Pengantar:
  Tulisan ini saya kirim ulang sebagai ralat atas yang terdahulu.Maaf jika 
sudah menganggu kenyamanan. Terimakasih atas kelapangan hati memahami.
  JJ. Kusni
   
   
  Surat dari Monmartre: 
   
   
  MEMBACA ULANG "SELASAR KENANGAN" 
   
  Kumpulan Cerpen Srikandi Apsas
  Tebal:95 hlm + xx.
  Penerbit:Akoer, Jakarta, Juni 2006
   
  [Dengan ucapan Selamat Ulang Tahun  Ke-3 Kepada Milis Apresiasi Sastra]
   
   
  PROSA PUISI
   
   
   
  Kesan lain yang membekas di hatiku seusai membaca "Selasar Kenangan" ini , 
kemudian merenungkannya bahwa hidup tidak obah suatu rangkaian kisah penuh plot 
tidak terduga.  
   
   
  Bayangkan saja misalnya, dalam cerpen Riris Juliyanti "Sesuatu Yang Bernama 
Kenangan", berlatarbelakangkan Peristiwa Mei 1998 di mana banyak perempuan 
etnik Tionghoa diperkosa, tiba-tiba Kak Mey Lan, salah seorang korban 
pemerkosaan hingga mempunyai anak dari tindak itu, kemudian berjumpa dengan Om 
Midun, si pemerkosa itu sendiri dan yang tak lain dari paman si "Aku". 
Ketidaterdugaan serupa pun aku dapatkan pada cerpen Mindo Hotagaol, "Segi Empat 
Bukan Segi Tiga" yang bertutur tentang kisah cinta segi empat.  Si "Aku", 
tiba-tiba mengetahui bahwa ia adalah anak dari "Mbak Weti" yang selama 
bertahun-tahun dipanggilnya dengan sapaan "MbakWeti". 
   
   
  Dari ketidakterdugaan begini, lagi-lagi aku melihat garangnya kehidupan, 
bahwa kehidupan selalu merupakan tekateki tak pernah usai ditebak, hidup tak 
obah bagaikan kalimat berujung pada koma dan titik sama dengan kematian. 
Kontradiksi , jika menggunakan istilah filsafat Marxis, atau konflik jika 
menggunakan terminologi dunia tulis-menulis, selalu menyertai langkah kita. 
Sedangkan kerukunan" hanya merupakan tingkat penyelesaian kontradiksi atau 
konflik untuk memasuki konflik baru.Pantharei, segalanya mengalir, kalau 
menggunakan istilah Heraklitus.  
   
   
  Bisa terjadi bahwa para penulis cerpen ini tidak menyadari bahwa mereka 
meninggalkan pesan demikian kepada pembaca, tapi sebagai pembaca yang 
berdaulat, demikianlah pesan yang ditinggalkan ke hatiku. Di samping itu, aku 
juga melihat  bahwa cerpen-cerpen tersebut mencatat peristiwa-peristiwa sejarah 
dan sosiologis dalam masyarakat kita. Karya sastra memang tidak menggantikan 
penulisan ilmiah sejarah dan sosiologi serta bidang-bidang ilmu sosial lainnya, 
tapi karya sastra bisa jadi salah satu sumber penelitian ilmu-ilmu tersebut dan 
bisa dibahas dari segi-segi tersebut. Barangkali dengan latar pandangan ini, 
maka seorang sejarawan Afrika Selatan pernah mengatakan bahwa legenda dan 
cerita rakyat, sastra oral, bisa dijadikan sebagai salah satu sumber sejarah 
atau paling tidak, mengantar penelitian sejarah ke jurusan yang dicarinya. 
Pandangan ini berbeda dengan pandangan sebelumnya yang menganggap sumber 
sejarah hanyalah materi-materi tertulis belaka, walau pun bahan-bahan
 tertulis itu pun tidak luput dari kekurangan.
   
   
  Sementara itu dari cerpen Anjar, "Putaran Batu",  yang menarik perhatianku 
adalah usaha penulis untuk mengangkat kosakata lama untuk keperluan kekinian. 
kosakata itu misalnya "berselirat", "daksa", "ngelanguté, "sapandurat" [hlm.  
15].  Usaha ini menjadi menarik bagiku, karena seolah ia memperlihatkan bahwa 
penulis tidak ingin dengan sederhana ikut arus lari ke gaya menggunakan bahasa 
asing, terutama bahasa Inggris, sampai-sampai kata "saudara", "kau", "anda" , 
diganti dengan "you". Sikap begini mengingatkan aku pada sikap Bernard Pivot, 
budayawan terkemuka Perancis. Pivot dalam karyanya "Menyelamatkan 100 Kata Yang 
Hampir Dilupakan", antara lain mengatakan bahwa "kata" dalam suatu bahasa sama 
dengan sebatang pohon dalam hutan. Menebang sebuah pohon akan berdampak besar. 
Menjaga, memelihara kosakata dan mengembangkan bahasa melalui kosakata adalah 
usaha Pramoedya A. Toer sejak ia masih jadi dosen Unreca, Jakarta. Bagian dari 
usaha almarhum menulis Ensiklopedi. Apa yang
 dilakukan oleh Anjar, kukira, bisa disebut dengan kesadaran berbahasa  dan 
mengembangkan bahasa, sebagai salah satu tanggungjawab penulis. Sehubungan 
dengan sikap dan kesadaran berbahasa seperti yang ditunjukkan oleh Anjar ini, 
aku bertanya-tanya bagaimana sikap dan tanggungjawab serta kesadaran berbahasa 
penulis-penulis seangkatannya? Dalam konteks ini aku pun teringat pada nasehat 
Rendra padaku saat remaja Yoygya, agar aku rajin membaca kamus. "Kamus 
memperkaya kosakatamu, Kus. Penyair bekerja dengan kata", nasehat Rendra yang 
masih saja melekat di benakku sampai sekarang. Pada waktu remajaku, aku pun 
masih ingat benar bahwa jika sebuah kosakata bahasa daerah dipakai oleh sepuluh 
penulis, maka ia akan menjadi kosakata bahasa Indonesia. Menyempurnakan bahasa 
Indonesia pada waktu itu, pertama-tama lebih berorientasi ke bahasa lokal. 
Bukan ke bahasa asing. Karena itu Lembaga Sastra Indonesia Lekra dulu pernah 
berkesimpulan bahwa hubungan antara bahasa Indonesia dan bahasa
 daerah bersifat saling mendekati dan melengkapi.Bukan saling menjauh dan 
bertolakbelakang.  Pandangan yang ditindaklanjut dengan mendorong pengembangan 
sastra berbahasa lokal dan etnik. Dari segi ini, kukira sikap Anjar sangat 
menjangkau jauh dan bermakna.  Salam "beraja" adalah penemuan Anjar dari studi 
kamusnya. Anjar mendapatkan lokalitas dan warisan budaya negerinya sebagai 
salah satu sumber kreativitasnya. Sikap berkepribadian yang mengingatkan aku 
akan sikap berkepribadian seorang mahasiswa Batak di Yogya dalam kisah "Ada 
Empat Keanehan Di Siborong-borong" yang bertolakbelakang  dengan kisah tragik 
komik orang kehilangan diri seperti di kejadian "Made Sweden"  lurah Serua 
Indah Ciputat.  
   
  Waktu itu, tahun 60an,  di Universitas Gajah Mada Yogyakarta,  sedang 
diselenggarakan perploncoan. Seorang senior asal etnik Jawa bertanya kepada 
seorang yunior, mahasiswa yang diplonco.
   
  "Kau dari mana?"
   
  Yang ditanya menjawab bangga: "Dari Siborong-borong". Melihat kebanggaan 
yunior, si senior heran dan kembali bertanya:  
   
  "Apa sih hebatnya Siborong-borong maka kau begitu bangga pada kampung yang di 
peta pun tak tertanda?"
   
  "Ada empat keanehan di Siborong-borong", jawab yunior makin semangat.
   
  "Apa empat keanehan itu?"
   
  Dengan lidah Bataknya si yunior berkata:
   
  "Satu, ada gereja. Dua, ada Sekolah Guru Kepandaian Puteri [waktu itu SGKP, 
terdapat di mana-mana]. Ketiga, ada stasiun bus".
   
  "Dan keempat?" tanya senior sambil menyembunyikan keheranan dan kagumnya pada 
yunior.
   
  Dengan menatap lurus mata senior mahasiswa Batak asal Siborong-borong 
mengatakan:
   
  "Keempat, ada siombus-ombus".
   
  Mendengar "empat keanehan" di Siborong-borong itu, semua tidak bisa menahan 
gelak. Ini satu sikap. Sikap lain, berbalikan dengan sikap putera 
Siborong-borong ini adalah sikap lurah Serua Indah, Ciputat.Waktu itu, ada 
helat perkawinan. Lurah menyampaikan pidato ucapan selamat kepada kedua 
mempelai. Berkata: "Pokoknya saudara-saudari. Made in Sweden". [Diucapkan 
sebagaimana kata-kata ini ditulis. Made in Sweden adalah kata-kata yang tertera 
di kotak korek api buatan Swedia]. 
   
  Orang kampung yang tidak mengerti arti kata itu, langsung bertanya:"Apa itu 
artinya,  Pak?"
   
  Pak lurah dengan bangga pula menjawab: "Artinya, semoga berbahagia". Dalam 
satu paduan suara spontan, hadirin yang terdiri dari orang-orang kampung 
berkata: "Ooooo...". 
   
  Cerita ilustratif ini kuangkat untuk menunjukkan dua mentalitas dari dua 
zaman. Yang satu pede, bangga pada budaya sendiri, yang lain merasa naik harga 
diri dan tingkat dirinya dengan mencoba menggunakan kata-kata asing. Ujud dari 
rendah diri?! Ah, Indonesia. Banyak keanehan di Indonesia.Lebih dari empat!   
   
  Apa yang dilakukan Anjar, agaknya mendekati apa yang dilakukan oleh mahasiswa 
Batak ini, dalam hal percaya diri dan  bangga pada budaya lokal. 
   
  Aku sendiri tidak mempertentangkan nilai lokal, nasional dan unversalitas. 
Universalitas nilai bisa saja diungkapkan dalam cara yang berkebhinnekaan. 
Lokalitas adalah bahasa yang kita miliki dalam berdialog dengan budaya dunia. 
Pada lokalitas ini terdapat jati diri, ciri diri, kepribadian dan nilai diri. 
Entah sadar atau tidak, Anjar agaknya mengangkat masalah ini melalui pilihan 
kosakatanya sehingga tidak menjadi "lurah Serua Indah" yang merasa diri 
terangkat dengan menggunakan kata-kata asing secara salah kaprah dan tidak ia 
pahami artinya yaitu "made in Sweden". Ingin kusebut mentalitas pak lurah Serua 
Indah ini sebagai "mentalitas made in Sweden" sebagai bagian dari keanehan 
kekinian di negeri kita.
   
  Hal lain yang kudapatkan dari "Selasar Kenangan" muncul dari membaca cerpen 
Ita Siregar dan Widzar Al- Ghifary, sipemakai jilbab rapat [cocok untuk Kota 
Bandung yang dingin],  berjiwa militan tak takut lelah.
   
  Widzar dalam cerpennya "Perempuan Dalam Keruntuhan Musim" , Ita Siregar 
dengan cerpennya "Sedikit Kenangan Tersisa",  memperlihatkan adanya gejala yang 
kusebut bentuk prosa puisi [bukan puisi prosa].  Yang kumaksudkan dengan bentuk 
prosa puisi adalah suatu genre sastra berbentuk prosa tapi puitis. Dasarnya 
adalah bentuk prosa tapi kalimat-kalimatnya puitis. Sedangkan puisi prosa 
adalah sejenis puisi. Novel "Pulang" karya Toha Mochtar, mantan penerjun payung 
AURI, pada tahun 60an sering disebut sebagai karya prosa puisi ini.   Puisi 
merumuskan pikiran dan perasaan dalam kalimat-kalimat puitis penuh renungan dan 
besayap.  Di samping itu, agaknya , bentuk prosa puisi lebih reflektif 
dibandingkan dengan prosa yang tidak puitis.
   
   
  "Ya, aku datang memang untuk menangis. Menuntaskan  segala beban  agar aku 
bisa melangkah ke depan", adalah kalimat prosa puitis dari Widzar. Kalimat ini 
kuanggap puitis [bisa saja aku berbeda dengan pembaca yang lain!] dan  kalimat 
puitis serta puisi selalu bersayap, menerbangkan segala tafsir ke berbagai 
penjuru cakrawala. 
   
   
  Puitisitas cerpen ini lebih menonjol lagi pada Ita Siregar dalam tulisannya 
"Sedikit Kenangan Tersisa" di samping kekuatannya melukiskan suasana dengan 
sabar serta cermat. Di tengah suasana yang ia lukiskan ini, kemudian penulis 
menuangkan renungan dan suasana hatinya yang umumnya berwarna kesendirian. 
Hening bagai hamparan tamasya yang merentang di bawah gunung sejauh cakrawala.  
Seperti dalam kalimat-kalimat berikut: 
   
  "Kalau mau permen, bilang saja, ya", kata Nani. Aku mengangguk.
   
  Setelah itu rasanya tidak ada hal lain.Lebih banyak sendirian, duduk dekat 
jendela, melihat aktivitas di luar sana. Tapi sebenarnya aku tidak ingat apa 
yang kulihat.  Mungkin juga aku tidak melihat apa-apa.
   
  Peristiwa-peristiwa itu akan tetap menjadi miliku selamanya. Masa kecilku 
yang pendek. Aku sedang berusaha mencari potongan kenangan lain di rentang usia 
itu. Karena aku kehilangan diriku di sana".
   
  Membandingkan cerpen ini dengan novel "Mencari Daniel" dari penulis yang 
sama, aku melihat prosa puisi merupakan salah satu ciri khusus dari Ita 
Siregar.  Ciri yang juga kudapatkan pada karya-karya Martin Aleida dan dulu 
pada reportase sastrawi penyair Amarzan  Ismail Hamid. 
     
   
  "Selasar Kenangan" yang hanya terdiri dari  95 hlm + xx , memang bukan 
kucerpen tebal, tapi ia merupakan sumbangan nyata berharga dari milis 
apresiasi-sastra kepada dunia sastra Indonesia. Betapa pun kecil dan 
sederhananya suatu sumbangan, ia tetap berharga dan niscaya ditatat.Sumbangan 
sastra ini merupakan ujud dari suatu kesungguhan. Dari jauh yang dingin 
ditebarkan oleh langit kelabu yang menekan, kuucapkan "Selamat berulang tahun!" 
***
   
   
  Paris, Musim Dingin 2008
  -------------------------------
  JJ Kusni, pekerja biasa di Koperasi Restoran Indonesia Paris.


       
---------------------------------
Tired of visiting multiple sites for showtimes? 
  Yahoo! Movies is all you need


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke