Menyedihkan. Lalu dimana ketika itu umat Muslim yang notabene adalah mayoritas
bangsa yang malang ini? Berpangku tangan? Bukankah bung Karno dibesarkan dari
kalangan Muhamadyah ditengah keluarga HOS Cokroaminoto?
mediacare <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
REFLEKSI J. GEDE ARKA: Tidak perlu heran. Bung Karno (BK) adalah
sosok orang biasa yang berkuasa bukan karena pedang ditangannya. Berbeda dengan
mantan presiden pak Harto yang berkuasa karena tangannnya pegang pedang. BK
tidak menyiapkan anak-anaknya untuk menjadi pemilik jalan tol dls. Sedangkan
pak Harto menyiapkan anak-anaknya menjadi pemilik barang-barang milik umum
seperti jalan tol, perusahan air minum dll. yang dalam UUD 45 merupakan
benda-benda yang seharusnya menjadi milik umum (negara).
BK tidak membuat negara RI menjadi negara penghutang dan korup. Sedangkan pak
Harto telah membuat negara RI menjadi negara penghutang dan terkorup. Dengan
sendirinya atas jasa pak Harto itu (perbuatannya itu) oleh kroni-kroninya
dianggap sebagai pembangunan dan untuk itu pak Harto harus dibebaskan dari
kasusnya. BK karena tidak berbuat seperti pak Harto maka harus diperlakukan
sebaliknya. Jangan lupa bahwa NKRI dibawah ORBA sampai sekarang adalah negara
hukum untuk yang berkuasa.
e-mail: [EMAIL PROTECTED]
----------------------------------------------------------
Bali Post - Minggu Kliwon, 13 Januari 2008
Apa yang Terjadi ketika Bung Karno Sakit?
Ketika kondisi kesehatan Pak Harto makin kritis, ada baiknya kita melongok
bagaimana kondisi ketika mantan Presiden RI Soekarno alias Bung Karno (BK) saat
sakit. Sebagian warga Indonesia tak mengetahui kondisi BK saat itu, apalagi ada
yang menghubungkan dengan peran Pak Harto. Bagaimana keadaan Bung Karno
menjelang ajal menjemput nyawanya?
---
UNTUK menjawab rasa penasaran banyak orang itu, Rachmawati Soekarnoputri
membongkar sejumlah dokumen tentang kesehatan Bung Karno, 11 Mei 2006 lalu di
kantor Yayasan Pendidikan Soekarno (YPS), di kawasan Cikini, Jakarta Pusat.
Dokumen-dokumen berusia 36 tahun itu menggambarkan kondisi kesehatan Bung
Karno, terutama setelah dia tidak lagi menjadi presiden. Juga menggambarkan
perlakuan penguasa ketika itu terhadap Bung Karno.
Memasuki pertengahan Agustus 1965, kesehatan Bung Karno drop drastis. Pada 4
Agustus, ia terjatuh dan kolaps di kamarnya di Istana Merdeka, Jakarta.
Sejumlah kabar menyebutkan Bung Karno terjatuh karena serangan stroke. Dia
sempat dibawa ke Istana Bogor untuk mendapat perawatan intensif.
Peristiwa Bung Karno kolaps sempat melahirkan berbagai rumor yang sulit
dikonfirmasi. Sempat pula berkembang spekulasi yang mengatakan bahwa Bung Karno
tidak akan mampu menyampaikan pidato kenegaraan pada peringatan hari Proklamasi
17 Agustus 1965.
Kesehatan Bung Karno yang memburuk ini pula yang ikut memperpanas konstelasi
politik nasional saat itu. Suhu politik dan persaingan antara Partai Komunis
Indonesia (PKI) yang sebelumnya sempat mengusulkan ide angkatan kelima dengan
TNI Angkatan Darat semakin panas.
Kehadiran tim dokter dari Republik Rakyat Tiongkok (RRT) yang membantu
pengobatan Bung Karno juga mempertajam konflik di antara PKI dan AD. Sebab RRT
dianggap sebagai sponsor utama ide angkatan kelima yang bikin resah itu. Di
tengah suhu politik yang makin panas, Bung Karno kembali muncul pada peringatan
detik-detik Proklamasi ke-20 di Istana Merdeka. Dia hadir lengkap dengan
pakaian kebesaran dan tongkat komando yang seakan tak pernah lepas dari
genggaman.
Singkat cerita, Maret 1967, Soeharto dilantik sebagai pejabat presiden. Sejak
itu Bung Karno dikucilkan dan dilarang menginjakkan kaki di Jakarta. Maret
1968, Soeharto dilantik sebagai presiden. Menyusul pelantikan itu, di awal
April 1968, Bung Karno angkat kaki meninggalkan Istana Bogor.
Dari istana yang berseberangan dengan Kebun Raya Bogor, Bung Karno pindah ke
Batu Tulis. Tetapi udara Bogor yang dingin kala itu amat mengganggu
kesehatannya yang tak kunjung membaik. Rematik Bung Karno semakin parah dan
menyerangnya bertubi-tubi setiap hari. Di saat sakit yang semakin tak
tertahankan, Bung Karno mengutus Rachma ke Jakarta, menyampaikan surat
permohonan kepada Soeharto agar dia diperbolehkan kembali ke Jakarta.
Beberapa bulan kemudian, Bung Karno kembali menginjakkan kakinya di Jakarta,
tepatnya di Wisma Yasso, Jalan Jenderal Gatot Subroto. Di Wisma Yasso, rumah
Dewi Soekarno yang kini menjadi Museum Satria Mandala itu, Bung Karno dijaga
ekstra ketat siang dan malam.
''Ada satu periode di mana kami, anak-anaknya, tak boleh bertemu dengan beliau.
Begitu juga dengan kerabat keluarga yang lain. Tetapi ada satu periode di mana
saya bisa menjenguk Bapak tiga hingga empat kali dalam seminggu,'' kenang
Rachma.
Tanggal 6 Juni 1970, bertepatan dengan hari ulang tahun Bung Karno yang ke-69,
Rachma dan Guruh menjenguk Bung Karno di Wisma Yasso. Rachma masih ingat, saat
itu Bung Karno tengah berbaring di sofa. Sekujur tubuhnya bengkak. Suaranya
sudah tak jelas lagi. Begitu juga dengan pandangan matanya.
''Sakit ginjal yang diderita Bapak tak pernah diobati secara layak,'' ujar
Rachma lagi. Dalam kunjungan itu, Rachma memotret Bung Karno. Foto itu kemudian
diberikan Rachma kepada seorang jurnalis kenalannya. Urusan memotret ini
membuat Rachma berurusan dengan Corps Polisi Militer (CPM).
''Mengapa saya tak boleh memotret BK. Memang status BK apa,'' tanya Rachma
ketika diinterogasi.
Dengan ringan si pejabat CPM menjawab, Bung Karno adalah tahanan. ''Setelah
bertahun-tahun, itu adalah pengakuan pertama dari mulut mereka,'' kata Rachma.
Beberapa hari setelah kunjungan Rachma itu, Bung Karno dilarikan ke Rumah Sakit
Pusat Angkatan Darat (RSPAD). Kesehatannya makin memburuk.
Tanggal 21 Juni 1970, sekitar pukul 04.30 WIB, pihak RSPAD menghubungi Rachma.
Dia diminta segera ke RSPAD menemui Bung Karno. Sekitar pukul 07.00 WIB, Rachma
dan saudara-saudaranya dipersilakan memasuki ruang rawat Bung Karno. Alat bantu
pernapasan dan jarum infus telah dilepas. Bung Karno tergolek lemah. Matanya
tertutup rapat, napasnya satu-satu. Tak lama, malaikat maut menjemput sang
proklamator itu. (net)
http://www.balipost .co.id/BaliPostc etak/2008/ 1/13/n2.htm|
mediacare
http://www.mediacare.biz
[Non-text portions of this message have been removed]
---------------------------------
Never miss a thing. Make Yahoo your homepage.
[Non-text portions of this message have been removed]