Sepertinya dari awal mereka selalu menggunakan bendera Ahmadiyah saja, tanpa 
embel-embel kata Islam sebelum Ahmadiyah.






  ----- Original Message ----- 
  From: A Nizami 
  To: syiar-islam ; lisi ; [email protected] 
  Sent: Wednesday, January 09, 2008 9:01 AM
  Subject: [ppiindia] Ahmadiyah: Agama Baru atau Aliran Sesat? Ahmadiyah dan 
Religious Freedom


  Assalamu'alaikum wr wb,

  Berikut adalah satu tulisan dari Imam Masjid New York,
  M. Syamsi Ali tentang Ahmadiyah.

  Di Pakistan Ahmadiyah dikelompokkan sebagai Non
  Muslim. Kalau di Indonesia Ahmadiyah ngotot sebagai
  kelompok Islam, tapi ajarannya justru menyimpang dari
  Islam (Tidak mengakui Nabi Muhammad sebagai Rasul
  terakhir), wajar jika para Ulama Islam berfatwa
  Ahmadiyah sesat karena memang menyimpang dari ajaran
  Islam yang bersumber pada Al Qur'an dan Hadits.

  Wassalam

  Ahmadiyah dan Religious Freedom
  M. Syamsi Ali

  Hari Senin, 7 Januari kemarin, saya menerima kunjungan
  rombongan pengurus Ahmadiyah USA yang tergabung dalam
  sebuah organisasi Ahmadiyah Movement in Islam, Inc.
  Saya menerima mereka dalam kapasitas saya mendampingi
  staf PTRI New York, mewakili pemerintah, untuk
  mendengarkan keluhan dan uneg-uneg mereka.

  Pada intinya kunjungan mereka tidak membawa sesuatu
  yang istimewa. Semuanya adalah menyampaikan apa yang
  sudah pernah dimuat oleh berbagai media massa tentang
  (isu) kekerasan-kekerasan yang dialami oleh warga
  Ahmadiyah di beberapa daerah di Indonesia seperti
  Parung, Bogor , Padang , dll. Pada intinya, mereka
  mengutuk peristiwa-persitiwa tersebut dan mendesak
  pemerintah RI untuk membawa pelakunya ke meja hijau.

  Rupanya beberapa anggota pengurus Ahmadiyah, tanpa
  saya sadari, sudah mengenal saya. Mereka mengenal saya
  dari acara Pre- Ramadan Conference di kepolisian New
  York setiap menjelang Ramadan. Saya kebetulan memang
  seringkali menjadi salah seorang pembicara pada acara
  tersebut, yang juga dihadiri oleh perwakilan Ahmadiyah
  yang juga dianggap Muslim oleh kepolisian New York .

  Setelah basa basi ala diplomat, pembicaraan menjurus
  kemudian kepada (isu) kekerasan-kekerasan yang dialami
  oleh warga Ahmadiyah di Pakistan. Perlu diketahui,
  Ahmadiyah adalah pergerakan yang secara institusi
  terlarang di Pakistan dan pengikutnya tidak dianggap
  bagian dari masyarakat Muslim. Tegasnya, mereka dengan
  keyakinannya yang keluar dari Al Qur'an dan As Sunnah
  dianggap keluar dari agama Islam dan karenanya
  dianggap non Muslim minoritas.

  Penetapan warga Ahmadiyah di Pakistan sebagai non
  Muslim justeru dilakukan oleh pemerintahan yang tidak
  berafiliasi ke Islam ketika itu, yaitu pemerintahan
  Perdana Menteri Zulfikar Ali Bhutto, ayah mendiang
  Benazir Bhutto, pada tahun 1974. Keputusan tegas dan
  besar ini terjadi hanya setahun setelah Zulfikar Ali
  Bhutto menduduki jabatannya sebagai PM Pakistan. Sejak
  itu pula Ahmadiyah di Pakistan merupakan organisasi
  terlarang, tapi pengikutnya tetap bebas menjalankan
  keyakinannya secara pribadi-pribadi.

  Sebenarnya, sejak awal mendengarkan mereka, hati saya
  sudah hampir memberontak. Pasalnya, sejak semula
  mereka secara tidak langsung menuduh ulama-ulama
  Indonesia sebagai radikal (dengan istilah mullah) dan
  melanggar HAM. Lebih dari itu, dengan membandingkan
  antara kejadian-kejadian di Pakistan dan Indonesia,
  mereka seolah menuduh bahwa pemerintah Indonesia
  mengabaikan HAM dan bahkan ikut mendukung
  kekerasan-kekerasan yang dilakukan oleh apa yang
  disebutnya sebagai anggota radikal dari komunitas
  Muslim Indonesia.

  Puncaknya ketika mereka menuduh ulama-ulama Pakistan,
  termasuk Abu A'la Maududi, sebagai ulama-ulama
  pembunuh dan menganjurkan pengikutnya untuk membunuh
  orang-orang Islam lainnya yang tidak sejalan dengan
  idiologi mereka. Ternyata mereka sudah memiliki
  cuplikan-cuplikan yang diambil dari berbagai sumber
  mengenai mereka. Setelah saya perhatikan seraya beradu
  argumentasi, saya temukan bahwa cuplikan-cuplikan yang
  mereka pegangi untuk menyerang para ulama sunni itu
  diambil sepotong-sepotong dan ditafsirkan secara salah
  untuk membenarkan argumentasi mereka.

  Pada akhirnya, pertemuan itu tidak lagi bercirikan
  diplomasi tapi cukup memanas dengan argumentasi
  keagamaan dan rasionalitas. Dari semua argumentasi
  yang mereka berikan, hanya satu hal dapat diterima.
  Yaitu bukankah semua manusia memiliki hak untuk
  mengikuti keyakinan masing-masing? Dengan kata lain,
  kata kunci "religious freedom" menjadi satu-satunya
  alasan yang dipakai untuk membela eksistensi mereka.

  Isu kebebasan beragam

  Akhir-akhir ini memang cukup banyak tokoh Muslim yang
  tiba-tiba tampil menjadi "champion of religious
  freedom". Mungkin mereka ikhlas membela apa yang
  dipersepsikan oleh umum, khususnya barat, sebagai
  masyarakat lemah (marginalized) , atau boleh jadi juga
  karena membela masyarakat yang dipersepsikan
  termarjinalkan itu memang "rewarding". Tentu maksud
  saya adalah cepat mendapatkan apresiasi, dukungan oleh
  yang kuat, dan yang lebih khusus cepat menemukan
  pahala duniawinya (beasiswa, dukungan dana, media
  suppot, dll).

  Kebebasan beragama bukanlah sesuatu yang baru dalam
  Islam. Jauh sebelum dunia barat berkoar untuk jaminan
  kebebasan beragama, Islam sejak 15 abad silam sudah
  menjamin dengan ayat Al Qur'an, hadits maupun
  praktek-praktek Rasulullah dan sahabat-sahabatnya.
  Sehingga pemberian kebebasan beragama dalam tatanan
  masyarakat Muslim adalah "religiously is obligatory"
  (secara agama adalah wajib). Bahkan Rasulullah
  mengancam untuk menjadi musuh bagi mereka yang
  menyakiti "dzimmi" (non Muslim minoritas dalam tatanan
  masyarakat Muslim.

  Dan Indonesia, sebagai negara berpenduduk Muslim
  terbesar di dunia telah membuktikan ini. Tidak ada
  negara di dunia ini yang memberikan posisi terpenting
  kepada warga "non majority" kecuali Indonesia . Bahkan
  ada masa-masa di mana kaum minoritas jauh lebih
  "teranak maniskan" ketimbang kaum mayoritas. Berapa
  jumlah menteri non Muslim di Indonesia ? Berapa
  sekjen/dirjen (eselon I) di berbagai departemen
  pemerintahan dan swasta di negara kita? Silahkan
  jumlah dubes/diplomat tingkat tinggi non Muslim di
  kementrian luar negeri Indonesia .

  Semua ini menunjukkan bahwa secara negara (state) dan
  pemerintahan (governance) Indonesia tidak
  membeda-bedakan warganya. Semua memiliki hak dan
  kesempatan yang sama serta memiliki hak pembelaan
  berdasarkan konstitusi negara Indonesia yang disetujui
  bersama. Maka, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, Islam
  dan Kong Hu chu, dan bahkan agama-agama lainnya yang
  secara formal tidak terakui, bebas menjalankan
  keyakinan dan ibadahnya masing-masing dan dijamin
  secara konstitusi. 

  Isu Ahmadiyah

  Ahmadiyah oleh pengikutnya diyakini sebagai agama
  Islam dan bukan agama baru. Tapi pada saat yang sama,
  Islam yang mereka sampaikan adalah Islam yang secara
  prinsip menyimpang dari dasar-dasar ajaran Islam yang
  baku . Dan karena perbedaan mendasar yang diakui oleh
  mereka inilah, warga Ahmadiyah tidak mungkin mau
  menjadi makmum di belakang Imam Muslim selain
  Ahmadiyah. Pada prinsipnya, mereka menganggap Muslim
  yang tidak satu kepercayaan/ iman dengan mereka
  sebagai kafir.

  Ada beberapa hal yang paling prinsipil dari kesesatan
  Ahmadiyah adalah:

  Pertama, bahwa meyakini bahwa Mirza Gulam Ahmad adalah
  nabi atau rasul yang menerima wahyu. Oleh karenanya,
  Muhammad S.A.W. bukanlah nabi dan rasul Allah yang
  terakhir (khaatam an anbiyyin).

  Kedua, bahwa kitab suci terakhir bukan Al Qur'an tapi
  al Kitab yang diterima oleh Mirza Gulam Ahmad dengan
  nama Tadzkirah. Kitab ini memuat ayat-ayat Al Qur'an
  yang diputar balik dan dicampur dengan berbagai
  seruan-seruan Mirza Gulam Ahmad.

  Ketiga, bahwa melaksanakan ibadah haji ke Mekah tanpa
  melakukannya ke kota suci mereka, yaitu Rabwah dan
  Qadiyan di India adalah haji yang kering dan tidak
  diterima. Kenyataannya, Gulam Mirza Ahmad juga tidak
  pernah menjalankan ibadah haji selama hidupnya.

  Keempat, bahwa bangkit melawan penjajah (Inggris)
  ketika itu bukan jihad tapi pemberontakan. Mirza Gulam
  juga menuliskan buku panduan jihad yang pada intinya
  mengutuk para pejuang India yang melakukan perlawanan
  terhadap penjajahan Inggris ketika itu.

  Kelima, Orang Ahmadiyah mempunyai perhitungan tanggal,
  bulan dan tahun sendiri. Nama bulan Ahmadiyah adalah:
  1. Suluh 2. Tabligh 3. Aman 4. Syahadah 5. Hijrah 6.
  Ihsan 7. Wafa 8. Zuhur 9. Tabuk 10. Ikha' 11. Nubuwah
  12. Fatah. Sedang tahunnya adalah Hijri Syamsi yang
  biasa mereka singkat dengan H.S.

  Dari lima perbedaan prinsipil di atas, jelas
  orang-orang Ahmadiyah memiliki keyakinan dan sistim
  yang berbeda dengan kaum Muslimin. Maka, ketika mereka
  mengkafirkan orang Islam (dalam pandangan mereka)
  adalah sangat wajar. Sebab memang, orang-orang Islam
  sejati tidak mengimani/meyakini ajaran mereka,
  sehingga wajar kalau mereka memang kafir kepada ajaran
  Ahmadiyah Qadiyaniah.

  Inti permasalahan

  Maka, isu Ahmadiyah bukan pada "religious freedom"
  atau isu kebebasan beragama. Melainkan isu "penodaan"
  agama Islam yang dianut secara luas oleh masyarakat
  setempat. Kalaulah seandainya Ahmadiyah diakui sebagai
  agama, sekte, keyakinan baru yang sama sekali tidak
  dikaitkan dengan ajaran Islam yang murni, tentu tidak
  akan menimbulkan permasalahan. Kejawen dan
  praktek-praktek keyakinan lokal juga kan tidak pernah
  selama ini dipermasalahkan. 

  Maka, ketika Majelis Ulama Indonesia menfatwakan bahwa
  Ahmadiyah sesat dan melaporkan ke Kejaksaan Agung
  sebagai bukan ajaran Islam, mereka telah melakukan
  fungsinya sebagai pembenteng akidah umat. Yang aneh
  adalah jika ada pemutar balikan yang terjadi dalam
  ajaran Islam, lantas ulama diam atau malah mendukung.
  Bagi saya, ini adalah ulama yang memiliki pemikiran
  terjungkir.

  Namun demikian, dengan segala hak umat Islam membela
  akidah dan kemurnian ajaran agamanya, adalah tidak
  sama sekali dibenarkan untuk melakukan
  kekerasan-kekerasan dan pengrusakan. Prilaku kekerasan
  dan pengrusakan adalah prilaku yang bertentangan
  dengan ajaran Islam dan tauladan Rasulullah SAW.
  Sebaliknya, justeru akan menampakkan Islam pada posisi
  yang semakin tidak menguntungkan.

  Akhirnya, sebagaimana saya sampaikan kepada delegasi
  Ahmadiyah Amerika, ada dua alternatif bagi mereka:

  Pertama, deklarasikan sendiri bahwa Ahmadiyah adalah
  agama baru dan bukan Islam, atau kedua, tetap mengaku
  Muslim dengan kesesatan-kesesatan tapi dipandang
  sebagai "pengacau" dan "penoda" agama orang lain.

  Jika alternatif kedua yang dipilih, akan sangat wajar
  jika nantinya timbul berbagai reaksi dari masyarakat
  yang merasa dirugikan (victimized) . Kalau tetap ingin
  tegar menghadapi reaksi-reaksi tersebut, silahkan maju
  tak gentar. Hadapi reaksi umat Islam melalui prosedur
  hukum dan politik yang ada. Toh pada akhirnya dalam
  dunia (what so called) demokratik saat ini, semua
  ditentukan oleh kekuatan dan kelihaian argumentasi
  yang dimiliki oleh masing-masing pihak. 

  Yang pasti, umat Islam yang sadar akan tetap melihat
  "kesesatan" (baca kekufuran) itu selama mereka masih
  bertahan dengan keyakinan mereka. Semoga saja
  keputusan pemerintah melihat secara jelas permasalahan
  ini, sehingga tidak terjadi opresi kepada mayoritas
  atas nama membela minoritas. Lebih tragis lagi jika
  pembelaan itu hanya karena sebuah tekanan dari orang
  lain atas nama "kebebasan beragama", yang dalam
  konteks Ahmadiyah di Indonesia adalah out of context!

  New York , 8 Januari 2008 

  ===
  Syiar Islam. Mari belajar Islam melalui SMS

  Untuk berlangganan ketik: REG SI ke 3252
  Tarif Rp.1000 ,- + PPN content akan dikirim tiap hari 

  Untuk berhenti ketik: UNREG SI kirim ke 3252. Sementara hanya dari Telkomsel 
  http://www.media-islam.or.id

  __________________________________________________________
  Be a better friend, newshound, and 
  know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now. 
http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ 



   


------------------------------------------------------------------------------


  No virus found in this incoming message.
  Checked by AVG Free Edition. 
  Version: 7.5.516 / Virus Database: 269.17.13/1214 - Release Date: 08/01/2008 
13:38


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke