Dengan dukungan Li Liquo putranya, sang jendral yang pernah resmi  diangkat 
sebagai calon penerus Mao Zedong (1966), ini diam-diam merancang makar  berupa 
percobaan pembunuhan dan kudeta terhadap gurubesarnya. Tak seorang  anggota 
partai kecuali Zou En-lai dan Ketua Mao sendiri menerima informasi gawat  ini. 
Tragisnya, rencana kudeta berdarah ini bocor gara-gara putri Lin Biao  sendiri, 
Lin Liheng, yang sangat ceroboh membual perihal ulah ayahnya.  
 Li Zhisui, seorang mantan dokter pribadi Mao Zedong,  menulis dalam memoarnya, 
hubungan Lin Liheng dengan ibunya sangat renggang. Tak  terhindarkan gadis itu 
punya anggapan keliru seolah sang ibu berlawanan sikap  (politik) dengan sang 
ayah. Agaknya kecerobohan itu tersiar keluar dari  lingkungan keluarga, 
membikin fatal nasib Lin Biao sebelum rencananya  terlaksana. Lin Biao akhirnya 
coba melarikan diri. 
 Ketika PM Zou En-lai menerima informasi adanya sebuah  pesawat jenis Trident 
yang ditumpangi Lin Biao coba melarikan diri, negarawan  yang pernah ikut serta 
memelopori Konferensi Bandung, ini meminta pendapat Ketua  Mao, apakah angkatan 
udara perlu segera dikerahkan untuk mengejar dan menembak  jatuh pesawat Lin 
Biao. Sang Ketua hanya menjawab dengan mengutip  petatah-petitih Tiongkok kuna: 
"Ibarat hujan akan turun dari langit, jika  seorang gadis ingin kawin, biarkan 
sajalah..." Peristiwa itu terjadi pada 13  September 1971. Lin Biao gugur 
menjelang musim gugur. Namun baru dalam bulan  Agustus 1973 Partai Komunis Cina 
secara resmi memecat (arwah) Lin Biao dari  keanggotaan partai - post mortum. 
Sejauh ini nasib Chen Boda sebagai  pendukungnya tidak diketahui. Yang terang 
dia tidak berada dalam pesawat yang  digunakan Lin Biao untuk melarikan diri.
 Selama revolusi besar kebudayaan proletar  (1966-1970), kritik dan otokritik 
berlangsung di semua jajaran pimpinan partai  dan pemerintahan, menjalar hingga 
lingkungan keluarga. Bukan perkara tabu jika  kritik-otokritik berkembang 
melampaui batas perikemanusiaan, berubah jadi  pengganyangan tanpa 
belas-kasihan. Pengkhianat proletariat, elemen revisionis,  penempuh jalan 
kapitalis dalam partai dan semacamnya, adalah stigma murah yang  beredar di 
pasaran hampir setiap hari. Adalah peristiwa biasa jika seorang anak  
terang-terangan mengganyang ibu-bapak, sebab dalam perjuangan kelas berlaku  
ajaran "berontak dapat dibenarkan" (Chiang Ching, Yau Wen Yuan). 
 Seperti biasa, setiap peristiwa dan situasi gawat  selalu dengan ketat 
dirahasiakan demi mencegah kekalutan di kalangan anggota  partai dan rakyat 
biasa. Namun para penyelidik Uni Sovyet sudah pada hari  pertama 
terheran-heran, mengapa sebuah pesawat angkatan udara Cina jenis Hawker  
Trident memasuki wilayah udara Mongolia Luar dan diketemukan jatuh  
berkeping-keping di luar perbatasan Cina. Para pejabat Mongolia nampaknya 
merasa  kurang wenang melakukan penyelidikan, sebab peristiwa itu merupakan 
masalah  besar bila dikaitkan dengan permusuhan ideologi antara Beijing 
(Marxis-Leninis)  dan Moskwa (revisionis). Agaknya Moskwa dengan cepat ingin 
mengambil manfaat  dari peristiwa ini dalam rangka permusuhannya dengan 
Beijing. Pasalnya, mereka  temukan Lin Biao diantara penumpang yang tewas, 
termasuk Ye Qun istrinya, Li  Liquo putranya, beberapa perwira pengawal dan kru 
pesawatnya. Tetapi Pravda  maupun corong radio Moskwa bungkam, barangkali 
menunda hingga identitas para 
 korban dipastikan. Namun pers barat melansir berita spekulatif: perdana 
menteri  Zou En-lai ikut bermain di belakang punggung Ketua Mao. AFN (American 
Forces  Network - Europe) melontarkan tandatanya, mengapa seorang Lin Biao yang 
selalu  lantang menentang revisionisme, melarikan diri ke wilayah Mongolia Luar 
yang  dikenal sebagai satelit Moskwa. 
 Sementara itu pers barat sibuk dengan spekulasinya  sendiri, mengembus sassus 
seolah satu sisi badan pesawat Trident yang coba  melarikan diri, menyenggol 
tanki truk bahan bakar di tepi runway, menyebabkan  kerusakan pada sistem 
penyaluran bahan bakar hingga akhirnya Trident jatuh di  seberang perbatasan. 
Versi lain berspekulasi seolah Trident tak sempat mengisi  cukup bahan bakar 
karena satuan angkatan darat sempat memasuki pangkalan udara  dan mengejarnya. 
Pesawat itu terpaksa terbang rendah demi menghindari radar di  sekitar 
pangkalan udara, dan ini mengakibatkan borosnya bahan bakar hingga  akhirnya 
kehabisan tenaga dan jatuh berkeping-keping di daratan Mongolia Luar.  Konon PM 
Zou En-lai merasa lega dengan tewasnya Lin Biao. "Lebih baik begitu,"  kata 
Zhou. 
 Tetapi Han Suyin, penulis biografi Zhou En-lai,  menyodorkan visi berbeda. 
Pengarang belasan roman dan novel dalam terjemahan ke  banyak bahasa termasuk 
Mandarin, Inggris, Prancis, Spanyol dsb., ini menulis  data sebenarnya. Ketika 
dengar Lin Biao berada di sebuah pesawat militer yang  sedang melarikan diri, 
PM Zhou justru memberi perintah agar semua pesawat  angkatan udara tetap berada 
di pangkalan, dilarang meninggalkan landasan.  Menurut Han Suyin, Zhou En-lai 
sama sekali tidak pernah meminta ijin Ketua Mao  untuk memberi komando angkatan 
udara agar mengejar dan menembak jatuh pesawat  Lin Biao.
 **
 Hari ini kita masih menunggu Han Suyin di Indonesia.  Ingin tahu juga apakah 
peristiwa sejarah yang menegangkan itu tertuang dalam  bukunya. Penulis artikel 
ini yakin, buku Han Suyin yang bakal terbit dalam  terjemahan bahasa Indonesia, 
itu bukan "Love Is A Many Splendoured Thing", "The  Cripple Tree" atawa 
"Birdless Summer".**
 Penulis tinggal di  Jerman



      
[EMAIL PROTECTED]
milisgrup opini alternatif

  
http://geocities.com/lembaga_sastrapembebasan/
penerbit buku sejarah alternatif

  
http://progind.net/
kolektif info coup d'etat 65: kebenaran untuk keadilan

  http://herilatief.wordpress.com/




       
---------------------------------
Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile.  Try it now.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke