Mohon maaf untuk yang satu ini.... Menurut Prof T Jacob, teknologi senjata nuklir aneh dan mengerikan, karena empunya memahami bahwa senjata tersebut tak dapat dipergunakan tetapi dikembangkan terus, sehingga manusia berada dalam proses memunahkan diri. Di samping itu betapa teknologi ini mengalihkan sumber daya yang semestinya dapat digunakan untuk menyejahterakan manusia (Teknologi Berperikemanusiaan, YOI 1996 h85)
Sungguh absurb rasionalitas (irrasionalitas) manusia yang memilih opsi teknologi pembinasaan yang tidak saja potensial membunuh ratusan ribu penduduk Jepang (bom atom Hiroshima-nagasaki). Juga secara tak langsung menjadi penyebab kematian karena kelaparan jutaan penduduk Afrika dan penduduk dunia lainnya akibat disalokasi seumber daya dunia. Tak heran Oppenheimer seorang bidannya ketika menyaksikan senjata nuklir digunakan menyetakan ilmuwan telah berbuat dosa. Lebih tak masuk akal lagi bom pembinasa itu diberi nama manis Little Boy dan Fatman. Sehingg saya berangapan bahwa koalisi ilmuwan dan penguasa telah bebuat dosa dan mengidap sakit secara kejiwaan. Untuk mengkompensir sisi gelap ini, nuklir coba dimanfaatkan untuk menghasilkan energi yang diberi topeng Atom untuk Perdamaian. Atom untuk perdamaian ini ternyata juga membunuh anak-anaknya sendiri di Chernobyl. Menurut Nicholas Lensenn (World Watch Institute) di samping korban meningal seketika beberapa perkiraan menduga antara 14000-475000 kematian karena kanker berasal dari Chernobyl. Walau harus diakui bahwa tidak ada orang yang akan pernah tahu dengan pasti (Jangan Biarkan Bumi Merana, YOI 1993 h101). Baiklah asumsikan bahwa tidak akan ada lagi pengunaan bom atom dan kecelakaan reactor segawat Chernobyl, dengan berat hati kita akan sampai pula pada kesimpulan melekatnya irasionalitas dalam penerapan iptek nuklir. Sebuah fakta PLTN berkapasitas 1000 MW pertahun operasinya menghasilkan substansi radioaktif 50 trilyun kali ambang pajanan perorang pertahun menurut Komisi Internasional Perlindungan Radiologis (ICRP). Dapat disamakan dengan pajanan mematikan 10 miliar orang (Jinzaburi dalam Pembangunan PLTN : Demi Kemajuan Peradaban?, Infid-YOI 1996). Adapun di tahun 1990 kapasitas PLTN dunia tercatat sebesar 329.000 MW. Di samping itu isotop radioaktif limbah nuklir menurut Nicholas Lenssen memiliki waktu paruh (meluruhnya 50% radioaktif) antara sekejab hingga jutaan tahun. Contohnya waktu paruh isotop plutonium 239 adalah 24.400 tahun artinya berbahaya sampai 1/4 juta tahun. Berarti kenikmatan beberapa generasi memberikan beban 12.000 generasi. Sehingga hingga kini limbah nulir tak dapat dihancurkan dan ilmuwan tidak pula dapat membuktikan bahwa bila limbah itu dikuburkan sebagai cara penanganan yang umum tidak akan memasuki biosfer. ================= Seri Tulisan Pendek Tentang Penolakan PLTN Bila anda berminat silahkan mengakses http://ruangasadirumahkata.blogspot.com untuk seri tulisan pendek lainnya tentang argumentasi penolakan PLTN dari seorang awam. Semoga bermanfaat. Salam Andreas Celoteh Emoh PLTN Resiko Nol Persen : PLTN atawa PLTS (1) Energi Tinja vs Fisi Nuklir (2) PLTN : Monumen Kediktatoran Teknologi (3) PLTN adalah Kanker Keberlanjutan Kehidupan (4) Rasionalitas (Irasionalitas) Iptek Nuklir (5). PLTN dan Referendum Di Negara Utara (6) PLTN dan Keprihatinan Eko-Feminis (7) PLTN dan Beban Ekonomi Negara (8) ____________________________________________________________________________________ Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now. http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ

