ade armando memang layak di madina. komentarnya
moderat dan sejuk.

mungkin ahmadiyah dan hizbuttahrir perlu berdialog.
markas besar keduanya kan sama-sama di london, inggris.

gunakan duit dari inggris untuk kebaikan, jangan untuk
membuat kekacauan di indonesia.



>"mediacare" <<mailto:mediacare%40cbn.net.id>[EMAIL PROTECTED]>
>Sent by: <mailto:ppiindia%40yahoogroups.com>[email protected]
>01/11/2008 09:28 AM
>Please respond to
><mailto:ppiindia%40yahoogroups.com>[email protected]
>
>
>To
><<mailto:ppiindia%40yahoogroups.com>[email protected]>, "zamanku" 
><<mailto:zamanku%40yahoogroups.com>[EMAIL PROTECTED]>,
><<mailto:pluralitas-icrp%40yahoogroups.com>[EMAIL PROTECTED]>
>cc
>
>Subject
>[ppiindia] Re: [mediacare] Ahmadiyah dan Religious Freedom
>
>
>
>
>
>
>Komentar Ade Armando tentang Ahmadiyah
>
>----- Original Message -----
>From: <mailto:adenina%40cbn.net.id>[EMAIL PROTECTED]
>To: <mailto:mediacare%40yahoogroups.com>[EMAIL PROTECTED]
>Sent: Friday, January 11, 2008 9:07 AM
>Subject: Re: [mediacare] Ahmadiyah dan Religious Freedom
>
>Saya sulit menerima argumen2 yang diajukan M. Syamsi Ali ini.
>Seperti dikatakannya, Islam adalah agama yang tidak menindas keyakinan.
>Tapi, bagaimana mungkin, penindasan terhadap Ahmadiyah tidak dipandang
>sebagai penindasan keyakinan?
>Kenapa dia dan banyak kelompok lainnya tidak bersikap bahwa walaupun kita
>berbeda keyakinan dalam Islam, kita tetap bisa saling menghomati dan hidup
>bersama. Biarkanlah Tuhan yang Maha Tahu yang akan menjadi Hakim nanti.
>Dengan terus mengobarkan kebencian terhadap perbedaan keyakinan, kita
>tidak akan bisa menjadi sebuah bangsa.Kita cuma menjadi kumpulan kelompok
>orang yang setiap saat siap menerkam.
>
>Dalam kasus Ahmadiyah, ada beberapa fakta yang penting:
>1. Penganut Ahmadiyah percaya pada Allah
>2. Mereka percaya pada kesucian AlQuran, tapi dengan catatan ada tambahan
>kitab lain yang harus dipercaya penganutnya (yang isinya tidak membantah
>AlQuran)
>3. Mereka percaya pada Malaikat
>4. Mereka percaya bahwa Nabi Muhammad SAW sebagai rasul Allah yang mereka
>jadikan panutan (termasuk sunnah dan hadits), tapi mereka juga percaya ada
>nabi lain atau mujaddid bernama Mirza Ghulam Ahmad.
>5. Mereka berzakat
>6. Mereka berhaji, walau mereka percaya pada tempat suci lain di luar
>Mekkah.
>
>Dengan rujukan yang sama semacam itu, seagian terbesar kpercayaan kaum
>Ahmadiyah adalah sama dengan umat Islam lainnya (yang juga memiliki
>keberagamannya sendiri2)
>
>Jadi kenapa harus dienyahkan dari muka bumi? Ada 120 juta penganut
>Ahmadiyah di muka bumi, mereka sesat semua? Masjid2 mereka harus ditutup?
>Di Indonesia ada jutaan penganutnya, apakah mereka tidak boleh mengaji,
>tidak boleh melakukan kegiatan terbuka, mereka tidak boleh shalat?
>
>Umat Ahmadiyah punya sumbangan besar bagi perkembangan Islam di dunia.
>pemenang nobel satu2nya dari dunia Islam adalah penganut Ahmadiyah.
>Terjemahan AlQuran pertama dalam bahasa Inggris merupakan karya penganut
>Ahmadiyah.
>
>Saya mungkin tidak percaya pada ajaran Ahmadiyah. Tapi kenapa tidak live
>and let live!
>
>Mudah2an tidak ada yang tersinggung
>
>ade armando
>majalah MADINA
>
> >
> > Ahmadiyah dan Religious Freedom
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> > Rabu, 09 Januari 2008
> >
> > Altenatif terbaik bagi Ahmadiyah adalah; keluar dari Islam atau mengakui
> > Nabi Mummad sebagai Nabi terakhir. Jika tidak, akan terus timbul reaksi
> >
> > Oleh: M. Syamsi Ali
> >
> > Hari Senin, 7 Januari kemarin, saya menerima kunjungan rombongan
> > pengurus Ahmadiyah USA yang tergabung dalam sebuah organisasi Ahmadiyah
> > Movement in Islam, Inc. Saya menerima mereka dalam kapasitas saya
> > mendampingi staf PTRI New York, mewakili pemerintah, untuk mendengarkan
> > keluhan dan uneg-uneg mereka.
> >
> > Pada intinya kunjungan mereka tidak membawa sesuatu yang istimewa.
> > Semuanya adalah menyampaikan apa yang sudah pernah dimuat oleh berbagai
> > media massa tentang (isu) kekerasan-kekerasan yang dialami oleh warga
> > Ahmadiyah di beberapa daerah di Indonesia seperti Parung, Bogor , Padang
> > , dll. Pada intinya, mereka mengutuk peristiwa-persitiwa tersebut dan
> > mendesak pemerintah RI untuk membawa pelakunya ke meja hijau.
> >
> > Rupanya beberapa anggota pengurus Ahmadiyah, tanpa saya sadari, sudah
> > mengenal saya. Mereka mengenal saya dari acara Pre- Ramadan Conference
> > di kepolisian New York setiap menjelang Ramadan. Saya kebetulan memang
> > seringkali menjadi salah seorang pembicara pada acara tersebut, yang
> > juga dihadiri oleh perwakilan Ahmadiyah yang juga dianggap Muslim oleh
> > kepolisian New York
> >
> > Setelah basa basi ala diplomat, pembicaraan menjurus kemudian kepada
> > (isu) kekerasan-kekerasan yang dialami oleh warga Ahmadiyah di Pakistan.
> > Perlu diketahui, Ahmadiyah adalah pergerakan yang secara institusi
> > terlarang di Pakistan dan pengikutnya tidak dianggap bagian dari
> > masyarakat Muslim. Tegasnya, mereka dengan keyakinannya yang keluar dari
> > Al-Quran dan As Sunnah dianggap keluar dari agama Islam dan karenanya
> > dianggap non Muslim minoritas.
> >
> > Penetapan warga Ahmadiyah di Pakistan sebagai non Muslim justeru
> > dilakukan oleh pemerintahan yang tidak berafiliasi ke Islam ketika itu,
> > yaitu pemerintahan Perdana Menteri Zulfikar Ali Bhutto, ayah mendiang
> > Benazir Bhutto, pada tahun 1974. Keputusan tegas dan besar ini terjadi
> > hanya setahun setelah Zulfikar Ali Bhutto menduduki jabatannya sebagai
> > PM Pakistan. Sejak itu pula Ahmadiyah di Pakistan merupakan organisasi
> > terlarang, tapi pengikutnya tetap bebas menjalankan keyakinannya secara
> > pribadi-pribadi.
> >
> > Sebenarnya, sejak awal mendengarkan mereka, hati saya sudah hampir
> > memberontak. Pasalnya, sejak semula mereka secara tidak langsung menuduh
> > ulama-ulama Indonesia sebagai radikal (dengan istilah mullah) dan
> > melanggar HAM. Lebih dari itu, dengan membandingkan antara
> > kejadian-kejadian di Pakistan dan Indonesia, mereka seolah menuduh bahwa
> > pemerintah Indonesia mengabaikan HAM dan bahkan ikut mendukung
> > kekerasan-kekerasan yang dilakukan oleh apa yang disebutnya sebagai
> > anggota radikal dari komunitas Muslim Indonesia.
> >
> > Puncaknya ketika mereka menuduh ulama-ulama Pakistan, termasuk Abu A'la
> > Maududi, sebagai ulama-ulama pembunuh dan menganjurkan pengikutnya untuk
> > membunuh orang-orang Islam lainnya yang tidak sejalan dengan idiologi
> > mereka. Ternyata mereka sudah memiliki cuplikan-cuplikan yang diambil
> > dari berbagai sumber mengenai mereka. Setelah saya perhatikan seraya
> > beradu argumentasi, saya temukan bahwa cuplikan-cuplikan yang mereka
> > pegangi untuk menyerang para ulama sunni itu diambil sepotong-sepotong
> > dan ditafsirkan secara salah untuk membenarkan argumentasi mereka.
> >
> > Pada akhirnya, pertemuan itu tidak lagi bercirikan diplomasi tapi cukup
> > memanas dengan argumentasi keagamaan dan rasionalitas. Dari semua
> > argumentasi yang mereka berikan, hanya satu hal dapat diterima. Yaitu
> > bukankah semua manusia memiliki hak untuk mengikuti keyakinan
> > masing-masing? Dengan kata lain, kata kunci "religious freedom" menjadi
> > satu-satunya alasan yang dipakai untuk membela eksistensi mereka.
> >
> > Isu kebebasan beragama
> >
> > Akhir-akhir ini memang cukup banyak tokoh Muslim yang tiba-tiba tampil
> > menjadi "champion of religious freedom". Mungkin mereka ikhlas membela
> > apa yang dipersepsikan oleh umum, khususnya barat, sebagai masyarakat
> > lemah (marginalized) , atau boleh jadi juga karena membela masyarakat
> > yang dipersepsikan termarjinalkan itu memang "rewarding". Tentu maksud
> > saya adalah cepat mendapatkan apresiasi, dukungan oleh yang kuat, dan
> > yang lebih khusus cepat menemukan pahala duniawinya (beasiswa, dukungan
> > dana, media suppot, dll).
> >
> > Kebebasan beragama bukanlah sesuatu yang baru dalam Islam. Jauh sebelum
> > dunia barat berkoar untuk jaminan kebebasan beragama, Islam sejak 15
> > abad silam sudah menjamin dengan ayat Al Quran, hadits maupun
> > praktek-praktek Rasulullah dan sahabat-sahabatnya. Sehingga pemberian
> > kebebasan beragama dalam tatanan masyarakat Muslim adalah "religiously
> > is obligatory" (secara agama adalah wajib). Bahkan Rasulullah mengancam
> > untuk menjadi musuh bagi mereka yang menyakiti "dzimmi" (non Muslim
> > minoritas dalam tatanan masyarakat Muslim.
> >
> > Dan Indonesia, sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia telah
> > membuktikan ini. Tidak ada negara di dunia ini yang memberikan posisi
> > terpenting kepada warga "non majority" kecuali Indonesia . Bahkan ada
> > masa-masa di mana kaum minoritas jauh lebih "teranak maniskan" ketimbang
> > kaum mayoritas. Berapa jumlah menteri non Muslim di Indonesia ? Berapa
> > sekjen/dirjen (eselon I) di berbagai departemen pemerintahan dan swasta
> > di negara kita? Silahkan jumlah dubes/diplomat tingkat tinggi non Muslim
> > di kementrian luar negeri Indonesia .
> >
> > Semua ini menunjukkan bahwa secara negara (state) dan pemerintahan
> > (governance) Indonesia tidak membeda-bedakan warganya. Semua memiliki
> > hak dan kesempatan yang sama serta memiliki hak pembelaan berdasarkan
> > konstitusi negara Indonesia yang disetujui bersama. Maka, Kristen,
> > Katolik, Hindu, Budha, Islam dan Kong Hu chu, dan bahkan agama-agama
> > lainnya yang secara formal tidak terakui, bebas menjalankan keyakinan
> > dan ibadahnya masing-masing dan dijamin secara konstitusi.
> >
> > Isu Ahmadiyah
> >
> > Ahmadiyah oleh pengikutnya diyakini sebagai agama Islam dan bukan agama
> > baru. Tapi pada saat yang sama, Islam yang mereka sampaikan adalah Islam
> > yang secara prinsip menyimpang dari dasar-dasar ajaran Islam yang baku .
> > Dan karena perbedaan mendasar yang diakui oleh mereka inilah, warga
> > Ahmadiyah tidak mungkin mau menjadi makmum di belakang Imam Muslim
> > selain Ahmadiyah. Pada prinsipnya, mereka menganggap Muslim yang tidak
> > satu kepercayaan/ iman dengan mereka sebagai kafir.
> >
> > Ada beberapa hal yang paling prinsipil dari kesesatan Ahmadiyah adalah:
> >
> > Pertama, bahwa meyakini bahwa Mirza Gulam Ahmad adalah Nabi atau rasul
> > yang menerima wahyu. Oleh karenanya, Muhammad S.A.W. bukanlah nabi dan
> > rasul Allah yang terakhir (khaatam an anbiyyin).
> >
> > Kedua, bahwa kitab suci terakhir bukan Al Quran tapi al Kitab yang
> > diterima oleh Mirza Gulam Ahmad dengan nama Tadzkirah. Kitab ini memuat
> > ayat-ayat Al Quran yang diputar balik dan dicampur dengan berbagai
> > seruan-seruan Mirza Gulam Ahmad.
> >
> > Ketiga, bahwa melaksanakan ibadah haji ke Mekah tanpa melakukannya ke
> > kota suci mereka, yaitu Rabwah dan Qadiyan di India adalah haji yang
> > kering dan tidak diterima. Kenyataannya, Mirza Gulam Ahmad juga tidak
> > pernah menjalankan ibadah haji selama hidupnya.
> >
> > Keempat, bahwa bangkit melawan penjajah (Inggris) ketika itu bukan jihad
> > tapi pemberontakan. Mirza Gulam juga menuliskan buku panduan jihad yang
> > pada intinya mengutuk para pejuang India yang melakukan perlawanan
> > terhadap penjajahan Inggris ketika itu.
> >
> > Kelima, Orang Ahmadiyah mempunyai perhitungan tanggal, bulan dan tahun
> > sendiri. Nama bulan Ahmadiyah adalah: 1. Suluh 2. Tabligh 3. Aman 4.
> > Syahadah 5. Hijrah 6. Ihsan 7. Wafa 8. Zuhur 9. Tabuk 10. Ikha' 11.
> > Nubuwah 12. Fatah. Sedang tahunnya adalah Hijri Syamsi yang biasa mereka
> > singkat dengan H.S.
> >
> > Dari lima perbedaan prinsipil di atas, jelas orang-orang Ahmadiyah
> > memiliki keyakinan dan sistim yang berbeda dengan kaum Muslimin. Maka,
> > ketika mereka mengkafirkan orang Islam (dalam pandangan mereka) adalah
> > sangat wajar. Sebab memang, orang-orang Islam sejati tidak
> > mengimani/meyakini ajaran mereka, sehingga wajar kalau mereka memang
> > kafir kepada ajaran Ahmadiyah Qadiyaniah.
> >
> > Inti permasalahan
> >
> > Maka, isu Ahmadiyah bukan pada "religious freedom" atau isu kebebasan
> > beragama. Melainkan isu "penodaan" agama Islam yang dianut secara luas
> > oleh masyarakat setempat. Kalaulah seandainya Ahmadiyah diakui sebagai
> > agama, sekte, keyakinan baru yang sama sekali tidak dikaitkan dengan
> > ajaran Islam yang murni, tentu tidak akan menimbulkan permasalahan.
> > Kejawen dan praktek-praktek keyakinan lokal juga kan tidak pernah selama
> > ini dipermasalahkan.
> >
> > Maka, ketika Majelis Ulama Indonesia menfatwakan bahwa Ahmadiyah sesat
> > dan melaporkan ke Kejaksaan Agung sebagai bukan ajaran Islam, mereka
> > telah melakukan fungsinya sebagai pembenteng akidah umat. Yang aneh
> > adalah jika ada pemutar balikan yang terjadi dalam ajaran Islam, lantas
> > ulama diam atau malah mendukung. Bagi saya, ini adalah ulama yang
> > memiliki pemikiran terjungkir.
> >
> > Namun demikian, dengan segala hak umat Islam membela akidah dan
> > kemurnian ajaran agamanya, adalah tidak sama sekali dibenarkan untuk
> > melakukan kekerasan-kekerasan dan pengrusakan. Prilaku kekerasan dan
> > pengrusakan adalah prilaku yang bertentangan dengan ajaran Islam dan
> > tauladan Rasulullah SAW. Sebaliknya, justeru akan menampakkan Islam pada
> > posisi yang semakin tidak menguntungkan.
> >
> > Akhirnya, sebagaimana saya sampaikan kepada delegasi Ahmadiyah Amerika,
> > ada dua alternatif bagi mereka:
> >
> > Pertama, deklarasikan sendiri bahwa Ahmadiyah adalah agama baru dan
> > bukan Islam, atau kedua, tetap mengaku Muslim dengan kesesatan-kesesatan
> > tapi dipandang sebagai "pengacau" dan "penoda" agama orang lain.
> >
> > Jika alternatif kedua yang dipilih, akan sangat wajar jika nantinya
> > timbul berbagai reaksi dari masyarakat yang merasa dirugikan
> > (victimized) . Kalau tetap ingin tegar menghadapi reaksi-reaksi
> > tersebut, silahkan maju tak gentar. Hadapi reaksi umat Islam melalui
> > prosedur hukum dan politik yang ada. Toh pada akhirnya dalam dunia (what
> > so called) demokratik saat ini, semua ditentukan oleh kekuatan dan
> > kelihaian argumentasi yang dimiliki oleh masing-masing pihak.
> >
> > Yang pasti, umat Islam yang sadar akan tetap melihat "kesesatan" (baca
> > kekufuran) itu selama mereka masih bertahan dengan keyakinan mereka.
> > Semoga saja keputusan pemerintah melihat secara jelas permasalahan ini,
> > sehingga tidak terjadi opresi kepada mayoritas atas nama membela
> > minoritas. Lebih tragis lagi jika pembelaan itu hanya karena sebuah
> > tekanan dari orang lain atas nama "kebebasan beragama", yang dalam
> > konteks Ahmadiyah di Indonesia adalah out of context![
> > www.hidayatullah.com
> > 
> <<http://hidayatullah.com/index.php?option=com_content&task=view&id=6136&;>http://hidayatullah.com/index.php?option=com_content&task=view&id=6136&;
>  
>
> > Itemid=1> ]
> >
> > New York, 8 Januari 2008
> >
> > * Penulis adalah imam Masjid Islamic Cultural Center of New York. Syamsi
> > adalah penulis rubrik "Kabar Dari New York" di www.hidayatullah.com
> >


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke