----- Original Message ----- 
  From: tarli nugroho 
  To: [EMAIL PROTECTED] 
  Sent: Wednesday, January 09, 2008 7:52 AM
  Subject: [pantau-komunitas] Ini Dia Polah Wartawan (Muda) Indonesia



  pagi ini ada sarapan menggelikan yang dimasak wartawan republika. temanya 
menarik, yaitu menertawakan polah wartawan muda "generasi MTV". yang 
menggelikan, wartawan yang menulis berita ini juga ternyata tak berbeda dengan 
obyek beritanya, sebab ia salah menuliskan nama mantan seorang pejabat penting 
di masa lalu dengan nama guru besar ekonomi pertanian Unila yang sedang naik 
daun.


  tn

  ==========================
  Republika, Rabu, 09 Januari 2008


  Saat Generasi MTV Meliput Pak Harto 



  Mereka datang laksana air bah ke Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP), begitu 
mengetahui Soeharto terbaring di sana sejak Jumat (4/1) pukul 14.15 WIB. Ada 
tokoh pemerintah, tokoh politik, artis, mantan pejabat, hingga wartawan. Hari 
pertama Pak Harto menempati Presidential Suite, lantai 5, kamar 536, pengunjung 
belum banyak. 

  Yang terlihat hanya orang dekat seperti Wismoyo Arismunandar, Prabowo 
Subianto, dan Moerdiono. Tapi, Sabtu (5/1) siang hingga malam, lobi Gedung A 
RSPP tak henti-hentinya kedatangan mobil mewah. Hari itu, memang terbetik kabar 
bahwa kondisi kesehatan Pak Harto menurun, bahkan sempat kritis.

  Karangan bunga juga terus berdatangan. Jumat, karangan bunga langsung diantar 
ke lantai lima. Sabtu, sudah memenuhi lobi seluas dua kali lapangan bulu 
tangkis. Selasa (8/1) siang, karangan bunga itu dilokalisasi di lorong menuju 
lift Gedung A. Sebagian besar terlihat sudah layu. Sejak Jumat malam, wartawan 
media cetak dan elektronik tumplek blek di RSPP. Pada Jumat, Sabtu, dan Ahad, 
jumlahnya 70-an orang. Kemarin, saat kondisi Pak Harto dikabarkan drop kembali, 
jumlahnya mencapai di atas 100.

  Mereka bukan cuma menunggu di lobi Gedung A. Mereka juga nongkrong dekat 
kamar jenazah, kantin samping Gedung A, hingga ruang UGD. Berharap ada tokoh 
atau dokter yang datang atau pulang lewat jalan belakang. Mencegatnya, untuk 
mendapatkan informasi eksklusif.

  Camelia Malik, Bustanul Arifin (maksudnya bustan-i-l arifin, purnawirawan 
militer, mantan menkop dan kepala bulog; bustan-U-l arifin adalah nama dosen 
Unila, peneliti INDEF), Moerdiono, dan Hayono Isman, yang saban hari datang, 
punya pola berbeda. Camelia Malik selalu datang lewat pintu depan, pulang lewat 
pintu belakang. Moerdiono dan anak-anak Soeharto, datang dan pulang lewat 
belakang, dekat kamar jenazah. Hayono Isman dan Bustanul Arifin yang selalu 
lewat depan. Kemarin, Halimah juga lewat belakang, dekat kantin.

  Sejak Jumat, tunggu-menunggu di Lobi Gedung A RSPP tak kunjung surut. Maklum, 
jumpa pers kondisi kesehatan Pak Harto, hanya dilakukan pagi. Tak ada 
penjelasan pada siang, sore, dan malam hari. Padahal, laporan harus selalu 
disetor. Alhasil, setiap tokoh yang ingin atau sudah menjenguk Pak Harto, 
setiap mobil yang berhenti di depan lobi, langsung diserbu. Bagi yang wajahnya 
sudah familiar, tentu mudah dimintai keterangan. Lain soal kalau tak dikenal.

  Masalah kenal-mengenal ini ada cerita tersendiri. Peliput kebanyakan wartawan 
muda, generasi MTV yang lahir akhir 1970-an atau awal 1980-an. Sementara 
pengunjung rata-rata menjadi pejabat saat para wartawan masih berseragam merah 
putih atau putih biru. Di situlah serunya. Sabtu sore, dari mobil mewah 
berwarna gelap, seseorang bertampang pejabat berhenti di depan lobi Gedung A. 
Sontak, wartawan bergerak merubungnya. Kamera siap merekam dan menjepret, 
reporter sudah menyorongkan mic dan alat perekam lain, rentetan pertanyaan 
sudah disiapkan.

  Tapi, begitu sang pejabat keluar dari mobil, jreeengggg, tak seorang pun 
mengenalinya. Sunyi sejenak. Para wartawan melongo, menoleh ke kiri dan kanan. 

  ''Sapa tuh?''

  ''Siapa ya?'' Celetukan itu bertaburan. 

  ''Kenal gak?''

  ''Nggak tuh. Menteri kali?''

  Tapi, dengan kadar kecuekan tingkat tinggi, para reporter langsung 
memberondongnya, ''Pak, namanya siapa?''

  ''Mau jenguk Pak Harto, ya?'' 

  ''Pak, dulu jabatannya apa?''

  Mulanya, dia kaget. Tapi kemudian senyam-senyum. Begitu pula wartawan yang 
sampai akhir tak berhasil mengorek identitasnya.

  Tebak-tebakan pun muncul. ''Kayaknya mantan menteri pertambangan dulu deh. 
Wajahnya sih mirip Pak Sadli.'' 
  ''Heh, menteri tahun berapa tuh?'' tanya wartawan lain. 

  ''Ah, bukan tuh. Wajahnya mirip Bustanul Arifin, mantan menteri koperasi.'' 

  Wartawan lain, dengan wajah bingung, bertanya, '''Hah? Bustanul siapa?''

  Sampai Senin (7/1), peristiwa serupa masih terulang, saat seseorang turun 
dari Volvo di depan lobi Gedung A. ''Mau jenguk Pak Harto, Pak?'' Dia menjawab, 
''Iya.'' Tapi, usai wawancara, para wartawan kembali saling pandang, ''Siapa 
tadi ya?''

  Mengorek informasi dari karangan bunga, juga punya kisah unik. Biasanya, 
begitu karangan bunga masuk lobi, para wartawan langsung merubung kurir. Suatu 
ketika, melihat kartu nama bertulis Anthony terselip di karangan bunga lili, 
seorang wartawan bergumam, ''Wah, jangan-jangan dari Anthony Salim.''
  Kendati belum pasti, seorang wartawan yang mendengarnya langsung membuat 
pengumuman: ''Eh, ada karangan bunga dari Anthony Salim.'' Tapi, sambil 
melongo, sebagian wartawan malah bertanya, ''Siapa tuh Anthony Salim?''

  Ada lagi yang aneh bin ajaib. Jumat lalu, melihat kurir susah payah 
mengangkat pot besar, seorang wartawan televisi bertanya, ''Karangan bunga dari 
siapa, Pak?'' Sang kurir menjawab sekenanya, ''Tidak tahu, Mas. Katanya sih 
dari Fuad Hassan.'' 

  Dan, si wartawan langsung menyebarkannya. ''Fuad Hassan ngirim karangan 
bunga, tuh.''

  Terang saja protes muncul. ''Mana mungkin?! Salah kali lu.'' 

  Tapi dia ngotot. ''Gimana salah? Kurirnya yang bilang sendiri.'' 

  Dengan kesal, wartawan lain meledek. ''Woi! Fuad Hassan udah 

  meninggal. Gimana bisa ngirim karangan bunga?''

  Masih ada lagi. Melihat Sudwikatmono yang punya ikatan darah dengan Pak Harto 
tiba di lobi, dia langsung diserbu dan diberondong pertanyaan. ''Bagaimana 
kondisi Pak Harto, Pak?'' 

  ''Sudah bisa berkomunikasi?'' 

  ''Selang di tubuhnya ada berapa, Pak?'' 

  ''Anak-anaknya lengkap Pak?'' 

  ''Ada Tommy, Pak?''

  Mulut pengusaha yang berjalan tertatih dipapah ajudannya itu sempat bergumam, 
tapi tak sepatah kata pun keluar. Tapi, berondongan pertanyaan tak berhenti, 
sampai dia naik mobil. Seorang polisi geleng-geleng kepala melihat kejadian 
itu. ''Busyet dah, wartawan. Tega bener. Udah liat jalan gitu masih aja 
ditanya. Untung gak pingsan,'' katanya, sambil tersenyum. Ya, namanya juga 
wartawan, Pak. (evy)

  link: http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=319273&kat_id=3


------------------------------------------------------------------------------
  Looking for last minute shopping deals? Find them fast with Yahoo! Search.

   


------------------------------------------------------------------------------


  No virus found in this incoming message.
  Checked by AVG Free Edition. 
  Version: 7.5.516 / Virus Database: 269.19.0/1216 - Release Date: 09/01/2008 
10:16


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke