Wanita yang Mengarang Harapan
  Oleh: Didik L. Pambudi (www.didikelpambudi.blogspot.com)
              Dia adalah wanita yang kukenal di suatu pagi ketika aku hendak 
mengisi dadaku dengan udara segar. Dia datang begitu saja tanpa salam tanpa 
senyuman.           Ia manis dan menarik seperti biasanya gadis yang biasa 
bangun pagi. Tetapi yang paling menarik dari dirinya adalah kesukaannya pada 
imajinasi.
              “Imajinasi membuat kita selalu memiliki harapan. Tanpa harapan 
kita tak tahu untuk apa kita hidup,” katanya.
              Aku sendiri tak mengerti mengapa aku tertarik kepada wanita yang 
selalu muncul di kala fajar tiba. Ia tidak sedang berolahraga. Ia seperti juga 
aku hanya bangun untuk menikmati kicau burung dan sejuk embun. 
              “Burung-burung ini akan segera punah jika kita tak pernah 
menghargai perannya untuk menyenangkan para penghuni bumi,” katanya.
              Aku tak mengerti, mengapa ia peduli, tetapi jelas aku sangat 
senang  berada di dekatnya.
              “Mungkin aku terlalu sentimentil ya? Aku memang seorang 
pengarang,” katanya.
              “Pengarang apa?” Tanyaku.
              “Apa saja.”
              “Puisi?”
              “Ya.”
              “Cerpen?”
              “Heeh.”
              “Novel?” 
              “Kadang.”
              “Skenario?”
              “Pernah.”
              “Tentang apa saja?” Tanyaku.
              “Apa saja.”
              “Kehidupan?”
              “Ya.”
              “Kemausiaan?” 
              “Heeh.”
              “Alam?”
              “Kadang.”
              “Harapan?”
              “Selalu.”
              Aku tak pernah memahami mengapa gadis itu begitu senang 
mengarang. Ia mengarang dan menulis tentang apa saja. Sering aku malah tak 
mengerti apa yang dikarangnya, apa yang ditulisnya. Terlalu aneh. 
              “Mengapa kau menulis seperti ini? Begitu singkat begitu sulit 
dimengerti?”
              “Ini puisi.”
              “Apakah puisi harus ditulis demikian sulit dimengerti agar yang 
bisa memahaminya hanya orang-orang pintar saja?”
              “Tidak juga.”
              “Jadi untuk apa kau tulis seperti ini?”
              “Karena puisi ini memuat harapan.” 
              “Mengapa harapan tak pernah bisa dijelaskan dengan bahasa yang 
mudah dan gampang?”
              “Karena mewujudkan harapan memang tidak mudah dan gampang.”      
              “Jadi untuk apa kita memiliki harapan jika tak pernah bisa 
mewujudkannya?”
              Dia melihatku dengan  marah, “Berkali-kali aku katakan, kita 
terus hidup karena masih memiliki harapan. Tanpa harapan buat apa kita hidup?”
              “Lantas mengapa harapan harus dibahasakan dalam bahasa yang 
sulit?”
              “Karena demikianlah adanya. Karena begitulah peraturan yang ada. 
Peraturan yang membuat kita tak boleh bebas bicara harapan tanpa 
mengaduk-aduknya hingga pekat bagai comberan. ”
              Dia memang tak pernah bisa mengggambarkan harapannya dengan 
bahasa yang mudah dimengerti. Ia menunjukkan padaku puisi, cerpen, cerbung, 
novelet, novel, skenario, bahkan roman yang ditulisnya, tetapi semuanya  
ditulis dalam bahasa yang tak bisa kumengerti. 
              Begitupun, tentu aku tak merasa perlu lagi untuk bertanya. Bukan 
karena aku akhirnya bisa mengerti sedikit demi sedikit. Aku hanya tak ingin 
kehilangan teman yang menyenangkan saat berbincang di kala fajar tiba.
              Dia memang tidak selalu hadir untukku. Dia hanya datang setiap 
fajar tiba. Lantas undur  diri sebelum orang-orang bergegas menuju kesibukan 
masing-masing.
              “Mengapa begitu cepat?” Tanyaku.
              “Aku harus menulis, harus mengarang,” katanya.
              “Tentang harapan?”
              Ia tertawa. “Kamu sesungguhnya berbakat menjadi seorang penulis 
yang baik. Kamu juga menyukai fajar.” Ia berlalu.
              Aku tak  tahu, apakah aku berbakat menjadi pengarang. Jika yang 
dimaksudnya sebagai seorang pengarang adalah seorang yang membicarakan 
harapannya dengan kalimat-kalimat yang tak pernah bisa kumengerti maka 
sesungguhnya gadis itu telah salah. Aku tak pernah bisa menggambarkan apa pun 
dengan kalimat yang sulit dimengerti karena dalam kalimat yang paling sederhana 
pun aku bahkan mengalami kesulitan besar untuk mengungkapkannya.
              Jika yang dimaksudnya, aku berbakat mengarang karena menyukai 
fajar maka ia pun salah, aku tak pernah mampu mengambarkan indahnya fajar. 
Mendeskripsikan keindahannya bagi orang-orang. Aku hanya menyukai fajar. Aku 
menyukai sejuk dan embunnya. 
              ”Aku tak akan pernah mampu menggambarkan keindahan fajar dalam 
bahasa yang begitu indah, dalam kalimat yang penuh dengan kata-kata puitis,” 
ujarku ketika kami bertemu lagi keesokan hari, menjelang fajar.
              “Fajar memang susah untuk digambarkan keindahannya. Kita hanya 
menunggu-nunggunya tetapi ia tak juga muncul,” ujarnya dengan mimik sedih.
              “Kau mungkin gila,” aku bercanda, ”setiap hari kita bersama duduk 
berdua menunggu fajar dan menikmatinya ketika fajar itu tiba. Sudah 
berhari-hari, bahkan berbulan-bulan. Bahkan sebentar lagi pun fajar itu akan 
terbit.” Lantas aku tertawa.
              “Apa yang kau tertawakan. Memang tak pernah ada fajar yang 
sejati. Tak pernah ada harapan yang jelas. Harapan yang kau lihat di langit 
yang tampak memerah karena mentari mulai beranjak naik itu hanya harapan semu. 
Harapan yang cuma bisa kau pandang dan kau impikan, tetapi tak pernah bisa kau 
nikmati. Aku tak akan pernah kenyang dengan harapan atau fajar yang kau 
saksikan di langit itu,” ia memakiku. 
              Aku tentu tak sakit hati. Ia sudah biasa memaki kebodohanku yang 
dianggapnya tak pernah peduli pada harapan.
              “Kita harus memperjuangkan harapan. Meskipun harapan itu cuma 
angan-angan yang tak pernah terwujud. Kita harus memperjuangkannya dengan cara 
kita masing-masing. Belajarlah membuat puisi,” ujarnya suatu kali memberi 
nasehat.
              Tetapi aku tak pernah mengerti, bagaimana cara menuliskan harapan 
pada puisi. Ia memang telah menunjukkan ratusan puisinya yang katanya bercerita 
tentang harapan. Tetapi apa yang ia tulis itu ketika kubaca hanya rangkaian 
kalimat yang bercerita tentang perang; kematian, pengkhianatan, perampokan, 
korupsi, pembunuhan, kelaparan…. Aku tak pernah melihat harapan dalam puisi 
yang diceritakanya itu. Begitupun, aku kali ini tak ingin lagi menyatakan 
kebodohanku itu. Aku memang ingin selalu jujur padanya, tetapi aku tak ingin 
membuatnya menderita karena aku tak melihat harapannya. Aku bahkan berjanji 
padanya akan membuat satu puisi yang memuat harapan meskipun aku tak tahu 
apakah aku akan sanggup membuatnya.
              “Kita memang harus memperjuangkan harapan. Terima kasih kamu juga 
akhirnya mau memperjuangkan harapan,” ujarnya yang bahkan harus mengusap air 
mata saking terharu mendengar janjiku.
              Kemudian kami kembali bercerita tentang harapan. Sekali ini aku 
tak mau lagi mendebatnya. Aku tak pernah memprotes ceritanya tentang harapan 
yang tak pernah bisa kubayangkan seperti apa bentuknya. aku hanya mengikuti 
saja alur ceritanya. Aku amini saja ketika ia bercerita tentang petani renta 
yang kehilangan sawah, nelayan yang kini tak mampu lagi menjaring ikan di laut, 
prajurit yang gugur di medan laga entah untuk kepentingan siapa, gadis-gadis 
usia belasan yang telah mendagangkan kelamin mereka demi sesuap nasi. Aku 
mengiyakan saja seluruh ceritanya hingga kami berpisah.
              Itulah fajar terakhir yang kunikmati bersamanya. Ia tak pernah 
lagi terlihat meskipun aku terus menunggunya dengan rasa rindu yang mendalam. 
Kemudian aku mendengar, banyak orang bercerita bahwa seorang gadis pengarang 
yang menentang penindasan hilang entah ke mana.
              Aku tak tahu apakah sang gadis pengarang adalah gadis yang 
mengarang begitu banyak puisi, cerpen, cerbung, novelet, novel, skenario, 
bahkan roman. Aku tak tahu  apakah gadis hilang itu adalah gadis yang 
menemaniku setiap fajar untuk mendongengiku tentang harapannya. Aku tak tahu.
              Aku kini hanya mengungkapkan kerinduanku pada gadis itu dengan 
menuliskan berbagai puisi, cerpen, cerbung, novelet, novel, skenario, bahkan 
roman yang bercerita tentang tiadanya harapan. Aku tak pernah tahu bagaimana 
bentuk harapan itu. Aku hanya ingin membuatnya senang karena di satu puisinya 
ia menuliskan kalimat “di negeri biadab ini, mana pernah ada harapan”. 
              Kupikir, biarlah kalimat itu saja yang selalu kujadikan tema 
tulisanku.
  
       
---------------------------------
Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di bidang Anda di Yahoo! 
Answers

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke