Berhubung dengan banyaknya berita tentang perlunya ada ma’af bagi segala
kesalahan atau dosa-dosa Suharto, atau tuntutan supaya proses hukum
terhadapnya dibekukan atau di-deponir, atau segala macam gugatan terhadapnya
dibatalkan atau dihentikan mengingat jasa-jasanya kepada bangsa dan negara,
maka untuk bisa mengkaji persoalan Suharto ini dengan agak menyeluruh perlu
disajikan juga segi-segi negatifnya. Selama ini terlalu banyak berita atau
pendapat yang hanya memuja dan memuji Suharto yang dikeluarkan oleh para
pembesar atau “tokoh” masyarakat, sedangkan  segi-segi negatifnya kurang
dikemukakan dalam media massa.

Karena itu, supaya umum mendapat gambaran yang lebih jelas tentang Suharto
dengan berbagai masalahnya, termasuk kesalahan dan dosa-dosanya selama
memimpin Orde Baru dan Golkar,  website   http://kontak.club.fr/index.htm
menyediakan rubrik-rubrik khusus yang berkaitan dengan berbagai kesalahan
Suharto ini.



Dengan tujuan ini, berikut di bawah ini disajikan tulisan Harsutedjo  yang
berjudul Neraka Rezim Suharto, sekadar untuk mengingatkan kembali tentang
pelanggaran perikemanusiaan secara besar-besaran yang terjadi di zaman Orde
Baru dan Golkar yang dipimpin oleh Suharto.



Berita atau tulisan-tulisan lainnya tentang persoalan Suharto dapat disimak
dalam kumpulan berita “Tentang Suharto sakit keras dan berbagai masalahnya”



A. Umar Said



***





                        NERAKA REZIM SUHARTO (UNTOLD STORY)



                                                                            
Oleh: Harsutejo



Judul di atas bukanlan bikinan saya, tetapi judul sebuah buku tipis (156 +
xi halaman) yang kemudian diikuti sub-judul "Misteri Tempat Penyiksaan Orde
Baru" susunan Margiyono dan Kurniawan Tri Yunanto, Spasi & VHRBook, Jakarta,
2007.



Bagi yang mengenal kekejaman rezim Orba, apalagi bagi mereka yang pernah
menjadi tapol Orba, dari sebagian daftar isinya dapat membayangkan apa
kira-kira kisah di dalamnya: Bab I Rumah Setan di Gunung Sahari; Bab II
Rumah Hantu di Menteng Atas; Bab III Kekejaman di Kremlin [Kramat Lima]; Bab
IV Jeritan di Rumah Meester Cornelis; Bab V Horor di Gang Buntu; dst. Kedua
penulis muda ini tidak sedang bercerita tentang kisah horor yang banyak
muncul di televisi belakangan ini, tapi tentang kekejaman yang dialami para
tapol, para terculik yang dilakukan rezim militer Orba Suharto sejak 1965
sampai 1998, bagian dari sejarah kelam horor.



Rumah Setan di Gunung Sahari terletak di Gunungsahari III, sebuah rumah
besar milik seorang Tionghoa yang dirampas dan dijadikan markas Operasi
Kalong setelah tragedi 1 Oktober 1965. Operasi di bawah Mayor Suroso ini
pula yang berhasil menangkap orang keempat PKI Sudisman karena pengkhianatan
kawan dekat dan pembantunya. Algojo yang bernama Letnan Bob tersohor
kekejamannya, setiap tapol di Jakarta gemetar jika dibon olehnya ke markas
Kalong. Alat penyiksa standar berupa pentungan kayu dan karet, buntut ikan
pari yang dipasangi paku kecil, kabel dengan lempeng-lempeng yang dialiri
listrik. Setiap tapol baru dikejutkan dan dihancurkan mentalnya dengan
siksaan alat-alat tersebut, apapun yang diakuinya. Sengatan listrik
merupakan ujung kekuatan seorang pesakitan berakhir. Setiap tapol perempuan
diperiksa dengan telanjang bulat, demikian juga dengan interogatornya.



Di Kalong tersohor pula legenda seorang aktivis Gerwani bernama Sri Ambar
yang tetap bungkam meski telah disiksa dengan gebukan, setruman, kemudian
digantung telanjang bulat di pohon mangga. Bokongnya kemudian ditusuk
bayonet oleh seorang tentara penyiksa. Siksaan berlanjut dengan
didatangkannya ibu dan dua orang anaknya yang masih kecil (ketiganya juga
ditahan) untuk menyaksikannya.

Seorang pemuda tapol yang kuat badannya berumur sekitar 30 tahun disiksa
habis-habisan dengan gebukan dan sengatan listrik di markas Zinpur 8. Ia
juga digantung selama seminggu di Lenteng Agung, banyak bagian badannya
mengucurkan darah karena diiris silet. Luka itu kemudian disiram bensin. Ia
pun menjadi sasaran latihan lemparan pisau komando. Pada suatu malam
badannya ditembus tiga peluru, karena keterangannya masih diperlukan, ia
dibawa ke RSPAD Gatot Subroto dan mendapatkan transfusi darah sebanyak 10
liter. Dalam keadaan masih sakit, ia berkali-kali diinterogasi, bahkan
dengan disetrum. Ia kemudian dilemparkan ke sel Kodim 0505 Jatinegara, salah
satu tempat penyiksaan tapol. Dalam sel 5x6 meter itu ia berjubel bersama
200 tapol lainnya



Di bagian akhir terdapat kesaksian sejumlah aktivis muda dan mahasiswa, di
antaranya dari PRD. Seperti kita ketahui sejumlah aktivis diculik rezim
Suharto pada pertengahan pertama 1998 sebelum diktator militer itu jatuh.
Sejumlah aktivis setelah diculik, semula berada di instansi militer resmi
seperti Kodim Jakarta Timur, disiksa dan diinterogasi di instansi militer
[rahasia] dalam keadaan mata terus ditutup. Tiba-tiba mereka sudah dibawa ke
Polda Metro Jaya. Sejumlah aktivis kemudia n dibebaskan dalam bulan Juni
1998 setelah tumbangnya sang diktator.

Seperti kita ketahui masih ada 13 orang aktivis yang diculik oleh instansi
yang sama di masa itu tidak pernah kembali, di antaranya aktivis buruh
sekaligus penyair, Wiji Thukul dengan seruannya yang tersohor: HANYA ADA
SATU KATA: LAWAN! Ketika itu seorang petinggi militer, Jenderal Syarwan
Hamid yang amat ditakuti karena jabatannya, menyatakan bahwa Wiji Thukul
telah menantang pemerintah. Rupanya rezim militer yang perkasa itu takut
juga dengan seorang penyair miskin kerempeng.



Instansi militer penculik [rahasia] yang terang identitasnya di mata
beberapa Kodim dan Polda Metro Jaya sampai saat ini belum diusut. Di mana 13
pemuda bibit bangsa itu telah dibunuh dan dikubur? Adakah HAM hanya untuk
kaum koruptor dan tersangka koruptor serta Jenderal Besar (Purn) Suharto,
dan tidak untuk para [bekas] tapol dan aktivis yang melawan kediktatoran
rezim militer Orba?

Bekasi, 9 Januari 2008



* * *

Catatan : Untuk memperkaya kumpulan bahan tentang pelanggaran HAM di zaman
rezim Suharto ini juga disajikan dalam website
http://kontak.club.fr/index.htm tulisan Alexander Tjaniago, mengenai
pembantaian di Pesisir Selatan (Sumatera Barat).



Di samping itu, ada buku yang sangat menarik dan penting, yang ditulis oleh
Y.S. Taher (sekarang bermukim di Australia) yang berjudul "Riau Berdarah"
tentang pembunuhan besar-besaran dan penahanan sewenang-wenang terhadap
banyak oirang di Riau.



Bahan-bahan semacam ini sangat berguna bagi semua orang yang ingin menilai
secara objektif, tepat, dan adil, siapa dan bagaimana sebenarnya  Suharto
dengan rezim Orde Barunya dan Golkar. Oleh karena itu, bahan-bahan yang
dikumpulkan  oleh LPR-KROB, Pakorba, YPKP, LPKP dan berbagai organisasi yang
bergerak di bidang HAM sangatlah  penting untuk di siarkan kembali pada saat
ini.




No virus found in this outgoing message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.5.516 / Virus Database: 269.19.0/1216 - Release Date: 09/01/2008
10:16


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke