1 Suro: Apa Maknanya Sekarang? Radio Nederland Wereldomroep 10-01-2008
Rabu malam kemarin, masyarakat Jawa menyambut 1 Suro, awal bulan pertama kalender Jawa, diciptakan Sultan Agung dari Mataram, di Yogyakarta. Apa arti bulan Suro bagi masyarakat Jawa sekarang? Apakah masih dianggap penting? Bagaimana kalau orang tutup usia pada tanggal 1 Suro atau pada bulan Suro? Berikut penjelasan Permadi, anggota fraksi PDIP yang juga mendalami kejawèn, kepada Radio Nederland Wereldomroep. Bulan suci Permadi: "Kalau 1 Suro harus diperingati dengan keprihatinan, antara lain dengan tirakat, dengan puasa, dengan meditasi, dengan mencuci pusaka-pusaka, dengan adat-istiadat di mana orang tidak boleh berbicara dan lain sebagainya. Karena 1 Suro sampai sebulan penuh dianggap bulan yang suci, selama bulan Suro ini tidak boleh melakukan perhelatan-perhelatan besar, atau pekerjaan-pekerjaan yang membawa resiko, misalnya pernikahan, pindah rumah, membuat rumah dan lain sebagainya. Jadi ada kepercayaan kalau itu dilanggar, maka akibatnya akan ditanggung oleh orang yang melanggar itu. Juga pernikahan misalnya, dilakukan pada bulan Suro, itu akan cerai, akan cekcok dan lain sebagainya." Radio Nederland Wereldomroep: "Apa arti 1 Suro bagi masyarakat Jawa sekarang? Apakah masih dianggap penting?" Permadi: "Sekarang justru mulai lagi setelah beberapa tahun ini, 1 Suro dianggap penting, sekalipun mungkin isinya masih belum begitu didalami. Kalau beberapa tahun yang lalu 1 Suro dianggap biasa, tidak diperingati dan lain sebagainya, sudah kira-kira lima tahun ini, generasi muda pun ikut-ikut memperingati. Barangkali isinya belum dihayati benar. Tetapi paling tidak mereka sudah ikut memperingati, misalnya mereka pergi ke tempat-tempat yang dianggap suci. Misalnya di atas gunung Lawu, di Parangtritis, di Parangkusumo, biasanya penuh dengan generasi muda yang barangkali masih ikut-ikutan." "Demikian pula kirap-kirap kraton, baik di Yogya maupun di Solo, diikuti oleh generasi muda. Banyak sekali generasi muda yang ikut kirap pusaka, ikut tapa bisu, artinya tidak boleh berbicara dan lain sebagainya. Ikut bersama-sama kerbau bule, mengeliling Kraton Solo, mengelilingi kota Sola dan lain sebagainya. Jadi setapak demi setapak, nampaknya kembali terjadi 1 Suro akan menjadi hari yang dirayakan oleh seluruh orang Jawa." Apakah berbagai upacara yang digelar pada 1 Suro masih tetap dipertahankan di abad 21 ini? Apakah generasi mendatang tetap meneruskan tradisi ini? Ikuti penjelasan Permadi di situs web kami: http://www.ranesi.nl/arsipaktua/indonesia060905/suro_makna080110 Simak jawaban lengkap Permadi Radio Nederland Wereldomroep [Non-text portions of this message have been removed]

