Al-Quran versi baru telah ditemukan

lihat: 
http://www.derafsh-kaviyani.com/english/quran1.html 

atau: 

http://wapedia.mobi/en/Gerd_R._Puin 


Kehebohan baru yang bakal mengguncangkan umat Islam datang dari Doktor Gerd R. 
Puin, seorang pakar filologi dan ahli bahasa-bahasa Semitis. Pada 1979, pakar 
kaligrafi Arab dan paleografi Alquran dari Universitas Sarre, Jerman, itu 
diajak Kadi Ismail al-Akwa, Ketua Dinas Purbakala Yaman, untuk meneliti sebuah 
bungkusan kuno yang ditemukan di Sana'a, ibu kota Yaman, pada 1972. Bungkusan 
berisi perkamen (kulit kambing) dan kertas (suhuf) itu ditemukan saat 
pemerintah merenovasi masjid kuno di Sana'a, yang bocor akibat hujan lebat. 

Paket kuno yang ditemukan para pekerja di atap masjid agung itu kemudian 
diamankan Kadi Ismail al-Akwa karena ia yakin isinya pasti bernilai. Ia lalu 
meminta bantuan internasional untuk menganalisis tulisan di atas perkamen itu. 
Akhirnya, baru pada 1979 ia berhasil membujuk Puin untuk menelitinya, dengan 
bantuan dana dari Pemerintah Jerman. 

Berdasarkan penelitian awal, bisa dipastikan, perkamen Sana'a itu adalah mushaf 
Alquran paling tua di dunia, yang ditulis pada abad ketujuh dan kedelapan. 
Sebagaimana diketahui, hingga saat ini, ada tiga "kopi" mushaf Alquran yang 
sudah ditemukan. Dua mushaf Alquran abad kedelapan, masing-masing disimpan di 
Perpustakaan Tashkent, Uzbekistan, dan di Museum Topkapi di Istambul. 
Sementara, mushaf ketiga berupa manuskrip Ma'il dari abad ketujuh, disimpan di 
British Library, London, Inggris. 

Menurut Doktor Puin, kaligrafi pada mushaf Sana'a itu berasal dari Hijaz, 
sebuah wilayah Arab, tempat tinggal Nabi Muhammad saw. Dengan demikian, itu 
bukan hanya merupakan mushaf tertua di dunia, melainkan salah satu mushaf versi 
pertama. Perkamen itu mengandung variasi teks yang agak berbeda, surat-suratnya 
disusun tak biasa, dan gaya serta grafisnya sangat langka. Ia juga melihat 
adanya jejak teks yang dihapus dan digantikan dengan teks baru. Karena itulah, 
Puin menyimpulkan, Alquran pernah mengalami evolusi tekstual. "Dengan kata 
lain, apa yang umat Islam baca saat ini kemungkinan bukan satu- satunya "versi" 
yang diyakini telah diwahyukan Allah kepada Nabi saw.," tulis Abul Taher, pekan 
lalu, dalam koran Inggris, The Guardian. 

Kesimpulan Puin itu tentu saja akan sulit diterima umat Islam. Sebab, ayat-ayat 
dalam Alquran itu diwahyukan Allah kepada Nabi Muhammad saw. secara bertahap 
(610-632). Dan, setiap menerima wahyu, Nabi saw. selalu membacakannya di 
hadapan para sahabat. Menurut Ensiklopedi Islam (Jakarta, 1994), selain 
menyuruh para sahabatnya menghafal, Nabi saw. juga memerintahkan mereka untuk 
menuliskannya di atas pelepah kurma, lempengan batu, atau kepingan tulang. 
Menurut hadis yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim, untuk menjaga kemurnian 
Alquran, itu, setiap tahun Malaikat Jibril mendatangi Nabi untuk memeriksa 
bacaannya. Bahkan pada tahun Nabi saw. wafat, Malaikat Jibril datang dua kali 
dan mengontrol bacaan Nabi, sebagaimana Nabi sendiri selalu melakukan hal yang 
sama kepada para sahabat, selama hidupnya. Dengan demikian, terpeliharalah 
Alquran dari kesalahan dan kekeliruan. 

Dua puluh sembilan tahun setelah Nabi wafat, di bawah Usman, khalifah ketiga, 
sebuah versi baku Alquran ditetapkan dan dikodifikasi dalam bentuk buku, akibat 
adanya pelbagai versi Alquran, baik lisan maupun tertulis, yang banyak beredar 
di wilayah kekuasaan Islam. Kodifikasi itu dilakukan berdasarkan mushaf yang 
dihimpun Khalifah Abu Bakar, yang kemudian disimpan di rumah Hafsah, putri 
Khalifah Umar, yang juga istri Nabi saw. Karena itu, tak pernah ada lagi 
modifikasi dan kodifikasi Alquran sesudah Usman, yang disusun di bawah pimpinan 
Zaid bin Sabit. Mushaf Usmani dalam dialek Quraisy itu lalu dibuat lima kopi. 
Satu kopi disimpan di Madinah (mushaf al-Imam) 
dan empat lainnya dikirim ke Mekah, Suriah, Basrah, dan Kufah untuk disalin dan 
diperbanyak (EI, 1994). 
Apakah perkamen dari Sana'a itu adalah salah satu dari mushaf-mushaf itu, atau 
salinannya, belum bisa dipastikan. Yang jelas, menurut Puin, sebagaimana dalam 
tradisi litaratur Arab, perkamen Sana'a itu ditulis tanpa tanda-tanda 
diacritique (titik, aksen, koma, tanda huruf atau fonetik pengubah nilai). 
Artinya, perkamen itu ditulis lebih sebagai panduan bagi yang sudah hafal 
Alquran. Akibatnya, puluhan tahun kemudian, pembaca "Arab gundul" itu makin 
sulit memahaminya. Karena itulah, untuk memudahkan, Hajjaj bin-Yusuf, Gubernur 
Irak, 
pada 694-714, lantas melengkapi teks itu dengan pelbagai tanda. "Ia sangat 
bangga karena ia telah berhasil memasukkan lebih dari 
1.000 alif ke dalam teks Alquran," kata Puin. 
Kesimpulan Puin yang juga mengejutkan adalah: sumber-sumber pra-Islam, katanya, 
telah dimasukkan ke dalam Alquran. Misalnya, 
ihwal As Sahab ar-Rass dan As Sahab al-Aiqa. Soalnya, menurut Geographie karya 
Ptolomeus, suku Ar Rass hidup di Lebanon sebelum Islam, dan Al Aiqa hidup di 
wilayah Aswan, Mesir, sekitar 150 tahun sebelum Masehi. 

Bahkan, Puin tidak yakin Alquran ditulis dalam bahasa Arab murni. Sebab, kata 
"Quran" sendiri, yang berarti "kalam", "kitab", "bacaan", menurut Puin, berasal 
dari  sebuah kata Aramian, qariyun (penggalan bacaan teks suci saat menjalankan 
ibadah). 

Tak aneh bila Khalidi gusar atas usaha para Islamolog Barat seperti Puin, yang 
tak selalu menganalisis Alquran sebagaimana mereka melakukannya terhadap Injil. 
Khalidi bahkan cemas bila hasil penelitian Puin itu disebarluaskan, ia akan 
bisa dihukum oleh umat Islam, sebagaimana dialami Salman Rushdie akibat 
novelnya, Ayat-Ayat Setan (1988). Atau dihukum seperti Doktor Nasr Abu Zaid, 
dosen ilmu Alquran dari Universitas Kairo, pada 1995, akibat karyanya Le 
Concept du texte (1990), menyatakan, "Alquran hanyalah teks sastra, 
dan satu-satunya cara untuk memahami, menerangkan, menganalisis, dan 
mengadaptasinya hanyalah melalui pendekatan sastra." 

Toh, Salim Abdullah, Direktur Arsip Islam Jerman, yang berafiliasi pada Liga 
Islam Dunia, menanggapi kesimpulan Puin dengan sikap 
positif. "Doktor Puin sebelumnya telah meminta izin kepada saya, apakah ia 
boleh mempublikasikan salah satu karangannya tentang 
dokumen Sana'a. Ketika saya memperingatkan bahwa ia akan menghadapi 
kontroversi, Puin mengatakan, sudah lama ia menunggu 
adanya perdebatan mengenai hal itu," kata Salim. Padahal, sebelumnya, akibat 
kesimpulannya yang mengejutkan itu, Puin sendiri 
segera diusir dari Yaman dan ia dilarang melanjutkan penelitiannya.


mediacare
http://www.mediacare.biz


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke