REKOMENDASI
KONGRES KOMUNITAS SASTRA INDONESIA 2008
Kudus, Jawa Tengah, 19-21 Januari 2008

1. Krisis moneter pada 1997 telah memurukkan sendi-sendi perekonomian 
Indonesia. Salah satu dampaknya adalah aset-aset nasional harus dijual kepada 
pihak asing, sehingga kepemilikan pihak asing terhadap aset-aset nasional makin 
menguat. Makin menguatnya kepemilikan asing tersebut tentu makin mengokohkan 
nilai-nilai kebudayaan asing, terutama kebudayaan Barat (baca: westernization), 
dalam kehidupan masyarakat di Indonesia. Karena itu, nilai-nilai kebangsaan 
atau nasionalisme misalnya kemandirian dan kenusantaraan dalam karya sastra 
menjadi sangat penting untuk kembali dibumikan di Tanah Air. Karya sastra dan 
komunitas sastra selayaknya dapat menjadi media dan wadah untuk kembali 
mengingatkan dan menyadarkan sangat pentingnya nilai-nilai kebangsaan atau 
nasionalisme tersebut. Tahun 2008 menjadi
momen yang tepat untuk melakukan upaya tersebut mengingat pada tahun ini kita 
memperingati perjalanan kebangsaan atau nasionalisme kita untuk yang keseratus 
tahun.

2. Krisis moneter pada 1997, yang berkembang menjadi krisis ekonomi
dan berujung menjadi krisis multidimensi, telah memicu konflik
antarkelompok, antargolongan, antarsuku, dan antaragama di Indonesia.
Kebenaran hanya diklaim sebagai milik satu kelompok, satu golongan,
satu suku, atau satu agama tertentu dan pihak lain seperti dipaksa
menerima kebenaran versi mereka. Kebinekaan atau keberagaman laksana kehilangan 
pijakannya. Bertolak dari kondisi seperti itu, karya sastra dan komunitas 
sastra selayaknya dapat menjadi media dan wadah untuk menyuarakan sangat 
pentingnya kebinekaan atau keberagaman sebagai pijakan untuk saling menghormati 
dan bertoleransi. Tapi, hal itu bukan berarti bahwa komunitas sastra tak boleh 
mengidentifikasi diri secara spesifik, unik, atau khusus. Yang pokok, identitas 
yang spesifik dan unik tersebut tetap hidup dalam semangat inklusivisme. 
Semangat inklusivisme itulah yang diharapkan dapat menjadi tali penghubung atau 
jembatan yang mampu mengharmoniskan hubungan antarkomunitas sastra. Bukan napsu 
kekuasaan untuk menghegemoni atau mendominasi pelbagai komunitas sastra lain.

3. Krisis multidimensi akhirnya juga membuat bangsa Indonesia laksana berjalan 
di tempat. Kemajuan seperti menjadi sesuatu yang musykil diraih di tengah 
keterpurukan pelbagai sendi kehidupan. Seperti negara-negara lain yang dihempas 
krisis moneter, Indonesia semestinya mampu menjadikan krisis multidimensi 
sebagai pijakan untuk melangkah lebih maju dengan semangat baru. Karya sastra 
dan komunitas sastra semestinya juga mampu menjadi bagian dari langkah lebih 
maju dengan semangat baru tersebut.

4. Kemajuan selayaknya tetap bercermin pada perjalanan sejarah bangsa 
Indonesia. Dalam konteks kesusastraan Indonesia, sejarah kesusastraan Indonesia 
sepantasnya disusun berdasarkan realitas yang berkembang dalam perjalanan 
sejarah kesusastraan di negeri ini. Terhadap fenomena sejarah sastra mulai dari 
masa pasca1908, hingga tahun-tahun terakhir (sastra kontemporer) agar para 
pengamat dan sejarawan dari berbagai kalangan tak terpengaruh sejarah dominan 
yang mempengaruhi kurikulum pendidikan sastra Indonesia. Untuk itu, misalnya, 
kita - terutama pemerintah - dapat membentuk semacam dewan sejarah kesusastraan 
Indonesia yang mampu menyusun sejarah kesusastraan Indonesia yang benar-benar 
mencerminkan realitas perjalanan sejarah kesusastraan di Indonesia. Secara 
struktural, dewan tersebut bisa saja berada di bawah dewan sejarah kesenian 
Indonesia. Payung utamanya sendiri bisa berupa dewan sejarah kebudayaan 
Indonesia. Tentu, sebelum itu, kita - terutama pemerintah - harus lebih dulu 
menyusun strategi kebudayaan Indonesia.

5. Agar penerbitan dan penyebarluasan karya sastra bisa lebih baik
perlu diciptakan kondisi-kondisi yang mendukung misalnya pemerintah
menurunkan harga kertas, menghapuskan pajak atas karya sastra dan
kemudahan-kemudahan lainya.

6. Kongres KSI 2008 di Kudus menegaskan perubahan yang cukup
signifikan menjadi ormas terbuka dengan segera mendirikan 100 cabang
baru di dalam dan diluar negeri dalam kurun waktu 3 tahun.

Kudus, Jawa Tengah, 20 Januari 2008.

Tertanda,



Para Peserta Kongres
Komunitas Sastra Indonesia 2008


mediacare
http://www.mediacare.biz


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke