>
>Ada Upaya Hancurkan Ormas Islam Ahlussunnah Wal Jamaah
>Kamis, 24 Januari 2008 18:21
>Jakarta, NU Online
>
>Persaingan memperebutkan pengaruh ideologi di kalangan Islam semakin 
>menguat belakangan ini. Di Indonesia, bersamaan dengan itu, muncul gerakan 
>yang berupaya menghancurkan kelompok atau organisasi kemasyarakatan Islam 
>yang berhaluan Ahlussunnah Wal Jamaah (Aswaja).
>
>Hal tersebut dikatakan Sekretaris Jenderal Pengurus Besar NU, Endang 
>Turmudi, pada Silaturrahim Organisasi Kemasyarakatan Islam Ahlussunnah Wal 
>Jamaah dan Semiloka: Menggagas Masa Depan Islam Nusantara, di Kantor PBNU, 
>Jalan Kramat Raya, Jakarta, Kamis (24/1).
>
>Dalam kesempatan itu, hadir perwakilan ormas Islam berhaluan Aswaja, 
>antara lain, Tarbiyah Islamiyah, Al-Washliyah, Al-Khairaat, Nahdlatul 
>Wathon, Darut Dakwah wal- Irsyad dan Mathlaul Anwar.
>
>“Di masjid-masjid NU yang telah diambil alih, warga NU dilarang 
>menjalankan praktik-praktik keagamaan yang khas Aswaja, seperti, tidak 
>boleh membaca qunut (saat salat subuh), tidak boleh tahlilan, dan 
>sebagainya,” jelas Turmudi.
>
>Menurutnya, gerakan Islam garis keras tersebut semakin menguat karena 
>didukung dan ditumpangi kepentingan politik yang bersifat internasional. 
>Mereka masuk dengan gerakan dakwah melalui sejumlah ormas Islam dan partai 
>politik.
>
>Dalam acara yang juga dihadiri Ketua PBNU KH Said Aqil Siroj itu, Turmudi 
>menjelaskan, kini paham Aswaja yang moderat mendapat tantangan. Konsepsi 
>di dalamnya harus dilihat ulang menyusul semakin menguatnya gerakan Islam 
>garis keras.
>
>“Konsepsi Aswaja tidak hanya dalam hal agama, melainkan juga dalam bidang 
>proses pembelajaran, hubungan antar-umat beragama, dan sebagainya,” tandasnya.
>
>Sementara itu, Kang Said—panggilan akrab KH Said Aqil Siroj—mengatakan, 
>jauh hari, NU sudah memperkirakan akan ancaman masuknya gerakan Islam 
>garis keras di Indonesia. Namun, pemerintah saat itu, tampak tak 
>mempedulikannya.
>
>“Waktu NU akan menggelar harlah besar-besaran yang akan mengerahkan 
>sekitar 2 juta massa Nahdliyin, dilarang oleh pemerintah Orde Baru waktu 
>itu. Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid, ketua PBNU saat itu) mengirim surat 
>kepada Soeharto (presiden RI saat itu). Dalam surat itu, Gus Dur 
>mengatakan, ‘Jangan sampai umat Islam Indonesia menjadi radikal seperti 
>Aljazair’,” terangnya.
>
>Kang Said menjelaskan, surat yang ditulis cucu pendiri NU KH Hasyim 
>Asy’ari itu, merupakan peringatan agar pemerintah segera melakukan langkah 
>antisipatif terhadap masuknya kelompok Islam garis keras.
>
>Menurutnya, pelarangan terhadap rencana peringatan harlah itu merupakan 
>tindakan sistematis untuk menekan kelompok Islam moderat, seperti NU. NU 
>yang hingga kini masih setia pada Pancasila, katanya, dianggap merupakan 
>ancaman bagi rezim kala itu. (rif)
>
>
>
>Kang Said Pernah Disebut Ulama Sesat
>Kamis, 24 Januari 2008 16:06
>Jakarta, NU Online
>
>Sejumlah masjid dan musala yang didirikan kalangan Nahdliyin (sebutan 
>untuk warga Nahdlatul Ulama/NU) diambilalih kelompok Islam garis keras. 
>Belakangan, beberapa tokoh NU juga disebut-sebut sebagai ulama sesat. KH 
>Said Aqil Siroj, salah satu Ketua Pengurus Besar NU, pun pernah mengalaminya.
>
>“Saya pernah diundang hadir dalam pengajian di Bekasi. Ada spanduk 
>bertuliskan, ‘Hadirilah pengajian dengan penceramah KH Said Aqil Siroj.’ 
>Beberapa hari kemudian, ada spanduk baru, tulisannya, ‘Hati-hati, 
>penceramah ini sesat’,” terang Kang Said—begitu panggilan akrabnya.
>
>Ia mengatakan hal itu pada Silaturrahim Organisasi Kemasyarakatan Islam 
>Ahlussunnah Wal Jamaah dan Semiloka: Menggagas Masa Depan Islam Nusantara, 
>di Kantor PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta, Kamis (24/1).
>
>Dalam kesempatan itu, hadir perwakilan ormas Islam berhaluan Aswaja, 
>antara lain, Tarbiyah Islamiyah, Al-Washliyah, Al-Khairaat, Nahdlatul 
>Wathon, Darut Dakwah wal- Irsyad dan Mathlaul Anwar,
>
>Mengaku penasaran dengan siapa pembuat spanduk yang bernada fitnah 
>tersebut, Kang Said menanyakan kepada tokoh dan warga setempat pada 
>pengajian itu. Namun, tak ada satu pun yang mengaku bertanggung jawab.
>
>“Saya bilang waktu itu, ‘saya ingin bertemu dan berdiskusi dengan pembuat 
>spanduk tersebut. Kalau saya kalah berdebat dengannya, saya akan berguru 
>pada orang itu dan akan masuk apa pun organisasinya’,” kisah alumnus 
>Universitas Ummul Qurra’, Mekah, Arab Saudi, tersebut.
>
>Ia melanjutkan, tiga hari kemudian setelah pengajian tersebut, datang dua 
>pemuda ke kediamannya dan mengaku pembuat spanduk tersebut. “Mereka juga 
>menyebut sejumlah tokoh lain yang disebut sesat, antara lain, Gus Dur (KH 
>Abdurrahman Wahid), Nurkholish Madjid, Masdar Farid Mas’udi, dan 
>lain-lain,” ujarnya.
>
>Kepada Kang Said, dua pemuda tersebut mengaku hanya diperintah atasannya. 
>“Mereka bilang diperintah Kramat Raya 45, Jakarta Pusat (kantor sebuah 
>ormas Islam),” ujarnya. (rif)



[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke