Surat Dari Montmartre:
   
   
   
  MENYAKSIKAN PEMBACAAN PUISI TAN LIOE IE DI PARIS [3] 
   
   
  Pernyataan diri sebagai "penyair setengah aktivis" ini kembali muncul dalam 
ekspresi menggelora, ketika kukatakan pada Tan Lioe Ie alias Yoki, bahwa 
September 2007 tahun lalu, aku sempat melihat penyelenggaraan Ubud Writers and 
Readers. "Sekedar untuk tahu apa bagaimana gerangan jumpa penulis itu", 
tambahku.  Seperti bensin disambar percikan api,  Yoki langsung menjawab, 
seakan-akan aku termasuk  orang yang membangga-banggakan jumpa penulis 
internasional ini :
   
  "Aku termasuk orang yang mengkritik  pertemuan Ubud Writers and Readers".
   
  Tanpa menunggu pertanyaanku yang meminta alasannya, Yoki melanjutkan:
   
  "Ubud Writer and Readers diselenggarakan oleh pedagang. Penulis-penulis 
Indonesia yang diajak dalam jumpa penulis internasional  itu pun terdapat 
keanehan. Tidak representatif. Selebihnya adalah penulis-penulis dari luar 
negeri yang juga kita tak tahu kadarnya".
   
   
  Ya, yang diperdagangkan bukan hanya Ubud secara khusus dan Bali secara umum, 
tetapi juga nama penulis Indonesia. Pertanyaannya yang mungkin kurang 
direnungi: Mengapa pertemuan begini justru berawal dari prakarsa seorang 
pedagang, dan bukan dari para penulis Indonesia sendiri , cq. penulis-penulis 
Bali? Apakah para penulis Indonesia, cq Bali kurang prakarsa atau justru 
pertemuan Ubud Writers and Readers memperlihat kelemahan prakarsa para penulis 
kita? Apakah kelemahan prakarsa tidak ada hubungannya dengan ketiadaan mimpi 
yang selalu bersifat memandang jauh ke depan? Ujudnya berupa mereaksi tapi 
tidak beraksi secara berprakarsa. Reaksi mempunyai ciri mengekor, membuntut , 
bukan membidas.  Padahal pekerjaan kreatif, termasuk pekerjaan menulis berada 
di lingkup pembidasan. Ketika merenungi reaksi menghadapi situasi dan 
perkembangan, sering menyeret kenanganku pada keadaan seekor serigala melolongi 
cakrawala di mana bulan berlari meninggalkannya. 
   
   
  Mendengar reaksi Yoki atas jumpa internasional Ubud Writers and Readers ini, 
aku mengharapkan Yoki bisa secara singkat melukiskan panorama perpuisian dan 
sastra Indonesia. Pertanyaan tak berjawab ini kuajukan dengan maksud untuk 
membaca situasi berangkat dari  hipotesaku di atas. 
   
   
  Menjajari pertanyaan tentang panorama sastra Indonesia kekinian, aku juga 
menggunakan kesempatan untuk menanyakan konsep "pahlawan" yang Yoki anuti. 
Pertanyaan ini kuajukan bertolak dari tulisan Yoki tentang "pahlawan" yang 
disiarkan oleh Majalah "Pasar Malam", Le Banian [No. 4, Desember 2007, 
hlm-hlm.100-108].  Melalui pertanyaan tentang "pahlawan" dan atau "tokoh" ini 
aku mencoba memahami konsep dunia esok yang ingin ditawarkan oleh Yoki.  
Pertanyaan ini pun kudasari pada pandangan bahwa tokoh atau pahlawan selain 
bertutur tentang keadaan tapi juga merangkum wawasan secara keseluruhan 
berdasarkan bacaan dan analisa atas keadaan. Wawasan esok dan pandangan dunia, 
termasuk wawasan sosial, kiranya bisa dilihat dari tokoh dan atau pahlawan 
suatu karya, termasuk puisi. Iya, dalam puisi pun ada tokoh dan pahlawan, walau 
pun  mungkin pahlawan itu dalam puisi  berujud ide. Barangkali  tokoh-tokoh dan 
atau pahlawan yang terdapat di karya-karya sastra, bisa membantu kita memahami
 ide, pola pikir dan mentalitas dominan pada suatu kurun zaman serta yang 
diimpikan sebagai produk sosial-ekonomi-politik. Seperti pernah kutulis 
sebelumnya, pertanyaan serupa pernah kuajukan di Paris pada Ayu Utami dan Seno 
Gumira, Adjidarma ketika kami membicarakan filem Riri tentang Soe Hok Gie. 
Dalam percakapan di hotel di mana mereka tinggal, pada Ayu dan Seno Gumira, 
kukatakan bahwa kekaguman pada Soe Hok Gie, bagiku memperlihatkan betapa 
angkatan sekarang memerlukan panutan alternatif.  Apakah Soe Hok Gie memberikan 
alternatif? Alternatif apa yang ia berikan? Mentalitas panutan agaknya selain 
memperlihatkan kemalasan berpikir dan hanya mau menempuh jalan pintas, 
ketumpulan daya kritik, juga memperlihatkan bahwa secara pemikiran, bangsa kita 
masih mengalami kekosongan dan keterasingan pada diri sendiri. 
   
   
  Dengan kerendahan hati dan kejujuran, Yoki mengatakan bahwa ia tidak 
menciptakan pahlawan, tapi hanya bertutur. Hanya melukiskan keadaan. Apalagi 
sekarang, ujar Yoki, kebebasan berpendapat di Indonesia sudah ada . 
   
   
  [Relatif barangkali karena  dalam kasus Bersihar Lubis , misalnya, ia diadili 
karena laporannya tentang Hari Sastra di Paris dipandang sebagai menghina 
pengadilan Negeri. Kemudian masih ada penganiayaan terhadap wartawan. 
Pertanyaan lain, lalu jika ada demokrasi apakah penulis, lebih-lebih sastra, 
hanya berfungsi melaporkan saja, dan tidak menukiki hakekat. Dalam hubungan 
demokrasi dan dampaknya pada bentuk puisi, terkesan padaku, ada kekurangjelasan 
 dalam pandangan Yoki, sehingga mengundang diskusi karena banyak lobang-lobang 
pada pernyatannya,  sekali pun sungguh baik ia melihat adanya saling hubungan 
antara situasi masyarakat dan puisi, terutama dari segi bentuk atau cara 
penuangan ide].  
   
   
  Hanya jika membaca tulisan Yoki yang diterjemahkan ke dalam bahasa Perancis 
dan diterbitkan oleh Le Banian No.4 Desember 2007, nampak bahwa Yoki memandang 
pahlawan itu sebagai orang yang memberikan sumbangan pada kepentingan 
masyarakat. Ia bisa petani, bisa pedagang asongan, bisa pedagang atau 
olahragawan tapi tidak tentu seorang presiden. Dan secara sinis ia mengkritik 
pandangan bahwa pahlawan sering dan selalu dikaitkan dengan militer.  Pandangan 
begini pun diucap ulang oleh Yoki dalam diskusi 21 Januari 2008 di Koperasi 
Restoran Indonesia menjawab pertanyaanku. Jawaban yang kuanggap tidak menjawab 
pertanyaan konsepsional. Paling tidak, Yoki belum sampai pada taraf mampu 
merumuskan apa siapa itu pahlawan yang mendorong perkembangan masyarakat secara 
filosofis.  Karena itu aku melihat Yoki dalam teori "pahlawan", baru sampai 
pada tingkat permukaan masalah,belum menyelami hakekat walau  pun ia berada di 
dermaga awal pelayaran pencarian yang menarik dan bisa banyak
 diharapkan. Tarafnya baru taraf insting dan kemauan baik. Yang dikatakannya 
"baru", dan ia jadi perintisnya pun tidak lebih dari bentuk luar.  
   
   
  Sehubungan dengan soal ini sempat terjadi diskusi singkat tentang Sutardji, 
Rendra dan Chairil Anwar . Sedangkan pernyataan Yoki mengenai posisi Yoki 
sendiri dalam perpuisian dan pembacaan puisi tidak menarik hadirin karena 
kekurangan data  untuk dijadikan diskusi. Mengenai posisi Sutardji yang 
dijuluki sebagai "presiden penyair", termasuk yang disebut mantera sebagai 
temuan Sutardji oleh sementara pembicara ditanggap  dengan "sinis" bahkan 
menertawakannya. Yoki mencoba membelanya tanpa argumen meyakinkan. "Betapa pun 
Sutardji adalah salah satu tonggak dalam dunia puisi Indonesia kekinian" [tentu 
yang dimaksudkannya adalah puisi yang menggunakan bahasa Indonesia!], ujar Yoki 
. Kata "betapa pun " adalah istilah yang sangat lemah karena ia menunjukkan 
pembicara kehilangan  argumen. Betapa pun sama dengan kata "pokoknya" , kata 
tanpa arti dalam diskusi serius. Kata yang menutup diskusi seperti kekerasan 
hati seorang bocah mencapai pintanya akan boneka. "Pokoknya, aku mau
 boneka".
   
   
  Demikian kesan yang kudapatkan dari membaca tulisannya tentang "pahlawan" di 
majalah Le Banian dan juga dari diskusi 21 Januari 2008 serta pergelarannya di 
Koperasi Restoran Indonesia Paris. Barangkali untuk Indonesia, yang dilakukan 
oleh Yoki sudah hebat, tapi maaf, tidak di mataku.  Apabila Yoki dipandang 
sebagai salah satu kebanggaan Indonesia, maka ketika menyaksikannya dan membaca 
puisi-puisi yang dibagi oleh "Pasar Malam" , aku bisa menakar tingkat 
kebanggaan Indonesia kontemporer sebatas punya harapan berkembang. Adanya 
harapan begini, membuka jalan lebar menuju cakrawala lebih luas dan bukan 
sebatas "tempurung langit batok kelapa". Harapan yang membuka jalan ke 
cakrawala sangat luas ini bersyaratkan kerja keras tanpa jeda, tanpa  puas dan 
bangga diri dengan satu atau sepuluh novel dan antologi puisi, apalagi dengan 
kadar seadanya. Indonesia adalah suatu standar dan standar mendunia dengan 
segala tuntutan yang menyertainya. "Penyair setengah aktivis" yang kupahami
 mau menunjukkan keberpihakan pun seperti seekor kuda "daya tahannya masih 
diuji dalam perjalanan jauh", sangat jauh. Kata penutup babakan kisah seorang 
penulis akan diucapkan oleh tindakan ketika matahari hidup tenggelam di hulu 
ajal. 
   
   
  Hal kecil lain tapi mengagumkan aku, yaitu  gejala  keberanian angkatan 
sekarang, mengatakan diri sebagai "pelopor", "yang pertama",  "pembaharu", 
sebagai ini dan sebagai itu. Baru menulis satu dua artikel, puisi, buku, dan 
sebagainya, sudah tanpa enggan menyebut diri sebagai "eseis", "penyair", 
"pengamat sastra", "pengamat sosial", "novelis handal",  dan lain-lain... 
Dengan kata lain, baru menulis dan dapat hadiah ini itu, sudah merasa diri 
besar sebesar langit dan galaksi. Oi , apakah ini bukan sisi lain dari 
mentalitas "bangsa koeli" egosentrik dan budakisme yang  bukan mengutamakan 
pemanusiawian diri , kehidupan dan masyarakat tanpa indahkan martabat 
manusiawi? Dalam konteks ini , sangat menarik pertanyaan pelukis Sunarya dari 
Bandung di usia senjanya: Siapakah saya? [Lihat:The Herald Tribune, 24 Januari 
2008].
   
   
  Masalah ini menarik perhatian dan membangkitkan pertanyaan pada diriku: 
Gejala apakah ini? Apakah gejala globalisasi kapitalis di mana orang tak enggan 
menjanjakan dan mengiklankan diri walau pun ada jarak antara kualitas dengan 
kenyataan. Gejala kuasanya "uang sang raja"? 
   
   
  Hipotesa sementaraku membaca gejala ini bahwa globalisasi kapitalis -- bukan 
globalisasi Porto Alegre, "dunia alternatif" -- berdampak langsung pada dunia 
sastra kita, pada  pola pikir, mentalitas dan pada  tingkah laku [behaviour] 
kita yang kian egoistik. Adakah dan apakah perbedaan pengiklanan dan penjajaan 
diri secara terus-terang  dalam sastra dengan ekstrimisme serta kekerasan di 
bidang politik? Ataukah hanya berbeda dalam perujudan dan bidang bergerak saja 
tapi isinya sama  yaitu udara atau gaz yang mengisi gelembungan dan busa sungai 
atau balon sabun mainan kanak? 
   
   
   
  Baris-baris ini boleh dilupakan, tak usah terlalu dianggap, Hasian,   karena 
seperti ujar Seno Gumira Adjidarma dalam  tulisannya di Harian Kompas, Jakarta 
yang   menuturkan kesan setengah kekecewaan [tanpa tahu persis apa-siapa yang 
hadir, tanpa tahu latar apa-siapa yang mengundangnya ke Paris --bentuk dari 
cara berpikir subyektif yang tentu saja tak cermat], ketika ia bicara di sebuah 
seminar sastra yang berlangsung di  Senat Perancis, di Paris, yang  
diselenggarakan  oleh  Lembaga Persahabatan Perancis-Indonesia "Pasar Malam", 
yang hadir banyak orang awam sastra.  Tentu saja, aku adalah salah seorang yang 
awam ini. Maka apalah  artinya pendapat seorang awam sastra bagi "seorang anak 
raja" dan "pangeran" sastra yang merasa kebenaran dan mutu  ada pada dirinya 
serta secara tersirat merasakan diri sendiri sebagai  "pahlawan" dan "jagoan" 
dari segala jagoan dan merasa diri sendiri adalah epistimologi kebenaran, 
apalagi merasa diri  dibekingi oleh segala gelar akademi? Yoki
 pun bisa mengabaikan kesan awam ini, tapi aku mau menuliskannya sebagai suatu 
hak. Bersamaan dengan itu, aku khawatir  bahwa "there is something wrong in the 
state of Denmark" sastra negeri kita, terutama selama Orba dan yang berdampak 
sampai sekarang, sehingga ada yang diangkat secara aneh, ada yang disisihkan 
secara aneh pula, tanpa batas waktu, tanpa  mengubris keniscayaan keadilan. 
Tapi perjalanan panjang sedang menunggu kita semua. Indonesia sebagai standar, 
sebagai konsep dan tanahair juga menyeru-nyeru. Sejarah menagih dan mengadili 
siapa pun  dengan hukumnya tanpa mengabaikan sepatah kata yang telah diucap.
   
   
  Maaf Yoki, aku berkata seadanya karena bukan kebiasaanku untuk saling sanjung 
dan puja, terutama terhadap orang yang kuanggap sahabat. Kau hebat dalam bidang 
tertentu tapi untuk luar biasa dan baru  dalam ukuran dunia, termasuk untuk 
ukuran Perancis,  tuntutan Indonesia secara konsepsional,  bagiku masih 
merupakan tanda tanya besar  kecuali melihat adanya sebuah   jalan panjang yang 
menunggu. 
   
   
  Betapa pun Lembaga Persahabatan Perancis-Indonesia  "Pasar Malam"Paris, tidak 
keliru mengundang Anda. Kuharapkan di masa mendatang "Pasar Malam" memasukan 
dalam hitungannya bagaimana  yang diundang, dari suatu perspektif strategis 
penumbuhan atau pengembangan bibit-bibit segar, kreatif dan inovatif sejalan 
dengan promosi sastra Indonesia di Perancis. Barangkali untuk hal ini, "Pasar 
Malam" perlu menajamkan mata dan telinga.  Tapi ini  pun, sekedar harapan dari 
seorang awam sastra yang tak masuk hitungan para "pangeran" dan anak raja" 
sastra di Indonesia. Dari seorang yang dipinggirkan oleh kesalah pahaman 
sejarah yang mempengaruhi nilai dominan di negeri kita sampai sekarang, tapi 
tetap menolak mencampakkan martabat manusiawinya.***
   
   
   
  Paris, Musim Dingin 2008
  -----------------------------------
  JJ. Kusni, pekerja biasa di Koperasi Restoran Indonesia
   
   
   
  Keterangan foto:
  Suasana pertemuan dengan penyair Bali Tan Lioe Ie di Koperasi Restoran 
Indonesia Paris, 21 Januari 2008 [Dari: Dokumentasi JJK. Foto : JJK].  
   
   
  [Selesai]

       
---------------------------------
 
 Real people. Real questions. Real answers. Share what you know.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke