Oleh
Lia Sundah Suntoso

Menunjukkan citra yang berbeda pada berbagai pihak, apapun motifnya, jelas 
sudah menjadi "makanan" sehari-hari, terutama jelang pemilu saat situasi 
politik makin memanas, pencitraan politik, atau tebar pesona jelas menjadi hal 
yang lebih signifikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Sangat menarik untuk melihat tayangan televisi yang paling laku pada saat ini 
(rating tertinggi) adalah tayangan-tayangan mengenai sakitnya Suharto. Momentum 
yang diciptakan oleh tayangan-tayangan ini bekerja sangat strategis bagi 
pencitraan politik keluarga Cendana, maupun kroni-kroni Soeharto yang juga 
secara bersamaan dicitrakan berada diambang pintu pengadilan. 


Bukan hanya di Indonesia. Bush pun melakukan demikian meski masa jabatannya 
hampir berakhir. Publik AS terkesima menyaksikan reaksi Bush pada wawancara 
Jenna yang menelepon orangtuanya secara spontan ketika Bush berkata kepada si 
pembawa acara: "... katakan pada putriku bahwa aku mencintainya." Pada sisi 
lain, Bush jelas-jelas dianggap memaksakan kehendak, ancaman atas perdamaian 
dunia, jelas-jelas bertanggung jawab atas perang melawan terorisme dengan 
cara-cara yang ekstrem.


Masih ingat Dasamuka, yang katanya mengobsesikan kekuasaan, kekuatan, 
mencerminkan kezaliman, namun ternyata juga membawa kemakmuran bagi rakyat 
kerajaannya? Jelas tidak nyaman membayangkan mengetahui, apalagi memiliki 
seorang teman, saudara, sahabat, bahkan pemimpin yang dasamuka. Yang menjadi 
masalah sebenarnya bukanlah kedasamukaan itu sendiri. Namun, harus diwaspadai 
adalah apabila akibat kedasamukaan itu jatuh korban. 


Tidak perlu sampai dalam magnitude penjajahan sebuah bangsa, dalam bentuk 
sederhana kedasamukaan tetap hadir. Utamanya, pada lakon-lakon pejabat atau 
mantan pejabat yang diseret ke pengadilan kemudian pingsan atau bolos dengan 
alasan sakit sebelum kasusnya di-peti-es-kan.


Jelas sangat menarik untuk memperbandingkan buah pikiran yang tercermin dari 
panggung politik Indonesia, mulai dari konsistensinya, warna jaket partai yang 
digunakan, visi-misi yang diperjual-belikan, sampai lakon apa yang sebenarnya 
dimainkan dan topeng apa yang dipergunakan during showtime sesuai kebutuhan. 
Tokoh-tokoh datang dan pergi, dihujat dan dipuji. 


Namun apa mau dikata. Manusia di-build-up dengan auto-pilot kompensatif untuk 
menonjolkan sisi yang "putih" untuk menutupi sisi yang hitam, seperti tipp-ex, 
mungkin. 


Ternyata, aplikasi pakem natural selection (Seleksi Alam) dan survival of the 
fittest (Darwin/ Herbert Spencer)-telah berevolusi menjadi muka tebal, hati 
hitam (Thick Face, Black Heart - Thick Black Theory) untuk selamat dan sukses 
dalam politik pada masa kini. 

Penulis adalah anggota Bar Mahkamah Agung AS, pengamat Hukum Internasional

Sinar Harapan - 24 Januari 2008

www.sinarharapan.com




mediacare
http://www.mediacare.biz


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke