antara cinta dan benci, hanya setipis kulit ari... saya kira mbak salma dulu itu naksir mas ulil, tapi ga kesampean... jadinya begini nih.. :)
salam, ananto On 1/18/08, mediacare <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Ini sudah sebulan lalu diposting, masih diposting lagi.... > > Lagi pula sudah ditanggapi oleh Ulil. > > Apa Salma ini sejenis robot ya? > > ----- Original Message ----- > From: sFe > To: [email protected] <ppiindia%40yahoogroups.com> ; > [EMAIL PROTECTED] <radityo_dj%40yahoo.com> ; [EMAIL > PROTECTED]<mediacare%40cbn.net.id>; > [EMAIL PROTECTED] <phyllobates.terribilis%40yahoo.com> ; > [EMAIL PROTECTED] <uztadmurtad%40yahoo.com> > Cc: [EMAIL PROTECTED] <zamanku%40yahoogroups.com> ; > [EMAIL PROTECTED] <al-ikhwan%40yahoogroups.com> ; > [EMAIL PROTECTED]<al-ukhuwah-islamiyah%40yahoogroups.com>; > [EMAIL PROTECTED]<debat_agama_kristen%40yahoogroups.com>; > [EMAIL PROTECTED]<debat_islam-kristen%40yahoogroups.com> > Sent: Friday, January 18, 2008 1:17 AM > Subject: [ppiindia] Yang Sembrono dari Ulil Abshar > > Yang Sembrono dari Ulil Abshar (percuma jauh2 sekolah, dibayarin lagi, > tapi kaga pinter juga. qiqiqiqiqqiqiqi. > > Rabu, 05 Desember 2007 Tulisan saya di hidayatullah. com ditanggapi Ulil > dengan judul "Amran dan Beberapa Kekeliruan". "Ayolah Ulil, tunjukkan di > mana kebebasan dan toleransi Barat?" > > Oleh: Amran Nasution * > Ketika masih wartawan, saya menulis sebuah laporan utama sepulang > melakukan liputan di Filipina Selatan. Pak Amir Daud, Redaktur Pelaksana > waktu itu, 1981, memanggil saya ke mejanya. ''Berapa usia Anda?'', katanya. > Tentu saya kaget. Untuk apa usia ditanya kalau masalahnya ada pada tulisan. > Tapi saya jawab melihat ia sangat serius. > > ''Kalau begitu Anda masih bisa berubah. Mulai sekarang, berubahlah,'' > ujarnya. Lalu ia menunjuk kesalahan itu. Ternyata, saya sembarangan > meletakkan titik dan koma. Di mata Pak Amir, saya sembrono. > > Ya, sembrono. Itulah yang saya lihat setelah membaca tulisan Ulil > Abshar-Abdalla dari Departmen of Near Eastern Languages and Civilizations, > Harvard University, yang dimuat di Milist ICRP juga dimuat dalam kolomnya di > situs Jaringan Islam Liberal (JIL), tanggal 30 November 2007. Ia menanggapi > artikel saya, Dari Moshaddeg Sampai Mount Carmel (www.hidayatullah. com, > 23 dan 24 November 2007). > > Ia mengabaikan begitu saja pendapat bahwa sanksi penistaan agama yang > terjadi di Eropa dan Amerika yang tak kalah sektarian. > Tapi kesemboronon Ulil tak terbatas titik, koma. Ia malah berbuat > seenaknya dengan fakta, sesuatu yang di kalangan wartawan ditempatkan pada > posisi amat tinggi. Tentu juga mestinya di kalangan intelektual semacam > Ulil. Bagaimana mungkin dia membuat analisa yang benar, kalau faktanya > salah. Garbage in, garbage out. Yang masuk sampah, pasti keluarnya sampah. > Berikut saya tunjukkan sampah itu. > > Dia menyebut semua sekte, aliran, mazhab, dan keyakinan bisa berkembang > bebas di negeri Barat. Sebagai contoh ia tunjuk Mormon yang salah satu > pengikutnya, Mitt Romney, pernah menjadi gubernur dua priode di negara > bagian Massachusetts. Romney sekarang menjadi bakal calon presiden dari > Partai Republik. > > Saya mulai dari garbage kecil ini. Adalah bohong kalau dikatakan Romney > (nama lengkapnya Willard Mitt Romney, 60 tahun) menjabat gubernur dalam dua > priode. Ia cuma satu priode Gubernur Massachusetts, 2002 - 2006. Pada 1994, > eksekutif sukses ini pernah mencalonkan diri menjadi anggota Senat mewakili > Partai Republik, tapi dikalahkan Edward M.Kennedy (Partai Demokrat). > Penyebab terpenting kekalahannya, ya soal agama Mormonnya itu (lihat artikel > Michael Paulson, the Boston Globe, 9 November 2002). > > Dalam pemilihan gubernur 2002 yang dimenangkannya, Romney menghadapi > Shannon O'Brien, seorang Katolik. Untuk diketahui Massachusetts cukup > heterogen, banyak etnik dan agama. Tapi mayoritas penduduknya Katolik (44%), > lalu Kristen 22%, sisanya Atheis, Yahudi, Buddha, Hindu, Islam, dan Mormon. > > Pada masa kampanye kali ini soal Mormonnya tak ditembaki lawan. > Masalahnya, lawan juga sedang grogi bila agama dibawa-bawa. Isu > penyelewengan seksual oknum pastor dengan anak altar sedang menghangat waktu > itu. Kemudian nama Romney lagi berkibar sebagai penyelanggara Olimpiade > Musim Dingin di Salt Lake City. Perhelatan akbar itu nyaris gagal karena > panitia dilanda berbagai skandal. Romney muncul sebagai penyelamat. > > Bagaimana peluangnya kini sebagai bakal calon Presiden Partai Republik? > Tipis sekali. Penyebabnya agamanya itu. Itulah sekarang yang menjadi isu > hangat di sekitar pencalonan Romney. Survei the Wall Street Journal/NBC, > awal November lalu, menunjukkan mayoritas responden tak bisa menerima > seorang Mormon menjadi Presiden Amerika Serikat. Yang menyatakan bisa hanya > 38% (the Washington Post, 28 November 2007). Nah, benar kan? Kalau masukan > salah analisa salah pula. > > Sekarang mengancik ke soal sampah yang lebih serius. Kata Ulil, Mormon > bebas berkembang di Amerika. Dari mana cerita itu didapatnya? Sejarah > menunjukkan banyak darah berceceran di sekitar eksistensi sekte yang > resminya disebut the Church of Jesus Christ of Latter-Day Saints. > > Pencetus dan pemimpin pertama Mormon adalah Joseph Smith, lahir di Vermont > pada 1805. Smith mengaku bertemu langsung dengan Tuhan dan Malaikat lalu > mendapat petunjuk untuk menyebarkan ajarannya yang ia peroleh dari tulisan > di piring emas di pegunungan New York. Tulisan ia terjemahkan selama > berbulan-bulan dan menjadi kitab suci orang Mormon, the Book of Mormon. Jadi > Mormon agama yang lahir di Amerika. Ajarannya mirip Kristen tapi > mengharamkan arak, menghalalkan poligami. > Tentu Joseph Smith dan pengikutnya tak bisa diterima masyarakat. Ia > dianggap menyebarkan ajaran aneh yang bid'ah. Konflik sering terjadi. Mereka > terlibat beberapa perkelahian dengan penduduk Missouri. Akhirnya, pada 27 > Oktober 1838, Gubernur Missouri, Lilburn Boggs, mengeluarkan perintah > memburu kaum Mormon yang disebut extermination order (perintah pembasmian). > Sekitar 2500 tentara menyerbu perkampungan Mormon. Sejumlah pengikut Smith > terbunuh, banyak wanita diperkosa. Smith dan beberapa pendetanya ditangkap. > Untuk diketahui, extermination order itu berlaku 100 tahun lebih sampai > dicabut oleh Gubernur Missouri Christopher Bond di tahun 1976. > > Sekian lama ditahan, akhirnya Smith dan kawan-kawan dibebaskan. Mereka > membangun perkampungan di tepi Sungai Missouri. Lama kelamaan banyak orang > baru bergabung sehingga jumlah jemaah bertambah besar. Mereka kembali > bentrok dengan masyarakat. Joseph Smith, adiknya Hyrum Smith, dan dua > pembantunya ditangkap. Pada pagi 27 Juni 1844, sekitar 200 massa mengepung > penjara. Mereka bunuh Smith, adik, dan pembantunya (lihat artikel Jay > Lindsay di Associated Press, 28 Januari 2006). > > Sejak itu pengikut Smith kocar-kacir sampai belakangan datang pemimpin > baru, Brigham Young, yang mengkonsolidasikan mereka. Dan itu tak gampang. > Hanya berkat kegigihan dan keuletan saja mereka bisa bertahan. Di > Massachusetts, misalnya, seperti ditulis Jay Lindsay, baru di tahun 1960-an, > Mormon bisa datang kembali. > > Dengan kisah berdarah-darah ini --sudah ditulis di banyak buku-- bagaimana > Ulil berani mengatakan semua sekte, aliran, mazhab, dan keyakinan bisa > berkembang bebas di negara Barat? (dasar Ulil = Himar juga!) > > Apalagi, dengan gagah berani ia menulis: "Saat ini, di seluruh negeri > Eropa dan Amerika (juga Kanada dan Australia) nyaris ''mustahil'', sekali > lagi nyaris mustahil, kita jumpai kasus sebuah sekte diberangus atau dirusak > propertinya karena membawa ajaran yang menyimpang." (Bah!) > > Rupanya, peristiwa 19 April 1993, ketika FBI meledakkan dan membakar habis > perkampungan Sekte Cabang David, mengakibatkan kematian David Koresh dan > 80-an pengikutnya di Mount Carmel, Waco, Texas, tak dilihat Ulil sebagai > perusakan properti sebuah sekte, aliran, atau ajaran. > > Ilmu sihir apa yang telah menutup mata Ulil sehingga tak mampu melihat > fakta itu? (ilmu sihir Himar lah, qiqiqiqiiqiqiqiqi) > > Guna melengkapinya di sini saya cuplikkan beberapa peristiwa yang relevan, > yang sempat saya kumpulkan: > > The New York Times, 7 Maret 2004, menulis, pada hari Jumat, dua masjid > dibakar di Annecy dan Seynod (Francis). Tak ada korban jiwa. Tapi peristiwa > itu membuat marah kalangan Islam setempat karena tak ada respons dari > pemerintah. Itu sangat kontras dengan pembakaran sebuah sekolah Yahudi, > November sebelumnya. Ketika itu, hanya beberapa jam kemudian, Menteri Dalam > Negeri Nicolas Sarkozy, langsung meninjau ke lapangan dan mengomentari > peristiwa itu sebagai tindakan rasis. > > Esoknya, baru Kantor Presiden mengeluarkan siaran pers menanggapi > pembakaran masjid, mengatakan bahwa Presiden Chirac sangat terkejut atas > serangan dan dengan keras mengecam aksi yang menjijikkan itu. > > The New York Times, 24 Desember 2004, memuat berita sebuah masjid yang > baru selesai dibangun di kota kecil Usingen, di barat laut Frankfurt > (Jerman), telah terbakar. Menurut polisi, pembakaran dilakukan seseorang > dengan sengaja. Pada bulan lalu, setelah terjadi pembakaran masjid di > Belanda, sebuah botol berisi minyak tanah dilemparkan seseorang ke sebuah > masjid di dekat Kota Sinsheim, Jerman. > > Fakta di atas, sekali lagi, terbatas yang sempat saya kumpulkan. Saya tak > tahu persis sudah berapa banyak Sinagog - belakangan Masjid - yang dirusak > selama ini di Eropa atau Amerika. > > Di dalam buku A Brief History of Blaspemy (The Orwel Press, 1990), Richard > Webster menulis, kebencian orang Eropa kepada Yahudi yang dikenal sebagai > anti-semit, sesungguhnya punya akar yang dalam. Sekadar contoh, tulis > Webster, di dalam risalahnya, Of the Jews and Their Lies, pelopor reformasi > gereja Martin Luther menyatakan seluruh orang Yahudi sebagai tamak dan > rakus. > > Tapi terutama setelah pembunuhan orang Yahudi oleh Nazi Jerman selama > Perang Dunia II, perlahan-lahan prasangka dan kebencian terhadap orang > Yahudi berpindah kepada orang Arab dan Islam. Jadi tak usah heran kalau aksi > perusakan Sinagog di Eropa kini pindah ke Masjid. > > Karena itu pula orang Islam di Jerman, Inggris, Francis, Belanda, dan > sejumlah negara Eropa lainnya, bukan main sulit membangun masjid. Saya punya > segepok kliping koran yang menulis berita itu. Banyak rencana membangun > masjid sampai bertahun-tahun tak bisa terlaksana. The New York Times, 6 Juli > 2007, sampai menuliskannya di dalam editorial soal sulitnya pembangunan > masjid di Cologne, Jerman, dengan judul, ''Celebrating, Not Hiding''. > > Di Amerika juga sama. Kelompok Ahmadiyah berencana membangun masjid dan > pusat kebudayaan di atas tanah seluas 90 ha di kawasan terpencil di > Walkersville, Maryland, sampai sekarang tak kunjung berhasil. Masyarakat > setempat keberatan (The Washington Post, 23 Oktober 2007). > > Ayolah Ulil, tunjukkan di mana kebebasan dan toleransi Barat yang Anda > cekokkan kepada teman-teman Anda selama ini? Mereka itu rasis Ulil. Terlalu > banyak fakta sejarah yang tak bisa dihapus: mulai pemusnahan Indian, > perbudakan orang hitam, pembunuhan dan pengusiran orang China, sampai > sekarang giliran orang Arab dan Islam. > > Seolah terlihat hijau > > Akhirnya, saya khawatir Ulil melihat Barat seperti melihat hutan dari > jauh: semua terlihat hijau royo-royo. Padahal bila didekati kelihatan pohon > yang sudah gundul terbakar, tebing yang longsor, pohon-pohon tumbang > ditebang penduduk untuk kayu bakar, atau sungai yang dicemari bungkus > plastik supermie dan puntung rokok. > > Tapi yang paling mengagetkan saya pernyataan Ulil berikut. Katanya, "Eropa > belajar dari sejarah kelam itu hingga sekarang. Hasilnya tentu bukan main: > lahirnya negara sekuler yang melindungi kebebasan beragama. Atau tepatnya > melindungi agama dari intervensi negara (versi Roger William), dan > melindungi negara dari intervensi agama (versi Thomas Jefferson). Kedua > intervensi itu sangat buruk akibatnya baik bagi agama atau negara sendiri." > (inilah cara Himar berfikir!) > > Padahal sudah beberapa tahun ini, setidaknya sejak peristiwa serangan > teroris terhadap menara kembar WTC di New York, 2001, tak sedikit buku yang > terbit, tak terhitung artikel ditulis, yang menyoroti bagaimana Amerika > Serikat tak lagi membatasi hubungan agama dengan negara seperti yang > digembar-gemborkan Ulil itu. > > Saya tak ingin memperdebatkan baik-buruk, manfaat-mudharat, dari > terbaurnya hubungan itu. Seperti saya juga tak mau memperdebatkan di sini > konsistensi sikap Thomas Jefferson, nama yang dikutip Ulil. Ia merancang > Declaration of Independence yang begitu muluk bicara tentang kebebasan, > sementara ia sendiri memiliki ratusan budak. Malah sampai meninggal dunia ia > meninggalkan budak-budak yang diburu dari Afrika sebagai harta warisan. > (nanti dineraka Jahannam, dia juga diburu oleh panasnya api neraka yang 70 x > lipat panas api dibumi, nauzhubillah!) > > Jefferson rupanya gambaran dari negara yang diwariskannya: mengekspor > demokrasi ke mana-mana sembari membunuhi jutaan rakyat tak berdosa di > mana-mana. Mulai Vietnam, Laos, Korea, Iraq, Lebanon, Nikaragua, Guatemala, > Panama, dan banyak lagi. Inilah satu-satunya negara di dunia yang tega > membunuh lebih 200 ribu rakyat tak berdosa dengan bom atom uranium di > Nagasaki dan Hirosima. Picing mata pada pembangunan arsenal nuklir Israel di > Dimona, tapi mencak-mencak kepada nuklir Iran. (dasar Amerika Himar! tempat > berkumpulnya Himar2 seperti Ulil cs) > > Amerika kini merupakan satu-satunya negara besar di dunia yang menolak > meratifikasi Protokol Kyoto, karena para tokoh Kristen Evangelical yang > sangat berpengaruh di Partai Republik dan Gedung Putih menganggap bukan > karbon dioksida yang menyebabkan perubahan iklim. Semua ditentukan oleh Yang > Mahakuasa (Almighty). > > Iraq diserang, Saddam Hussein ditumbangkan, karena ia dianggap pengganti > Nebuchadnezzar, Raja Babylonia yang memerangi Israel dan merusak Jerusalem > pada tahun 586 sebelum Masehi. Jadi senjata pemusnah massal atau upaya > demokratisasi hanyalah dalih. > > (Ternyata Kristenlah yang paling pantas disebut sebagai agama Teroris dan > Rasis! dan Amerika telah menjadi negara pecundang Yahudi. dan Ulil....adalah > Himar dungu yang memuja-muja Amerika Himar, kecian deh lu!) > > Selanjutnya setahun setelah Baghdad dikuasai, koran the Los Angeles Times > melakukan survei dan menemukan 30 misionaris Evangelical di kota itu yang > menempel (embeded) pada tentara pendudukan Amerika. Kyle Fisk, Kepala > Administrasi the National Association of Evangelicals, mengatakan kepada > wartawan koran itu, ''Iraq akan menjadi pusat penyebaran ajaran Jesus > Kristus ke Iran, Libya, dan ke seluruh Timur Tengah.'' (the Los Angeles > Times, 18 Maret 2004). (Dasar Himar berbulu domba) > > Pemberantasan penyakit Aids dengan cara pantang berhubungan seks sembarang > (abstinence), abortus diharamkan, begitu pula riset sel tunas (stem-cell > research), dan banyak lagi nilai-nilai Gereja lainnya. Meski akhir tahun > lalu, Partai Republik kalah dalam Pemilu sela dan kehilangan suara mayoritas > di Senat dan DPR, ternyata Oktober lalu, DPR tetap menyetujui menaikkan > anggaran program abtinence dari 28 juta menjadi 200 juta dollar setahun. > Kenapa? Karena para tokoh Partai Demokrat pun keder pada kelompok > Evangelical yang diduga punya pengaruh atas sekitar 30% pemilih. > > Pantaslah Bill Moyers, bekas wartawan televisi yang kini menjadi aktivis > Gereja Evangelical, ketika berbicara di Harvard Medical School, 4 Desember > 2004, berkata, ''Untuk pertama kali dalam sejarah kita, ideologi dan > theologi memonopoli kekuasaan di Washington.'' > > Dimulai sejak zaman Presiden Reagan, tapi terutama pada dua priode > kepemimpinan Bush, pelan-pelan Amerika sudah mendekati negara theokrasi dan > Partai Republik merupakan partai Kristen pertama dalam sejarah Amerika. > Bacalah American Theocracy (Viking Penguin, 2006) ditulis Kevin Phillips, > penasehat politik utama Partai Republik di zaman Nixon. > > Fenomena itu cukup jelas diterangkan Profesor Samuel P.Huntington di dalam > Who Are We? America's Great Debate (The Free Press, 2005). Saya tak ingin > mengulangi lagi cerita itu. Sudah saya tulis di www.hdayatullah. com: > An-Naim dan ''Perang'' Presiden Bush, 15 Agustus 2007, dan Hizbut Tahrir, > Sekularisme dan Fenomena Global, 27 Agustus 2007. Cerita ini saja sudah > terlalu panjang. [www.hidayatullah. com] > > * Penulis adalah mantan Redaktur GATRA dan TEMPO. Kini, bergabung dengan > IPS (Institute for Policy Studies) Jakarta > > Kesimpulannya : Ulil = Himar dungu, dombanya amerika, yang tidak sadar > sedang dididik untuk menjadi pemurtad. salah satu yang berhasil > dimurtadkannya adalah himar ustazmurtad qiqiqiqiqiqiqiqqiqiqi. > > Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com > > [Non-text portions of this message have been removed] > > ---------------------------------------------------------- > > No virus found in this incoming message. > Checked by AVG Free Edition. > Version: 7.5.516 / Virus Database: 269.19.4/1226 - Release Date: > 15/01/2008 18:19 > > [Non-text portions of this message have been removed] > > > [Non-text portions of this message have been removed]

