Kronik Dokumentasi Wida:
   
   
  "PENYAIR BALI" TAN LIOE IE DI PARIS
   
   
  Menggunakan kehadirannya di Negeri Belanda, "penyair Bali" Tan Lioe Ie telah 
diundang oleh Lembaga Persahabatan Perancis- Indonesia "Pasar Malam" untuk 
mengadakan acara pembacaan puisi dan pergelaran musik di Paris. Seperti 
diketahui,  Tan Lioe Ie yang biasa dipanggil Yokki ini  datang ke Negeri 
Belanda atas undangan  The International Literary Festival Winternachen, 
kegiatan sastra internasional  yang diselenggarakan secara periodik. Yokki 
hadir bersama Pio Letta Simatupang dari Bandung. 
   
   
  Kehadiran para penulis Indonesia ke acara ini bukanlah hal baru, karena saban 
penyelenggaraannya selalu menghadirkan para sastrawan negeri kita secara 
bergantian. Rendra, Radar Panca Dahana, Dorothea Rosa Herliany, hanyalah  
beberapa nama yang pernah turut memeriahkan Festival Winternachen ini.
   
   
  Menurut berita Antara 13 Januari 2008, di Belanda Yokki akan berada selama 
empat hari 16-20 Januari 2008 untuk pentas dan peluncuran buku kumpulan puisi 
yang diberi judul "Nach Van De Lampionen" [Malam Cahaya Lampion] terjemahan 
Linde Voute.


Buku yang diterbitkan dalam bahasa Belanda oleh penerbit Uitgeverij Conserve. 
memuat 64 puisi yang seluruhnya merupakan karya-karya terbaiknya. 
   
   
  Memanfaatkan   kesempatan ini, maka Lembaga Persahabatan Perancis-Indonesia 
"Pasar Malam" telah mengundang Yokki ke Paris untuk mengisi acara khusus 
untuknya. Pada kesempatan ini Yokki akan membaca 10 puisi musik. Jauh sebelum 
kedatangan Yokki, "Pasar Malam"sudah memperkenalkan Tan Lioe Ie melalui sebuah 
artikel dalam Majalah Le Banian [No. 4] ,organ resmi Lembaga Persabahatan 
Perancis-Indonesia, Paris -- yang berkegiatan menggunakan pendekatan 
kebudayaan.  
   
   
  Berikut adalah sebuah puisi Tan Lioe Ie yang diterjemahkan ke dalam bahasa 
Perancis oleh Dominique Maison, anggota "Pasar Malam" dalam rangka menyongsong 
kehadiran Yokki:
   
   
    Nuit a la lueur des lampions 
   
   
  tRADUIT PAR DOMINIQUE mAISON
   
   
  Lampion. Danse du dragon aile
  Sur cette terre. Terre de ma vie, 
  Lieu que les vents premiers ont touche.
   
  Tes yeux tranchants comme des rasoirs
  M’écorchent. Suis-je possede
  Ou enivre? Enfouie
  Ma tete. Imagine que 
  Nous sommes ecorches par le monde
  Et que les fourmis font leur nid 
  Dans nos orbites.
   
  Le corps n’est pas eternel
  L’ame est emportee par le dragon
  Dans la nuit à la lueur des lampions
  En un temps
  Illisible dans la paume du destin.
   

   
   
  Seperti kebiasaan di Perancis, maka usai pembacaan puisi ini nanti, akan 
dilanjutkan dengan debat tentang sastra dan tentu saja mengenai panorama puisi 
Indonesia kekinian. Christine Cabasset akan memorator pertemuan dalam dua 
bahasa: Inggris dan Perancis . Dan biasanya juga dalam bahasa Indonesia.  
Sebenarnya Malam Puisi Musikal ini akan lebih menarik lagi jika Pio Letta 
Simatupang bisa hadir. Apalagi, Pio Letta bukan orang yang buta akan sastra 
Perancis dan menurut berbagai sumber ia pun bisa mengungkapkan diri dalam 
bahasa Perancis. Diperkirakan [karena belum ada konfirmasi dari pihak "Pasar 
Malam], acara puisi-musikal yang akan diselenggarakan pada 21 Januari 2008 
malam ini dilangsungkan di Koperasi Restoran Indonesia , 12 Rue de Vaugirard, 
75006 Paris, dilanjutkan dengan makan malam bersama. 
   
   
  Direncanakan dari Paris, Tan Lioe Ie akan melanjutkan perjalanan ke Berlin, 
untuk menghadiri festival musik internasional di ibukota Jerman itu.
   
   
  Ketika membaca berita Antara  [13 Januari 2008] tentang perjalanan ke Eropa 
"penyair Bali" Tan Lioe Ie, dalam hati aku merasa girang.  Penamaan "penyair 
Bali" kepada Tan Lioe Ie , tersirat bagiku pengakuan bahwa etnik Tionghoa di 
negeri kita memang merupakan suatu etnik dari satu bangsa dan asal etnik mana 
pun merupakan warga negara Republik Indonesia. Sehingga istilah "warga 
keturunan" jadinya merupakan konsep dan mempunyai dasar wacana yang keliru. 
Siapakah yang "asli" di negeri dan di bangsa ini? Apakah "keaslian" merupakan 
jalan selamat dan nalar untuk menapaki hari ini menuju esok ?
   
   
  Selamat datang di Paris "penyair Bali" Tan Lioe Ie. Melalui keragaman nama 
ini pun , aku melihat indahnya Indonesia dan agungnya nilai republiken.
   
   
   
  Paris, Musim Dingin 2008
  ------------------------------------
  JJ. Kusni, pekerja biasa pada Koperasi Restoran Indonesia, Paris.

       
---------------------------------
 
 Real people. Real questions. Real answers. Share what you know.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke