Kata 'sesat' dalam frekuensi yang tinggi diumbar dalam berbagai media
massa termasuk dalam milis ini. Saya tidak bisa memastikan para pengguna kata
ini berangkat dari pemahaman yang bagaimana? Fenomenanya bervariasi, kata
'sesat' bisa jadi hanyalah sebuah istilah (technical term), biasanya
berkaitan dengan terminologi hukum, di lain sisi penggunaan kata ini seperti
melenggang diucapkan 'tanpa dosa' baik sebagai cemoohan atau ejekan
(derision) maupun sekedar ucapan yang lepas dari bibir tanpa memahami makna
hakikinya (expletive).
Saya tidak akan membawa istilah ini dalam kerangka hukum, karena bagaimanapun
juga istilah hukum lebih bersifat formal, definitif dan deminutif (makna yang
dipersempit). Tetapi saya mencoba melampaui kawasan hukum untuk melihat istilah
sesat dalam spektrum yang universal. Saya percaya, tidak mustahil di dunia
hukum pun terjadi kerancuan bahkan kesesatan, seperti yang dikatakan Ronald
Standler (dalam buku Civil Law), bahwa di dalam pengadilan pun ada keputusan
yang menyesatkan (miscarriage of justice), lebih-lebih jika semangat hukumnya
'terlalu mudah menghukum' (judge to easily).
Kata 'sesat' dalam bahasa yunaninya 'panourgia' yang ternyata
maknanya sangat luas bisa berarti 'menyimpang', 'melepaskan
diri' dan 'menipu'. Seperti yang menjadi pemahaman dalam bahasa
Indonesia, sehingga kata 'sesat' acapkali ditafsirkan dengan berbagai
makna yang terkadang terlampau abstrak. Ketika Hawa di sorga melanggar
ketentuan Ilahi dengan memakan buah Kuldi, hawa telah melanggar perintah, dalam
konteks ini dia sebenarnya 'tersesat', iblis yang membujuk hawa disebut
'penyesat'. Sesat dalam pengertian ini disebabkan karena penipuan.
Peristiwa munculnya aliran syiah dalam Islam oleh pengikut Suny disebut sesat,
konteksnya berbeda --bukan lahir dari penipuan, tetapi bisa jadi karena sakit
hati, dendam atau membelot (Seperti kasus di Indonesia banyak barisan sakit
hati yang membelot dengan mendirikan parpol baru).
Berikut ini, berbagai gambaran kata 'sesat' dalam pemaknaan universal
(dalam greek-oriented) yang konotasinya bervariasi:
HAIRESIS yaitu bentuk kesesatan yang bisa disetarakan dengan kata bid'ah
(heresy), biasanya lahir karena faktor sinkretisme atau transkulturasi, yang
kemudian memunculkan bentuk religiusitas baru. (Ajaran agama asal dikawinkan
dengan budaya lokal)
DIAREO yaitu bentuk kesesatan yang 'menyempitkan' aktivitas
keberagamaan, dengan lebih mementingkan aktivitas peribadatan tertentu, seperti
aliran-aliran tarekat (bukan berarti tarekat sesat, tetapi ada juga yang
sesat). Hanya memfokuskan ibadah tertentu sebagai yang paling utama dalam
beragama.
DIAKRINO artinya 'membedakan' atau juga bisa diartikan
'terbedakan' (distinguishable). Kalau mengambil bentuk kata kerja dalam
bahasa inggris seperti kata 'in contrast to' (membedakan dengan). Dalam
sejarah kekristenan di Yerusalem, sekelompok kaum beragama yang disebut
'orang-orang Zelot' melakukan aktivitas keagamaan yang tidak
bersinggungan dengan politik, agar terbedakan dengan kelompok yang lain
seperti: Kaum Farisi (ahli taurat dan ahli ibadah yang acapkali terjebak
berpolitik), Kaum Saduki (agamawan aristokrat yang dekat dengan lingkaran
kekuasaan) dan Herodian (agamawan yang melacurkan diri pada kekuasaan herodes)
ELEUTHEROO artinya 'membebaskan diri' , sebenarnya makna dasarnya
'melepaskan balutan' (bandaging), bisa diartikan 'membebaskan diri
dari kungkungan ajaran yang tidak sesuai dengan nuraninya'. Contoh klasik
untuk ini adalah reformasi Marthin Luther, yang berusaha membebaskan diri dari
kungkungan dogma gereja yang bagi Luther dianggap telah menyimpang sehingga
lahir agama protestan.
PARALOGIZOMAI artinya 'merubah ajaran' atau 'menciptakan ajaran
versi baru' (become different). Dalam sejarah kekristenan, kelompok
kapadokian (gereja-gereja timur) tidak sepakat dengan rumusan ajaran trinitas
anathasian (konsep anathasius) yang berprinsip unsur-unsur trinitas adalah
pribadi (personae), maka mereka merubah ajaran trinitas bahwa unsur-unsur
trinitas bukanlah pribadi/oknum tapi hanyalah pancaran ilahi (prosopon)
METHAODEIA bisa diartikan 'lepas dari akarnya', dan bukan merupakan
cabang, sehingga benar-benar memunculkan ajaran baru (newness) yang sangat
kontras dengan ajaran asalnya. Mungkin Lia Aminudin termasuk kategori ini.
Dari beberapa konotasi sesat di atas, jelaslah munculnya ajaran baru bisa
saja lepas dari akar atau tetap pada akarnya. Kalau akar yang dimaksud disini
menyangkut keilahian (ketuhanan), apa yang dilakukan Martin Luther ternyata
tidak melepaskan akarnya, tetap mempunyai prinsip ketuhanan yang sama dengan
ajaran asalnya (katolik). Kasus Syech Siti Jenar, bisa dikategorikan lepas dari
akarnya, karena Tuhan bagi Jenar telah menyatu dalam diri manusia (manunggaling
kawula gusti) sehingga tidak diperlukan lagi syariat. Jadi, sebenarnya sangat
rumit untuk melepaskan kata dalam bibir ini untuk berkata 'sesat atau tidak
sesat', tergantung motivasi dan paradigma kita masing-masing...! Peliknya
juga, kalau suatu ajaran dianggap palsu karena pendirinya dianggap
penipu/pemalsu oleh pihak lain, sementara pengikutnya 'tidak merasa
ditipu' dan ok... ok... saja 'malah semakin rumit' dalam maknai
sesat itu! Nah, bagaimana dengan Ahmadiyah.....?
karena pengikutnya merasa enjoy dan ok...ok... saja!.
Salam,
Lukas Kristanto
____________________________________________________
Yahoo! Canada Toolbar: Search from anywhere on the web, and bookmark your
favourite sites. Download it now at
http://ca.toolbar.yahoo.com.