Oleh NINOK LEKSONO

Memburu planet di tengah maraknya isu pemanasan global mudah menerbitkandugaan 
bahwa alternatif Bumi sebagai habitat perlu segera ditemukan. Akan tetapi, bagi 
Johny Setiawan, planet yang dicari 
bukanlah planet yang berada di Tata-Surya, atau sistem planet yang berbintang  
induk Matahari.

Planet yang dicari Johny adalah planet yang diinduki oleh bintang-bintang nun 
jauh di langit, yang dalam dunia astronomi  disebut sebagai eksoplanet atau 
planet ekstrasolar. Tentu saja planet semacam 
ini tidak akan bisa dijadikan sebagai alternatif Bumi.

Sebagai astronom, Johny telah mulai mencari  eksoplanet sejak tahun 1999, atau 
dua tahun setelah dia mendalami astronomi pada  Universitas Freiburg, Jerman.

Mengapa dia tidak seperti astronom Amerika Serikat  yang justru mencari planet 
ke-10, misalnya?

Johny bersama timnya pada Institut Astronomi Max  Planck (MPIA) di Heidelberg, 
Jerman, rupanya ingin mengkaji tata-surya secara komparatif, dari sisi luar 
tata-surya itu sendiri.

Selain itu, risetnya juga ditujukan untuk membantu  menjawab pertanyaan: 
"Apakah ada planet lain selain Bumi yang bisa  didiami?" Dan selanjutnya, 
"Apakah kita sendirian di Alam Semesta ini?"
Artinya, dengan menyelidiki planet ekstrasolar, dia  juga secara tidak langsung 
ingin mencari kehidupan lain di luar Bumi.

Seperti dilaporkan oleh jurnal ilmiah Inggris, Nature  edisi 3 Januari 2008, 
Johny bersama tim dari MPIA telah menemukan planet  ekstrasolar yang 
mengelilingi bintang TW Hydrae, dan umurnya menurut 
standar astronomi masih muda, yakni sekitar 8 juta-10 juta tahun, atau 1/500  
umur Matahari yang
sudah 4,5 miliar tahun.

Planet yang kemudian diberi nama TW Hydrae b ini  mengelilingi bintang induknya 
sekali dalam tempo 3,56 hari. Bandingkan planet ini dengan Bumi yang perlu satu 
tahun atau 365 hari untuk 
menyelesaikan satu revolusi mengelilingi Matahari.

Bisa mengetahui ukuran dan periode revolusi benda  langit untuk jarak yang amat 
jauh seperti itu sungguh menuntut pengetahuan  dan teknik pengamatan cermat.

*Kecepatan radial*

Dalam penjelasannya, Johny menyebutkan, ia bersama  tim MPIA menggunakan teknik 
pengukuran kecepatan radial yang sebenarnya bukan teknik baru. Bahkan teknik 
tersebut bisa dikatakan klasik, karena sudah digunakan untuk menemukan planet 
sebelumnya.

Dengan teknik itu, kecepatan bintang yang berubah  mendekat dan menjauh 
itu-ditandai dengan perubahan warna spektrum dalam  spektograf-bisa diukur. 
Johny dalam riset eksoplanet Hydrae memimpin program pengamatan bersama dengan 
mahasiswanya, Andre Muller. Mereka menggunakan 
teleskop 2,2 meter milik Perhimpunan Max Planck dan Observatorium  Selatan 
Eropa di La Silla,
Cile.

Dia melakukan analisa dibantu oleh mahasiswa lain dan  Dr Martin Kurster. Johny 
kemudian menulis makalah bersama Dr Ralf  Launhardt. Sementara Direktur MPIA 
mengkoordinasi dan menyediakan semua hal yang dibutuhkan tim tersebut.

*Bukan untuk gaji*

Johny yang sudah sekitar 10 tahun menjadi astronom di  luar negeri, mulai 
bekerja di MPIA semenjak tahun 2003. Ia mengaku kerasan bekerja di lembaga yang 
amat bergengsi ini.

Namun, hal itu pertama-tama bukan karena fasilitas atau gaji yang dia terima, 
tetapi karena Johny merasa cocok dengan  teman-teman sekerja. Kata dia, untuk 
gaji yang lebih besar, kalau dia 
menginginkan, sangat mungkin bisa diperoleh bila ia bekerja di tempat lain. 
Bahkan  apa yang dikerjakannya kini tak bisa dikatakan enteng.

Manakala jadwal pengamatan tiba, Johny selama sekitar  dua pekan harus 
bergadang. Dia harus bekerja mulai pukul 18.00 petang  hingga pukul 07.00 pagi. 
Kesenangan dia terhadap astronomi yang 
amat besar itu dilandasi oleh rasa kagum pada indahnya bintang-bintang di jagat 
raya.

Mengapa dia dulu tidak belajar astronomi di Institut Teknologi Bandung (ITB)?

"Saya pernah diterima di Jurusan Astronomi ITB tahun  1992, tetapi pada saat 
itu saya sudah berangkat ke Jerman," tutur Johny.

Meskipun dia tidak bekerja di ITB atau Observatorium  Bosscha, Johny berharap 
lembaga astronomi di Indonesia bisa mengembangkan  pengamatan dengan 
spektograf, dan juga mengembangkan teknik 
interferometri.

Ketika ditanyakan apakah suatu saat dia akan kembali  ke Indonesia, Johny 
menjawab, "Ini tergantung pada pekerjaan. Pekerjaan  saya di sini (Jerman) 
masih menumpuk sampai beberapa tahun ke depan, karena  kami akan memulai 
pencarian ekstrasolar dengan teknologi baru (precise  astrometry). Saya
paling tidak bisa meninggalkan pekerjaan."

Kalau pekerjaan tersebut selesai, ada kemungkinan dia  ingin kembali ke 
Indonesia.

*Publikasi*

Dari riset ekstrasolar yang dia lakukan dengan  timnya, ada lima planet yang 
sudah dipublikasikan, sementara tujuh lainnya masih  dalam antrean publikasi.

Johny yang dari penampilannya mengesankan sebagai  sosok pemuda gaul, telah 
menambah deretan pemuda Indonesia yang mengukir  prestasi ilmiah di mancanegara.

Untuk memelihara hubungan dengan Tanah Air, Johny  yang sangat suka memasak, 
berolahraga kebugaran, dan berenang, serta  mempelajari kebudayaan bangsa lain 
ini selalu meluangkan waktu untuk berlibur di  Indonesia.

Bila dua tahun silam dia tampil membawakan makalah  dalam Konferensi Astronomi 
Asia-Pasifik di Bali, maka pada akhir tahun  lalu Johny kembali ke Bali untuk 
sekadar berlibur.

Selebihnya, hidup Johny lebih banyak diperuntukkan  memburu planet-planet yang 
tidak tampak dengan mata telanjang, seperti  Venus atau Jupiter. TW Hydrae b 
yang terakhir dia publikasikan adalah planet 
paling muda dari sekitar 250 planet ekstrasolar yang sejauh ini  ditemukan.

Melalui studi komparatif ini, Johny ingin ikut dalam  upaya besar ilmu 
pengetahuan untuk menemukan jawaban atas pertanyaan,  apakah sistem tata-surya 
merupakan hal umum di Alam Semesta?

Pertanyaan itu sudah mulai bisa dijawab pada dekade  silam, yaitu ketika 
astronom menemukan planet ekstrasolar pertama yang  mengelilingi bintang serupa 
Matahari pada tahun 1995.



http://www.kompas.com/kompas-cetak/0801/09/Sosok/4149353.htm



mediacare
http://www.mediacare.biz


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke