Renungan Sairara:
SERATUS NOVEL SELAKSA CERITA
Penulis akan mati sebagai penulis ketika ia tak mampu dan berhenti menulis.
Tulisan akan tentu saja bukan asal tulisan yang bercerita tentang tetekbengek.
Mungkinkah hal ini dilakukan? Mengapa tidak? Sebab kehidupan merupakan mataair
ilham yang tak pernah kering. Bahkan aku melihat bahwa penulis selalu
ketinggalan zaman dan dikejar oleh sejarah. Penulis selamanya berhutang pada
sejarah. Misalnya, apakah Revolusi Agustus 45, sebagai suatu peristiwa besar
bagi kehidupan warga Republik Indonesia kita sudah cukup padan dicerminkan alam
karya sastra dan seni? Apakah Tragedi September 1965 yang berdampak pahit dan
mempengaruhi kehidupan berbangsa dan bernegara kita, sudah mendapat tempat
padan dalam dunia sastra-seni kita? Belum lagi kita menghitung pencerminan
peristiwa-peristiwa penting lain dalam sejarah kita dalam sastra-seni kita.
Ketertinggalan beginilah yang kunamakan hutang sastrawan-seniman pada sejarah
dan kehiidupan dan sejarah selalu memburu sastrawan-seniman. Sadar akan
ketertinggalan dan hutang begini, maka pada tahun 1965 Lekra mengorganisasi
gerakan penulisan revolusi dalam berbagai genre sastra. Sayangnya naskah-naskah
yang ditulis dan dihimpun serta siap diterbitkan, oleh terjadinya Tragedi
September 1965 menjadi hilang tak tentu rimbanya, tenggelam tak menentu laut,
danau dan sungainya. Yang penting di sini bukan Lekra-nya, tapi ide dan
semangat yang ditumbuhkannya yaitu mengejar ketertinggalan dan menjawab tagihan
hutang sejarah sebisa mungkin. Aku tidak tahu, apakah angkatan sekarang
mempunyai rasa berhutang demikian atau tidak?
Oleh adanya hutang seniman dan tagihan hutang sejarah itu serta peran seniman
dalam memanusiawikan manusia, maka Sai Dongoran, kukira kau ditantang untuk
minimal menulis 100 novel selaksa cerita. Iya, seratus novel selaksa cerita.
Tak membanggakan dan tak padan jika hanya menulis delapan sepuluh novel atau
seratus cerita. Kehidupan dan sejarah menyediakan sumber berlimpah untuk
menulis. Entah kalau kau tak perduli pada kehidupan dan sejarah. Dengan
mencermati kehidupan dan sejarah, kau akan sampai pada apa yang dikatakan oleh
Chairil Anwar: "aku mau hidup seribu tahun lagi" untuk membawakan "kalung
ole-ole buat si pacar" bernama kemanusiaan.
Seratus novel selaksa cerita hanya mungkin ditulis jika si penulis belajar ,
meneliti dan mempunyai kemampuan tekhnis yang semuanya pun bukan keajaiban.
Tanpa belajar, meniliti dan membaca kehidupan ditambah dengan peningkatan
tekhnis terus-menerus, seratus novel dan selaksa cerita tak bakal ditulis.
Kalau pun ia bisa ditulis, hasilnya tidak akan bisa membayar hutang pada
sejarah yang gigih menagih dan usaha pemanusiawian manusia.Narsisme mempunyai
batas dan perbatasan yang tak jauh. Narsisme tak pernah jauh jangkauannya.
Belajar, meneliti, mengakrabi kehidupan dan kemampuan tekhnis bukanlah hal
yang ajaib .***
Paris, Musim Dingin 2008.
------------------------------------
JJ. Kusni, pekerja biasa pada Koperasi Restoran Indonesia, Paris.
---------------------------------
Real people. Real questions. Real answers. Share what you know.
[Non-text portions of this message have been removed]