Dari milis Formasi, di kirim kemarin, 16 Januari 2008. Maaf, kalau sudah 
penah baca...
Penyair Taufiq Ismail menulis sebuah artikel tentang Krismansyah Rahadi 
(1949-2007) di majalah sastra HORISON. 
Krismansyah Rahadi (1949-2007): KETIKA MULUT TAK LAGI BERKATA  (Taufiq 
Ismail)
Di tahun 1997 saya bertemu Chrisye sehabis sebuah acara, dan dia berkata, 
" Bang, saya punya sebuah lagu, Saya sudah coba menuliskan kata-katanya, 
tapi saya tidak puas. Bisakah Abang tolong tuliskan liriknya?" Karena saya 
suka lagu-lagu Chrisye, saya katakan bisa. 
Saya tanyakan kapan mesti selesai, dia bilang sebulan. Menilik kegiatan 
saya yang lain, deadline sebulan itu bolehlah. Kaset lagu itu 
dikirimkannya, berikut keterangan berapa baris lirik diperlukan, dan untuk 
setiap larik berapa jumlah ketukannya, yang akan diisi dengan suku kata. 
Chrisye menginginkan puisi relijius. Kemudian saya dengarkan lagu itu. 
Indah sekali. Saya suka betul. Sesudah seminggu, tidak ada ide. Dua minggu 
begitu juga. Minggu ketiga inspirasi masih tertutup. Saya mulai gelisah. 
Di ujung minggu keempat tetap buntu. Saya heran. Padahal lagu itu cantik 
jelita. Tapi kalau ide memang macet, apa mau dikatakan. Tampaknya saya 
akan telepon Chrisye keesokan harinya dan saya mau bilang, " Chris, maaf 
ya, macet. Sori." Saya akan kembalikan pita rekaman itu. 
Saya punya kebiasaan rutin baca Surah Yasin. Malam itu, ketika sampai ayat 
65 yang berbunyi, A'udzubillahi minasy syaithonirrojim. "Alyauma nakhtimu 
'alaa afwahihim, wa tukallimuna aidhihim, wa tasyhadu arjuluhum bimaa 
kaanu yaksibuun" saya berhenti. Maknanya, "Pada hari ini Kami akan tutup 
mulut mereka, dan tangan mereka akan berkata kepada Kami, dan kaki mereka 
akan bersaksi tentang apa yang telah mereka lakukan." Saya tergugah. 
Makna ayat tentang Hari Pengadilan Akhir ini luar biasa! Saya hidupkan 
lagi pita rekaman dan saya bergegas memindahkan makna itu ke larik-larik 
lagi tersebut. Pada mulanya saya ragu apakah makna yang sangat berbobot 
itu akan bisa masuk pas ke dalamnya. 
Bismillah. Keragu-raguan teratasi dan alhamdulillah penulisan lirik itu 
selesai. Lagu itu saya beri judul Ketika Tangan dan Kaki Berkata. 
Keesokannya dengan lega saya berkata di telepon," Chris, alhamdulillah 
selesai". Chrisye sangat gembira. Saya belum beritahu padanya asal-usul 
inspirasi lirik tersebut. 
Berikutnya hal tidak biasa terjadilah. Ketika berlatih di kamar 
menyanyikannya baru dua baris Chrisye menangis, menyanyi lagi, menangis 
lagi, berkali-kali. 
Di dalam memoarnya yang dituliskan Alberthiene Endah, Chrisye Sebuah 
Memoar Musikal, 2007 (halaman 308-309), bertutur Chrisye: Lirik yang 
dibuat Taufiq Ismail adalah satu-satunya lirik dahsyat sepanjang karier, 
yang menggetarkan sekujur tubuh saya. 
Ada kekuatan misterius yang tersimpan dalam lirik itu. Liriknya 
benar-benar benar mencekam dan menggetarkan. Dibungkus melodi yang begitu 
menyayat, lagu itu bertambah susah saya nyanyikan! Di kamar, saya 
berkali-kali menyanyikan lagu itu. Baru dua baris, air mata saya 
membanjir. Saya coba lagi. Menangis lagi. 
Yanti sampai syok! Dia kaget melihat respons saya yang tidak biasa 
terhadap sebuah lagu. Taufiq memberi judul pada lagu itu sederhana sekali, 
Ketika Tangan dan Kaki Berkata. Lirik itu begitu merasuk dan membuat saya 
dihadapkan pada kenyataan, betapa tak berdayanya manusia ketika hari akhir 
tiba. Sepanjang malam saya gelisah. Saya akhirnya menelepon Taufiq dan 
menceritakan kesulitan saya. "Saya mendapatkan ilham lirik itu dari Surat 
Yasin ayat 65..." kata Taufiq. Ia menyarankan saya untuk tenang saat 
menyanyikannya. Karena sebagaimana bunyi ayatnya, orang memang sering kali 
tergetar membaca isinya. Walau sudah ditenangkan Yanti dan Taufiq, tetap 
saja saya menemukan kesulitan saat mencoba merekam di studio. Gagal, dan 
gagal lagi. Berkali-kali saya menangis dan duduk dengan lemas. Gila! 
Seumur-umur, sepanjang sejarah karir saya, belum pernah saya merasakan hal 
seperti ini. Dilumpuhkan oleh lagu sendiri! Butuh kekuatan untuk bisa 
menyanyikan lagu itu. 
Erwin Gutawa yang sudah senewen menunggu lagu terakhir yang belum direkam 
itu, langsung mengingatkan saya, bahwa keberangkatan ke Australia sudah 
tak bisa ditunda lagi. Hari terakhir menjelang ke Australia, saya lalu 
mengajak Yanti ke studio,menemani saya rekaman. Yanti sholat khusus untuk 
mendoakan saya. 
Dengan susah payah, akhirnya saya bisa menyanyikan lagu itu hingga 
selesai. Dan tidak ada take ulang! Tidak mungkin. Karena saya sudah 
menangis dan tak sanggup menyanyikannya lagi. Jadi jika sekarang Anda 
mendengarkan lagu itu, itulah suara saya dengan getaran yang paling 
autentik, dan tak terulang! Jangankan menyanyikannya lagi, bila saya 
mendengarkan lagu itu saja, rasanya ingin berlari! Lagu itu menjadi salah 
satu lagu paling penting dalam deretan lagu yang pernah saya nyanyikan. 
Kekuatan spiritual di dalamnya benar-benar meluluhkan perasaan. Itulah 
pengalaman batin saya yang paling dalam selama menyanyi. 
Penuturan Chrisye dalam memoarnya itu mengejutkan saya. Penghayatannya 
terhadap Pengadilan Hari Akhir sedemikian sensitif dan luarbiasanya, 
dengan saksi tetesan air matanya. Bukan main. Saya tidak menyangka 
sedemikian mendalam penghayatannya terhadap makna Pengadilan Hari Akhir di 
hari kiamat kelak. 
Mengenai menangis ketika menyanyi, hal yang serupa terjadi dengan Iin 
Parlina dengan lagu Rindu Rasul. Di dalam konser atau pertunjukan, Iin 
biasanya cuma kuat menyanyikannya dua baris, dan pada baris ketiga Iin 
akan menunduk dan membelakangi penonton menahan sedu sedannya. Demikian 
sensitif dia pada shalawat Rasul dalam lagu tersebut. 
* * 
Setelah rekaman Ketika Tangan dan Kaki Berkata selesai, dalam peluncuran 
album yang saya hadiri, Chrisye meneruskan titipan honorarium dari 
produser untuk lagu tersebut. 
Saya enggan menerimanya. Chrisye terkejut. "Kenapa Bang, kurang?" Saya 
jelaskan bahwa saya tidak orisinil menuliskan lirik lagu Ketika Tangan dan 
Kaki Berkata itu. Saya cuma jadi tempat lewat, jadi saluran saja. Jadi 
saya tak berhak menerimanya. Bukankah itu dari Surah Yasin ayat 65, firman 
Tuhan? Saya akan bersalah menerima sesuatu yang bukan hak saya. 
Kami jadi berdebat. Chrisye mengatakan bahwa dia menghargai pendirian 
saya, tetapi itu merepotkan administrasi. Akhirnya Chrisye menemukan jalan 
keluar. "Begini saja Bang, Abang tetap terima fee ini, agar administrasi 
rapi. Kalau Abang merasa bersalah, atau berdosa, nah, mohonlah ampun 
kepada Allah. Tuhan Maha Pengampun 'kan?" Saya pikir jalan yang ditawarkan 
Chrisye betul juga. 
Kalau saya berkeras menolak, akan kelihatan kaku, dan bisa ditafsirkan 
berlebihan. Akhirnya solusi Chrisye saya terima. Chrisye senang, saya pun 
senang. 
* * 
Pada subuh hari Jum'at, 30 Maret 2007, pukul 04.08, penyanyi legendaris 
Chrisye wafat dalam usia 58 tahun, setelah tiga tahun lebih keluar masuk 
rumah sakit, termasuk berobat di Singapura. Diagnosis yang mengejutkan 
adalah kanker paru-paru stadium empat. Dia meninggalkan isteri, Yanti, dan 
empat anak, Risty, Nissa, Pasha dan Masha, 9 album proyek, 4 album 
sountrack, 20 album solo dan 2 filem. Semoga penyanyi yang lembut hati dan 
pengunjung masjid setia ini, tangan dan kakinya kelak akan bersaksi 
tentang amal salehnya serta menuntunnya memasuki Gerbang Hari Akhir yang 
semoga terbuka lebar baginya. Amin. 

Ketika Tangan dan Kaki Berkata 

Lirik : Taufiq Ismail 

Lagu : Chrisye 

Akan datang hari mulut dikunci 
Kata tak ada lagi 
Akan tiba masa tak ada suara 
Dari mulut kita 
Berkata tangan kita 
Tentang apa yang dilakukannya 
Berkata kaki kita 
Kemana saja dia melangkahnya 
Tidak tahu kita bila harinya 
Tanggung jawab tiba 
Rabbana 
Tangan kami 
Kaki kami 
Mulut kami 
Mata hati kami 
Luruskanlah 
Kukuhkanlah 
Di jalan cahaya.... sempurna 
Mohon karunia 
Kepada kami 
HambaMu yang hina 
1997 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke