Sembilan Sembilan hingga Kosong Delapan
   
  Akal mungkin tak banyak berubah. Tetapi aku percaya ia berevolusi. Tema dua 
puluh laguku di September 1999 akhirnya mengalami penambahan pada satu lagu 
terbaru di September 2007, delapan tahun kemudian. 
  Tak pernah kukira, suatu saat aku sangat mengagumi gajah. Ingatannya; 
kesetiaannya; pendengarannya; nyalinya. Tetapi sungguh, di depan akal yang 
bicara nurani, gajah menjadi tak istimewa. Rasa ingin melihat orang-orang 
terkasih tertawa (bahkan kalau bisa 400 kali sehari seperti masa kanak) membuat 
kita selayaknya berjuang; berusaha sekuat tenaga agar mampu mengalahkan gajah. 
Maka kukomposisi lirik dan nada untuk membuat lagu berjudul “gajah pun kalah”; 
seperti telah kuposting tempo hari.
  Kau adalah apa yang kau tulis. Sekali pena digoreskan, ia harus disebarkan.
  Maka aku pun menggali tulisan-tulisan lama di lubang-lubang yang selama ini 
tersiakan dan tak pernah terpublikasikan. Sayang, hanya sedikit tersisa dari 
ratusan pamflet yang pernah kutulis. Tentu aku menyesal mencampakkan tiga buku 
antologi puisiku (serta satu antologi cerpen) karena aku mungkin tak akan 
pernah lagi menemukannya. 
  Selanjutnya, inilah pamflet tersisa itu. Silahkan membaca; mengupas; dan 
memakinya. Lebih  jauh simak www.didikelpambudi.blogspot.com.
     
Tabik
  Didik  L. Pambudi
   
      

  Sajak tentang Istri yang Setia
     
seorang istri yang setia 
  adalah perempuan terdungu di jagat raya
  bagaimana dia bisa percaya
  pada legenda sinta yang suci di tengah kaum durjana
  bagaimana dia bisa maklumi 
  keserakahan lelaki pada birahi
   
  seorang istri yang setia
  adalah potret ibu dengan berlusin putra
  bagaimana dia tulus mengabdi
  menjadi budak suami demi darah dagingnya 
  bagaimana dia bisa begitu gaib
  bagai sawah subur di musim kemarau
   
  seorang istri yang setia
  adalah lukisan mengerikan di muka bumi
  bagaimana dia begitu teguh 
  memegang berjuta adat tata krama
  bagaimana dia bisa patuhi semua dogma
  padahal keyakinan itu mencincangnya
   
  seorang istri yang setia 
  tanpa kesetiaan pada langit jiwanya
  seorang istri yang setia
  tanpa keyakinan pada nuraninya
  adalah seorang istri yang mahabahaya
  September, 1999 
  _______________________________
   
  Sajak Korban Perkosaan
   
  bulan di langit mencerahkan malam, kata kalian
  bulan di langit tak bisa membuatku berlindung pada gelap 
   
  dengarlah tangisku 
  setelah sekian lama kupelihara kesucianku
  tahukah kalian?
  bahkan pada kekasihku mahkota itu tak sudi kuberi
  dengarlah rintihanku
  rintih berpanjangan saat hari-hari selanjutnya cuma kelam
   
  bagaimana kalian bisa begitu tolol
  mencumbui seorang makhluk yang menolak cumbu
  bagaimana birahi kalian galak bergolak
  padahal bahkan nuraniku muntah berak 
   
  : seharusnya tak mungkin kau rasakan kenikmatan
    karena tak ada senyum yang bisa kuberikan 
    takkan mungkin kau bisa terpuaskan 
    sebab jiwaku melaknat benihmu
    takkan mungkin kau resap kebahagiaan 
    karena kutukku mengikuti langkahmu
   
  bulan di langit mencerahkan malam, kata kalian
  bulan di langit tabraklah  bumi, doaku
   
  Semarang, September 1999
   
  _________________________________
   
  Sajak Cinta Seorang Senja
   
  tak mungkin kedamaian itu kutepiskan
  aku mencintai bukan karena rupa dan lenggangmu
  jiwa yang bisa menyejukkan kemarau
  jiwa yang bisa meredakan amarah
  jiwa yang bisa menyabarkan ambisi
  tak mungkin kedamaian itu kulupakan
   
  tak mungkin kedamaian itu kuhapuskan
  aku membutuhkan bukan karena pelayanan dan pengertianmu
  hati yang tenang tanpa pergolakan 
  hati yang bersih tanpa keserakahan
  hati yang bening tanpa kekelaman
  tak mungkin kebahagiaan itu kusingkirkan
   
  tak mungkin kau kutinggalkan 
  bahkan doaku 
  maut merangkul kita bersamaan
   
  September, 1999
  
       
---------------------------------
Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di bidang Anda di Yahoo! 
Answers

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke