Sejatinya, ajaran agama Hindu beserta simbol-simbol suci yang terkandung di
dalamnya adalah "sumber tambang" mahaluas yang tak pernah tuntas untuk digali
oleh seniman-seniman Bali. Dia adalah sumber inspirasi yang senantiasa
menggerakkan tangan-tangan kreatif seorang seniman guna melahirkan karya-karya
estetis penuh pukau. Senjata nawa sanga (senjata sembilan dewata - red) yang
mengandung makna simbolik tameng bhuwana yang membentengi jagat raya di segenap
penjuru mata angin (makrokosmos) pun tak luput dari ''jamahan''. Mengapa
simbol-simbol suci tersebut disulap jadi benda seni? Adakah nilai jual yang
terkandung di dalamnya?
********
Secara visual, bentuk-bentuk senjata para dewa itu memang sangat unik dan
variatif serta sarat kandungan nilai estetis yang tinggi. Keunikan dan
keartistikan dari bentuk senjata nawa
sanga itu jelas sangat layak divisualisasikan ke dalam sebuah karya
seni. Tentu saja dengan berbagai pengolahan sehingga menghasilkan
karya seni yang original sebagai cerminan identitas pribadi seniman.
Keunikan dan keartistikan bentuk senjata nawa
sanga itu pula yang dieksplorasi oleh seniman akademis Drs. I Wayan
Suardana, M.Sn. ke dalam "produk" seni kriya mutakhirnya. Di tangan
dosen Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ISI Denpasar ini, senjata-
senjata para dewata seperti Cakra (senjata Dewa Wisnu), Trisula
(Shambu), Bajra (Iswara), Dupa (Maheswara), Gada (Brahma), Moksala
(Rudra), Nagapasa (Mahadewa), Angkus (Sangkara) dan Padma (Siwa)
menjelma jadi karya seni kriya nan artistik. Senjata nawa sanga itu
diekspresikan dalam bentuk tiga dimensional dengan media kayu jati.
Beberapa bentuk senjata nawa sanga diolah dan dikembangkan serta
dikomposisikan menjadi suatu adegan yang dilandasi oleh bentuk
binatang yang merupakan kendaraan dari dewa-dewa yang menguasai
penjuru dunia.
Tubuh-tubuh binatang yang ditampilkan itu diangkat
dari material lesung antik yang di balik dengan kandungan makna
bahwa masyarakat telah melupakan sumber kehidupan awalnya dan mulai
beralih pada sesuatu yang baru. "Lesung adalah yoni. Yoni adalah
meme atau ibu. Ibu pertiwi adalah sumber kehidupan. Tanpa ada ibu
pertiwi, niscaya tidak ada kehidupan berlangsung di dunia ini. Oleh
sebab itu, ibu pertiwi harus dilindungi dan di-tamengi (dibentengi-
red) sehingga kehidupan akan berjalan pada kodratnya," kata Suardana
ketika memaparkan konsep karya seni kriya ciptaannya yang menjadi
salah satu pemenang "Beasiswa Unggulan Peneliti, Pencipta, Penulis,
Seniman, Wartawan, Olahragawan dan Tokoh" dari Biro Perencana dan
Kerja Sama Luar Negeri Departemen Pendidikan Nasional kepada Bali
Post, Jumat (17/1) kemarin.
''Tameng Bhuwana''
Suardana menegaskan, sudah jadi tugas seorang
seniman mengembangkan kreativitasnya dengan mencipta berbagai bentuk
karya seni sesuai dengan bidangnya. Sebagai pertanggungjawaban
visual, mencipta adalah eksistensi seorang seniman yang kreatif.
Karya seni yang original menjadi tuntutan utama proses penciptaan
sebagai cerminan identitas idividu. Dikatakan, konsep dan sumber ide
yang melatarbelakangi proses penciptaan terkadang ada kesamaan
antara seniman satu dengan lainnya. Namun, pengolahan estetis dengan
teknik dan gaya yang berbeda akan melahirkan karya seni yang
original. "Tanggung jawab moral seorang seniman adalah menciptakan
karya seni yang original dan bukan karya seni yang imitatif,"
tegasnya sambil menambahkan, karya seni original adalah karya seni
dengan proses kreatif yang melibatkan perenungan secara mendalam
serta menghindari peniruan.
Dalam penciptaan karya seni kriya mutakhirnya,
Suardana mengaku tidak meniru karya yang telah ada. Tetapi,
menciptakan sebuah karya seni kriya dengan sumber ide dari senjata
nawa sanga dengan mengadakan berbagai pengolahan, baik bentuk,
teknik dan gaya sehingga menjadi sebuah karya yang mencerminkan
identitas individu. Tameng bhuwana berupa senjata nawa sanga itu
diolah menjadi karya seni kriya dalam bentuk tiga dimensional dengan
mengkombinasikan antara teknik pahatan, bubutan dan teknik lainnya
tentunya dengan tampilan yang artistik dan menarik. "Sejak lama saya
sudah terobsesi untuk mengabadikan keindahan bentuk senjata-senjata
para dewa itu ke dalam karya-karya seni kriya saya," katanya.
Suardana menambahkan, setiap aktivitas upacara
keagamaan maupun adat di Bali merupakan suatu momen estetis yang
luar biasa indah. Secara tidak langsung, momen estetis itu akan
memberi rangsangan kepada seniman untuk menerjemahkannya menjadi
sebuah karya seni yang artistik. Momen estestis itu terpancar baik
dari prosesi upacaranya maupun sarana peralatan yang digunakan
seperti halnya senjata nawa sanga yang merupakan bagian dari
pengider bhuana. Secara konseptual, pengider bhuana merupakan dasar
dari segala aktivitas upacara dan secara visual senjata nawa sanga
selalu dimunculkan sebagai sarana upacara tersebut. "Aneka bentuk
senjata nawa sanga selalu muncul baik dalam bentuk gambar pada
tempat banten, tempat tirta, pada kober, umbul-umbul, kelapa muda
dan juga divisualkan dalam bentuk sate maupun jajan. Di samping itu,
senjata nawa sanga juga banyak dibuat dalam bentuk bebandrangan atau
pengawin yang terbuat dari cetakan logam yang dilapisi dengan warna
emas. Senjata nawa sanga dalam bentuk gambar pada sarana upacara
sudah menjadi kewajiban bagi penggarap untuk menggambarnya apabila
penggarap terjun ke masyarakat, ngayah dalam mempersiapkan sarana
upacara. "Dengan seringnya bergulat dengan media tersebut, tanpa
disadari saya menjadi sangat tertarik untuk mengabadikannya menjadi
sebuah karya seni kriya dan mengangkat tameng bhuwana sebagai tema
dengan metafora senjata nawa sanga sebagai objek visual," katanya
sambil menambahkan, dalam karya seni kriya ini bentuk-bentuk senjata
dideformasi yaitu dikembangkan dengan perubahan bentuk yang sangat
kuat dari bentuk semula sehingga memunculkan karakter baru.
Suardana mengingatkan proses penciptaan yang
dilakukannya dengan berbagai eksplorasi itu hanyalah sebatas sumber
ide yang pengacuannya lebih banyak mengarah kepada bentuk. Nilai
filosofis yang terkandung pada sumber ide itu hanya sebatas bayangan
dasar nilai yang dikandung di dalamnya. "Dengan demikian, proses
perwujudan karya seni dengan senjata nawa sanga sebagai objek visual
ini penekanannya lebih kepada pertimbangan estetis sehingga
kreativitas penggarap tidak terbelenggu oleh konsep yang sangat
ketat," ujarnya.
Sumber Ide
Secara umum, katanya, karya-karya seni kriya yang
diciptakannya lebih memunculkan penyederhanaan bentuk dari apa yang
seharusnya diciptakan. Hal ini dapat dilihat dari berbagai bentuk
yang ada, baik senjata, binatang, sesajen dan sebagainya. Bentuk-
bentuk senjata, binatang, dan sesajen yang ada sangat bebas dan
tidak terikat oleh pekem-pakem yang ada. Namun, identitasnya masih
sangat kuat. "Konsep minimalis ini sengaja dimunculkan untuk
memberikan ruang ekspresi yang lebih leluasa sehingga karya ini
layak dikategorikan sebagai karya murni," tegasnya.
Suardana tidak menampik, mengabadikan simbol-
simbol suci keagamaan seperti senjata nawa sanga ke dalam karya seni
merupakan hal yang cukup sensitif. Oleh karena itu, para kreator
seni yang tertarik menggarap tema-tema seperti ini sangat dituntut
kehati-hatiannya. Jangan sampai karya-karya yang secara visual itu
sejatinya sangat estetik justru menimbulkan ketersinggungan umat.
Yang terpenting lagi, penikmat seni harus jeli dalam memajang karya-
karya seni beraroma religius seperti itu. "Meskipun ide dasar
penciptaan karya seni kriya ini murni ditekankan pada aspek estetik
semata, tidak tertutup kemungkinan hal itu bisa terjadi. Bagi
penikmat seni yang ingin mengoleksi karya-karya seperti ini, saya
meminta lokasi pemajangannya dipertimbangkan dengan seksama. Jangan
sampai dipajang di tempat-tempat yang tidak semestinya seperti
toilet dan tempat-tempat tidak etis lainnya," katanya mengingatkan.
* w. sumatika
Bali Post - Sabtu Umanis, 19 Januari 2008
mediacare
http://www.mediacare.biz
[Non-text portions of this message have been removed]